Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Sang Dewi Penyelamat
Dua tahun yang lalu, Elbara menjemput sang kakak dan istrinya, juga Aluna kecil. Awalnya semua baik-baik saja, sejak keluar dari bandara tak ada hambatan apapun. Mereka pun ngobrol santai sambil sesekali menggoda Aluna yang duduk di pangkuan Arin, mamanya.
"Kenapa Felly tidak ikut?" tanya Arin yang sedang bermain dengan Aluna di bangku belakang.
"Dia sedang ada acara seminar di luar kota." jawab Elbara sambil tersenyum.
"Pacarmu itu memang hebat, dia menginspirasi banyak orang. Tidak heran dia diundang kemana-mana." kata Arin membalas.
"Dia hanya menjalankan hobinya, kak." sahut Elbara.
"Kita mampir toko kue langganan mama ya, Bar." sahut Alvino, kakak kandung Elbara.
"Siap!!" balas Elbara.
Tak berselang lama setelah obrolan itu, tiba-tiba saja terdengar klakson panjang dari arah belakang. Lalu dalam hitungan detik bagian belakang mobil mereka seperti dihantam oleh sesuatu yang sangat besar dan kuat. Hingga meluncur jauh ke depan dan menabrak sebuah truk.
Teriakan, tangisan, gumaman, rintihan, semua beradu di tempat itu. Di dalam mobil itu, hanya Elbara yang masih memiliki kesadarannya. Meski dia tak bisa berkata-kata, apalagi bergerak. Dia mendengar tangisan kencang Aluna. Tapi tidak mendengar suara kedua saudaranya.
"Ada anak kecil di dalam sini...!! Tolong bantu buka pintunya...! Dia masih hidup...!!"
"Tolooong...!!"
"Eh, mbak! Bahaya! Bagaimana kalau mobilnya sewaktu-waktu meledak!!"
"Kita harus tolong anak itu...!!"
Elbara bisa mendengar suara itu. Dengan sisa tenaganya, dia berusaha menekan tombol untuk membuka pintu mobilnya. Meski kepalanya tak bisa diangkat barang sebentar saja.
Seseorang membuka pintu mobil bagian belakang. Lalu mengambil Aluna yang sedang menangis.
"Kak..., kakak..."
Dia berusaha membuat Arin bangun. Namun Arin yang sisi kanan wajahnya berlumuran darah itu tak memberi respon apapun. Masih dengan tangan yang menggendong Aluna, dia menghampiri Elbara. Tak menghiraukan teriakan orang-orang yang menyuruhnya menjauh.
"Kakak..., kakak masih sadar? Ayo keluar...!"
Elbara tidak menjawab. Dia hanya bisa melihat dengan sudut matanya yang penuh air mata. Orang yang menolong Aluna adalah seorang gadis dengan tanda lahir di pergelangan tangan kanan bagian dalam.
"Mungkin terjepit..." gumamnya. "Tenang ya, sayang..." dia juga masih terus berusaha menenangkan Aluna.
Gadis itu beralih pada korban lain di samping Elbara. Saking syoknya, gadis itu langsung memejamkan matanya. Dan mendekap Aluna di dadanya. Jantungnya berdebar-debar. Tubuhnya gemetar. Tapi dia berusaha untuk tetap tegar, karena ada gadis kecil bersamanya.
"Dokter...!!" serunya saat melihat mobil ambulans datang, dan para medis keluar bergantian.
"Kakaknya masih bernafas. Cepat tolongin dia...!!" teriaknya lagi.
"Kakak jangan khawatir, aku akan menjaga anak ini. Kakak bertahanlah...!!" ujarnya lagi.
"Terimakasih..." batin Elbara.
___
Dan saat ini, Elbara yang berada di ruang kerjanya terus memperhatikan CCTV di kamar Aluna.
"Kalau memang dia orangnya, bisa jadi Aluna bersikap baik karena merasa hatinya terhubung dengan Yumna. Orang yang sudah menolong dan menemaninya waktu itu. Tapi..., memangnya ada kehidupan yang sekebetulan ini...??"
Elbara terus memperhatikan interaksi keponakannya dan Yumna melalui komputer di meja kerjanya. Tidak ada yang aneh dengan Yumna. Justru keponakannya yang terlihat tidak biasa. Ini kali pertamanya, Aluna bisa cepat akrab dengan orang baru. Apalagi seorang perempuan dewasa.
Tok... Tok...
