Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Adella tidak melonjak kaget. Ia tidak berteriak. Sebaliknya, ia perlahan melepas headphone dari telinganya dan meletakkannya di atas meja dengan gerakan yang sangat anggun, hampir menyerupai ritme tenang Pak Adwan saat memulai pelajaran di kelas. Cahaya monitor yang masih menampilkan cuplikan video gelap tentang Nadia memantul di pupil mata Adella, memberikan kesan bahwa matanya sedang menyala di tengah kegelapan ruangan.
"Bapak sering bilang bahwa sastra adalah tentang apa yang tidak terucap," suara Adella terdengar datar, namun bergema kuat di ruangan yang kedap suara itu. "Sekarang saya mengerti kenapa Bapak sangat menyukai Dostoevsky. Bapak sedang menulis tragedi Bapak sendiri, dan Bapak ingin saya menjadi bab penutupnya."
Pak Adwan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang halus namun terasa seperti vonis mati. Ia meletakkan pulpen hitamnya di saku kemeja, lalu berjalan mendekat ke arah meja, berhenti tepat di depan cahaya monitor yang menyinari separuh wajahnya. Sisi wajahnya yang terkena cahaya tampak seperti topeng yang sempurna, sementara sisi lainnya tenggelam dalam kegelapan total.
"Dostoevsky menulis tentang penderitaan yang memurnikan jiwa, Adella. Apa yang kamu lihat di layar itu bukan kekejaman. Itu adalah proses eliminasi. Nadia tidak memiliki ketahanan mental untuk menjadi apa yang saya inginkan. Dia hancur sebelum ia sempat bersinar," Pak Adwan menghela napas, seolah ia adalah seorang seniman yang sedang meratapi kanvasnya yang gagal. "Tapi kamu... kamu justru menemukan kartu emas itu di tengah kabut gas. Kamu menyembunyikannya di balik luka. Kamu menyelinap ke sini di jam dua pagi. Kamu bukan hanya bertahan, kamu berkembang."
Pak Adwan menarik sebuah kursi kayu di hadapan Adella dan duduk dengan santai, seolah-olah mereka sedang berada di sesi konsultasi akademik biasa. Ia melirik kartu emas yang masih tertancap di pembaca kartu.
"Kartu itu adalah kunci dari seluruh aset digital keluarga saya. Jika kamu menekan tombol 'Upload' sekarang, mungkin beberapa data akan terkirim ke server publik. Tapi pertanyaannya, Adella... siapa yang akan percaya? Di luar sana, kamu adalah pasien gangguan jiwa yang menyerang gurunya. Orang tuamu sudah menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa kamu tidak stabil secara emosional. Apa pun yang kamu unggah akan dianggap sebagai delusi dari seorang gadis yang sedang mengalami psikosis."
Adella menatap layar komputer, lalu kembali menatap Pak Adwan. Ia tahu pria itu benar. Kekuasaan keluarga Adwan telah membangun benteng yang sangat tebal di sekelilingnya. Bukti digital bisa dipalsukan, akun bisa dihapus dalam hitungan detik, dan saksi bisa dibungkam.
"Bapak benar," ujar Adella lembut. "Data ini mungkin tidak berguna di tangan polisi yang sudah Bapak bayar. Tapi data ini sangat berguna untuk saya."
"Untukmu?" Pak Adwan menyilangkan kakinya, tampak tertarik.
"Bapak memiliki pola," Adella memutar monitor ke arah Pak Adwan. "Bapak tidak memilih gadis sembarangan. Nadia, Maya, dan saya... kita semua memiliki satu kesamaan: kita adalah orang-orang yang merasa sendirian di dunia yang ramai. Bapak memberikan 'kehangatan' itu untuk mengisi kekosongan kami, agar Bapak bisa menjadi pusat dari semesta kami. Bapak bukan kolektor manusia, Pak. Bapak adalah kolektor ketergantungan."
