NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SABOTASE DAN BATAS YANG TERJANGGAR

Pagi setelah pertengkaran di parkiran bawah apartemen, Kira terbangun dengan perasaan seolah-olah kepalanya dihantam palu godam. Sinar matahari yang menerobos celah gorden kamarnya terasa terlalu terang dan menyakitkan. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading, mencoba mengingat kembali setiap kata tajam yang ia lontarkan pada Arlan semalam.

​Ada rasa puas yang tipis, namun lebih banyak rasa sesak yang menghimpit. Sebelas tahun. Mereka tidak pernah bertengkar sehebat itu. Biasanya, Arlan akan mengalah dengan memberikan cokelat atau Kira akan luluh dengan lelucon garing pria itu. Tapi semalam? Semalam adalah tentang harga diri dan pengakuan akan jarak yang mulai membentang.

​Kira bangkit dari tempat tidur, langkahnya gontai menuju dapur. Di sana, di atas meja konter, ia melihat sebuah kantong plastik berlogo toko martabak terkenal. Ia baru ingat, satpam apartemen mengantarkannya tadi pagi-pagi sekali, mengatakan bahwa "Mas Arlan" menitipkannya sebelum subuh.

​Kira membuka kotak itu. Martabak manis dengan keju melimpah—favoritnya. Namun, mentega yang sudah membeku dan kulit martabak yang layu membuatnya tampak menyedihkan. Persis seperti hubungan mereka saat ini.

​"Kamu pikir dengan martabak semua bakal beres, Lan?" gumamnya pahit. Ia membuang kotak itu ke tempat sampah. Ia butuh lebih dari sekadar martabak. Ia butuh diakui sebagai individu yang mandiri, bukan sekadar "proyek sampingan" Arlan yang harus dipantau setiap detik.

​Minggu sore itu seharusnya menjadi momen pelarian. Kira menghabiskan waktu dua jam untuk bersiap. Ia mengenakan celana jeans berpotongan tinggi yang memeluk pinggangnya dengan sempurna, dipadukan dengan atasan sabrina biru muda yang memperlihatkan bahunya. Ia ingin merasa cantik, bukan untuk Arlan, tapi untuk dirinya sendiri.

​Raka menjemputnya tepat waktu. Pria itu datang dengan aroma parfum yang segar dan senyum yang selalu tenang. "Kamu cantik banget hari ini, Ra," puji Raka tulus.

​Kira tersenyum, meski hatinya terasa seperti ada beban yang menggantung. "Makasih, Ka. Jadi, ke galeri seni?"

​"Tentu. Aku dengar ada koleksi foto hitam putih tentang sudut-sudut Jakarta yang belum pernah dipublikasikan. Aku rasa kamu bakal suka."

​Sepanjang perjalanan di mobil Raka, Kira berusaha keras untuk menjadi teman bicara yang baik. Ia menanggapi cerita Raka tentang teknik long exposure dan impiannya membuka studio sendiri. Raka adalah pria yang stabil. Ia tahu apa yang ia inginkan, dan ia memperlakukan Kira dengan rasa hormat yang tidak pernah disertai dengan intimidasi. Bersama Raka, Kira tidak perlu merasa waswas akan dikritik jika ia salah bicara.

​Namun, begitu mereka melangkah masuk ke dalam galeri yang tenang dan berbau kayu tua itu, perasaan tak enak kembali muncul. Galeri itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasangan dan kolektor seni yang berjalan perlahan mengitari bingkai-bingkai foto.

​Kira sedang memperhatikan sebuah foto pasar tradisional yang diambil dari sudut yang sangat unik ketika ia mencium aroma yang sangat ia kenali. Campuran antara kayu cendana dan kopi hitam yang kuat.

​"Komposisinya kurang simetris. Arsitektur bangunannya jadi kelihatan miring," suara itu berat, dingin, dan sangat akrab.

​Kira menoleh dengan gerakan kaku. Benar saja. Kurang dari tiga meter di sampingnya, berdiri Arlan Dirgantara. Pria itu tampak sangat berkelas dengan kemeja flanel biru navy yang kancing atasnya dibuka, memperlihatkan kesan santai namun tetap berwibawa. Di sampingnya, Clarissa berdiri dengan gaun sutra simpel berwarna nude yang mempertegas kesan wanita kelas atas.

​"Arlan? Clarissa?" suara Kira hampir hilang.