Elbara menoleh ke arah pintu. Kemudian pintu terbuka, dan Niko memasuki ruangannya dengan sebuah map di tangannya.
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Elbara.
"Ini tuan." Niko menyerahkan sebuah berkas pada Elbara.
"Sama persis dengan CV dan penjelasan dari nyonya besar, tuan. Semua data yang tercantum sesuai dengan fakta yang ada. Apa perlu mencari tahu soal kehidupan pribadinya?" Niko menatap Elbara, menunggu jawabannya.
"Suruh saja dia ke sini kalau jam belajar sudah selesai." begitu kata Elbara. "Ingat, jangan sampai Aluna tahu!"
"Siap, tuan. Permisi..." Niko pun undur diri.
___
Dengan langkah yang ragu-ragu, Yumna menuruni anak tangga. Jemarinya saling bertautan, dan bergerak gelisah. Hal itu tak lepas dari pantauan Bu Kartika. Bu Kartika tersenyum sejenak, lalu menghampirinya.
"Bu..." Yumna menyapa lebih dulu saat melihat Bu Kartika.
"Ada apa? Aluna buat masalah?" tanya Bu Kartika.
"Ah, tidak. Aluna anak yang baik dan pintar. Dia sangat menyenangkan." balas Yumna.
"Lalu...?"
Belum sempat Yumna memberikan jawaban, Niko tiba-tiba datang di antara mereka.
"Maaf, tuan menunggumu di ruangannya." ujar Niko.
Bu Kartika menarik nafas. Dia pun tahu penyebab kegelisahan yang melanda hati Yumna.
"Dia mau apa?" tanya Bu Kartika.
"Tuan hanya ingin bicara dengan nona Yumna, nyonya." jawab Niko yang selalu sopan.
Bu Kartika meraih tangan Yumna, lalu tersenyum pada Yumna.
"Jangan buat dia menunggu. Dan jangan khawatir, dia tidak galak. Mungkin dia hanya ingin memastikan kalau saya tidak salah pilih guru untuk putri kesayangannya."
"Em." Yumna mengangguk.
Yumna kemudian mengikuti Niko menuju ruangan kerja Elbara. Setelah Yumna memasuki ruangan, Niko pun keluar. Meninggalkan bosnya dan Yumna berdua saja di dalam.
"Nona Yumna Eliana?" ujar Elbara.
Seperti ada magnet yang menarik mata Elbara untuk menatap Yumna. Dan dia tidak kuasa melawannya.
"Iya, saya, pak..." jawab Yumna.
"Maaf sebelumnya. Saya hanya ingin memastikan beberapa hal. Boleh?" ujarnya kemudian.
Yumna hanya mengangguk sebagai tanda kalau dia mengizinkan Elbara melakukan itu. Suasana hati Yumna masih sama seperti saat pertama bertemu Elbara. Takut. Aura Elbara benar-benar membuat Yumna gelisah. Dia hanya berharap Elbara tidak menyadari hal itu.
"Dua tahun yang lalu. Apa nona Yumna pernah terlibat dalam sebuah kecelakaan?"
Yumna mengangkat kepalanya. Untuk kali pertama, dia berani menatap mata Elbara. Karena dua tahun yang lalu, hanya ada satu insiden yang belum bisa dia lupakan.
"Tidak terlibat." sahut Yumna. "Tapi..., kebetulan saya berada di sekitar TKP." imbuhnya.
"Kamu berusaha membuka pintu mobil. Dan membawa seorang anak kecil keluar. Benar?"
Deg...!!
"Bagaimana dia tahu? Apa mungkin dia ini keluarga korban? Lalu sekarang dia mau minta pertanggungjawaban karena anak kecil itu hilang...??!!"
"Nona Yumna...?"
Panggilan itu menyadarkan Yumna dari lamunannya.
"Be..., benar, pak." sahut Yumna terbata.
"Ternyata benar dia."
Ada rasa lega dalam diri Elbara. Karena sudah bertemu dengan gadis yang menolong Aluna.
"Apa aku tidak boleh hidup tenang? Baru saja aku bekerja, sekarang sudah mendapat masalah..."
"Apa nona Yumna tahu, anak itu adalah Aluna?"
Yumna kembali dibuat terkejut.
"A..., A..., Aluna?" refleks, Yumna menunjuk ke arah pintu. Padahal Aluna tidak berada di sana.
"Iya. Anak yang nona selamatkan itu Aluna." kata Elbara.
