Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Cahaya Sang Mursyid
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di ufuk timur Gedangan, namun aroma cendana semalam kini berganti dengan wangi gaharu yang sangat sejuk dan menenangkan jiwa. Di depan gerbang rumah, sesosok pria sepuh berjubah putih bersih dengan sorban hijau melingkar di kepalanya tampak berdiri mematung. Wajahnya bersinar, memancarkan kedamaian yang tak terlukiskan.
Faris dan Arjuna Hidayat serentak berlari keluar. Begitu melihat sosok itu, keduanya langsung bersimpuh di tanah, mencium tangan Sang Guru dengan takzim. Beliau adalah Syekh Mursyid, guru ruhani yang selama ini membimbing batin mereka dari kejauhan.
"Assalamu’alaikum, Guru..." ucap Faris dengan suara bergetar.
"Wa'alaikumussalam, murid-muridku. Cahaya Majapahit sudah berkumpul di rumah ini, maka sudah saatnya cahaya langit pun turun untuk menyempurnakan," ucap Syekh Mursyid dengan suara yang lembut namun berwibawa.
Eyang Buyut Wijaya keluar dari dalam rumah. Dua kekuatan besar, sang Raja Bumi dan sang Penjaga Langit, bertemu dalam satu pandangan mata yang penuh hormat. Keduanya saling mengangguk, sebuah pertanda bahwa alam nyata dan alam gaib telah bersatu untuk membela Sidoarjo.
Syekh Mursyid kemudian meminta Faris duduk bersila di tengah halaman. Beliau meletakkan tangannya di atas kepala Faris, sementara Arjuna Hidayat berdiri di belakang adiknya, memegang pundak Faris dengan erat.
"Faris Arjuna, rungokno titah iki..." (Faris Arjuna, dengarkan perintah ini...) ucap Syekh Mursyid dalam bahasa Jawa yang sangat dalam.
"Kowe wis kepilih dadi Satrio Piningit. Dudu merga kowe sakti, nanging merga kowe duwe ati sing gelem ngrasakake lara-lapane wong cilik. Pena ing tanganmu iku dadi pusakamu, lan sabarmu dadi tamengmu."
(Kamu sudah terpilih menjadi Satrio Piningit. Bukan karena kamu sakti, tapi karena kamu punya hati yang mau merasakan penderitaan rakyat kecil. Pena di tanganmu itu menjadi pusakamu, dan sabarmu menjadi tamengmu.)
Syekh Mursyid kemudian menatap Arjuna Hidayat. "Arjuna Hidayat, kowe dadi pepadange adhimu. Bimbingen langkahé, jogoen batiné. Kowe iku dadi sayap sing njogo Faris supaya ora ceblok merga duso lan sombong."
(Arjuna Hidayat, kamu menjadi penerang adikmu. Bimbinglah langkahnya, jagalah batinnya. Kamu itu menjadi sayap yang menjaga Faris supaya tidak jatuh karena dosa dan kesombongan.)
Arjuna Hidayat menunduk dalam. "Sendika dhawuh, Guru. Hamba akan mempertaruhkan nyawa untuk membimbing Dikmas Faris."
Seketika, sebuah cahaya putih dari langit turun menyelimuti tubuh Faris Arjuna. Ia merasakan seluruh beban di pundaknya mendadak ringan, namun tanggung jawab besar kini terpatri di jiwanya. Ia bukan lagi sekadar pemuda terminal atau penulis novel biasa; ia adalah pembawa harapan bagi tanah kelahirannya.
Di pojok halaman, Brewok dan Jono hanya bisa melongo. Brewok yang tadi sudah memakai kacamata hitam karena ingin pamer di depan para Dewi, langsung melepas kacamatanya dengan gemetar.
"Jon, aku merasa seperti butiran debu di tengah samudera cahaya ini," bisik Brewok puitis dadakan.
Jono hanya mengangguk setuju. "Wis Wok, ojo kakean pola. Iki urusane wis dudu masalah terminal maneh, iki urusan jagad."
(Sudah Wok, jangan banyak tingkah. Ini urusannya sudah bukan masalah terminal lagi, ini urusan semesta.)
Syekh Mursyid tersenyum, lalu menatap Eyang Wijaya yang sudah berganti pakaian modern. "Gusti Prabu, sampun siap nyirnakake angkara murka ing pusat kota?"
(Gusti Prabu, sudah siap melenyapkan angkara murka di pusat kota?)
Eyang Buyut Wijaya membetulkan kerah jaketnya dan memakai kacamata hitam pemberian Brewok dengan gaya gagah. "Ayo, Syekh. Kita tunjukkan bahwa kebenaran tidak pernah tidur."
Faris Arjuna berdiri dengan sorot mata yang berbeda. Tajam, tenang, dan penuh keyakinan. Dengan bimbingan Kangmas Arjuna Hidayat dan doa sang Mursyid, ia melangkah keluar gerbang menuju pertempuran yang sesungguhnya di pusat kota Sidoarjo.