Adella mengklik sebuah folder lain yang baru saja ia temukan di bawah direktori Project Persada. Folder itu berjudul "FINANCIAL – FOUNDATION".
"Bapak pikir saya hanya mencari video penculikan?" Adella tersenyum tipis, senyum yang membuat Pak Adwan sedikit menegakkan punggungnya. "Saya tahu keluarga Bapak mengelola dana yayasan pendidikan. Tapi di sini, ada aliran dana yang masuk ke rekening-rekening di luar negeri yang tidak terdaftar dalam laporan tahunan kakek Bapak. Bapak menggunakan nama yayasan untuk melakukan pencucian uang hasil bisnis gelap keluarga di sektor pertambangan yang tidak berizin."
Wajah Pak Adwan yang tadinya tenang mulai berubah. Binar di matanya yang tadinya penuh kekaguman berubah menjadi kilat kebencian yang murni. Nama baik adalah segalanya bagi pria ini, tapi uang dan kekuasaan keluarga adalah fondasi dari nama baik tersebut. Jika fondasi itu digoyang, maka seluruh menara akan runtuh.
"Kamu pikir kamu bisa mengerti labirin finansial keluarga saya hanya dalam waktu sepuluh menit?" desis Pak Adwan.
"Saya tidak perlu mengerti semuanya, Pak. Saya hanya perlu tahu satu hal: Kakek Bapak sangat membenci pengkhianatan," Adella mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya menemukan korespondensi antara Bapak dan manajer keuangan yayasan. Bapak mencuri dari kakek Bapak sendiri untuk membangun 'surga' pribadi Bapak di sini dan di gudang bawah tanah itu. Apa yang akan terjadi jika saya mengirimkan bukti audit ini langsung ke alamat email pribadi kakek Bapak? Beliau mungkin akan melindungi Bapak dari polisi, tapi beliau tidak akan melindungi Bapak dari amarahnya sendiri."
Pak Adwan berdiri dengan tiba-tiba, kursi kayunya terseret ke belakang dan menciptakan suara decitan yang memilukan. Ia mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih.
"Berikan kartu itu, Adella," suaranya tidak lagi bariton yang menenangkan. Kini suaranya adalah geraman yang penuh ancaman. "Sekarang."
"Bapak bilang saya adalah mahakarya Bapak," Adella berdiri, memegang kartu emas itu dengan dua jari, tepat di atas slot penghancur kertas yang ada di samping meja Suster Kepala. "Sebuah mahakarya tidak seharusnya takut pada penciptanya. Sebuah mahakarya harus melampaui penciptanya."
Di luar, guntur mulai bergemuruh di perbukitan, seolah alam sedang ikut tegang menyaksikan pertempuran dua otak di ruangan sunyi itu. Pak Adwan bergerak perlahan, mencoba mengepung Adella. Ia tahu ruangan ini sempit, dan Adella tidak punya jalan keluar selain pintu yang ia kunci.
"Cahaya Harapan adalah tempat di mana orang-orang menghilang, Adella. Jika kamu tidak memberikan kartu itu, kamu tidak akan hanya tinggal di sini. Kamu akan menjadi bagian dari fondasi gedung ini. Tidak akan ada yang mencarimu. Tidak ada orang tua, tidak ada polisi," Pak Adwan mengeluarkan pulpen hitamnya lagi. Namun kali ini, ia menekan sebuah tombol di ujung pulpen tersebut, dan sebuah jarum kecil yang berkilau muncul. Itu bukan pulpen biasa; itu adalah alat suntik darurat berisi obat penenang dosis tinggi.
"Bapak selalu punya cadangan, ya?" Adella mundur hingga punggungnya menyentuh dinding yang dingin. "Tapi Bapak lupa satu hal tentang orang yang 'sendirian'. Kami tidak punya beban untuk kehilangan apa pun."
Tiba-tiba, suara alarm kebakaran di panti itu berbunyi. Bukan suara sirine dari luar, melainkan alarm internal yang sangat nyaring. Lampu darurat berwarna merah mulai berputar-putar di koridor, menembus kaca jendela pintu ruangan tersebut.
