Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALGORITMA KEBENARAN.
Lampu indikator pada mesin pemindai laboratorium Raffasyah Medical Center berkedip merah sebelum berubah menjadi hijau konstan. Dewa berdiri tegak di samping meja operator, menatap layar monitor yang sedang memproses data materi genetik dari sisa air liur di permen lolipop tersebut. Ketegangan di ruangan steril itu terasa mencekik.
"Hasilnya sudah keluar, Tuan Dewa," ucap sang dokter ahli genetika dengan suara datar.
Dewa segera menyambar amplop putih yang baru saja keluar dari mesin pencetak. Ia tidak membukanya. Tugasnya hanya mengantar pesan kematian atau kehidupan itu ke tangan Fardan. Ia segera berlari menuju mobil dan memacu kendaraan membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang menuju kantor pusat Raffasyah Group.
Di ruang kerjanya yang gelap, Fardan duduk mematung. Ia tidak menyalakan lampu, hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela kaca besar yang menerangi wajahnya yang kaku. Pintu terbuka dengan sentakan keras. Dewa masuk dengan napas memburu, meletakkan amplop itu di atas meja marmer.
"Buka, Dewa. Bacakan padaku," perintah Fardan, suaranya parau dan rendah.
Dewa merobek amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia menarik lembaran kertas di dalamnya, matanya memindai baris demi baris angka dan istilah medis yang rumit hingga ia berhenti pada kesimpulan di bagian paling bawah.
"Probabilitas paternitas antara sampel A dan sampel B adalah sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen, Tuan," suara Dewa bergetar. "Anak itu... Rafka Ghifari adalah putra kandung Anda."
Hening. Fardan tidak bergerak. Namun, perlahan bahunya mulai berguncang. Bukan karena tawa, melainkan kemarahan yang meluap hingga ke ubun-ubun. Rasa sakit dikhianati selama enam tahun meledak seketika. Alisha benar-benar menyembunyikan darah dagingnya, membiarkan putranya tumbuh tanpa mengenal ayahnya, dan membiarkan Fardan hidup dalam kebencian yang salah alamat.
"Siapkan mobil. Kita ke apartemen Alisha sekarang juga," desis Fardan. Matanya berkilat tajam seperti silet.
Sementara itu, di apartemen Alisha, suasana tidak kalah tegang. Ghifari duduk di meja makan dengan tablet yang terhubung ke jaringan kabel fiber optik. Jari-jari kecilnya bergerak secepat kilat, barisan kode hijau mengalir di layar hitamnya.
"Bunda, sistem keamanan publik di radius satu kilometer dari apartemen kita baru saja mendeteksi kendaraan Raffasyah Group bergerak menuju ke sini," ujar Ghifari tanpa mengalihkan pandangan.
Alisha yang sedang merapikan pakaian di dalam kamar langsung berlari keluar. wajahnya memucat. "Apa maksudmu, Sayang? Fardan datang ke sini?"
"Mobil Rolls-Royce hitam dengan plat nomor B 1 RFD. Jaraknya hanya lima ratus meter dari gerbang utama," lapor Ghifari. "Dia tidak sendirian. Ada dua mobil pengawal di belakangnya."
"Lucas! Siapkan Ghifari, kita harus pergi lewat pintu belakang!" teriak Alisha panik.
Lucas segera menyambar jaket dan senjata api tersembunyinya, namun Ghifari justru mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti.
"Sudah terlambat, Bunda. Dia sudah meretas protokol akses gerbang bawah dengan otoritas VIP. Lift sedang menuju lantai kita tanpa bisa dihentikan secara manual," ucap Ghifari tenang. Ia kemudian menekan satu tombol terakhir di tabletnya. "Tapi jangan khawatir. Aku sudah mengunci semua akses data pribadi Henry Corp di server lokal ini. Dia tidak akan mendapatkan apa pun selain kehadiran fisik kita."
Ting!
Suara bel pintu apartemen berbunyi, diikuti oleh hantaman keras yang membuat pintu kayu jati itu bergetar. Alisha berdiri di tengah ruangan, menggenggam hijabnya dengan erat, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Lucas berdiri di sampingnya, sementara Ghifari tetap duduk tenang di kursinya, seolah sedang menunggu tamu biasa.
Pintu terbuka paksa. Fardan melangkah masuk dengan aura yang begitu dingin dan mematikan hingga suhu ruangan terasa turun drastis. Dewa berdiri di belakangnya dengan wajah kaku.
"Enam tahun, Alisha. Enam tahun kau mencuri putraku dan membawanya lari ke ujung dunia," suara Fardan menggelegar, memenuhi setiap sudut apartemen.
Alisha mencoba menatap mata suaminya, meski kakinya terasa lemas. "Dia bukan putramu, Fardan. Kau kehilangan hakmu malam itu di hotel."
"Jangan berbohong lagi!" Fardan melemparkan kertas hasil tes DNA ke atas meja makan, tepat di depan Ghifari. "Hasil ini tidak berbohong. Dia darah dagingku! Dia pewaris tunggal Raffasyah!"
