NovelToon NovelToon
Transmigation "Save The Male Lead"

Transmigation "Save The Male Lead"

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lyn_11

Kianara Shernon Abraham

Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.

Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.

Update 2-3 kali dalam seminggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Ruang bawah tanah kediaman Grand Duke Awealda sunyi, hanya diterangi obor-obor dinding yang berpendar redup. Bau lembap bercampur besi memenuhi udara.

Di tengah ruangan, beberapa orang berlutut dengan kedua tangan terikat ke belakang. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya. mereka adalah para tutor pribadi Arcelio—orang yang seharusnya mendidik, bukan melukai.

Langkah sepatu kulit berhenti tepat di depannya.

Duke Agerald berdiri tegak, jubah hitamnya menjuntai tenang, ekspresinya datar—terlalu datar untuk disebut marah.

“Ulangi,” ucapnya pelan.

“Apa yang kau lakukan pada putraku.”

Para Tutor itu menggigil letakutan. Aura yang dipancarkan Duke Awealda begitu tenang, namun dingin yang membuat mereka merasa di intimidasi.

“S-saya hanya… mendisiplinkan, Yang Mulia. Anak itu keras kepala—” ucap terbata salah satu tutor yang bernama Victor itu.

Sebuah cambukan suara memotong udara.

BRAKK!

Pengawal memukul lutut tutor itu hingga tubuhnya terjerembap. Tutor yang lain semakin ketakukan. Mereka baru menyadari, jika Grand Duke yang dipikirnya begitu tidak peduli pada sang anak ternyata bisa begitu marah besar karena telah menyakiti baik fisik maupun batin sang anak. Semua orang juga akan berpikiran demikian melihat selama ini tidak ada pancaran kasih sayang dan perlakuan peduli pada Arcellio.

“Jangan menyamakan kekerasan dengan disiplin,” ujar Agerald dingin.

“Dan jangan sekali-kali menyebut putraku ‘anak itu’.”

Tutor itu terengah, air mata bercampur ingus jatuh ke lantai batu.

“Saya… saya hanya menjalankan perintah.”

Kalimat itu membuat mata Agerald menyipit.

“Perintah siapa?”

Tutor itu terdiam. Bibirnya bergetar.

“Countess… Countess dari keluarga Raveind,” jawabnya akhirnya.

“Ia mengatakan… anak itu tidak perlu diperlakukan lembut. Katanya… ia hanya cadangan yang tak akan pernah diakui.”

Udara seakan membeku.

Agerald tidak berteriak. Tidak memukul. Ia hanya berbalik.

“Catat pengakuannya,” ucapnya pada kepala pengawal.

“Besok pagi, seluruh tutor yang terlibat akan dibawa ke pengadilan kekaisaran. Dan juga, hukum keluarganya. Berikan hukuman yang pantas. Tidak ada yang bisa meremehkan kekuatan Grand Duke Awealda.”

Ia melangkah pergi, lalu berhenti sejenak.

“Oh ya,” tambahnya tanpa menoleh.

“Pastikan mereka diadili sebagai pelaku kekerasan terhadap ahli waris sah Grand Duke Awealda.”

Para tutor itu ambruk sepenuhnya.

Setelahnya mereka hanya bisa menatap dibalik punggung Grand Duke Agerald menghilang dibalik keremangan penjara bawah tanah itu. Pasrah sudah mereka merenung nasib yang terlambat untuk disesali. Andai waktu bisa diputar, tak akan begini jadinya. Dan keluarga mereka pun tidak akan terkena imbasnya.

Sedangkan diluar, Agerald berhenti sejenak menatap kepala Butler -Albert yang tergopoh-gopoh memberi pesan.Kernyitan halus hadir dengan bisikan pelan Albert yang sedikit mengejutkannya.

"ho, baru di bicarakan sudah datang sendiri. Aku penasaran, seperti apa raut wajahnya mengetahui bahwa kedoknya telah terbongkar,'' matanya sedikit menyipit, dan semakin hadir senyum dingin terpantri di wajahnya saat perkataan lanjut yang diberi Albert.

