NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FONDASI YANG DIUJI

Proses pembangunan sayap baru Perpustakaan Nasional yang berlokasi di Jakarta Pusat telah resmi dimulai, menandai babak baru dalam pengembangan fasilitas publik di ibu kota. Namun, bagi Raka, keberhasilan yang tercatat dalam rancangan proyek hanyalah langkah awal dari sebuah perjuangan panjang yang penuh tantangan. Sebagai seorang arsitek utama yang bertanggung jawab atas kelancaran dan kesempurnaan pelaksanaan proyek ini, ia kini dihadapkan pada kenyataan bahwa lebih banyak waktunya akan teralokasikan di lapangan. Hari-harinya pun akrab dengan hiruk-pikuk suara mesin pancang yang terus menerus bekerja, ditambah debu dari semen dan pasir yang tak pernah memberikan jeda, menjadikan proyek ini bukan hanya ujian bagi kemampuannya tetapi juga bagi ketahanannya.

Sementara itu, jauh di sisi lain kehidupan Raka, Yogyakarta kini terasa semakin sulit dijangkau, seolah merentang lebih jauh dengan setiap harinya yang sibuk. Meski ia berusaha keras meluangkan waktu untuk pulang setiap akhir pekan, perjalanannya selalu diiringi oleh rasa cemas yang tak kunjung sirna. Bayang-bayang wajah Alana yang semakin pucat karena *morning sickness* yang parah selama trimester pertama kehamilannya terus menghantui pikirannya. Bagi Raka, kehadiran fisik dan emosionalnya kini terbagi antara dua dunia: satu dunia nyata yang penuh dengan tekanan pembangunan, dan satu lagi di mana cinta serta tanggung jawabnya sebagai suami tengah diuji oleh keterbatasan waktu dan jarak.

"Raka, kamu harus fokus di sana," ucap Alana lewat panggilan video suatu malam. Ia bersandar di bantal besar di ruang baca *Atelier Aksara*. "Anak kita baik-baik saja. Dia hanya ingin ibunya lebih banyak membaca buku daripada menulis untuk sementara."

Raka menatap layar ponselnya, hatinya teriris. "Aku merasa seperti mengulang kesalahan lama, Lan. Meninggalkanmu demi sebuah proyek besar di Jakarta."

"Bedanya, kali ini aku yang memintamu pergi untuk menuntaskan mimpimu. Pergilah, Arsitek. Jaga jantung bangunan itu agar tetap bisa bernapas," balas Alana dengan senyum lemah namun meyakinkan.

Masalah muncul di bulan ketiga konstruksi. Raka menemukan ketidaksesuaian pada spesifikasi material baja yang dikirim ke lokasi. Berdasarkan cetak birunya, baja tersebut harus memiliki standar ketahanan gempa tingkat tinggi, namun kontraktor pelaksana mencoba menggantinya dengan kualitas yang lebih rendah untuk menekan biaya.

"Ini tidak bisa, Pak Surya," tegas Raka di dalam direksi keet (kantor lapangan) yang panas. Ia berhadapan dengan kepala kontraktor senior yang memiliki jaringan luas di kementerian.

"Aduh, Mas Raka. Ini hanya beda tipis secara teknis. Secara visual tidak akan terlihat. Kita bisa menghemat miliaran rupiah, dan Mas Raka tentu akan mendapatkan 'bagian' yang pantas sebagai ucapan terima kasih," ucap Pak Surya sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja kerja Raka yang penuh debu.

Raka menatap amplop itu, lalu menatap maket perpustakaan yang ada di sudut ruangan. Ia teringat pada pesan Alana di Bab 23: *“Jika kamu kehilangan 'pria itu' demi sebuah proyek, maka perpustakaan termegah di dunia pun tidak akan cukup untuk menampung rasa sepi di hati kita.”*

Raka berdiri, tangannya mengepal. "Pak Surya, saya membangun gedung ini untuk menampung ilmu pengetahuan bagi jutaan orang, termasuk mungkin anak cucu Bapak. Saya tidak akan membiarkan jantung gedung ini rapuh hanya karena ambisi sesaat. Ambil kembali uang ini, atau saya akan melaporkan temuan ini langsung ke komite audit besok pagi."

Di Yogyakarta, Alana yang sedang beristirahat total mulai menulis kembali. Namun, kali ini ia tidak menulis novel fiksi. Ia mulai menulis surat-surat untuk anaknya yang masih di dalam kandungan. Ia menyebutnya sebagai *"Notes to a Future Reader"*.

