Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Suara deru mobil Kenzo yang meninggalkan pelataran rumah mewah itu terdengar seperti musik pembebasan bagi Anindya.
Ia berdiri di balik gorden kamar, memastikan kendaraan suaminya benar-benar hilang di balik gerbang besi yang menjulang tinggi.
Sejenak, Anindya memejamkan mata, menghirup udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma sandalwood yang menyesakkan itu.
Pagi ini, setelah ritual sarapan yang penuh dengan perintah dan kepatuhan semu, Kenzo berangkat ke kantor dengan angkuh.
Anindya tahu, ia tidak bisa terus mengurung diri di rumah yang kini terasa seperti makam bagi jiwanya. Ia butuh oksigen. Ia butuh melihat dunia luar, meskipun dunia luar kini memandangnya sebagai wanita hina.
"Bi Inah, siapkan perlengkapan Elang. Kita pergi sekarang," perintah Anindya lirih.
"Tapi, Nyonya... Tuan Kenzo bilang Nyonya tidak boleh keluar tanpa pengawalan ketat," jawab asisten rumah tangga itu dengan nada ragu.
"Aku hanya ke mal, Bi. Dekat sini. Dan biarkan pengawal-pengawal itu mengikuti dari belakang jika itu bisa membuat mereka diam. Aku tidak peduli," sahut Anindya tegas.
Ada sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan demi kewarasannya sendiri.
~~<
Pusat perbelanjaan di jantung kota itu tampak sibuk. Anindya melangkah dengan kacamata hitam besar yang menutupi matanya yang sembab.
Elang menggandeng tangannya dengan ceria, melompat-lompat kecil tanpa beban. Di belakang mereka, dua pria berbadan tegap berpakaian safari mengikuti dengan jarak lima meter.
Anindya membawa Elang ke pusat permainan anak. Ia duduk di sebuah bangku kayu, memperhatikan putranya yang tertawa lepas saat mandi bola. Air mata Anindya hampir jatuh. Tawa itu... sangat mirip dengan tawa Arlan.
"Lihat, Anin. Elang akan menjadi pria hebat sepertiku," suara Arlan seolah bergema di kepalanya.
Anindya menggeleng, mencoba mengusir bayang-bayang itu. Ia bangkit dan mulai berjalan menyusuri gerai-gerai pakaian mewah. Ia berbelanja dengan kalap, menggesek kartu kredit yang diberikan Kenzo tanpa melihat label harga.
Ia membeli gaun, sepatu, tas, dan perhiasan. Bukan karena ia menyukainya, tapi karena ia ingin menghabiskan uang Kenzo. Ia ingin merusak sesuatu, meskipun itu hanya angka-angka di rekening pria itu.
Namun, setiap kali ia melewati cermin besar di toko, ia melihat sosok wanita asing. Wanita yang memakai barang-barang mahal, namun memiliki sorot mata yang mati.
Saat waktu menunjukkan pukul empat sore, kegelisahan mulai merayap di dadanya. Jam biologisnya seolah terkunci pada waktu kepulangan Kenzo.
Ia harus sampai di rumah sebelum pria itu menginjakkan kaki di teras, atau ia akan menghadapi badai yang lebih hebat.
~~
Anindya akhirnya tiba di rumah pukul lima sore. Dengan terburu-buru, ia menyerahkan barang belanjaannya pada pelayan dan langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Ia merasa tubuhnya lengket oleh keringat dan rasa lelah yang luar biasa.
Di bawah guyuran air pancuran yang hangat, Anindya memejamkan mata. Ia menggosok kulitnya dengan kasar menggunakan sabun, seolah ingin meluruhkan jejak sentuhan Kenzo dari malam sebelumnya. Namun, rasa perih di hatinya tidak kunjung hilang.
Ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya terbalut jubah mandi sutra putih, sementara rambut panjangnya dililit handuk di atas kepala. Ia berniat untuk segera berpakaian dan menemui Elang.
Namun, langkahnya terhenti.
Kenzo sudah ada di sana. Pria itu duduk di tepi ranjang dengan kemeja yang sudah dilepas, menyisakan kaos dalam putih yang memperlihatkan lekuk otot bahunya yang kokoh.
Ia menatap Anindya dengan pandangan lapar yang sudah sangat dikenal Anindya, pandangan seorang predator yang baru saja menemukan mangsanya kembali.
"Kau pulang terlambat sepuluh menit dari jadwal yang kukira, Anin," ucap Kenzo rendah. Suaranya serak, menandakan ia baru saja tiba dan emosinya sedang tidak stabil.
"Aku... aku hanya mengajak Elang bermain. Aku sudah pulang sebelum Magrib, Kenzo," jawab Anindya, mencoba menekan rasa takutnya.
Kenzo berdiri, melangkah mendekat dengan perlahan. Ia menarik handuk yang melilit kepala Anindya hingga rambut basahnya terurai jatuh ke bahu. Kenzo menghirup aroma rambut Anindya yang masih lembap.
"Kau terlihat sangat segar setelah mandi. Dan jubah ini... sangat memudahkan perkerjaanku," bisik Kenzo parau.
"Jangan sekarang, Kenzo. Aku lelah. Aku ingin menemui Elang..."