Setelah suasana sakral kedatangan Syekh Mursyid mereda, suasana rumah di Gedangan mendadak berubah menjadi riuh. Dewi Rajadewi Maharajasa, yang sedari tadi memperhatikan ponsel milik Jono, tiba-tiba menarik ujung jaket Faris dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Kakang Faris, niki nopo malih? Kok teng mriki enten griya ingkang ageng sanget, isine sandhangan lan panganan sing werna-werna? Jenenge 'Mall'?" tanya Dewi Rajadewi dengan mata berbinar.
(Kakang Faris, ini apa lagi? Kok di sini ada rumah yang sangat besar, isinya pakaian dan makanan yang berwarna-warni? Namanya 'Mall'?)
Dewi Tribhuwana Tunggadewi ikut mendekat. "Iyo, Kakang. Aku pengen weruh kepiye menungso jaman saiki dodolan. Opo isih nggunake sistem barter?"
(Iya, Kakang. Aku ingin tahu bagaimana manusia zaman sekarang berjualan. Apakah masih menggunakan sistem barter?)
Faris Arjuna menepuk jidatnya. Belum juga menyerbu pusat kekuatan Ki Ageng Blorong, ia sudah harus menghadapi serbuan rasa penasaran para putri Majapahit. Eyang Buyut Wijaya pun ikut mengangguk setuju sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
"Yo wis Cucuku, terno bue lan paman-pamanmu mampir mrono. Aku pengen weruh kemajuane jaman," titah Eyang Wijaya.
(Ya sudah Cucuku, antar bibi dan paman-pamanmu mampir ke sana. Aku ingin melihat kemajuan zaman.)
Faris segera menoleh ke arah Brewok. "Wok! Siapkan mobil. Kamu yang nyetir, bawa kita semua ke Mall paling besar di kota!"
Brewok yang tadinya sedang asyik ngupil langsung tegak berdiri. "Siap, Bos! Kereta kencana modern siap meluncur!" Brewok segera mengeluarkan mobil minibus tua andalannya yang stikernya penuh dengan tulisan 'Anti Galau'.
Saat rombongan masuk ke mobil, kekacauan dimulai. Raden Jayanegara bingung bagaimana cara memakai sabuk pengaman. "Wok! Iki tali opo? Kok aku malah koyo dibanda arep dikurbanake?" teriak Jayanegara panik sambil melilit-lilitkan sabuk pengaman ke lehernya.
(Wok! Ini tali apa? Kok aku malah seperti diikat mau dikurbankan?)
Brewok nyengir sambil memutar kemudi. "Sabar, Pangeran! Itu biar kalau saya ngerem mendadak, Pangeran nggak nyungsep ke kaca depan!"
Sepanjang jalan, Brewok menyetir dengan gaya 'pembalap terminal' yang ugal-ugalan. Klakson teloletnya sesekali berbunyi, membuat Eyang Wijaya kaget bukan main. "Bocah gendheng! Iki opo suoro jaran raseksa nangis?" tanya Eyang Wijaya setiap kali klakson berbunyi.
(Bocah gila! Ini apa suara kuda raksasa menangis?)
Sesampainya di Mall, Brewok dengan gaya sok jagoan membukakan pintu untuk para Dewi. Begitu masuk ke dalam mall dan melewati pintu sensor otomatis yang terbuka sendiri, Raden Jayanegara langsung mencabut keris pendek di balik jaket bombernya.
"He! Lawang iki sakti! Sopo sing ngerahake sihir ben lawang iki mbukak dewe?" teriak Jayanegara sambil memasang kuda-kuda tempur.
(He! Pintu ini sakti! Siapa yang mengarahkan sihir supaya pintu ini terbuka sendiri?)
Orang-orang di mall mulai melihat ke arah mereka. Faris segera menarik tangan Jayanegara. "Paman, tenang! Itu bukan sihir, itu teknologi! Masukkan lagi kerisnya, nanti kita diusir satpam!" bisik Faris malu bukan main.
Dewi Rajadewi malah sibuk mengejar eskalator (tangga berjalan). "Kakang Faris! Deloken tangga iki! Mlakune dewe! Iki pasti nggunake bantuan jin penunggu mall!" seru Dewi Rajadewi sambil mencoba naik tapi malah terpeleset karena belum biasa.
(Kakang Faris! Lihat tangga ini! Jalannya sendiri! Ini pasti menggunakan bantuan jin penunggu mall!)
Brewok yang melihat momen itu langsung pasang aksi. "Gusti Putri, silakan pegang tangan hamba. Biar hamba tuntun melewati tangga ajaib ini," ucap Brewok sambil pasang wajah paling ganteng versinya.
Faris hanya bisa menghela napas panjang sambil melihat ke arah Kangmas Arjuna Hidayat yang hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku keluarga besarnya itu. "Mas, beneran nih kita mau perang batin tapi mampir beli es krim dulu?" tanya Faris pasrah.