"Apa yang kamu lakukan?" geram Pak Adwan.
"Saya tidak melakukan apa-apa," jawab Adella jujur. "Tapi mungkin Maya melakukan sesuatu. Saya bilang padanya, jika saya tidak keluar dari ruangan ini dalam waktu lima belas menit, dia harus membakar tumpukan kertas di Ruang Literasi."
Pak Adwan tertegun. Ia meremehkan Maya—pasien yang ia anggap sudah rusak jiwanya. Ia lupa bahwa di bawah bimbingan yang tepat, bahkan orang yang hancur pun bisa menjadi senjata.
Suara teriakan perawat dan langkah kaki yang panik mulai terdengar di luar. Protokol keamanan Cahaya Harapan mewajibkan semua pintu dibuka secara otomatis saat ada indikasi kebakaran untuk mencegah jatuh korban di panti rehabilitasi elit ini.
Klik.
Pintu ruangan Suster Kepala terbuka secara otomatis.
"Ini kesempatan Bapak," bisik Adella. "Bapak bisa mengejar saya dan mengambil kartu ini, atau Bapak bisa memadamkan api yang bisa menghancurkan seluruh data fisik dan pasien di sini—termasuk bukti-bukti lain yang Bapak sembunyikan."
Pak Adwan menatap Adella dengan kebencian yang paling murni yang pernah ia rasakan. Ia berada dalam dilema klasik: menyelamatkan hartanya atau mengejar obsesinya.
Tanpa menunggu jawaban, Adella berlari keluar dari ruangan itu. Ia tidak menuju pintu keluar utama yang pasti dijaga ketat. Ia berlari ke arah dapur, tempat di mana jalur logistik makanan masuk dan keluar setiap pagi. Ia tahu, di tengah kekacauan kebakaran ini, perhatian penjaga akan terpecah.
Di koridor yang dipenuhi asap tipis, ia berpapasan dengan Maya yang berdiri di tengah kerumunan pasien yang panik. Maya menatapnya, ada sedikit cahaya di matanya yang tadinya kosong.
"Lari, Adella! Jangan pernah menoleh!" teriak Maya.
Adella terus berlari. Ia merasakan perih di lututnya kembali terbuka, darah merembes di perban barunya, namun ia terus memacu kakinya. Ia sampai di dermaga pemuatan logistik. Sebuah truk pengantar sayuran sedang bersiap untuk pergi, sopirnya tampak panik melihat alarm yang menyala.
Adella melompat ke bagian belakang truk, menyelinap di antara peti-peti kayu yang kosong, tepat saat truk itu mulai bergerak menjauh dari gerbang Cahaya Harapan yang terbuka lebar.
Dari celah kecil di terpal truk, Adella melihat gedung Cahaya Harapan menjauh. Di lantai atas, di jendela ruang Suster Kepala, ia melihat siluet Pak Adwan berdiri diam. Pria itu tidak mengejarnya. Ia hanya berdiri di sana, menatap truk yang melaju pergi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Adella merogoh sakunya. Kartu emas itu masih ada di sana. Dan di tangan kirinya, ia memegang satu benda lagi yang berhasil ia sambar dari meja saat kekacauan tadi: Pulpen hitam milik Pak Adwan.
Adella menyandarkan kepalanya di dinding truk yang keras. Ia gemetar, namun ia tahu ini baru permulaan dari Bab 14. Ia telah keluar dari sangkar fisik, namun kini ia harus menghadapi perang terbuka dengan keluarga Adwan di dunia nyata.
"Saya bukan lagi muridmu, Pak Adwan," bisik Adella ke arah kegelapan malam. "Saya adalah bukti yang Bapak lupakan untuk dimusnahkan."
Truk itu terus melaju menembus dinginnya malam perbukitan, membawa seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang telah kehilangan masa remajanya, namun mendapatkan kembali taringnya.