"Elang sedang tidur," potong Kenzo cepat. Ia menarik pinggang Anindya dengan satu tangan, memaksa tubuh mereka bersentuhan. "Dan aku tidak butuh izinmu untuk menyentuh milikku sendiri."
"Kenzo, tolong... aku manusia, bukan boneka!" Anindya meronta, mencoba mendorong dada Kenzo.
Tangannya memukul bahu suaminya, namun Kenzo seolah tidak merasakan apa-apa.
Kenzo justru menyeringai. Ia mengangkat tubuh Anindya dan menghempaskannya ke atas ranjang dengan kasar. Tanpa mempedulikan penolakan atau isakan yang mulai keluar dari bibir Anindya, Kenzo memaksakan gairahnya.
Di bawah cahaya sore yang temaram yang menyeruak masuk dari celah gorden, Kenzo kembali menguasai Anindya. Ia melakukan segalanya dengan intensitas yang menggairahkan sekaligus menyakitkan.
Bagi Kenzo, ini adalah cara ia menandai wilayahnya setelah seharian Anindya pergi ke luar. Ia ingin Anindya ingat bahwa sejauh apa pun ia pergi, ia akan selalu kembali ke bawah tubuhnya.
Anindya hanya bisa menatap langit-langit kamar yang mulai gelap. Ia membiarkan tubuhnya digerakkan oleh Kenzo, membiarkan rasa sakit dan kenikmatan fisik yang terpaksa itu menyatu.
Jiwanya seolah keluar dari raga, terbang menjauh, meninggalkan tubuh yang kini sedang dikoyak oleh nafsu sang tiran.
Baru setelah waktu Magrib hampir usai, Kenzo melepaskannya. Pria itu bangkit dengan puas, berjalan menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Anindya yang tergeletak lemas dengan napas terputus-putus.
Dengan sisa tenaga yang ada, Anindya bangun. Tubuhnya terasa remuk, dan hatinya jauh lebih hancur. Ia mandi untuk kedua kalinya hari ini, mencoba menghapus aroma Kenzo, namun bau itu seolah sudah meresap hingga ke tulangnya.
Selesai berpakaian dengan gaun tidur yang longgar, Anindya berjalan keluar kamar. Ia melewati ruang tengah yang sunyi dan langsung masuk ke kamar Elang.
Anak itu sedang duduk di atas tempat tidurnya, baru saja terbangun dari tidur sorenya. Saat melihat ibunya masuk dengan mata merah dan wajah yang sembab, Elang langsung merentangkan tangannya.
"Ibu... Ibu kenapa nangis?" tanya Elang dengan suara mungilnya yang bergetar.
Anindya tidak menjawab. Ia langsung merangkul tubuh kecil Elang, memeluknya dengan sangat erat, seolah anak itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang sedang menenggelamkannya.
Anindya menenggelamkan wajahnya di leher Elang, isak tangisnya pecah sejadi-jadinya. Suara tangisnya tertahan di bahu kecil anaknya, bahu yang belum seharusnya memikul beban kesedihan ibunya.
"Ibu... jangan nangis. Elang di sini," bisik anak itu sambil mengusap kepala Anindya dengan tangan mungilnya.
Tangisan Anindya semakin hebat. Ia merasa gagal. Ia gagal menjaga dirinya, ia gagal menjaga kenangan Arlan, dan ia merasa kotor di depan anaknya sendiri. Rasa sakit itu begitu nyata, mencabik-cabik sisa harga dirinya.
"Maafkan Ibu, Sayang... Maafkan Ibu yang lemah ini," bisik Anindya di sela isaknya.
Ia memeluk Elang semakin erat, mencari kekuatan dari detak jantung kecil putranya. Di dalam kamar yang remang itu, Anindya menyadari bahwa ia sedang berada di titik nadir.
Kenzo telah mengurungnya dalam labirin kehampaan yang tak berujung. Setiap hari yang ia jalani adalah siksaan, dan setiap malam adalah neraka.
Namun, di tengah isak tangisnya, sebuah percikan kebencian yang murni mulai mengkristal di hatinya.
Jika Kenzo menganggapnya sebagai boneka, maka ia akan menjadi boneka yang akan menusuk jantung pemiliknya saat ia lengah.
Dari balik pintu kamar Elang yang sedikit terbuka, Kenzo berdiri diam. Ia memperhatikan pemandangan itu dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Ada secercah rasa bersalah yang melintas, namun dengan cepat terkubur oleh obsesi yang jauh lebih besar.
"Menangislah sepuasmu, Anin," gumam Kenzo lirih. "Karena besok, kau akan kembali tersenyum untukku."
Kenzo berbalik dan pergi, meninggalkan Anindya yang masih tersedu-sedu dalam dekapan anaknya, sementara kegelapan malam mulai menyelimuti rumah Praditya sepenuhnya.
Luka Anindya semakin mendalam, dan kekejaman Kenzo seolah tak memiliki batas. Mampukah Anindya menemukan jalan keluar dari neraka ini? Ataukah ia akan benar-benar hancur sebelum sempat melawan? Terus ikuti perjuangan Anindya dalam mempertahankan sisa-sisa harga dirinya!
...----------------...
To Be Continue ....