NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istirahat & Persiapan

Adam tergeletak, tengkurap di lantai tanpa tenaga.

Otot-ototnya lemas saat pikirannya terkuras habis, dia telah mendengarkan Rifana berbicara selama satu jam nonstop tentang cara pergi dari tempat ini.

Pada awalnya Adam masih memperhatikan, namun lama kelamaan kepalanya terasa panas hingga pada akhirnya tersungkur karena pingsan.

"Ni orang bisa-bisanya malah tidur," Rifana menarik pulpen dari kertas, Adam nampaknya telah mencapai batasnya "Yasudahlah, setidaknya dia tau."

Rifana merapikan tumpukan kertas yang tergeletak di meja 'Dipikir-pikir aneh juga,' Hati kecilnya bergumam 'Sejak kapan gua jadi separanoid ini?' Meskipun kiamat terjadi Rifana masihlah bukan tipe orang yang berencana untuk tindakannya.

Dia tak tahu sejak kapan dia mulai membuat rencana untuk tindakannya, karena biasanya Rifana hanya bertindak mengikuti arus dan melakukan apa adanya.

Bahkan di sekolah pun begitu.

Saat masih duduk di bangku SMA, meski nilai ujiannya sempurna dia bukanlah tipe orang yang berencana untuk belajar dalam jadwal atau apa.

Dia hanya membaca beberapa buku terkait pelajaran di hari sebelum ujian, dan itu saja bahkan sudah cukup baginya untuk mendominasi.

Apa yang akan terjadi jika dia berubah seperti ini?

Rifana mau tak mau merasa janggal.

Sejak datangnya kiamat, banyak hal telah terjadi padanya. Sebagian besar peristiwa yang dialaminya secara tak langsung mengubah persepsi dan pemahamannya akan dunia.

Seakan insting menuntunnya, Rifana melakukan hal-hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. Dan sebenarnya semuanya berdampak lebih baik dari dugaan.

Namun dia tak bisa berpikir terlalu dalam.

Karena tanpa sengaja.

"Argh..." Rifana ambruk tiba-tiba, dia melindungi kepalanya dari sesuatu yang tak ada.

Rasa sakit memenuhi kepalanya saat ribuan fragmen memori asing berputar mengelilingi kesadarannya.

'Lagi..' Entah keberapa kalinya dia menyaksikan ini.

Di dalam otaknya, ada banyak sekali ingatan asing yang ditanam dengan sempurna. Seolah itu adalah miliknya sejak awal, namun tidak.

Rifana memiliki kendali atas tubuhnya sampai batas tertentu, tetapi jika dia berpikir terlalu keras memori asing ini seolah-olah akan melahapnya dari dalam.

Dia tak bisa terus memaksakan dirinya untuk berpikir akan segalanya, Rifana jelas harus waspada dengan dirinya sendiri mulai saat ini karena jika diteruskan mungkin dia akan kehilangan kendali.

Ini mengingatkan dirinya akan satu detail kecil yang dilupakannya.

Kelemahan dari [Trait] miliknya yang sangat fatal.

Emosinya melonjak tak terkendali, kepalanya terasa berat dan berkabut dalam sekejap.

'Tenang, tenang, gua harus tenang' Kata tak berarti digumamkan Rifana, dan beruntungnya itu berhasil.

Huft... Haa...

Dia menarik dan membuang nafas dengan ritme yang menenangkan. Secara perlahan melepaskan beban di kepalanya satu persatu.

'Gua rasa cukup buat hari ini' Rifana yang kewalahan bersandar di sofa, dua temannya telah beristirahat dengan pulas.

Adam mendengkur di sisinya, dengan posisi tidur tengkurap membuat suaranya menjadi sedikit teredam dan aneh.

Ziva berada di kamar lantai dua, tertidur dengan nyaman.

Dan rasanya ini saatnya bagi Rifana untuk menyusul mereka.

Kelelahan mentalnya telah menumpuk membuat kelopak matanya sangat berat, seolah ada kantung air yang digantung disana.

Rifana memejamkan matanya, dengan cepat dia tertidur dalam pelukan kegelapan.

...

Entah berapa lama waktu telah berlalu, Rifana akhirnya terbangun dengan tubuh yang kembali segar.

Menoleh ke samping. Dia melihat Adam yang masih tertidur pulas 'Gua mungkin terlalu memaksakan dia kemarin' pikirnya singkat.

Sebenarnya dia hanya mengatakan beberapa hal tentang taktik dan formasi yang dapat mereka gunakan saat menjelajah.

