"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: HARGA SEBUAH PENGLIHATAN
Langkah kaki Arka bergema di lorong marmer hotel yang sunyi, meninggalkan kegaduhan di aula yang kini lebih mirip sarang lebah yang disodok bara api. Di belakangnya, Hendra Wijaya dan Clarissa berjalan dengan perasaan campur aduk: kagum, takjub, sekaligus ngeri.
"Arka, tunggu!" Clarissa memanggil, suaranya sedikit bergetar.
Arka berhenti tepat di bawah lampu gantung kristal yang berpendar redup. Saat dia berbalik, Clarissa tersentak. Mata Arka tak lagi merah darah, tapi sisa-sisa pendar emas di pupilnya masih ada—seperti sisa pembakaran bintang yang hampir padam.
"Kamu... apa yang sebenarnya kamu lakukan pada mata Surya?" tanya Clarissa lirih.
Arka tidak langsung menjawab. Dia menatap telapak tangannya sendiri yang sedikit bergetar. Dingin. Rasanya seperti baru saja mencelupkan tangan ke dalam es abadi.
"Aku hanya meminjamkan kegelapan padanya, Clarissa," jawab Arka tenang. Suaranya terdengar lebih berat, lebih dewasa dari usianya. "Orang yang terbiasa memandang rendah orang lain, sesekali perlu tahu rasanya tidak bisa melihat apa-apa."
"Tapi Arka," Hendra Wijaya menimpali dengan nada serius, "Keluarga Sanjaya itu seperti ular berbisa. Kamu tidak hanya menginjak ekornya, kamu baru saja menusuk matanya. Mereka akan datang dengan segala cara."
Arka tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Biarkan mereka datang, Pak Hendra. Dunia ini sudah terlalu lama silau oleh uang mereka. Mungkin sudah saatnya mereka belajar berjalan dalam gelap."
Tiba-tiba, Arka merasakan denyut tajam di belakang kepalanya. Pandangannya mengabur sesaat. Dunia di matanya mendadak berubah menjadi jalinan garis-garis energi (Qi) yang tumpang tindih—terlalu terang, terlalu bising. Inilah harganya. Menggunakan mata untuk memanipulasi saraf orang lain ternyata menguras energi mentalnya secara brutal.
Sial, aku belum cukup kuat untuk durasi lama, batin Arka.
"Arka? Kamu pucat sekali," Clarissa mendekat, tangannya refleks memegang lengan Arka.
Sentuhan itu terasa hangat. Di mata Arka, dia bisa melihat aliran energi Clarissa yang murni—berwarna biru lembut seperti samudra tenang. Tanpa sadar, energi itu seolah menenangkan saraf matanya yang sedang meradang.
"Aku tidak apa-apa. Hanya butuh udara segar," ujar Arka sambil menarik napas panjang, mencoba menstabilkan degup jantungnya.
Sementara itu, di dalam aula, kekacauan belum berakhir. Surya Sanjaya masih mengerang di lantai, mencakar-cakar karpet mahal seolah-olah dia bisa menemukan cahaya di sana. Siska, sang mantan, berdiri mematung di sudut ruangan.
Dia melihat ke arah pintu tempat Arka menghilang. Perasaan menyesal itu datang bukan karena dia masih cinta, tapi karena dia baru sadar bahwa "rengginang" yang dia buang dulu ternyata adalah berlian hitam yang bisa menelan siapa saja yang meremehkannya.
Rendy, tunangan Siska, mencoba memegang bahunya, tapi Siska menepisnya. "Jangan sentuh aku," desis Siska. Matanya nanar. Dia tahu, mulai detik ini, hidup mereka tidak akan pernah tenang lagi.
Di luar hotel, hujan rintik mulai turun, membasuh aspal Jakarta yang panas. Arka menengadah, membiarkan tetesan air mengenai wajahnya.
"Mulai besok," gumam Arka pada rintik hujan, "Nama Arka bukan lagi simbol kemiskinan. Tapi simbol peringatan."
Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah dengan plat nomor khusus memperhatikan mereka dari kegelapan. Di dalamnya, seseorang dengan cerutu di tangan melihat ke arah Arka melalui tablet digital.
"Mata itu... akhirnya muncul juga," bisik orang di dalam mobil tersebut. "Cari tahu siapa gurunya. Kalau tidak bisa direkrut, lenyapkan sebelum dia mekar."
semangat kak👍