NovelToon NovelToon
Kultivator Elemen Abadi

Kultivator Elemen Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blizzardauthor

Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.

Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:

"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hak Istimewa yang Diperoleh

Langkah kaki Lu Han terdengar terburu-buru di sepanjang koridor batu Aula Utama Divisi Alkimia. Wajahnya yang biasa terlihat kuyu sebagai pelayan logistik, kini memerah padam akibat luapan emosi yang campur aduk antara syok, tidak percaya, dan rasa pride yang meledak-ledak. Di depannya, sosok Ling Yun berjalan dengan langkah yang sangat santai. Jubah hitamnya berkibar pelan, seolah badai besar yang baru saja dia ciptakan di ruang pengujian bakat sama sekali tidak memengaruhi ketenangannya.

Begitu mereka berdua tiba di area taman samping yang sepi, Lu Han langsung menyejajarkan langkahnya dan menyenggol lengan Ling Yun dengan tidak sabar.

"Yun! Kamu gila, ya? Kamu benar-benar menyembunyikan kemampuan luar biasa seperti itu selama sepuluh tahun kita jadi pelayan?!" bisik Lu Han dengan suara tertahan, matanya melotot lebar. "Tubuh Spiritual Empat Elemen yang Seimbang! Bahkan Tetua Liu sampai hampir melompat dari kursinya tadi! Kamu tahu tidak, namamu sekarang pasti sudah jadi bahan obrolan panas di seluruh penjuru sekte luar!"

Ling Yun melirik Lu Han dari sudut matanya, lalu seulas senyuman tipis yang santai muncul di wajahnya. "Kalau aku menunjukkannya sejak tahun pertama, kita tidak akan bisa makan nasi keras bersama dengan tenang di gudang logistik, kan, Kak?" ucap Ling Yun seraya tertawa kecil.

"Sialan, aku serius tahu!" Lu Han terkekeh. Rasa tegangnya mendadak menguap setelah mendengar jawaban kasual dari sahabatnya itu. Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan rasa kagum yang tidak bisa disembunyikan. "Tapi jujur, Yun... apa yang dikatakan Tetua Liu tadi itu beneran? Kamu dikasih hak istimewa Dual Division?"

Ling Yun menghentikan langkahnya sebentar. Tatapannya beralih ke sebuah lencana giok berwarna hijau tua di tangannya—dekret resmi yang baru saja diberikan oleh Tetua Liu sebelum mereka keluar. Awalnya, Ling Yun hendak meminta hak tersebut setelah mengajukan beberapa persyaratan yang matang. Namun, tanpa dia duga, sang Tetua justru memberikan dekret tersebut saat itu juga.

"Entah Tetua Liu sadar atau tidak, sepertinya dia ingin melindungi ku dari Tetua Mo. Ya, pertikaian antara aku dan orang tua itu pastinya sudah menjadi rahasia umum, mengingat masa lalu yang terjadi padaku dan keponakannya," analisis Ling Yun dalam hati, membaca situasi politik sekte dengan kepala dingin. "Alhasil, dengan sengaja memberiku status khusus ini, dia membuat Aula Pengawas milik Tetua Mo tidak bisa menyentuhku secara hukum sekte."

"Ya, itu asli," jawab Ling Yun santai sambil melemparkan lencana giok tersebut ke udara dan menangkapnya kembali dengan mudah. "Mulai hari ini, aku bukan lagi pelayan logistik.Kakak sebagai asisten pribadiku, juga tidak perlu lagi mengurus barang-barang kotor di gudang bawah."

Mata Lu Han berbinar-binar mendengar hal itu. "Artinya... kita pindah dari asrama pelayan yang bau itu?"

"Tentu saja. Tetua Liu memberikan kita paviliun giok terisolasi di puncak bukit Divisi Alkimia. Area itu dilarang untuk murid biasa tanpa izin khusus," ucap Ling Yun sembari melanjutkan berjalan.