Dengan rusaknya senjata Adam, mereka tentu harus mencari penggantinya dalam waktu dekat.

Namun sekarang itu tak mudah dilakukan, apalagi dengan kembalinya monster mutan liar ke lingkungan ini.

Rifana bahkan dapat mendengar kembali lolongan dan rintihan mengerikan dari makhluk-makhluk keji itu.

Mereka harus melakukan hal lain.

Rifana membuka antarmuka sistem, dia mengarahkan jarinya dan mengetuk panel status miliknya.

Dengan suara bip yang garing, layar itu glitch dan berubah.

[Status]

Nama: Rifana Arta

Class: -

Trait: Natural Adapter, Revived, Tactician

Skill: Regenerasi, Adrenaline rush, Swift, Tactics

Kekuatan: 3 (Rata-rata manusia dewasa 5)

Kelincahan: 2+1 (Rata-rata manusia dewasa 5)

Kecerdasan: 9 (Rata-rata manusia dewasa 5)

[Penilaian : Bajingan licik yang cukup beruntung]

'Trait baru!!' rasa penasaran membeludak keluar, Rifana dengan cepat melanjutkan.

Layar statusnya berkedip menunjukkan barisan informasi miliknya, beberapa hal telah dikenali Rifana dan ada beberapa kejutan baru juga.

Dia mengetuk opsi skill dan mengecek dua skill yang baru didapatnya.

Opsi pertama diketuk, sebuah skill yang disebut dengan [Swift] ini meningkatkan kelincahan secara permanen sebanyak satu dan itu membuat Rifana memiliki tiga poin penuh di kelincahan.

Setelah membaca deskripsi singkat skill itu, Rifana langsung beralih ke skill ke dua yang didapatnya.

Layar berkedip skill [Tactics] dibuka.

Melihat deskripsi skill ini. Rifana akhirnya tahu alasan kenapa dia terlalu banyak memikirkan rencana, skill ini adalah penyebabnya!

[Tactics]

[Deskripsi: Pikiran anda sangat tajam, anda mengembangkan daya waspada yang kuat setelah bertemu dengan makhluk-makhluk aneh]

'Bener aja, semuanya skill pasif' Rifana menatap layar mengambang di depannya penuh pikiran, semua skill yang didapatnya saat ini tak berorientasi dalam hal pertarungan.

Hampir semua skillnya berefek pasif layaknya buff, dan itu terbagi dalam beberapa kategori juga.

Ada buff permanen seperti skill [Regenerasi], [Tactics], dan [Swift] ketiganya memiliki efek yang selalu aktif tanpa halangan.

Mulai dari Regenerasinya yang meningkat sebanyak 50%, peningkatan kelincahan yang kecil, hingga kewaspadaan yang dikembangkan menjadi skill.

Dan satu kategori lainnya adalah Pasif yang bisa diaktifkan dan dinyalakan, mengapa Rifana menyebutnya pasif? Karena skill ini tak aktif sepanjang waktu. Namun akan aktif dengan sendirinya setelah trigger yang ditetapkan.

[Adrenaline Rush] Tentunya merupakan contoh terbaik.

Skill ini akan aktif secara otomatis setelah tubuh Rifana merasakan bahaya tertinggi, atau saat Rifana memasuki kondisi yang mengancam nyawa.

Itu bekerja layaknya pacuan adrenalin pada umumnya.

Namun Rifana jelas merasakan kekuatan itu.

Saat dalam kondisi aktif, Rifana tak merasakan rasa sakit dan fisiknya meningkat sekitar 50%, mungkin itu akan menambahkan stat secara sementara.

Namun ini berbeda dari adrenalin pada umumnya.

Karena dibuat menjadi skill, efeknya meningkat seolah diakui oleh kehendak kosmik itu sendiri.

Namun tetap saja.

Semua skill yang didapatkan Rifana hanyalah skill pasif.

Tak ada satupun skill serangan yang dimilikinya, Rifana bahkan iri pada Adam sebelumnya.

Saat pertarungan terjadi, Adam yang dalam kondisi berserk memicu sesuatu dan mendapatkan skill serangan yang disebut [Skull Crusher] itu adalah skill aktif yang melepaskan pukulan kuat ke arah musuh, menyebabkan 150% kerusakan fisik pada musuh.

Tentu itu akan sangat membantu membunuh musuh dengan cepat dalam pertarungan. Berbeda dengan Rifana yang harus menyebabkan puluhan atau bahkan ratusan luka hanya untuk menumbangkan satu makhluk.

