NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pertemuan di Jembatan Merah

Langkah kaki Arjuna Wijaya mulai memasuki wilayah perbatasan Jombang. Telapak kakinya yang tanpa alas kini sudah menebal, pecah-pecah, dan berselimut debu jalanan yang menghitam. Namun, di setiap retakan kulit kakinya, terpancar aura cahaya tipis yang hanya bisa dilihat oleh mata batin para kekasih Tuhan.

​Di ujung jalan, terdapat sebuah jembatan tua yang di bawahnya mengalir sungai besar yang sangat deras. Di tengah jembatan itu, duduk seorang pria tua dengan pakaian compang-camping, matanya tertutup kain putih lusuh seolah ia buta. Di depannya hanya ada sebuah batok kelapa kosong sebagai tempat sedekah.

​Arjuna berhenti tepat di depan pengemis itu. Ia merasakan getaran energi yang sangat dahsyat, lebih kuat dari energi yang ia rasakan di Kadilangu. Macan Putih Kyai Loreng mendadak merunduk sangat rendah, seolah memberi hormat pada sosok pengemis di depan mereka.

​"Nyuwun sewu, Mbah... niki wonten setitik donga kagem panjenengan," bisik Arjuna lembut sambil duduk bersimpuh di atas semen jembatan yang kasar.

(Permisi, Mbah... ini ada sedikit doa buat Anda.)

​Pengemis buta itu mendongak, meskipun matanya tertutup kain, ia seolah menatap langsung ke dalam jantung Arjuna. Bibirnya yang kering tersenyum tipis. "Donga iku apik, Arjuna. Nanging donga sing paling dhuwur iku dudu jaluk selamet, nanging jaluk 'Ilang'."

(Doa itu baik, Arjuna. Tapi doa yang paling tinggi itu bukan minta selamat, tapi minta 'Hilang'.)

​Arjuna tertegun. Ia tahu pria ini bukan pengemis biasa. Ia segera mencium tangan pria tua yang kasar dan bau tanah itu. "Sinten asmane panjenengan, Mbah?" tanya Arjuna takzim.

​"Jenengku Syeikh Nur Jati. Aku mung wong sing lagi nunggu Gusti Allah neng pinggir kali iki," jawab pengemis itu sambil tertawa kecil, suara tawanya membuat air sungai yang deras mendadak tenang seketika.

​Arjuna semakin merunduk. "Nopo tegesipun 'Ilang' niku, Syeikh Nur Jati? Kulo sampun mlaku tanpa dhuwit, tanpa alas kaki, nanging ati kulo tasih ngerasa 'wonten' (merasa ada)."

​Syeikh Nur Jati mengambil segenggam debu dari lantai jembatan, lalu meniupnya ke wajah Arjuna. "Ilang iku tegese kowe wis ora ngrasa duwe awak, ora ngrasa duwe ilmu, lan ora ngrasa dadi wong apik. Selama kowe isih ngrasa dadi 'Arjuna sing lagi musafir', kowe isih dadi batur dunya!" tegas Syeikh Nur Jati dengan nada yang menggelegar di alam ruh.

(Hilang itu artinya kamu sudah tidak merasa punya badan, tidak merasa punya ilmu, dan tidak merasa jadi orang baik. Selama kamu masih merasa jadi 'Arjuna yang lagi musafir', kamu masih jadi budak dunia!)

​Seketika, pandangan Arjuna menjadi gelap gulita. Ia merasa raganya hancur menjadi butiran debu. Ia tidak lagi merasakan sakit di kakinya, tidak lagi merasakan lapar di perutnya. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa hanya Allah-lah yang ada, sementara dirinya adalah ketiadaan yang nyata.

​"Nek kowe wis Ilang, moko Gusti Allah sing bakal mlaku nggunakake sikilmu. Gusti Allah sing bakal nyawang nggunakake mripatmu. Kuwi hakikate 'Manunggal' sing sejati," bisik Syeikh Nur Jati tepat di telinga batin Arjuna.

​Arjuna menangis sesenggukan. Air matanya jatuh membasahi lantai jembatan. Ia merasa kesombongan halusnya yang merasa sudah "hebat karena bisa tirakat" kini hancur lebur ditangan Syeikh Nur Jati.

​Saat Arjuna membuka matanya kembali, pengemis buta itu sudah menghilang. Batok kelapa yang tadi kosong kini berisi seteguk air bening yang sangat harum. Arjuna meminumnya, dan seketika seluruh luka di kakinya menutup sempurna, meninggalkan kulit yang halus namun sekeras baja.

​"Matur nuwun, Syeikh Nur Jati... matur nuwun sampun mbukak hijab kulo," gumam Arjuna sambil bersujud syukur.

​Arjuna bangkit berdiri. Kini langkahnya tidak lagi terasa berat. Ia berjalan seolah melayang di atas bumi. Ia tidak lagi merasa sebagai Arjuna si Sultan, tidak pula merasa sebagai Arjuna si Musafir. Ia hanya merasa sebagai "titipan" Tuhan yang sedang berjalan di atas bumi Tuhan.

​Di kejauhan, Macan Putih Kyai Loreng kini berubah warna menjadi putih transparan, tanda bahwa jiwa Arjuna sudah mulai memasuki maqom (tingkatan) hakikat yang lebih tinggi. Perjalanan menuju Kediri pun berlanjut, bukan lagi dengan tenaga raga, melainkan dengan kekuatan cahaya 'Ilang' yang diberikan sang Guru Mursyid.

