NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Kunci yang Tidak Pernah di Pegang Siapapun

Selama tiga hari setelah pertemuan di persimpangan itu, Wei Mou Sha tidak bertemu Lian Zhu Yue lagi. Bukan karena ia mencari atau menghindari, kota Wanhua cukup besar untuk dua orang tidak berpapasan secara kebetulan selama tiga hari.

Jam tiga malam di Lembah Batu Merah bersama Chen Liang Huo. Siang mengamati arena atau menjelajahi bagian kota yang belum ia telusuri. Sore di Paviliun Tiga Angin, mendengar percakapan yang beredar sambil minum teh yang selalu dipesan terlalu panas. Malam bermeditasi, memeriksa retakan di dalam segelnya yang tidak bertambah besar tapi juga tidak menutup kembali.

Rutinitas yang berjalan efisien, seperti biasa.

Yang menarik bukan bahwa ia tidak bertemu Lian Zhu Yue selama tiga hari, tapi bahwa pada hari keempat, ia menyadari kehadirannya dari jarak dua puluh meter.

Di pasar bahan kultivasi distrik tengah, Lian Zhu Yue berdiri di depan lapak seorang pedagang tua, memegang toples kaca berisi kristal qi berwarna biru kehijauan. Di sebelahnya ada seorang murid perempuan muda berseragam Bunga Abadi, membawa keranjang anyaman yang sudah penuh dengan bungkusan-bungkusan kecil.

Wei Mou Sha berdiri di ujung lorong pasar dan mengamati.

Lian Zhu Yue meletakkan toples kaca itu kembali ke meja pedagang, menggelengkan kepalanya, kualitasnya rupanya tidak cukup, lalu ia berbalik untuk melanjutkan ke lapak berikutnya.

Seketika matanya menangkap Wei Mou Sha di ujung lorong.

Tidak ada reaksi berlebihan. Hanya anggukan kecil, seperti melihat orang yang sudah dikenal di tempat umum. Lalu ia melanjutkan perjalanannya.

Murid muda di sampingnya melirik ke arah Wei Mou Sha dengan ekspresi berbeda, campuran antara penasaran dan waspada, sebelum mengikuti seniornya dengan langkah yang tergesa gesa

Wei Mou Sha pun melanjutkan perjalanannya ke arah yang sudah ia rencanakan.

Mereka bertemu lagi dua jam kemudian di Paviliun Tiga Angin.

Wei Mou Sha sudah ada di meja paling sudut ketika Lian Zhu Yue masuk, kali ini ia sendirian tanpa murid juniornya. Ia memesan sesuatu di meja depan, kemudian menunggu sebentar, lalu berjalan langsung ke sudut itu.

Berdiri di seberang meja tanpa basa-basi.

"Kursi ini kosong?"

"Ya."

Ia langsung duduk.

Wei Mou Sha menatapnya. "Paviliun ini masih banyak kursi kosong."

"Tempat terbaik untuk duduk di kedai teh adalah di sudut dengan punggung bersandar ke dinding dan pandangan menghadap seluruh ruangan." Lian Zhu Yue meletakkan bungkusan belanjaan kecilnya di atas meja. "Kamu juga memilih meja ini karena itu, bukan?"

Wei Mou Sha tidak menjawab. Tapi itu benar.

Pesanan Lian Zhu Yue akhirnya datang, teh bunga berwarna merah muda pucat, beraroma sesuatu yang Wei Mou Sha tidak punya nama untuknya. Ia mengangkat cangkirnya dengan kedua tangan dan menatap ke luar jendela dengan ekspresi orang yang terbiasa berpikir.

Mereka diam selama beberapa menit.

"Kamu sedang mengamati orang di pasar tadi," kata Lian Zhu Yue, masih menatap ke luar jendela.

"Kamu juga sadar aku ada di sana."

"Tentu. Kamu berdiri di ujung lorong tanpa bergerak selama tiga menit." Ia akhirnya menoleh. "Untuk orang yang tidak ingin ketahuan sedang mengamati, itu tidak efisien."

"Aku tidak mencoba menyembunyikan bahwa aku sedang mengamati."

