Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Luka Kecil
Setelah si kembar dibawa keluar oleh Soo-hyun, suasana di ruangan Matteo berubah menjadi medan perang dingin. Cessie melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya memenuhi udara, namun bagi Matteo, aroma itu terasa menyesakkan. Ya, wanita yang datang tiba-tiba itu adalah Cessie.
"Kau berhutang banyak padaku, Matt," ucap Cessie dengan nada menuntut. Ia meletakkan tangannya di dada Matteo, mencoba mencari celah kehangatan yang pernah ia bayangkan selama dua tahun terakhir di Filipina.
"Dua tahun aku menemanimu, mengurus kekacauan yang kau buat di Manila, menunggumu melirikku dan sekarang kau pergi begitu saja ke Seoul?"
Matteo menepis tangan Cessie dengan kasar. "Aku tidak pernah memintamu menungguku, Cessie. Dan asal kau tahu..." Matteo menatap tajam, suaranya berat dan penuh penekanan, "Aku sudah menikah. Dan anak-anak yang kau lihat tadi, mereka adalah anak-anakku. Darah dagingku."
Cessie tertawa sumbang, matanya berkilat tidak percaya. "Menikah? Dengan siapa? Wanita butik itu? Kau bercanda, Matt! Kau Smith, kau tidak mungkin mengikat dirimu pada wanita kelas bawah hanya karena dua anak itu!"
"Jaga bicaramu!" bentak Matteo.
Cessie yang emosi mendadak menghambur, memeluk leher Matteo dengan paksa. "Kau tidak bisa membuangku begitu saja setelah semua waktu ruginya aku bersamamu di Manila! Aku tidak terima, Matt!"
Matteo berusaha melepaskan pelukan histeris Cessie, namun di saat yang bersamaan, pintu jati besar itu sedikit terbuka.
Chan-yeol berdiri di sana.
Ia baru saja berhasil lari dari pengawasan Soo-hyun yang sedang sibuk menjawab telepon di lorong. Niatnya ingin memberikan gambar gedungnya kembali pada Daddy-nya, namun yang ia lihat justru pemandangan yang menghancurkan hatinya. Seorang wanita asing sedang memeluk Daddy-nya erat, dan Daddy-nya tampak tidak langsung bisa melepaskannya.
Wajah Chan-yeol yang biasanya tenang kini memucat. Rahangnya mengeras, persis seperti Matteo saat sedang marah. Ia tidak menangis. Ia hanya mundur perlahan, menutup pintu itu tanpa suara, lalu berlari kembali ke ruang bermain.
"Chae-rin, ayo pulang," ucap Chan-yeol dingin sambil menarik tangan adiknya yang sedang asyik bermain boneka.
"Tapi nanti Daddy cari kita, Chan-yeol-ah. Daddy bilang mau ajak kita makan pizza!" rengek Chae-rin bingung.
"Tidak," sahut Chan-yeol, tatapannya tajam dan menusuk. "Kita tidak butuh Daddy lagi. Ayo keluar sekarang."
Sore harinya, suasana di apartemen Mapo terasa sangat aneh. Chae-young yang baru saja pulang dari butik merasa ada yang salah. Biasanya si kembar akan rebutan bercerita tentang petualangan mereka di kantor M-Nexus, tapi hari ini, Chan-yeol hanya duduk diam di meja makan, menatap makanannya tanpa ekspresi.
Bahkan saat Matteo datang mengantar mereka dan berusaha mencium kening Chan-yeol, bocah itu dengan sengaja memalingkan wajah dan masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun.
Matteo hanya bisa berdiri kaku di pintu, merasa ada tembok raksasa yang tiba-tiba dibangun oleh putranya sendiri.
Setelah Matteo pulang dengan perasaan bingung, Chae-young mendekati putranya. Ia duduk di samping Chan-yeol yang masih terdiam.