''nyonya Grand Duchess lah yang memanggil dengan mengirim pesan pada Countess Raveind tua tuan,'' ucap Albert dengan tangan didepan, posisi tubuh yang sedikit membungkuk.

'' ternyata dia sudah bergerak cepat. Benar-benar mengejutkan,'' bisik pelan Agerald lebih kepada dirinya sendiri, sedangkan Albert hanya diam mendengarnya. "biarkan dia mengunggu. Aku akan menyusul saat Duchess telah menemui wanita tua itu,''

''Beri tahu aku jika mereka sudah kembali,'' Tambahnya sebelum berjalan kembali keruang kerja. Albert mengangguk paham. Mereka yang dimaksud adalah Duchess dan tuan muda oleh sang tuan. Walau belum ada perubahan yang signifikan, tetapi setidaknya kastel ini sedikit menghangat. Dan ia dan para pekerja harap semoga sang Grand Duke dapat benar menemukan kebahagiaan dalam keluarga kecilnya. Nyonya mereka yang dirasa sudah berubah, tak terdengar lagi suara teriakan dan tangisan yang membuat suasana menjadi kacau. Itu perubahan yang membuat hati tenang bukan.

...****...

Ruang interogasi itu jauh lebih elegan daripada ruang bawah tanah. Dinding kayu gelap, pencahayaan hangat, dan satu set teh porselen terhidang rapi di atas meja. Namun, keindahan itu justru membuat udara terasa lebih menyesakkan.

Countess tua—bibi dari pihak ibu Arcelio—duduk dengan punggung tegak. Tangannya terlipat anggun di atas pangkuan, wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Ia tampak seperti seorang bangsawan terhormat yang tidak merasa bersalah sedikit pun.

Di seberangnya, Kianara menyilangkan kaki dengan santai. Gerakannya tenang, nyaris malas.

“Menarik,” ucap Kianara ringan, suaranya halus.

“Bagaimana seorang wanita seusiamu masih merasa perlu menyakiti seorang anak,” lanjutnya.

Alis Countess hanya terangkat tipis.

“Aku tidak menyakiti siapa pun,” jawabnya dingin.

“Aku hanya memastikan keluarga ini tidak tercemar.”

Nada suaranya stabil. Terlatih.

Seolah ia telah mengulang kalimat itu ratusan kali di kepalanya.

Kianara tersenyum kecil—bukan senyum ramah.

“Garis darah?” ulangnya pelan lalu meraih cangkir tehnya, meniup uap panas dengan santai. “Menarik sekali caramu menyebut obsesi pribadi sebagai tanggung jawab keluarga.”

Tatapan Countess mengeras, tapi ia masih tampak tenang.

“Aku melindungi warisan Awealda,” katanya tegas. “Anak itu—”

“Tidak.” Suara Kianara memotong, lembut namun mutlak. “Kau sedang melampiaskan kebencianmu pada anak yang tidak bisa melawan.”

Ia meletakkan sebuah map tipis di atas meja. Ketukan kecil itu terdengar terlalu keras.

Countess melirik sekilas. Senyumnya masih terjaga—meski kini sedikit kaku. “Apa maksudmu?” tanyanya datar.

Kianara membuka map itu perlahan. “Surat-surat pribadi,” katanya sambil membalik halaman pertama.

“Dana yang kau salurkan secara diam-diam.”

Halaman berikutnya.

“Dan instruksi terselubung pada para tutor—yang anehnya selalu berujung pada ‘koreksi disiplin’ untuk satu anak tertentu.”

Senyum Countess memudar. “Itu… hanya kebetulan,” katanya cepat.

Kianara mengangkat satu alis.

“Benarkah?” Ia mendorong satu dokumen ke arah Countess. “Kalau begitu, mungkin kau bisa menjelaskan tanda tanganmu di sini.”

Untuk pertama kalinya, jari Countess gemetar.

“Ini—ini dipelintir,” ucapnya, napasnya mulai tidak teratur. “Kau tidak mengerti situasinya—”

“Kau yang gagal memahami satu hal,” sela Kianara, kini suaranya lebih dingin.