Fardan berjalan mendekati Ghifari, hendak menyentuh bahu bocah itu. Namun, sebelum tangannya sampai, Ghifari mengangkat tabletnya, menampilkan sebuah rekaman video yang sedang diproses.
"Tuan Fardan, jika Anda melangkah satu senti lagi, aku akan merilis data transfer bank ilegal ibumu ke publik," suara Ghifari terdengar sangat dingin dan dewasa, membuat Fardan membeku di tempat.
Fardan mengerutkan kening, menatap bocah itu dengan bingung. "Apa yang kau bicarakan, Nak?"
"Jangan panggil aku Nak sebelum Anda melihat ini," sahut Ghifari. Ia memutar sebuah klip audio yang sudah dibersihkan dari kebisingan latar belakang.
Suara Ratna, ibu Fardan, terdengar sangat jelas di speaker tablet: "Pastikan obatnya bekerja cepat. Sherly, masuklah saat Fardan sudah tidak sadar. Alisha harus melihat ini agar dia mau menandatangani surat cerai itu secepatnya."
Fardan tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar suara ibunya sendiri merencanakan kehancuran pernikahannya. "Apa ini... asli?"
"Aku memulihkan audio asli dari rekaman CCTV hotel enam tahun lalu yang kalian kira sudah terhapus permanen," jelas Ghifari sambil tetap menatap Fardan dengan benci. "Ibumu menjebakmu, dan Anda cukup bodoh untuk mempercayai video editan mereka daripada istrimu sendiri."
Alisha menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia baru tahu sekarang bahwa Ghifari telah sejauh ini membongkar kebenaran.
Fardan menoleh pada Alisha dengan tatapan hancur. "Alisha... kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Bagaimana aku bisa mengatakannya jika kau bahkan tidak mau menatapku malam itu? Kau lebih percaya pada ibumu daripada ibu dari anakmu sendiri!" teriak Alisha dengan isak tangis yang pecah.
Fardan kembali menatap Ghifari. Rasa bangga yang aneh muncul di tengah kekacauannya. Anak ini, baru berusia lima tahun, sudah bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh tim IT terbaiknya.
"Kau melakukannya sendiri?" tanya Fardan, suaranya melembut.
"Sistem keamanan keluarga Raffasyah sangat lemah. Aku bisa menghancurkan kekayaanmu dalam sepuluh menit jika aku mau," jawab Ghifari tanpa ekspresi. "Sekarang, silakan pergi. Bunda butuh istirahat, dan aku tidak suka melihatnya menangis karena pria sepertimu."
Fardan merasa harga dirinya runtuh di depan putra kecilnya. Ia baru saja mendapatkan bukti bahwa ia adalah seorang ayah, namun di saat yang sama, ia menyadari bahwa anaknya sendiri adalah musuh terbesarnya.
"Aku tidak akan pergi tanpa kalian," tegas Fardan, mencoba mengembalikan otoritasnya. "Dewa, bawa barang-barang mereka. Kita kembali ke mansion."
"Tuan Fardan," Lucas melangkah maju, menghalangi jalan Dewa. "Anda sedang berada di properti milik Henry Corp. Jika Anda memaksa, aku punya izin untuk menggunakan kekerasan."
"Silakan coba," tantang Fardan, matanya berkilat penuh amarah.
Di tengah ketegangan yang memuncak, Ghifari tiba-tiba mengetuk layar tabletnya tiga kali. Seketika, lampu di seluruh apartemen dan koridor lantai itu mati total. Dalam kegelapan, hanya layar tablet Ghifari yang menyala biru terang.
"Sistem pemadam kebakaran otomatis akan aktif dalam sepuluh detik jika kalian tidak keluar dari sini," ancam Ghifari. "Dan aku sudah memanggil pihak kepolisian atas tuduhan percobaan penculikan dan perusakan properti pribadi. Mereka akan sampai dalam lima menit."
Fardan menatap putranya dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Anak ini tidak hanya genius, dia adalah manipulator yang sempurna. Ia tahu ia tidak bisa memenangkan pertarungan ini dengan kekerasan jika putranya sendiri yang mengendalikan lingkungan di sekitarnya.
"Baiklah. Aku pergi malam ini," ujar Fardan sambil menatap Alisha dengan tatapan penuh janji. "Tapi ingat ini, Alisha. Ghifari adalah anakku. Dan aku akan melakukan apa pun, dengan cara apa pun, untuk membuktikan bahwa aku pantas menjadi ayahnya. Kita belum selesai."
Fardan berbalik dan melangkah keluar diikuti oleh Dewa. Begitu pintu tertutup, Ghifari kembali menyalakan lampu dengan satu sentuhan jari. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan isak tangis Alisha yang masih tersedu.
Ghifari turun dari kursinya, berjalan mendekati Alisha dan memeluk pinggang ibunya dengan erat. "Jangan takut, Bunda. Selama aku memegang kendali sistem mereka, mereka tidak akan pernah bisa menyentuh kita."
Alisha memeluk putranya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, perang baru saja dimulai. Fardan sudah tahu kebenarannya, dan Ghifari sudah menunjukkan kekuatannya. Jakarta tidak akan pernah tenang lagi bagi keluarga Raffasyah setelah malam ini.
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya