Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah ketiga
Tengah malam ini aku kembali terbangun, ya rasa mual itu datang lagi. Dan benar teori yang Ferdy sampaikan, kita akan terbebas dari rasa mual jika kita memuntahkan nya.
Satu tablet obat dengan merk acripteda yang kuminum semalam sepertinya mulai bereaksi. Sejak Tengah malam ini sampai hampir menjelang shubuh aku benar-benar menjadi penghuni toilet. Entah kenapa mual ini tak kunjung hilang meski sudah berkali-kali aku memuntahkan isi perutku. Tepat di jam empat pagi aku bisa merebahkan diriku kembali.
Apakah aku akan sanggup jika tiap malam harus menjalani semua aktifitas mual muntah ku ini?!
Keraguan mulai menghampiriku, rencana yang telah kususun seakan menemukan fakta hambatan yang sangat besar. Aku takut nantinya malah menyerah dan pasrah dengan semua serangan virus dalam tubuhku ini.
Tapi, aku yakin!
Aku pasti bisa!
Pagi ini aku terbangun oleh suara lembut mama. Hal yang sangat kurindukan.
"Jam berapa mah?" Senyuman lebarku kuarahkan pada wajah mama yang sekarang ada di depan ku.
"Udah hampir jam 6 sayang. Ayo bangun. Mama tunggu di meja makan ya." Satu kecupan dari mama mendarat di keningku sebelum akhirnya dirinya beranjak keluar kamarku. Aku bergegas bangkit dan berniat akan sholat dulu sebelum menemui mama di meja makan nanti. Ya, aku sudah merasa terbiasa dan akan merasa ada yang kurang jika tidak melakukan ibadah wajib ini.
Hanya butuh waktu sepuluh menit aku berhasil menyelesaikan semuanya dan menemui mama di bawah.
"Ayo sarapan sayang, ada nasi goreng kesukaan kamu. Mama khusus lho yang masak." Mama menyambutku yang baru menapaki anak tangga terakhir, aku pun bergegas duduk di kursi yang berseberangan dengan mama. Kami berhadapan sekarang.
Kulihat nasi goreng ini dengan kurang berselera. Masih ada rasa mual yang menguasai tubuh ku dan sepertinya akan semakin intens jika kupaksakan makan nasi goreng penuh rempah ini.
Aku mengambil sepotong nugget diatas nasi goreng ini dan mulai menggigitnya dengan gigitan kecil. Satu gigitan ini hampir berhasil ku telan namun rasa mual ini seakan memblokir kerongkonganku untuk tidak memasukkan apapun. Aku terbatuk cukup keras dan tanpa menunggu benar-benar muntah langsung kubekap mulutku dan bergegas menuju wastafel di dapur yang letaknya bersebelahan dengan meja makan.
Hueek!!!
Hueeek!!!
"Adit?! Kamu kenapa sayang?!" Mama pun bergegas menghampiri ku dan memijat pelan tengkukku.
"Ya Allah den,,, masih mual terus?! Bibi bikinin jahe anget ya. Sebentar..." Selanjutnya suara bi asih kudengar dengan nada cemasnya. Aku masih bergeming membiarkan serangan mual ini terus memaksa sistem pencernaan ku memuntahkan semua isi didalamnya meski hanya air yang akhirnya dikeluarkan.
"Udah mah,,, nggak apa-apa." Dengan nafas yang masih memburu aku pegang tangan mama untuk menghentikan pijatan nya dan segera kubasuh muka pucatku ini. Ya, aku baru menyadari pantulan wajah ku sendiri di cermin yang ada didepanku ini. Wajah pucat bahkan kantong mata sedikit menghitam dan bibir kering yang hampir sempurna tanpa rona merah.
"Kamu sakit?!" Mama menuntunku berjalan kembali ke meja makan.
"Biasa mah efek dari ARV. Tapi nggak apa-apa agak siangan biasanya sudah nggak mual lagi." Aku memilih duduk disamping mama dan tidak melanjutkan makan ku.
"Mau bubur aja biar lebih mudah ditelan?" Mama kembali mengajukan pertanyaan padaku. Mungkin di matanya aku terlihat cukup memprihatinkan sekarang.
"Nggak mah." Aku menggeleng pelan.
"Mama lanjutkan aja makan nya. Adit temenin mama disini."
Tidak berselang lama, akhirnya bi Asih datang dengan membawa segelas jahe dengan asap yang masih mengepul. Sebenarnya aku enggan meminumnya, tapi aku tidak mungkin menolak kebaikan bi asih.
Aroma jahe yang menguar sedikit mengganggu Indra penciumanku, bagiku terlalu kuat aromanya sampai membuat kepalaku pusing. Tapi kupaksakan meminumnya.
Satu tegukan
Dua tegukan
Tiga tegukan
Enak!
Kehangatan seakan menyebar ke seluruh tubuhku.
"Enak bi, ajarin Adit bikin beginian Bi." Aku menoleh pada bi Asih yang ada di dapur, jarak yang tidak terlalu jauh membuatku tidak perlu berteriak untuk menegurnya.
"Siap, nanti bibi ajarin. Ini ramuan paling manjur untuk melawan mual." Aku hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyumanku.
