Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Kopi dan Sudut Pandang Risa
Aroma kopi berpadu dengan manisnya wangi roti bakar memenuhi udara kafe berkonsep klasik di sudut Jalan Braga. Di meja bundar dekat jendela besar, Alisha, Aleta, Aryan, dan Risa duduk melingkar. Di awal, suasana masih diselimuti kecanggungan. Risa sesekali membenarkan posisi jilbabnya yang sebenarnya sudah rapi, sementara Aryan sibuk berdeham membersihkan tenggorokan, masih jaim setelah digoda habis-habisan oleh kedua adiknya.
Namun, kecanggungan itu tidak bertahan lama. Sifat Aleta yang ceriwis dan Alisha yang pintar membawa obrolan perlahan-lahan meruntuhkan dinding pembatas. Risa ternyata adalah mahasiswi tingkat akhir jurusan psikologi di salah satu kampus di Bandung, yang membuatnya menjadi pendengar yang sangat baik.
"Ih, Kak Risa beneran sesabar itu menghadapi Kak Aryan?" celetuk Aleta setelah mendengar cerita bagaimana awal mereka bertemu. "Kak Aryan itu di rumah kaku banget tahu, Kak. Kayak kanebo kering."
Risa tertawa kecil, suara tawanya terdengar lembut dan tulus. "Nggak se-kaku itu kok, Aleta. Aryan itu sebenarnya aslinya perhatian banget, cuma ya... emang gengsian aja kalau mau nunjukin."
Aryan yang dipuji langsung memalingkan wajah ke jendela, menyembunyikan senyum tipis dan rona merah di telinganya, pura-pura tidak dengar.
Alisha menatap Risa dengan binar kagum. Gadis di depan kakaknya ini memiliki wajah yang teduh, pembawaan yang anggun, dan senyum yang menenangkan. "Kak Risa cantik banget deh. Pas pertama liat tadi, Alisha langsung mikir, wah... Kak Aryan pinter banget nyari pacar."
Dipuji jujur oleh Alisha, Risa tersenyum hangat. Sebagai seorang mahasiswi psikologi, Risa adalah orang yang sangat peka dan memiliki empati tinggi. Sejak awal mengobrol di kafe ini, matanya yang tajam sudah menangkap bagaimana Alisha sesekali menarik lengan sweternya atau menunduk saat membicarakan masalah penampilan. Risa tahu, gadis sawo matang di depannya ini memiliki sedikit luka batin tentang konsep diri.
Risa menggeser cangkir tehnya, lalu menatap Alisha lekat-lekat dengan binar mata penuh ketulusan.
"Makasih pujiannya, Alisha. Tapi tahu nggak? Cantik itu sebenarnya relatif banget. Semua itu cuma masalah sudut pandang dan lingkungan kita tinggal," ucap Risa lembut.
Alisha dan Aleta mendadak terdiam, mendengarkan dengan saksama.
"Di daerah kita, mungkin orang-orang masih terpaku sama standar kalau cantik itu harus putih bersih. Padahal, kalau kita main agak jauh ke luar, orang-orang bule di Eropa atau Amerika sana malah sengaja bayar mahal dan berjemur berjam-jam di pantai cuma biar punya kulit eksotis yang sehat... persis kayak kulit sawo matang yang kamu punya sekarang, Alisha," lanjut Risa, memberikan penekanan yang manis pada nama Alisha.
Risa tersenyum lagi, menggenggam punggung tangan Alisha yang ada di atas meja. "Kulit kamu itu anggun, keliatan cerdas, dan punya daya tarik sendiri yang kuat banget. Jadi, jangan pernah merasa kurang hanya karena orang-orang di sekitar kita punya sudut pandang yang sempit, ya?"
Deg.
Kalimat Risa mendarat begitu indah di hati Alisha. Rasa hangat yang menjalar dari genggaman tangan Risa seolah menyalurkan energi positif yang meruntuhkan sisa-sisa rasa insecure-nya hari ini. Alisha mengangguk pelan, matanya sedikit berkaca-kaca karena terharu. Ada orang asing yang baru ia kenal, tapi bisa memahaminya sedalam ini.