"Paviliun terisolasi di puncak bukit... tempat yang sempurna," pikir Ling Yun, ketegangan taktis di otaknya mulai menyusun rencana jangka panjang. "Tanpa adanya gangguan dari murid-murid luar yang tidak berguna, aku bisa mengendalikan lingkungan sekitarku secara mutlak. Langkah pertamanya adalah meminta beberapa batu array dasar dari Tetua Song di bawah dalih 'belajar'. Dengan pengetahuan yang aku punya dari Mutiara Primordial Empat Penjuru, bahan-bahan sampah itu akan cukup untuk diubah menjadi formasi pemadat energi berskala mikro. Alhasil, aku bisa memulihkan Dan Tian Primordial-ku secepat mungkin sebelum Tetua Mo menemukan cara lain untuk menjebakku."

Lu Han berjalan di samping Ling Yun dengan dada membusung, senyum lebar menghiasi wajahnya. "Yun, kalau dipikir-pikir, muka orang-orang Aula Pengawas tadi pas pengujian benar-benar lucu sekali. Si Zhao Hu itu mati, dan sekarang pelayan yang mereka remehkan malah jadi aset berharga sekte. Mereka pasti lagi pusing tujuh keliling di sarang mereka."

"Mereka tidak akan tinggal diam hanya karena selembar dekret giok, Kakak Lu," ucap Ling Yun pelan. Nadanya terdengar santai namun terselip kewaspadaan yang mendalam. "Orang-orang seperti Tetua Mo itu seperti anjing gila yang terluka. Semakin mereka terdesak, semakin licik gigitannya. Jadi, jangan lengah saat berada di luar paviliun nanti."

Lu Han mengangguk dengan ekspresi yang sedikit lebih serius. "Aku tahu, Yun. Aku bakal tutup mulut rapat-rapat dan urus semua urusan logistik serta birokrasi kita lewat pintu belakang. Pokoknya, jangan sampai ada lalat sampah dari Aula Pengawas yang mengganggu waktu istirahatmu di atas bukit."

Ling Yun menepuk pundak Lu Han dengan hangat. "Bagus. Aku serahkan tugas itu kepada Kakak. Namun, sebelum itu, aku ingin menanyakan satu hal kepada Kakak terlebih dahulu," ucap Ling Yun, membuat Lu Han menatapnya dengan ekspresi penasaran.

"Apa yang ingin kamu tanyakan, Yun?" tanya balik Lu Han.

Pemuda yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu melemparkan senyum hangat, lalu menyahut perlahan, "Apakah Kakak mau menjadi kultivator?"

Pertanyaan santai yang meluncur dari bibir Ling Yun seketika membuat langkah Lu Han terkunci mati di atas jalan setapak batu. Senyum lebar yang sedari tadi menghiasi wajahnya mendadak membeku. Dia menatap Ling Yun dengan mata berkedip beberapa kali, mengira indra pendengarannya sedang bermasalah akibat euforia siang ini.

"Yun... kamu... barusan bilang apa?" Lu Han memastikan dengan suara yang agak serak, menelan ludah dengan susah payah.

Ling Yun ikut menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh, lalu melipat kedua tangan di depan dada dengan pose kasual. "Aku tanya, apakah Kakak Lu mau melintasi menjadi seorang kultivator sama seperti ku? Berdiri di atas pedang terbang, berumur panjang, dan tidak perlu lagi menundukkan kepala di hadapan para murid luar yang sombong itu."

Hening sejenak menyelimuti taman samping Aula Utama. Lu Han mengepalkan tinjunya di sisi tubuh. Jubah pelayan logistiknya yang kusam tampak sangat kontras dengan lencana giok hijau tua yang berkilau di tangan Ling Yun.

"Tentu saja aku mau, Yun! Memangnya siapa di dunia ini yang tidak ingin menjadi seorang kultivator?" Lu Han mengembuskan napas panjang, seulas senyum pahit yang dipaksakan muncul di wajahnya. "Tapi kita sama-sama tahu aturannya. Aku tidak punya batu spiritual untuk membeli Kitab Pengumpulan Qi tingkat rendah di Paviliun Kitab, dan bakat fisikku... ah, jangankan Tubuh Spiritual, meridian tubuhku saja mungkin sudah terlalu kaku karena usia."

Ling Yun terkekeh pelan. Dia melangkah mendekat, lalu menepuk pundak Lu Han dengan santai namun mantap.

