Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
selena berulah
Chapter: Selalu Ada Saja Kelakuannya
Setelah kejadian di perpustakaan, Selena bersumpah dalam hati: Cukup. Kalau Zeus mau main kasar, Selena Victoria tidak akan tinggal diam. Dia memang "babu" kontrak, tapi dia bukan keset kaki.
Pagi hari di kelas 1A, Rora menatap Selena dengan ngeri. Selena sedang sibuk mencampurkan sesuatu ke dalam botol minum tumbler milik Zeus yang harus dia bawakan setiap pagi.
"Sel, itu apaan? Lo masukin racun tikus?!" bisik Rora panik.
Selena menyeringai licik, wajahnya yang cantik jadi terlihat sedikit menyeramkan. "Bukan racun, Ror. Cuma bubuk cabai super pedas sisa makan ayam geprek semalam plus sedikit cuka. Biar lidahnya yang tajam itu ngerasain gimana rasanya disengat balik."
"Gila lo! Kalau dia tahu, lo bisa dikeluarin dari sekolah!"
"Biarin! Daripada gue mati kena tekanan batin," balas Selena santai sambil mengocok botol itu.
⚠️Misi Balas Dendam Dimulai
Saat istirahat, Selena mengantarkan botol itu ke meja Zeus. Seperti biasa, Zeus sedang dikelilingi teman-temannya yang sibuk tertawa.
"Nih, minum lo. Segar, baru gue isi dari dispenser paling dingin," ucap Selena dengan nada semanis mungkin—yang sebenarnya adalah sinyal bahaya bagi siapa pun yang mengenalinya.
Zeus melirik botol itu, lalu melirik Selena. "Tumben lo nggak banting botolnya."
"Kan gue mau jadi babu yang berbakti, Tuan Zeus yang Terhormat," Selena membungkuk sedikit, menahan tawa yang sudah di ujung tenggorokan.
Zeus mengambil botol itu, membukanya, dan baru saja akan menempelkan bibir botol ke mulutnya... tiba-tiba dia berhenti. Dia mencium aroma yang aneh.
"Kenapa baunya kayak dapur mamah gue?" tanya Zeus curiga.
Jantung Selena berdegup kencang. "Mungkin karena parfum mawar gue nempel di situ? Udah deh, minum aja, banyak tanya banget!"
Baru saja Zeus mau meneguk, seorang guru olahraga masuk ke kantin dan memanggil Zeus untuk urusan tim basket. Zeus menutup kembali botolnya tanpa meminumnya.
"Simpenin. Gue minum habis urusan sama Pak Bambang," ucap Zeus sambil melempar botol itu kembali ke pelukan Selena.
Gagal total! batin Selena frustrasi.
Kejengkelan Selena memuncak saat jam pelajaran terakhir. Zeus tiba-tiba muncul di depan kelas 1A—padahal dia kelas 3—dan mengetuk pintu dengan santai di saat guru sedang menjelaskan.
"Permisi Bu, saya pinjam Selena sebentar. Ada urusan OSIS mendadak," bohong Zeus dengan wajah datar andalannya.
Selena melotot. Urusan OSIS apanya?! Dia bahkan bukan anggota OSIS! Tapi karena wibawa Zeus, guru itu mengizinkan.
Begitu di luar kelas, Zeus menarik tas Selena. "Ikut gue."
"Heh! Gue lagi belajar ya! Lo mau bawa gue kemana, Kulkas?!"
"Ke gudang belakang."
Selena berhenti melangkah. Wajahnya pucat. "Lo... lo mau ngapain? Gue tau gue salah soal botol tadi, tapi jangan main fisik ya!"
Zeus berbalik, menatap Selena dari atas ke bawah. "Botol? Jadi bener lo masukin sesuatu ke botol gue? Dasar licik." Dia menyentil dahi Selena pelan. "Gue bawa lo ke gudang karena kucing liar yang biasa gue kasih makan kejebak di atap. Badan lo kecil, lo bisa naik lewat celah jendela buat ambil dia. Gue nggak muat lewat situ."
Selena tertegun. Si macan sekolah yang kejam ini... mau nyelamatin kucing?
"Cepetan, dia udah ngeong-ngeong dari tadi. Atau masa babu lo gue tambah?" ancam Zeus lagi.
"Iya, iya! Selalu aja ada kelakuannya yang bikin gue pusing!" gerutu Selena, meski dalam hati dia merasa ada sedikit bagian dari "tembok" benci di hatinya yang mulai retak.
Skip...
Sorenya..