"Ada apa, Chan-yeol-ah?" tanya Chae-young lembut. "Apa terjadi sesuatu padamu? Apa Daddy menyakitimu di kantor tadi? Kau terlihat cuek sekali padanya."
Chan-yeol meletakkan pensil warnanya. Ia menatap Mommy-nya dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh keberanian.
"Mommy... Daddy itu bukan orang baik," bisik Chan-yeol, suaranya bergetar menahan kecewa. "Daddy punya seorang perempuan lain, sama seperti Mommy yang dekat dengannya. Chan-yeol lihat sendiri, perempuan itu memeluk Daddy di kantor."
Chae-young membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Perempuan? Pikirannya langsung melayang pada bayangan wanita-wanita cantik yang mungkin mengelilingi CEO sekelas Matteo.
"Mungkin... mungkin itu hanya teman Daddy, Sayang. Teman bisnis?" Chae-young mencoba menenangkan dirinya sendiri, meski hatinya mulai terasa perih.
"Tidak, Mommy!" seru Chan-yeol, kali ini setetes air mata jatuh di pipinya. "Kalau hanya teman, Daddy tidak akan membiarkan perempuan itu memeluknya seperti itu. Daddy berbohong pada kita. Daddy jahat!"
Chae-young menarik Chan-yeol ke dalam pelukannya. Hatinya hancur berkeping-keping. Luka lima tahun lalu yang baru saja mulai mengering kini terasa seperti disiram air garam. Ia teringat jepit rambut pemberian Matteo, teringat ajakan nikahnya semalam.
Apakah semuanya hanya sandiwara, Matteo? batin Chae-young perih. Apakah kau mencoba menikahiku hanya untuk melegalkan status anak-anak sementara hatimu masih milik wanita lain di luar sana?
Malam itu, Chae-young menatap jepit rambut bunga lili di atas nakasnya dengan tatapan kosong. Di sisi lain, Matteo yang berada di mobilnya terus memikirkan tatapan benci dari Chan-yeol. Ia tidak tahu bahwa kehancuran hubungannya dengan Chae-young kali ini bukan datang dari Soo-hee, melainkan dari sisa-sisa masa lalunya di Manila yang datang tanpa diundang.
"Apakah yang dikatakan Chan-yeol itu benar?" bisik Chae-young di kegelapan kamar.
***
Hati Chae-young yang awalnya sudah mulai menghangat, kini mendadak membeku. Ia menatap kotak bekal berisi Gimbap dan Kimchi buatan tangannya sendiri yang terpangku di pangkuannya. Niatnya sederhana—ia ingin menghargai usaha Matteo yang kemarin menjemput si kembar dan mungkin, hanya mungkin, ia ingin memberikan kesempatan pada pria itu.
Namun, penglihatan seorang anak tidak pernah berbohong. Apa yang dikatakan Chan-yeol semalam kini terpampang nyata di depan matanya.
Taksi yang ia tumpangi berhenti tepat beberapa meter dari lobi utama gedung M-Nexus. Di sana, di bawah lampu lobi yang terang, sosok Matteo berdiri tegak. Pria itu tampak sibuk, satu tangannya memegang ponsel di telinga, rahangnya bergerak cepat menandakan ia sedang dalam pembicaraan bisnis yang serius.
Tapi bukan itu yang meremas jantung Chae-young.
Seorang wanita—wanita yang sama yang mungkin dilihat Chan-yeol—berdiri di samping Matteo. Wanita itu memiliki kecantikan yang mengintimidasi. Tubuhnya tinggi semampai bak model papan atas, sangat kontras dengan Chae-young yang memiliki tinggi standar wanita Korea. Rambut wanita itu lurus sebahu, berkilau sehat, sangat berbeda dengan rambut ikal bronte waves milik Chae-young yang panjang dan seringkali berantakan jika ia kelelahan bekerja.