Ini membuatnya sedikit bergidik.

Dia sepertinya sangat beruntung bisa membunuh dan mendapatkan inti monster di hari pertamanya. Ataukah mutan di hari awal kiamat masih tak stabil dan itu memberikan Rifana kesempatan? Dia tak yakin.

Pembunuhan pertamanya dilakukan pada tikus mutan yang sudah kelelahan karena tercekik kabel, itu juga dilakukan Rifana tanpa sadar sebelumnya.

'Syukurlah itu terjadi' Rifana menghela nafas lega.

Dia bisa saja mati di setiap kejadian yang menimpanya, namun dirinya selamat pada akhirnya.

Apa yang bisa menjelaskan itu selain keberuntungan?

Rifana kemudian beralih ke bintang utama dari sesi pengecekan sistem ini. Dia mengetuk kolom [Trait] dan memilih yang terbaru untuk dibuka.

Layar berkedip sekali lagi saat informasi muncul.

[Trait - Tactician]

[Deskripsi: Setelah situasi hidup dan mati, pikiran anda ditempa untuk bertahan hidup, insting anda akan bahaya meningkat drastis, jika anda tak bisa menang dengan kekuatan mentah, maka gunakanlah taktik.]

Membaca itu Rifana menjadi sedikit sinis, pikirannya memiliki tebakan kasar namun enggan mempercayainya.

[Efek - Mind over matter]

[Pikiranmu sangat kuat, meningkatkan resistensi ilusi, dan meningkatkan kecepatan belajar sebanyak 20%]

Efeknya cukup simpel, Rifana cukup puas membaca barisan kata itu. Dia menurunkan pundaknya rileks dan membaca bagian terakhir.

Disinilah semua kesulitannya berasal.

[Kelemahan: Kau tak bisa bertindak tanpa rencana, bertindak sembrono akan membuat dirimu merasakan penyiksaan mental yang mengerikan]

Rifana tercengang melihat ini 'Bener aja, ' dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya 'Masalahnya dateng dari gua sendiri, sialan' Dia menutup panel sistem dan bersandar kembali ke sofa.

'Jadi itu insting ya? Pantes aja gua ngelakuinnya tanpa sadar' Rifana memikirkan tindakannya selama ini, tubuhnya telah tahu jauh sebelum pikirannya tahu. Itulah alasan kenapa tindakannya terasa janggal.

Namun setidaknya kelemahan ini tak begitu buruk.

Rifana masih tidak tau penyiksaan macam apa yang akan dialaminya jika melanggar, namun sebaiknya jangan mencari kematian.

Efek ini memberinya ruang untuk berpikir sebelum bertindak, jadi ini merupakan pisau bermata dua.

Itu akan bermanfaat jika dia menggunakannya dengan benar.

'Baiklah ini saatnya bersiap' Rifana bangun dari sofa dan menghampiri Adam yang tertidur.

"Hei bro, cepat bangun, kita harus bersiap"

Dia mengguncang tubuh Adam berkali-kali, sampai pria itu terbangun.

"Huh.. hah apa?" Adam bangun dengan linglung, Dia menyeka air liur yang mengalir di pipinya sebelum bangun.

"Cepatlah kita harus pergi," Rifana berbicara sembari berjalan ke dapur "bangunkan Ziva juga, gua akan nyiapin makanan untuk kita"

Rifana pergi ke dapur meninggalkan Adam yang setengah sadar "Yah baiklah" Adam berdiri dan hampir tersungkur lagi, namun dia berhasil dengan seimbang.

Dia mengusap matanya dan pergi untuk mencuci muka sebelum naik ke atas.

Dengan langkah perlahan, Adam pergi ke lantai dua, dia membangunkan Ziva yang tengah tertidur.

Istirahat yang cukup telah membantunya pulih, dan dengan cepat Adam berusaha membangunkan adiknya itu.

"Ziva, kita harus pergi" ucapnya pelan di sisi kasur.

Namun gadis itu tak bergeming dan masih tertidur pulas.

Adam menghela nafas tak berdaya, dia mengenali adiknya dengan baik.

"Yah ini akan sulit"

Adam tahu, gadis ini tak bisa diganggu saat sedang tidur.

Namun ini bukan waktunya untuk hal ini.

Dia menaikan suaranya beberapa kali namun nihil.

Pada akhirnya tak ada pilihan.

"Maaf ya, salah lu sendiri sih"

Dengan segayung air, Adam menyiram Ziva tepat di wajah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!