NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Penggemar Rahasia Vc Cabe Rawit

Suasana di dalam masjid begitu tenang, berbanding terbalik dengan gemuruh yang menghantam dada Hana. Dila mendekat dengan langkah perlahan, hatinya ikut teriris melihat sahabat yang biasanya selalu menyemangatinya kini tampak begitu rapuh dan hancur.

Dila duduk di samping Hana, lalu tanpa sepatah kata pun, ia menarik Hana ke dalam pelukannya. Detik itu juga, pertahanan Hana runtuh. Tangis yang sejak tadi ia tahan di kelas pecah sejadi-jadinya di pundak Dila. Isak tangis yang dalam, menyuarakan rasa sakit yang tak sanggup lagi ia tanggung sendiri.

"Aku bukan pelakor, Dil... Aku tidak merebut siapa pun. Demi Allah, aku tidak pernah melakukan itu," rintih Hana di sela isaknya. Suaranya serak, penuh dengan beban yang menyesakkan.

Dila mengusap punggung Hana dengan lembut, mencoba menyalurkan kekuatan.

"Aku tahu, Han. Aku tahu kamu orang seperti apa."

"Aku bahkan tidak pernah menyangka... tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku kalau wasiat itu akan keluar dari lisan Bu Inggit. Tapi kenapa semuanya malah menyudutkanku? Kenapa mereka bicara seolah-olah aku ini iblis? Aku harus bagaimana, Dil?"

Dila melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata Hana yang merah dan bengkak. Ia menyeka air mata di pipi sahabatnya dengan ibu jari.

"Han, dengarkan aku," ucap Dila lembut namun serius.

"Aku tahu kamu sangat menghormati Bu Inggit. Kalian sudah seperti saudara. Tapi Han, meskipun itu wasiat, kamu tetap punya hak penuh atas hidupmu sendiri. Bu Inggit bisa meminta, tapi kamu juga berhak menolak jika itu memang membuatmu menderita."

Hana menggeleng lemah, tatapannya kosong menatap hamparan karpet masjid.

"Aku takut, Dil... Aku takut melakukan kesalahan besar. Itu permintaan terakhirnya. Bagaimana kalau penolakanku membuatnya tidak tenang di sana? Bagaimana kalau ini memang jalan yang harus kutempuh sebagai bakti terakhirku padanya?"

Hana menangkup wajahnya dengan kedua tangan, tampak sangat tersiksa oleh dilema yang menghimpitnya.

Dila menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Hana erat-erat.

"Oke, sekarang begini. Tenangkan dirimu dulu. Jangan ambil keputusan saat hatimu masih penuh luka dan telingamu masih panas oleh ucapan orang lain."

Dila mendekatkan wajahnya, memberikan tatapan yang menenangkan.

"Coba istikharah, Han. Minta petunjuk langsung pada pemilik hati. Jika kamu tidak bisa menemukan jawaban dari manusia, carilah jawaban dari Allah. Biarkan Dia yang menuntun kakimu."

Mendengar penuturan Dila, Hana terdiam. Isaknya perlahan mereda. Kata-kata Dila seperti embun yang menyiram api di hatinya. Benar, jika dunia menghakiminya, ia masih punya Allah yang Maha Adil. Jika manusia menutup telinga dari kebenarannya, Allah Maha Tahu atas setiap niat di lubuk hatinya yang terdalam.

"Apapun jawabannya nanti, mungkin itulah takdir yang harus kujalani," bisik Hana lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Hana menatap kubah masjid di atasnya. Ada sedikit ketenangan yang mulai merayap masuk. Ia sadar, badai ini mungkin tidak akan segera berlalu, tapi setidaknya ia tidak akan menghadapinya sendirian. Ia punya Allah, Orangtuanya dan ia punya Dila.

***

Setelah perasaan Hana sedikit lebih ringan, Dila memutuskan untuk membawa sahabatnya itu pulang. Persetan dengan mata kuliah terakhir, kesehatan mental Hana jauh lebih berharga daripada absen hari ini. Dila merangkul bahu Hana erat menuju parkiran, bertindak seolah-olah dia adalah pengawal pribadi yang siap menerjang siapa pun yang berani menatap Hana dengan sinis.