"Tidak perlu berpaku dengan aturan yang bekerja saat ini, Kakak Lu. Bagiku, batasan bakat dan usia itu tidak lebih dari sekadar lelucon," ucap Ling Yun dengan nada suara yang begitu tenang, namun memancarkan keyakinan mutlak yang tak tergoyahkan.

"Ya, melalui sisa memori dan bimbingan tersembunyi dari Mutiara Primordial Empat Penjuru, membasuh sumsum fana dan membuka meridian yang tersumbat total sekalipun adalah hal yang mudah," batin Ling Yun, matanya berkilat penuh perhitungan taktis. "Kakak Lu memiliki kesetiaan yang sudah teruji oleh waktu selama sepuluh tahun menderita bersamaku. Menjadikannya seorang kultivator merupakan salah satu bentuk balas budiku atas jasanya itu."

Melihat Ling Yun yang sama sekali tidak tampak sedang membual, jantung Lu Han mulai berdegup kencang secara tidak karuan. Harapan yang sudah lama dia kubur dalam-dalam di dasar gudang logistik mendadak bergejolak hebat, membuat degup jantungnya berdetak sangat cepat.

"Kamu... kamu benar-benar punya caranya, Yun?" bisik Lu Han, matanya memancarkan binar tekad yang luar biasa murni. Ia ingin memastikannya sekali lagi, walaupun sudah mendengarnya dengan jelas.

Ling Yun terkekeh kecil dan berkata, "Aku selalu menepati kata-kataku kepada Kakak," Ling Yun tersenyum tipis, berbalik dan kembali berjalan mendaki jalur khusus menuju puncak bukit Divisi Alkimia dengan langkah santai. "Bawa kuali dan beberapa kotak obat yang kita butuhkan ke paviliun baru nanti sore. Istirahat dan bersiaplah. Begitu malam tiba, aku sendiri yang akan memandu Kakak Lu untuk menjadi seorang kultivator."

Lu Han menatap punggung Ling Yun yang bergerak menjauh dengan rasa haru yang membuncah di dalam dadanya. Dia menghirup napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya yang selama sepuluh tahun ini selalu membungkuk hormat pada orang lain, lalu berlari kecil mengejar langkah adiknya itu.

>>>>> Bersambung

~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara ku.

1
Dewa Malaikat
👍
Ta Ma
Menyala thorrr lanjutkan lagiii
Ta Ma
habisi semuanya🤬🤬
Dark knight
Apakah bakal jadi heroin nya ini
Adhittma: Tunggu saja di bab2 berikut nya kak🤭🤭
total 2 replies
Dark knight
Gas lagi thorr
Adhittma: yoiiii🔥
total 1 replies
korek ngok
Puas anjayy, makan tuh karma orang tua wkwk
Adhittma: udh tua bukannya tobat, malah banyak tingkah yaa🤣
total 1 replies
Ren Sa
Lanjutkan thorr
Adhittma: aman ae kak🙏🙏
total 1 replies
Ren Sa
Pertama thorrr🔥
Adhittma: Dapetttt petir nih kak⚡🤭
total 1 replies
Dewa Malaikat
lanjjjuuut gaskennn thor, 10 bab sekaligus
Adhittma: Siappp kak, tapi skrang mh 3 bab dlu ae perhari ya wkwk🤭
total 1 replies
Somebody
next thorrr
Adhittma: sabar ya kak🙏🙏
total 1 replies
Somebody
Langsung saja tanpa perlu pikir panjang 😏
Dark knight
Mantap thorrr lanjutkan terus 🤗
Adhittma: Sabar ya kak, lagi review🙏
total 1 replies
Dark knight
wkwk kena mental nggk tuh
Dark knight
Bantai2 gass⚡⚡
Adhittma: Yoiiii🔥
total 1 replies
Dark knight
bantai semuanya 🔥🔥🔥
Adhittma: Ling Yun sedang memasak🔥🔥🔥
total 1 replies
Dark knight
Kerennn
korek ngok
Bagus, Lanjut lagi thorr🙌🏼🙌🏼🙌🏼
Adhittma: aman ajaa🙏
total 1 replies
korek ngok
Up up
korek ngok
lanjutkan thorrr 🙌🏼🙌🏼🙌🏼
korek ngok
up up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!