"Syukurlah..., dia selamat. Saya khawatir sekali waktu itu. Saya juga takut. Karena saya berjanji akan menjaganya. Tapi saat saya kembali ke rumah sakit. Anak itu tidak ada. Katanya seseorang membawanya pergi. Saya takut orang yang membawanya bukan orang baik..."
Kali ini Elbara yang dibuat terkejut. Tidak disangka Yumna yang awalnya irit berbicara, tiba-tiba begitu banyak bicara.
"Mama yang membawa dia pulang. Mama juga mencari nona Yumna, tapi sayangnya pihak rumah sakit tidak menyimpan data apapun soal nona Yumna." ujar Elbara.
"Terus..., dari mana bapak tahu kalau orang itu saya?" Yumna mengarahkan telunjuknya ke wajahnya.
"Tanda lahir di tangan kamu." jawab Elbara singkat.
Yumna melihat tangan kanannya. Kemudian beralih pada Elbara.
"Jadi..., bapak yang mengemudikan mobil...?" gumamnya. "Ah, mohon maaf. Saya tidak bermaksud..." Yumna baru menyadari kalau dia lancang dalam berbicara.
"Tidak perlu minta maaf. Itu sudah berlalu." sahut Elbara.
"Em." Yumna mengangguk.
Yumna mengusap pergelangan tangannya. Yang disebut sebagai tanda lahir oleh Elbara, sebenarnya bukanlah tanda lahir yang sesungguhnya. Yumna hanya menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan.
"Terimakasih, nona Yumna." ujar Elbara.
"Tidak perlu berterimakasih, pak. Menolong sesama itu memang sudah seharusnya."
"Kami akan memberikan apapun sebagai bentuk balas jasa atas pertolongan nona Yumna." tutur Elbara.
"Tidak perlu seperti itu, pak. Sungguh saya tidak mengharapkan apapun." balas Yumna.
"Kalau begitu, kalau suatu saat nona Yumna butuh sesuatu. Kami siap membantu nona. Jangan sungkan."
"Terimakasih banyak, pak." balas Yumna.
Hati Yumna benar-benar lega. Padahal beberapa saat yang lalu setelah dia mendapat bisikan dari Vivi, kalau Elbara ingin bicara dengannya. Dia sangat takut, gelisah, dan pikirannya macam-macam. Terjadi dia justru mendapat kejutan yang luar biasa. Meskipun harus kembali mengenang insiden kala itu.
___
Niko diperintahkan untuk mengantar Yumna pulang. Yumna tidak bisa menolak, karena Bu Kartika pun memaksanya untuk patuh saja. Setelah mengetahui kalau Yumna adalah Dewi Penyelamat itu, Bu Kartika jadi semakin perhatian pada Yumna.
Mobil yang dikendarai Niko memasuki halaman rumah orang tua Yumna. Kedatangan mereka disambut oleh orang tua Yumna, Nasya, dan Damar. Tampaknya mereka baru tiba dari rumah sakit.
Semua mata menatap ke arah mobil yang mengantar Yumna. Niko pun menyadari hal itu.
"Nona Yumna. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang tidak baik." gumam Niko.
"Pak Niko peka sekali." balas Yumna.
"Saya sudah bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Dan saya juga sudah banyak makan asam garam kehidupan, nona... sahut Niko.
"Kalau begitu saya akan turun. Pak Niko segera pergi saja. Biar tidak makan asam garam lagi." celetuk Yumna.
Niko pun patuh. Dia kembali melajukan mobilnya setelah Yumna menutup pintu.
"Masih ingat rumah kamu?!!" cibir pak Jodi.
"Yumna..., dari mana saja kamu? Harusnya kamu di rumah sakit merawat dan menjaga Nasya. Untuk menebus kesalahan kamu. Kamu malah tidak datang, dan tidak pulang ke rumah!" sahut Bu Indri.
"Bukannya aku berbahaya? Karena setiap kali berada di dekatku, Nasya selalu celaka. Jadi aku memilih tidak dekat-dekat dengannya. Apa itu salah?" Yumna melirik Nasya yang sedang bergelayut manja di bahu mamanya.
"YUMNA!!" teriak pak Jodi.
"Om, Tante. Sebaiknya kita masuk. Nasya masih butuh istirahat." sahut Damar.
"Kamu benar." balas Bu Indri.
Mereka pun memasuki rumah, mengantar Nasya ke kamarnya.
"Ambil saja semuanya. Aku tidak butuh!!" ujar Yumna dalam hati.
......................