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit. Bayangan wajahnya jatuh tepat di atas dokumen-dokumen itu.

“Arcelio bukan hanya cucu keluarga Awealda.”

Countess menelan ludah.

“—Ia adalah simbol persatuan dua kekuatan besar,” lanjut Kianara pelan. “Dan kau mencoba merusaknya.”

Wajah Countess memucat sepenuhnya.

“Jika rencana itu berhasil,” tambah Kianara, “bukan hanya seorang anak yang hancur—melainkan keseimbangan politik seluruh wilayah.”

Mulut Countess terbuka, seakan ingin membela diri.

Namun tak satu pun kata keluar.

Kianara berdiri. Gaunnya jatuh rapi, tanpa suara.

“Hukumanmu bukan kematian,” katanya tenang. “Itu terlalu murah.”

Countess mendongak, matanya bergetar.

“Keluarga Count Raveind akan—”

Kianara berhenti sejenak, memastikan setiap kata menghujam. “Dicabut hak politiknya selama tiga generasi.”

“Dilarang mendekati wilayah Awealda dan Ferentie.”

“Dan seluruh perjanjian dagang kalian akan ditinjau ulang.”

Countess terjatuh kembali ke sandaran kursi.

Kebanggaannya runtuh dalam satu tarikan napas.

Kianara menatapnya tajam.

“Ini bukan balas dendam,” katanya dingin.

“Ini peringatan. Lihat saja, sekalipun anda adalah bibi dari suami saya, meski hanya bibi angkat yang selalu ingin mengatur segalanya dalam keluarga Grand Duke Awealda tak lantas membuat keluarga Duke Ferentie mengendur perihal darah keturunannya.''

Pintu ruang interogasi tertutup perlahan di belakang Kianara. Disana menyisakan Countess Diane menundukkan kepalanya dalam. Tak ia kira jika Kianara yang dianggapnya akan selalu tak acuh kepada anaknya akan berubah sebegitu besarnya. Tamat sudah nasib keluarganya kini akibat perbuatannya.

Aroma teh hangat masih tertinggal di udara, bercampur dengan ketegangan yang belum sempat reda.

Countess Raveind duduk terpaku di kursinya, punggungnya bersandar kaku, jemarinya mencengkeram ujung gaun tanpa sadar. Wibawa yang tadi ia paksakan kini hanya tersisa bayangan rapuh.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian—

pintu kembali terbuka.

Derap langkah kaki tenang, terukur, nyaris tanpa emosi. Sepatu kulitnya berhenti tepat di ambang pintu, seolah ia sengaja memberi jeda sebelum masuk sepenuhnya ke ruang itu.

Countess mendongak. Wajahnya yang pucat semakin kehilangan warna.

“A… Agerald?”

Pria itu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Tidak ada penjaga. Tidak ada saksi.

Hanya mereka berdua—dan masa lalu yang belum pernah benar-benar dikubur.

“Aku mendengar semuanya,” ucapnya.

Suaranya rendah, stabil, namun dingin seperti baja yang belum disentuh api. Tatapannya tidak marah—justru terlalu tenang, dan itu jauh lebih menakutkan.

Countess mencoba mengatur napasnya.

“Aku tidak berniat sejauh itu,” katanya cepat, suaranya bergetar halus. “Aku hanya—”

“Bibi,” potong Agerald. Satu kata itu jatuh berat. Seperti pengingat akan posisi yang tak lagi bisa ia sangkal.

Agerald melangkah lebih dekat. Bayangannya memanjang di atas meja interogasi, menutup sebagian dokumen yang tadi dibuka Kianara.

“Aku ingin bertanya satu hal,” katanya pelan. Ia berhenti tepat di depan Countess, cukup dekat untuk melihat kerutan di sudut mata wanita itu.

“Apakah kau sungguh percaya,” lanjutnya, “bahwa dunia akan membiarkan seorang anak dihancurkan—hanya demi ambisi keluarga yang tak pernah berhasil?”