​Arlan menoleh, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sangat palsu. "Oh, Kira? Kamu di sini juga? Dunia memang sempit."

​"Kira! Hai!" Clarissa menyapa dengan ceria, sepertinya benar-benar tidak tahu bahwa kehadirannya di sana adalah bagian dari rencana besar Arlan. "Arlan tiba-tiba mengajakku ke sini. Katanya, aku butuh inspirasi visual untuk desain kantor baruku. Padahal aku tahu dia benci galeri foto."

​Kira menatap Arlan dengan tatapan yang bisa membunuh. Ia tahu pria ini. Arlan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan. Mengajak Clarissa ke tempat yang sama dengan kencan Kira bukan sebuah kebetulan; itu adalah deklarasi perang.

​"Hai, Lan. Hai, Clarissa," Raka menyapa dengan sopan, meski ia bisa merasakan aura dingin yang memancar dari Arlan.

​"Raka, kan?" Arlan menyipitkan mata, menatap tangan Raka yang saat itu sedang berada di bahu Kira untuk menunjukkan jalan. "Masih sibuk memotret objek yang tidak bisa bicara?"

​"Arlan, jaga bicaramu," potong Kira tajam.

​"Aku bicara fakta, Ra. Beberapa orang memilih profesi yang aman karena takut menghadapi kenyataan yang lebih besar," balas Arlan dengan nada meremehkan.

​Ketegangan di antara mereka meningkat pesat. Clarissa mulai merasa tidak nyaman. Ia menatap Arlan, lalu menatap Kira, mencoba membaca dinamika yang terjadi. "Eh, Lan, mungkin kita lihat ke sisi sana saja? Sepertinya di sana lebih sesuai dengan konsep kantorku."

​"Sebentar, Cla," Arlan menahan Clarissa, namun matanya tetap terkunci pada Kira. "Ra, kamu sudah makan? Aku ingat kamu punya maag kronis. Dan tempat ini... sepertinya tidak menyediakan makanan yang layak untuk lambung sensitifmu."

​Kira merasa darahnya mendidih. Arlan sedang menggunakan kelemahannya sebagai senjata di depan pria lain. "Raka tahu ke mana harus membawaku makan, Lan. Kamu tidak perlu bertingkah seolah kamu adalah satu-satunya orang yang memegang manual penggunaan hidupku."

​"Aku hanya peduli, Ra. Sebagai sahabat."

​"Sahabat tidak mempermalukan sahabatnya di depan orang lain, Lan! Sahabat tidak membuntuti dan merusak hari orang lain!" suara Kira sedikit meninggi, membuat beberapa pengunjung galeri menoleh.

​"Aku tidak membuntuti. Aku ke sini bersama pasanganku," Arlan melirik Clarissa, seolah baru teringat wanita itu ada di sana. "Sama seperti kamu dengan... siapa tadi namanya? Raka?"

​Raka menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Namaku Raka, Arlan. Dan aku rasa, kita semua dewasa di sini. Kalau memang kalian ingin menikmati pameran, silakan. Tapi jangan ganggu waktu kami."

​Arlan tersenyum sinis, jenis senyum yang membuat Kira ingin melempar tasnya ke wajah pria itu. "Dewasa? Kita lihat sejauh mana kamu bisa bersikap dewasa saat tahu betapa sulitnya menjaga wanita seceroboh Kira."

​"Cukup!" Kira menarik tangan Raka. "Ayo pergi, Ka. Mood-ku sudah hancur berkeping-keping."

​Kira melangkah cepat keluar dari galeri tanpa menoleh lagi. Ia bisa merasakan tatapan Arlan menusuk punggungnya. Di parkiran, Kira melepaskan tangan Raka dan bersandar di pintu mobil, berusaha mengatur napasnya yang memburu karena amarah dan rasa malu.

​"Maafkan aku, Raka. Benar-benar maaf," bisik Kira.

​"Nggak apa-apa, Ra. Tapi... jujur saja, dia sepertinya sangat terobsesi padamu. Itu bukan cara seorang teman menatap teman lainnya," ucap Raka dengan nada prihatin.

​Kira terdiam. Ia tahu itu. Ia selalu tahu ada sesuatu yang gelap dan posesif di dalam diri Arlan, tapi selama ini ia menganggapnya sebagai bentuk kasih sayang kakak-adik. Namun hari ini, topeng itu retak.