Langkah Selena terasa berat saat mengikuti motor Zeus membelah jalanan kota. Zeus tidak membawanya ke kafe mahal atau perpustakaan lagi, melainkan ke sebuah bangunan tua yang terlihat seperti gudang besar namun terawat dengan logo petir di pintunya. Itulah Markas Geng Thunder, tempat yang bahkan anak-anak nakal dari sekolah lain pun enggan mendekat.
Begitu pintu terbuka, aroma campuran antara oli, kopi, dan parfum mahal menyeruak. Selena menelan ludah. Di dalam sana, suasana tampak sangat maskulin. Ada meja biliar, motor-motor besar yang sedang dipreteli, dan musik rock yang terdengar samar dari pojok ruangan.
Tiba-tiba, suara Rora di kantin kemarin berputar kembali di kepala Selena seperti kaset rusak.
"Ingat Sel, mereka itu paket lengkap. Yang paling ujung itu Axel, raja gombal..."
Selena melihat cowok berambut agak pirang yang sedang duduk di atas meja biliar. Begitu melihat Selena, dia langsung berkedip genit. "Waduh, Zeus bawa 'oleh-oleh' manis nih ke markas? Kenalin dong, gue Axel, pemilik hati yang masih kosong khusus buat lo."
Selena hanya mendelik sebal. Fix, si Raja Gombal, batinnya.
Lalu matanya beralih ke cowok yang sedang membaca buku di sofa. "Terus ada Nathan, mukanya manis tapi mulutnya pedas..."
"Gak usah diliatin terus, nanti naksir. Lagian lo gak tipe gue, terlalu pendek buat standar cewek Thunder," celetuk Nathan tanpa menoleh dari bukunya. Selena hampir saja melempar tasnya ke arah Nathan. Bener-bener pedas!
Pandangan Selena kemudian jatuh pada sosok yang sedang latihan sandbag di sudut ruangan. "Terus yang badannya paling gede, muka garang... Damon, atlet tinju."
DUG! DUG! Suara pukulan Damon ke samsak membuat Selena sedikit bergidik. Cowok itu hanya mengangguk tipis ke arahnya, namun tatapan matanya memang sangat mengintimidasi.
"Dan yang di tengah itu... Leon, wakil ketua. Muka tembok semen tapi ganteng."
Selena melihat Leon yang sedang mengelap mesin motor. Dia hanya melirik Selena sekilas tanpa ekspresi, benar-benar diam seperti batu, tapi auranya sangat berwibawa.
Dan terakhir, dia menatap punggung cowok yang baru saja melepaskan helmnya di depan Selena.
"Dan yang karismanya paling kuat... Zeus. Jangan pernah berurusan sama dia kalau mau hidup lo tenang."
Selena merasa kakinya lemas. Dia sekarang berada di tengah-tengah kumpulan orang paling berbahaya di sekolahnya.
"Woy, malah bengong. Masuk!"
Suara berat Zeus memecah lamunan Selena. Zeus berjalan menuju sebuah kursi besar seperti singgasana di tengah ruangan. Dia menaruh jaket kulitnya dan menoleh ke arah Selena yang masih berdiri di ambang pintu.
"Sini," perintah Zeus pendek.
Selena melangkah perlahan, mencoba tetap terlihat berani meskipun hatinya maraton. Baru saja dia mau bicara, suara "GKEYBORD!" (suara gebrakan keyboard atau benda keras) terdengar dari meja pojok tempat Axel tadi duduk, karena dia nggak sengaja menjatuhkan laptop milik Nathan.
"SEL! Sini!" panggil Zeus lagi, kali ini lebih tegas. "Tugas lo sore ini bukan cuma bawain tas gue. Markas lagi berantakan gara-gara anak-anak ini habis makan siang. Beresin semuanya."
Selena melotot. "Lo gila?! Gue babu lo di sekolah, bukan pembantu markas lo!"
Zeus berdiri, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Lo lupa? Kontrak seminggu ini punya gue. Dan di sini, aturan gue adalah hukum. Pilih mana: beresin markas atau gue kasih tau seisi sekolah kalau lo yang naruh bubuk cabai di botol minum gue tadi pagi?"
Selena terkesiap. Sial, dia tau?!
"Dasar kulkas licik!" umpat Selena dalam hati, sementara para anggota Thunder lainnya mulai tertawa kecil melihat ketua mereka menjaili gadis "bar-bar" itu.
Petualangan Selena di markas Thunder baru saja dimulai, dan sepertinya ini akan lebih parah daripada tugas di perpustakaan.
Bersambung...
makasih buat yg udah baca😊
minta suportnya ya