Namun, baru saja Dila hendak mengeluarkan kunci motornya, sebuah mobil sport putih berhenti tepat di belakang motor mereka, menghalangi jalan. Kaca jendela terbuka, menampilkan wajah tampan yang selalu tampak percaya diri.

Tomi. Mantan Presma yang kharismanya sanggup membuat mahasiswi baru pingsan di tempat, tapi bagi Hana, Tomi adalah sumber masalah berjalan. Masalahnya bukan pada Tomi, tapi pada "pasukan" pacar dan mantan pacarnya yang selalu mendatangi Hana setiap kali Tomi mencoba mendekat.

"Han, kok tumben jam segini sudah di parkiran? Bolos ya?" tanya Tomi sambil menyunggingkan senyum andalannya. Dia bahkan hafal jadwal Hana lebih baik daripada jadwal kuliahnya sendiri.

Hana hanya diam, menatap aspal dengan sisa-sisa keletihan di wajahnya.

"Ada urusan! Minggir lo, ganggu jalan aja!" potong Dila galak.

Tomi mendengus, matanya beralih ke Dila dengan malas.

"Apaan sih, Dil? Gue nanya Hana, bukan nanya cabe rawit."

"Enak aja lo bilang gue cabe rawit! Dasar kulkas dua pintu! Minggir nggak? Gue mau lewat!" teriak Dila sambil menendang angin ke arah mobil Tomi.

"Tuh kan, makin pedas. Han, mending kamu pulang sama aku aja yuk? Adem, pakai AC. Daripada sama preman pasar ini, nanti kulit kamu kepanasan," tawar Tomi, sama sekali tidak mempedulikan wajah Dila yang sudah memerah padam.

"Woi! Enak aja lo bilang gue preman pasar! Sini turun lo kalau berani!" tantang Dila sambil menggulung lengan kemejanya, siap tempur.

"Tuh kan, Han, jiwa premannya mulai keluar. Ngeri gue," sahut Tomi sambil bergidik pura-pura ketakutan, namun matanya tetap tertuju pada Hana dengan binar memuja.

Hana menghela napas panjang. Kepalanya makin pening mendengar perdebatan dua orang di depannya ini. Jika tidak dihentikan, parkiran kampus bisa berubah jadi ring tinju.

"Maaf, Tom. Aku ada urusan sama Dila. Urgent banget," ucap Hana lirih, suaranya terdengar sangat lelah.

Lebih tepatnya mental aku yang urgent, batin Hana pahit.

Mendengar nada suara Hana yang tidak seperti biasanya, Tomi terdiam. Senyum jenakanya sedikit memudar, ia bisa menangkap ada gurat kesedihan yang coba disembunyikan gadis itu. Lagi-lagi ia ditolak, tapi kali ini rasanya berbeda.

"Tuh kan, dibilangin ngeyel sih! Minggir!" sentak Dila lagi, kali ini sambil menggeber motor matiknya.

Tomi akhirnya mengalah. Ia memundurkan mobilnya perlahan, memberi jalan bagi Dila. Namun sebelum gas ditarik, Dila sempat menunjuk dengan jempolnya ke arah sekelompok gadis yang berdiri tak jauh dari sana.

"Noh, fans klub lo sudah antre. Antar mereka aja sana, jangan ganggu Hana!" ketus Dila.

Tomi menoleh, dan benar saja, ada tiga mahasiswi cantik yang sedang melambai centil ke arahnya. Tomi hanya mendengus pasrah, menutup kaca mobilnya dengan perasaan dongkol. Dengan segala popularitas, ketampanan, dan jabatan mantan Presma-nya, hanya Hana Syafina yang mampu membuatnya merasa seperti remahan rempeyek.

Saat motor Dila melaju meninggalkan kampus, Tomi menatap spionnya dengan tatapan sendu.

"Ada yang nggak beres sama Hana hari ini," gumamnya pelan sebelum menginjak gas.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!