Arjuna Hidayat menepuk bahu Faris. "Sabar, Dikmas. Iki bagian saka laku prihatinmu dadi Satrio Piningit... prihatin ngempet isin (menahan malu)," jawab Arjuna Hidayat telak.
Faris pun pasrah, mengikuti rombongan raja dan putri Majapahit yang mulai sibuk mencoba parfum tester di counter kosmetik, sementara Eyang Wijaya asyik memandangi manekin dan bertanya, "Cucuku, kenapa orang-orang ini diam saja dan badannya keras seperti kayu
Di saat Dewi Rajadewi sedang asyik mencicipi es krim potong, langkah Faris Arjuna mendadak terhenti di depan sebuah toko tas branded. Dari dalam toko, keluar seorang wanita cantik dengan pakaian sangat glamor, menenteng tas mahal seharga motor baru. Dia adalah Siska, mantan kekasih Faris yang dulu memutuskan hubungan secara sepihak karena Faris dianggap hanya "gembel terminal" yang tidak punya masa depan.
Siska berhenti, menatap Faris dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya yang perutnya buncit, memakai jam tangan emas yang mencolok.
"Loh, Faris? Kamu ngapain di mall mewah begini? Jadi tukang bersih-bersih atau lagi cari rongsokan di tong sampah?" Siska tertawa sinis, suaranya sengaja dikeraskan agar pengunjung lain menoleh.
Faris Arjuna hanya diam. Ia menatap Siska dengan tatapan yang tenang, sedalam samudera. Berkat bimbingan Syekh Mursyid dan Kangmas Arjuna Hidayat, ia tahu bahwa membalas hinaan dengan emosi hanya akan menurunkan derajatnya sebagai Satrio Piningit.
"Faris, kok diam? Masih bisu ya kayak dulu kalau ditagih uang kencan?" ejek Siska lagi. Si pria buncit di sampingnya ikut menimpali, "Halah Siska, orang kayak gini jangan diladeni. Bau terminalnya masih kecium sampai sini."
Raden Jayanegara yang berdiri di belakang Faris mulai mengelus gagang kerisnya. Auranya mendadak panas. "Dikmas Faris, sopo wong wedok iki? Kok lambene koyo ora nate disekolahke? Perlu tak dadekne patung ta?" bisik Jayanegara dengan nada yang sangat dingin.
(Dikmas Faris, siapa wanita ini? Kok mulutnya seperti tidak pernah disekolahkan? Perlu kujadikan patung kah?)
Brewok yang sudah tidak tahan langsung maju, meludah ke samping. "He, Mbak Siska! Jaga ya mulutnya! Mas Faris ini sekarang bos besar, penguasa batin Sidoarjo! Pria di sampingmu itu kalau dibandingin Mas Faris cuma kayak remahan rempeyek!"
Siska tertawa semakin keras. "Bos besar? Halah, paling bos pengemis! Lihat tuh rombongannya, bajunya aja aneh-aneh. Ada yang pakai topi tulisannya 'Boyot', ada yang pakai daster kegedean. Malu-maluin!"
Eyang Buyut Wijaya yang sedari tadi diam sambil memakai kacamata hitam, perlahan melangkah maju. Beliau tidak bicara, tapi aura kepemimpinannya terpancar begitu kuat sampai Siska dan pria buncit itu mendadak menggigil ketakutan tanpa alasan yang jelas.
Faris menyentuh pundak Brewok dan Jayanegara. "Sudah... biarkan saja. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Kita ke sini bukan untuk meladeni debu yang menempel di sandal kita," ucap Faris sangat tenang.
"Bener kandamu, Cucuku. Menungso sing mulyo iku sing iso nahan amarah senajan awake dihina," sahut Eyang Wijaya sambil menatap Siska dengan tatapan "Raja" yang membuat Siska langsung tertunduk lemas, lututnya gemetar hebat seolah menopang beban berton-ton.
(Benar katamu, Cucuku. Manusia yang mulia itu yang bisa menahan amarah meskipun dirinya dihina.)
Faris mengajak rombongannya berbalik arah, meninggalkan Siska yang masih berdiri mematung dengan keringat dingin bercucuran. Siska tidak tahu, bahwa pria yang baru saja dia hina adalah orang yang baru saja dikukuhkan oleh kekuatan Langit dan Bumi sebagai penjaga Sidoarjo.
"Ayo Wok, Jayanegara... kita cari tempat makan. Aku lapar, nggak kenyang makan hinaan," ucap Faris sambil tersenyum tipis.
Di belakang, Kangmas Arjuna Hidayat membisikkan sesuatu ke telinga Faris. "Dikmas, kowe wis lulus ujian batin sing pertama. Derajatmu wis munggah sak tingkat."
(Dikmas, kamu sudah lulus ujian batin yang pertama. Derajatmu sudah naik satu tingkat.)