Wanita itu menempel bagai lintah. Tangannya memeluk erat lengan berotot Matteo yang terbalut jas mahal. Dan yang paling menyakitkan bagi Chae-young adalah, Matteo tidak terlihat risih. Pria itu tetap melanjutkan bicaranya di telepon, membiarkan wanita itu bersandar di bahunya seolah itu adalah tempat yang paling sah baginya.
"Nyonya, kita sudah sampai. Ini gedungnya, kan?" suara sopir taksi memecah keheningan di dalam mobil.
Chae-young mengeratkan cengkeramannya pada kotak bekal itu. Matanya memanas. Ia merasa sangat kecil, sangat tidak berarti. Dibandingkan dengan wanita di sana, ia hanyalah seorang ibu tunggal dengan masa lalu yang berantakan dan beban hidup yang berat.
Pantas saja kau belum mencariku selama lima tahun ini, Matteo, batin Chae-young pahit. Ternyata duniamu sudah dipenuhi oleh bunga-bunga indah yang jauh lebih pantas mendampingimu daripada aku.
"Nyonya? Jadi turun?" sopir itu bertanya sekali lagi, bingung melihat penumpangnya hanya mematung menatap keluar jendela.
Chae-young menarik napas panjang, mencoba menelan bongkahan sesak di tenggorokannya. Ia memejamkan mata, tidak sanggup melihat pemandangan di depan sana lebih lama lagi.
"Putar balik, Pak," ucap Chae-young, suaranya parau namun tegas.
"Eh? Putar balik? Tapi ini sudah di depan lobi—"
"Saya bilang putar balik!" Chae-young sedikit meninggikan nadanya karena emosi yang tidak terbendung. "Bawa saya kembali ke Mapo. Sekarang."
Sopir taksi itu segera memutar kemudi, meninggalkan area M-Nexus. Chae-young menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, melihat Matteo yang masih sibuk dengan dunianya, tidak sadar bahwa wanita yang baru saja ia ajak menikah baru saja pergi dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Begitu sampai di rumah, Chae-young langsung menuju dapur. Ia meletakkan kotak bekal itu di atas meja dengan kasar. Matanya tertuju pada jepit rambut lili yang masih tersemat di rambutnya. Dengan gerakan kasar, ia mencabut jepit itu dan melemparkannya ke dalam laci meja rias.
"Mommy? Mana Daddy?" suara cempreng Chae-rin terdengar dari arah ruang tamu. Si kecil itu berlari menghampiri dengan wajah penuh harap. "Daddy bilang mau bawain mainan baru kalau Mommy antar makanan ke sana."
Chae-young mencoba tersenyum, meski rasanya wajahnya akan retak. Ia berjongkok, mengusap pipi putrinya. "Daddy... Daddy sedang sangat sibuk, Sayang. Jadi Mommy tidak mau mengganggunya."
Chan-yeol yang sedari tadi duduk di sofa sambil membaca buku, hanya menatap Mommy-nya dengan tatapan tajam. Ia bisa melihat mata Mommy-nya yang kemerahan. Tanpa kata, Chan-yeol bangkit berdiri dan mendekati Chae-young, memeluk leher ibunya dengan erat.
"Sudah Chan-yeol bilang, kan? Kita tidak butuh Daddy," bisik Chan-yeol dengan nada yang jauh lebih dewasa dari usianya. "Chan-yeol yang akan menjaga Mommy. Kita bertiga saja sudah cukup."
Tangis Chae-young hampir pecah mendengar dukungan putranya. Ia menyadari satu hal, ia tidak boleh luluh lagi. Matteo Smith mungkin adalah ayah dari anak-anaknya, tapi pria itu memiliki dunia yang terlalu kotor dan penuh rahasia untuk ia masuki.
Malam itu, ponsel Chae-young bergetar terus-menerus. Nama Matteo Smith muncul di layar berkali-kali. Namun, Chae-young tidak menyentuhnya sama sekali. Ia membiarkan ponsel itu meratap di sudut meja, sama seperti hatinya yang meratap karena sekali lagi, ia merasa dikhianati oleh harapan yang ia bangun sendiri.