Rahang Countess mengeras. “Kau tidak mengerti,” katanya lirih namun bersikeras. “Kami hanya ingin memastikan rumah ini berada di tangan yang tepat.”

Agerald menunduk sedikit, menatapnya dari balik bulu mata. “Yang bisa kalian kendalikan?” tanyanya. Nada suaranya tetap datar, namun kata itu menusuk lebih dalam dari teriakan.

“Seperti caramu—dan ayah—mencoba mengendalikanku.”

Wajah Countess membeku. Pupil matanya mengecil, seakan sebuah pintu lama terbuka paksa di kepalanya.

“Aku dibesarkan dengan aturan,” lanjut Agerald. Ia meluruskan punggungnya, tangan bersedekap di belakang, sikapnya formal—terlalu formal untuk seorang anak yang dulu dibesarkan dengan kasih.

“Disiplin tanpa suara.”

“Ketaatan tanpa pertanyaan.”

Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata.

“Sejak kecil, kalian selalu yakin satu hal.”

Tatapannya mengeras.

“Bahwa jika aku cukup ditekan, cukup dibentuk, cukup dipatahkan—aku akan menjadi alat yang sempurna untuk rumah ini.”

Hening menyelimuti ruangan. Jam dinding berdetak pelan, terdengar nyaris kejam.

Agerald menghembuskan napas pendek. “Kalian salah.”

Countess membuka mulut, tetapi suaranya tenggelam sebelum keluar.

“Kau gagal menguasai rumah ini,” kata Agerald tenang.

“Dan kini kau mencoba melanjutkan kegagalan itu—pada seorang anak yang bahkan belum mengerti politik.” Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah.

“Arcelio bukan penerus ambisimu.Dan ia tidak akan menjadi korban selanjutnya.” Ia berdiri tegak kembali, jarak di antara mereka terasa seperti jurang.

"selama ini memang aku kurang peduli terhadap segala hal yang terjadi didalam kastel ini. Arcelio memang harus menjadi penerus yang berhasil. Tapi, aku tidak ingin didikan kejam kalian bisa merubahnya sebegitu jauh.'' Tanpa menunggu jawaban, Agerald berbalik. Langkahnya menuju pintu tetap rapi, tanpa tergesa, tanpa ragu.

“Anggap keputusan Duchess Kianara sebagai kemurahan hati,” katanya tanpa menoleh.

“Karena jika keputusan itu berada di tanganku—”

Tangannya berhenti di gagang pintu. “—kau tidak akan memiliki kemewahan untuk duduk, minum teh, dan menyangkal semuanya.”

Pintu tertutup.

Countess Raveind tersisa seorang diri.

Di ruang yang elegan, dengan teh yang telah mendingin. untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

ia benar-benar kehilangan kendali.

...****************...

...To Be Continue...

1
Siska Sutartini
wowo. penuh misteri. kira2 siapa nihbpara pelaku yg terlibat dalam jaringan tersebut ya? 🤔
Siska Sutartini
hah, untunglag arcelio cepat ditemukan dan belum disiksa. pelakunya mesti dijerat pasal. berlapis ini. jahat sekali
Siska Sutartini
ini yg satu countess bibinya agerald ya, satu lagi siapa ya?. asli tegang baca part ini, penuh misteri 😱
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 1 replies
Siska Sutartini
intrik antar sesama bangsawan, wah sungguh melelahkan 😁😁
rose lilian
lanjut
waw jadi tegang banget baca nya ih🤭🤣
janggal Thor,bukan ganjil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,tapi ga papa malah lucu kok semngt thorrr😍😍
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 2 replies
Wahyuningsih
thor buat duke menyesal d buat segan matipun tk mau enak aja
Wahyuningsih
thor buat kianara badaz abiz bla prlu dot bonus ruang dimendi biar mkin sru n buat duke menyesal d buat segan mtipun tk mau biar nyakho dia
Wahyuningsih: maaf ya q gk suka klau peran utamanya cowok tpi klau cewek q suka 🙏🙏🙏
total 3 replies
Wahyuningsih
mampir q thor.....
Intan Aprilia Rahmawati
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!