"Aku tahu." Ada sesuatu di sudut bibir Lian Zhu Yue, bukan senyum penuh, tapi mendekatinya. "Itu yang membuatnya menarik. Kebanyakan orang akan pura-pura tidak melakukan apa-apa kalau ketahuan."

"Tidak efisien juga."

"Memang." Lian Zhu Yue meminum tehnya. "Kamu sedang mencari sesuatu di pasar tadi? Atau hanya memetakan kota?"

"Mungkin keduanya."

"Apa yang sedang kamu cari?"

Wei Mou Sha mempertimbangkan seberapa banyak yang berguna untuk dibuka.

"Informasi," katanya. Jawaban yang sama seperti yang ia berikan kepada penjaga gerbang saat pertama kali masuk kota, tapi kali ini terasa seperti menjawab pertanyaan yang berbeda.

"Tentang apa?"

"Perpustakaan Awan."

Lian Zhu Yue tidak bereaksi berlebihan. Hanya anggukan kecil seperti konfirmasi atas sesuatu yang sudah ia duga.

"Kamu tahu catatan era kuno ada di sana," katanya.

"Wanita tua di toko ramuan pernah menyebutkan."

"Ouh, Bibi Yao." Lian Zhu Yue tersenyum tipis, kali ini senyumnya sampai selesai. "Beliau bukan sekadar penjual ramuan. Tapi kamu sudah tahu itu."

"Matanya terlalu jeli untuk orang yang hanya berjualan herbal."

"Tepat." Lian Zhu Yue meletakkan cangkirnya. "Catatan era kuno di Perpustakaan Awan adalah bagian yang bahkan ketiga sekte tidak bisa memasukinya. Untuk membukanya dibutuhkan kunci khusus, bukan sekadar memenangkan turnamen."

Wei Mou Sha menatapnya. Ini adalah informasi baru.

"Kunci apa?"

"Resonansi jiwa." Lian Zhu Yue menatap balik, mata ungu gelapnya tidak berkedip. "Pintu ke bagian itu hanya terbuka untuk orang yang qi jiwanya beresonansi dengan frekuensi catatan di dalamnya. Seperti gembok yang hanya bisa dibuka oleh kunci yang tepat." Ia berhenti sejenak. "Sekte Bunga Abadi sudah mencoba membukanya tiga kali. Tidak ada yang berhasil."

"Tapi kamu pikir aku bisa."

Lian Zhu Yue tidak langsung menjawab.

"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Tapi ada sesuatu dalam aliran qi-mu yang berbeda dari semua orang yang pernah aku rasakan sebelumnya. Berbeda dengan cara yang..."

Ia berhenti. Mengerutkan dahi sedikit seperti mencari kata yang tepat.

"...yang terasa pernah aku kenali, tapi tidak bisa aku identifikasi dari mana."

Wei Mou Sha duduk dengan kalimat itu.

Di dadanya, segel berdenyut lagi satu kali.

"Kamu bisa merasakan qi orang lain," kata Wei Mou Sha.

"Kultivasi jiwa Sekte Bunga Abadi mempelajari hal itu. Kami tidak bertarung dengan kekuatan, tapi kami membaca, mempengaruhi, dan menyeimbangkan. Untuk melakukan itu, kami harus bisa merasakan dengan lebih halus dari kebanyakan kultivator."

"Seberapa jauh kamu bisa merasakan?"

"Tergantung orangnya." Lian Zhu Yue menatapnya—sekarang lebih seperti praktisi yang memeriksa sesuatu daripada percakapan biasa. "Kamu sangat sulit dibaca. Ada lapisan di bawah lapisan, dan di dasarnya ada sesuatu yang sangat besar dan sangat diam. Seperti gunung di bawah laut—tidak terlihat, tapi keberadaannya terasa dari cara air di atasnya bergerak."

Wei Mou Sha tidak bergerak.

"Itu mengganggu kamu?" tanya Lian Zhu Yue.

"Tidak." Ia mempertimbangkannya sejenak. "Tapi ini pertama kalinya ada orang yang mendeskripsikan sesuatu tentang diriku dengan cara yang bahkan aku sendiri tidak bisa melakukannya—dan terdengar akurat."

Lian Zhu Yue mengangguk pelan, menerima jawaban itu tanpa berkomentar lebih jauh.

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!