​Malam harinya, apartemen Kira terasa begitu sunyi. Ia mematikan semua lampu, hanya membiarkan cahaya dari gedung-gedung di luar masuk melalui jendela. Ia sedang mencoba menenangkan pikirannya saat bel pintu berbunyi.

​Ding-dong. Ding-dong.

​Ketukan itu cepat dan tidak sabaran. Kira tahu itu siapa. Hanya satu orang yang berani menekan belnya seperti sedang menagih hutang nyawa.

​Kira membuka pintu dengan amarah yang siap meledak. "Mau apa lagi, Arlan? Belum puas mempermalukanku hari ini?"

​Arlan berdiri di sana, masih dengan kemeja yang sama, namun penampilannya tampak kacau. Rambutnya berantakan, dan aroma alkohol tipis tercium dari napasnya. Tanpa menunggu izin, ia melangkah masuk, menutup pintu dengan bunyi dentum yang keras, dan menguncinya.

​"Keluar, Lan!"

​Arlan tidak bergerak. Ia justru memajukan langkah, menyudutkan Kira hingga punggung gadis itu menempel pada daun pintu yang dingin. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Kira, memerangkapnya.

​"Kenapa kamu harus posting foto tiket itu, Ra? Kenapa kamu harus menunjukkan pada dunia bahwa kamu sedang bahagia dengan pria medioker itu?" bisik Arlan rendah. Suaranya serak, penuh dengan rasa frustrasi yang selama ini ia tekan.

​"Karena aku memang ingin bahagia! Dan Raka bukan pria medioker! Dia memperlakukanku dengan lembut, sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan!" balas Kira, air mata mulai menggenang di matanya.

​"Lembut? Dia tidak tahu apa-apa tentangmu! Dia tidak tahu kalau kamu menangis setiap kali mendengar suara petir yang terlalu keras. Dia tidak tahu kalau kamu benci tekstur tomat di dalam roti lapis. Dia hanya melihat permukaanmu, Ra! Sementara aku... aku memegang setiap kepingan dirimu selama sebelas tahun!"

​"Lalu kenapa, Lan? Kalau kamu tahu segalanya tentangku, kenapa kamu bawa Clarissa ke depanku? Kenapa kamu buat aku merasa seperti sampah yang bisa kamu buang dan ambil kapan saja kamu mau?"

​Arlan terdiam. Napasnya memburu, bersinggungan dengan napas Kira. Matanya yang biasanya sedingin es kini tampak membara dengan emosi yang sulit didefinisikan.

​"Aku membawa Clarissa karena aku takut, Ra," bisik Arlan, suaranya tiba-tiba melemah. "Aku takut kalau aku tidak punya orang lain, aku akan terus mengejarmu. Dan kalau aku mengejarmu dan kamu menolakku, aku akan kehilangan segalanya. Aku lebih baik memiliki kamu sebagai sahabat selamanya daripada kehilangan kamu sepenuhnya setelah kita mencoba menjadi kekasih."

​Kira tertegun. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan. Ini adalah pengakuan paling jujur yang pernah keluar dari mulut Arlan.

​"Tapi melihatmu dengan pria itu... melihat dia menyentuhmu... aku sadar aku tidak bisa, Ra. Aku benci melihatnya. Aku benci fakta bahwa bukan aku yang membuatmu tertawa hari ini," lanjut Arlan.

​Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di bahu Kira. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat, hanya menyisakan suara detak jantung mereka yang saling bersahutan.

​"Jangan pernah posting foto kencan lagi, Ra. Tolong... jangan buat aku semakin gila," gumam Arlan lirih.

​Kira merasakan kemeja di bahunya basah. Arlan, pria paling kaku dan dingin yang pernah ia kenal, sedang hancur di pelukannya. Namun di sisi lain, Kira juga merasakan perih. Pengakuan Arlan bukanlah sebuah ajakan untuk memulai hubungan, melainkan sebuah permohonan agar Kira tetap tinggal di dalam "penjara" yang bernama persahabatan ini.

​"Kamu egois, Lan," bisik Kira sambil memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh membasahi rambut Arlan. "Kamu sangat egois."

​Malam itu, batas antara sahabat dan kekasih benar-benar menjadi kabur. Mereka berdiri di sana, saling berpelukan dalam luka, tanpa tahu apakah esok pagi mereka masih bisa saling menatap mata dengan cara yang sama.

1
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!