Di seberang meja, Aryan terpaku. Cowok itu menatap Risa tanpa berkedip. Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi rasa hormat dan kekaguman yang luar biasa. Aryan tahu betul bagaimana Alisha sering dipandang sebelah mata di lingkungan mereka, dan melihat bagaimana Risa dengan begitu tulus dan cerdas mengangkat kembali rasa percaya diri adiknya, membuat Aryan makin respect dan kesemsem setengah mati.
Gadis ini... benar-benar berhati emas, batin Aryan, menatap Risa dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa cinta yang makin dalam.
Aleta yang menyadari tatapan bucin kakaknya langsung menyenggol lengan Aryan dengan sikunya sambil berbisik jahil, "Woy, Kak! Kedip kali! Jangan diliatin terus Kak Risa-nya, gak bakal ilang kok!"
Kafe itu pun kembali dipenuhi oleh tawa renyah mereka berempat.
Jam dinding kafe sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka akhirnya memutuskan untuk menyudahi obrolan. Setelah Aryan menyelesaikan pembayaran di kasir, mereka berempat berjalan keluar menuju area trotoar Jalan Braga yang mulai mendingin. Suara musik jalanan dan hilir mudik kendaraan menemani langkah mereka.
Aryan menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap kedua adik perempuannya dengan raut muka kembali serius khas seorang abang.
"Sha, Ta, kalian pulangnya naik travel yang di dekat Baltos aja ya, yang langsung jurusan Garut. Ini uang ongkosnya," ucap Aryan sambil merogoh dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Alisha. "Kakak gak bisa bareng. Kakak harus antar Risa dulu pulang ke rumahnya di daerah Jatinangor. Kasihan udah malem, gak aman kalau Risa naik angkutan umum sendiri."
"Ih, modus banget Kak Aryan. Bilang aja emang masih pengen berduaan," goda Aleta langsung dengan cengiran lebarnya.
Risa yang mendengar celetukan Aleta hanya bisa tersenyum malu-malu sambil menepuk pelan lengan Aryan. "Nggak apa-apa kok, Yan. Kalau kamu mau bareng adik-adikmu ke Garut, aku bisa naik taksi online aja."
"Gak bisa, Ris. Udah malem, tugas aku buat mastiin kamu sampai rumah dengan selamat," potong Aryan tegas, protektifnya keluar. Ia lalu kembali menatap Alisha. "Sha, pegang uangnya. Kamu yang paling tua, jaga adiknya di jalan. Jangan mampir-mampir lagi, langsung ke pul travel."
Alisha menerima uang itu sambil tersenyum maklum. "Iya, Kak Aryan tenang aja. Alisha bakal jagain Aleta. Kakak fokus aja anterin Kak Risa, jangan ngebut bawa motornya."
Risa melangkah mendekati kedua adik Aryan, lalu bergantian memeluk Alisha dan Aleta dengan hangat. "Alisha, Aleta, makasih ya buat hari ini. Seru banget bisa ketemu kalian. Nanti kalau main ke Bandung lagi, kabarin Kakak, ya."
"Pasti, Kak Risa! Nanti aku spam chat Kakak!" sahut Aleta semangat.
"Makasih banyak ya, Kak Risa. Hati-hati di jalan," tambah Alisha tulus.
Mereka pun berpisah di pertigaan jalan. Alisha dan Aleta melambaikan tangan saat Aryan dan Risa berjalan menuju parkiran motor, meninggalkan kawasan Braga. Sambil berjalan beriringan menuju tempat pangkalan taksi untuk ke pul travel, Aleta merangkul lengan Alisha dengan erat.
"kak, baik banget ya. Cocok banget sama Kak Aryan yang kaku," ujar Aleta riang.
Alisha mengangguk, menatap jalanan Bandung yang gemerlap dengan perasaan damai. Hari ini, ia tidak hanya pulang membawa perut yang kenyang karena kuliner, tetapi juga membawa pulang sepotong kepercayaan diri baru yang tertanam kuat di hatinya.