Setelah meminum air dari batok kelapa pemberian Syeikh Nur Jati, Arjuna merasa tubuhnya seringan kapas. Ia melangkah memasuki wilayah pasar Mojoagung yang sedang ramai-ramainya. Bau amis ikan, debu jalanan, dan teriakan para pedagang menyambut indra penciumannya. Namun, batin Arjuna tetap sunyi, seolah-olah ia sedang berada di dalam masjid yang paling tenang.

​"Ilang... Ilang... mboten wonten Arjuna, namung wonten Gusti," bisik batinnya terus-menerus.

(Hilang... Hilang... tidak ada Arjuna, hanya ada Tuhan.)

​Saat ia berjalan melewati deretan kios kain, seorang pedagang kaya yang sedang menghitung uangnya tiba-tiba berteriak ke arah Arjuna. "Heh, Gembel! Aja cedhak-cedhak kene, nggilani! Ambunmu ngrusak daganganku!" teriak pria itu sambil mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat.

​Dulu, jika dihina seperti itu, darah Arjuna akan mendidih. Tapi sekarang, ia hanya menatap pria itu dengan tatapan kosong yang penuh kasih sayang. Arjuna tidak merasa sakit hati, karena ia merasa "Arjuna" yang dihina itu sudah tidak ada. Yang ada hanyalah raga yang sedang menjalankan kehendak Tuhan.

​Arjuna terus berjalan tanpa membalas sepatah kata pun. Namun, tiba-tiba seorang kuli panggul yang sedang membawa beban berat terpeleset tepat di sampingnya. Karung beras yang sangat besar itu nyaris menimpa seorang anak kecil yang sedang duduk di lantai.

​Tanpa berpikir panjang, Arjuna menggerakkan tangannya. Secara ajaib, karung yang beratnya hampir satu kuintal itu seolah-olah tertahan oleh udara yang padat sebelum menyentuh tanah. Arjuna menangkapnya dengan satu tangan saja, tanpa terlihat mengeluarkan tenaga sedikit pun.

​"Ya Allah! Matur nuwun, Mas! Panjenengan kuat sanget!" seru si kuli panggul dengan wajah pucat karena kaget.

​Orang-orang di pasar mulai berkerumun. Mereka takjub melihat pemuda kusam tak beralas kaki itu bisa menahan beban seberat itu dengan begitu mudah. Beberapa orang mulai berbisik-bisik, "Iki dudu wong sembarangan, iki wong sakti!"

​Pujian mulai mengalir. Namun, di sinilah ujian hakikat yang sebenarnya. Arjuna merasakan ada sedikit getaran "bangga" yang ingin muncul di dadanya. Cepat-cepat ia teringat peringatan Syeikh Nur Jati.

​"Iki dudu tanganku sing nyekel, nanging qudrate Gusti," batin Arjuna dengan tegas menekan rasa sombongnya. Ia segera meletakkan karung itu dengan lembut, lalu menyelinap di antara kerumunan orang sebelum mereka sempat mencium tangannya atau meminta berkah.

​Ia berlari kecil menuju pinggiran pasar yang sepi. Di bawah pohon waru yang rindang, Arjuna terengah-engah. Bukan karena lelah fisik, tapi karena lelah menjaga hatinya agar tetap "Ilang".

​Tiba-tiba, suara tawa renyah terdengar dari atas pohon. "Ha ha ha! Meh wae kowe kejebak, Arjuna! Meh wae kowe ngrasa dadi pahlawan!"

​Arjuna mendongak. Di atas dahan pohon, nampak sosok Syeikh Nur Jati yang tadinya menyamar jadi pengemis, kini nampak duduk santai sambil mengunyah sirih. Wajahnya bersinar sangat terang, memancarkan cahaya kewalian yang luar biasa.

​"Elingo, Arjuna... pujian iku luwih bahaya tinimbang cacian. Cacian iku ngresiki duso, nanging pujian iku bisa ngrontokake amalmu dadi awu," ucap Syeikh Nur Jati sambil melompat turun dengan sangat ringan, kakinya tidak menyentuh tanah seolah-olah ia berdiri di atas udara.

(Ingat, Arjuna... pujian itu lebih bahaya daripada cacian. Cacian itu membersihkan dosa, tapi pujian itu bisa merontokkan amalmu jadi abu.)

​Arjuna bersujud di kaki sang Guru Mursyid. "Ngapunten, Syeikh... kulo tasih ringkih. Pripun carane saged bener-bener 'Ilang'?" rintih Arjuna.

​Syeikh Nur Jati memegang kepala Arjuna. "Mlakuo terus menyang arah kulon. Golekono omah sing ora ana atape, lan pethukno wong sing ora duwe bayangan. Nek kowe wis pethuk, moko kowe bakal ngerti opo kuwi sejatine 'Ilang'."

(Berjalanlah terus ke arah barat. Carilah rumah yang tidak ada atapnya, dan temuilah orang yang tidak punya bayangan. Kalau kamu sudah ketemu, maka kamu bakal tahu apa itu sejatinya 'Hilang'.)

​Setelah mengucapkan itu, Syeikh Nur Jati menghilang menjadi bintik-bintik cahaya yang masuk ke dalam jantung Arjuna. Arjuna berdiri dengan tekad yang lebih kuat. Ia tahu, perjalanan spiritual ini baru saja memasuki babak yang paling rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!