Setiap hari, ia duduk di Meja Nomor 15, menuliskan bagaimana rasanya mencintai seorang pria yang sedang berjuang demi prinsip di ibu kota.

*"Nak, hari ini ayahmu sedang bertarung dengan serigala-serigala yang ingin memakan fondasi rumahmu. Dia mungkin pulang dengan pakaian yang kotor dan bau semen, tapi ketahuilah, hatinya tetap seputih kertas yang ibu tulis. Jangan pernah takut membela kebenaran, karena ayahmu telah membuktikannya hari ini."*

Alana mengirimkan foto tulisan itu kepada Raka setiap malam sebelum pria itu tidur di mess proyek. Bagi Raka, pesan-pesan singkat itu adalah oksigen di tengah udara Jakarta yang menyesakkan.

Tekanan pada Raka semakin kuat. Pak Surya dan kroninya mencoba memboikot pasokan material lain untuk memperlambat progres kerja, berniat membuat Raka terlihat tidak kompeten di mata kementerian.

Dalam keputusasaannya, Raka menerima pesan dari nomor yang tak terduga. **Maudy.**

Mereka bertemu di sebuah kafe sepi di Menteng. Maudy tampak lebih tenang, namun matanya tetap tajam.

"Aku dengar kamu sedang kesulitan dengan Pak Surya," buka Maudy tanpa basa-basi. "Keluargaku sudah lama bekerja sama dengan mereka. Aku tahu celah hukum dalam kontrak mereka. Ayahku... dia ingin menebus kesalahannya padamu lewat aku."

Maudy menyodorkan sebuah berkas berisi data ketidakberesan proyek-proyek Pak Surya di masa lalu. "Gunakan ini untuk menekan mereka. Jangan biarkan gedung itu hancur. Aku ingin suatu saat nanti aku bisa membaca buku di sana tanpa rasa bersalah."

Raka tertegun. "Kenapa kamu membantuku, Maudy?"

"Karena Alana benar," jawab Maudy singkat. "Kamu memang bukan milikku, tapi visi yang kamu bangun adalah milik bangsa ini. Aku tidak ingin melihat mahakaryamu dihancurkan oleh orang-orang kecil seperti Surya."

Berbekal data dari Maudy dan dukungan moral dari surat-surat Alana, Raka maju ke rapat pleno kementerian. Ia memaparkan semua temuan kecurangan kontraktor dengan sangat detail. Suaranya tidak bergetar. Ia tidak lagi peduli jika ia harus dipecat atau proyek itu dihentikan.

Hasilnya mengejutkan. Kementerian memutuskan untuk memutus kontrak dengan perusahaan Pak Surya dan melakukan audit menyeluruh. Raka dipertahankan sebagai pengawas ahli dengan wewenang penuh untuk memilih vendor material secara mandiri.

Malam itu, Raka langsung terbang ke Yogyakarta tanpa memberi tahu Alana.

Raka sampai di *Atelier Aksara* saat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Ia melihat lampu di ruang baca masih menyala remang-remang. Ia masuk dan menemukan Alana tertidur di atas meja. Meja Nomor 15 dengan pulpen yang masih terselip di jemarinya.

Raka berlutut di sampingnya, mengusap rambut istrinya dengan lembut. Alana terbangun, matanya mengerjap melihat sosok suaminya yang penuh debu namun tersenyum lega.

"Raka? Kamu pulang?"

"Aku menang, Lan. Fondasi itu tetap kuat. Jantungnya akan tetap bernapas," bisik Raka.

Alana memeluk leher Raka erat, menangis lega. "Aku tahu kamu bisa. Penulis kecil kita juga tahu.

mereka berdua duduk di teras, menatap fajar yang mulai menyingsing di atas Gunung Merapi. Alana mengambil buku catatannya, menuliskan baris penutup untuk bab ini:

*"Building with steel and concrete is a science, but building with integrity is an art. Raka, today you didn't just build a library; you built a sanctuary of truth for our child. Now I know, no matter how many 'wolves' come to our door, our house and our love will never crumble."*

Raka mengecup kening Alana, tangannya mengusap perut Alana yang kini sudah mulai sedikit membuncit. Perjalanan konstruksi masih panjang, namun hari ini mereka telah memenangkan pertempuran yang paling penting: pertempuran melawan diri sendiri dan godaan dunia.

1
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!