"Oh iya mah,, Adit boleh bawa mobil hari ini? Mau ambil barang di apartemen kak Ivan. Dan naruh barang lagi." Aku meminta izin kepada mama untuk membawa salah satu mobil di garasi. Total mobil di rumah ini memang ada lima. Satu Toyota Yaris varian Citrus mica metallic khusus untuk mama. Satu premium sedan berwarna silver yang biasa papa pakai, dan saat ini pun sudah tidak ada di garasi karena dibawa papa saat papa pergi beberapa Minggu lalu. Satu mobil sport jenis Aston Martin vanquish yang jarang terpakai, tapi pasti tiap bulan sekali akan dipakai papa untuk pertemuan dengan pecinta mobil sport yang sepertinya pertemuan tersebut hanya sebagai ajang pamer saja. Entahlah. Satu Toyota alphard yang sering kami pakai saat liburan bersama dan yang terakhir mobil kenangan papa dan mama, Ford ranger yang menjadi saksi bertemunya mama dan papa sebelum akhirnya memutuskan menikah.
"Boleh, pake mobil mama aja ya. Soalnya hari ini mama ada kegiatan sosial, mau bawa alphard biar bisa ngangkut banyak. Tapi inget, harus pastikan kamu sudah baik-baik saja, jangan maksain pergi kalau masih nggak enak badan." Nasihat mama membuatku cepat mengangguk.
"Oke mah. Paling nanti agak siangan mah. Adit mau tidur dulu lagi."
"Sekarang aja langsung ke kamar, tidur. Mama nggak tega lihat wajah kamu pucet gitu. Nanti kunci nya mama titip ke Bi Asih." Aku pun menyetujui saran mama. Memang aku merasa tidak baik-baik saja sekarang, sepertinya aku butuh istirahat lebih. Aku langsung beranjak setelah berpamitan pada mama. Langkah ku terasa berat untuk menaiki tangga, tapi tetap kupaksakan langkah ini menyeret tubuh lemas ku.
Kenapa efek obat nya terasa sampai pagi ini?!
Kenapa aku harus merasa selemas ini setelah insiden muntah tadi?!
Kak Ivan,,,, benar kan ini obat yang sama dengan yang kuminum malam itu?!
Sesampainya di kamar, langsung kurebahkan tubuhku dan segera memejamkan mata. Aku mungkin hanya kurang waktu tidur sehingga harus merasakan badan yang lemas ini.
Menjelang jam sepuluh pagi, aku telah siap dengan setelan Polo hitam berlapis jaket abu kombinasi hitam dan jins Dongker ku. Tak lupa weist bag berwarna beige yang selalu menemani perjalananku pun kubawa serta. Sengaja style ku kubuat dengan aksen rapi tapi santai karena hari ini aku berencana akan ke kantor papa. Semoga benar papa sedang ada di kantornya.
"Bi,, mama nitipin kunci nggak?" Aku bertanya kepada Bi Asih saat kulihat dirinya dibawah tangga tengah sibuk dengan aktifitas mengelap guci besar koleksi mama yang tepat berada di samping anak tangga terakhir.
"Ada den, den Adit sudah enakan?" Bi Asih pun menghentikan aktifitasnya dan sekarang perhatian nya penuh menyoroti wajahku.
"Alhamdulillah sudah sehat Bi." Aku tersenyum dan meyakinkan nya kalau aku baik-baik saja. Rasa mual memang masih ada, tapi inilah batas baik-baik yang bisa kuyakin sebagai kondisi terbaikku beberapa Minggu ini.
"Masih pucat den..." Ucap nya lagi sambil menyerahkan kunci yang disimpan pada saku celemeknya.
"Aman Bi, nggak apa-apa ko. Adit pamit ya bi." Aku menerima kunci tersebut dan segera menyalami dengan takzim.
Dengan langkah yang kurasakan semakin berat aku segera menuju mobil mama yang ternyata sudah terparkir di dekat pagar.
Perjalanan kali ini benar-benar ku rasakan begitu berat. Beberapa kali aku terpaksa mengerem mendadak saat pusing melanda dan akibatnya aku mendapat teguran bunyi klakson dari kendaraan di belakangku. Aku agak gugup sekarang, gugup karena akan bertemu papa. Aku pun merasa panas dingin dan kurang nyaman. Entah masih karena efek obat yang kuminum semalam atau memang efek rasa gugup ku yang berlebihan.
Memasuki pelataran gedung perkantoran, aku sengaja memelankan laju mobil ini. Kulihat seorang satpam mendekat dan segera kubuka kaca pintu depan mobil ini.
"Silahkan Bu, eh! Mas Adit?! Pake mobil ibu, jadi saya kira ibu yang datang. Silahkan mas, langsung parkir depan sini aja nanti saya yang parkirkan ke basement." Aku tersenyum menanggapinya dan mengarahkan mobilku ke samping pos jaga ini.
"Terimakasih pak. Papa ada di dalam kan ya?" Aku menyerahkan kunci Yaris ini pada satpam tersebut setelah mengatur posisi mobil ini agar tidak menghalangi laju keluar masuk kendaraan yang lain.
"Ada mas. Nanti mas Adit bisa nanya ke resepsionis di dalem ruangan bapa dimana." Aku mengangguk mengerti dan langsung melangkah ke dalam.
"Pagi kak, mau tanya ruangan pak Dhika di mana ya kak?" Aku mulai bertanya pada resepsionis muda yang ada di depanku. Sebenarnya aku sudah tahu pasti dimana ruangan papa. Karena dulu aku sering kesini sepulang sekolah. Tapi sudah berlalu satu tahun lebih aku tidak kesini, mungkin ada perubahan juga.
"Maaf dengan siapa dan ada keperluan apa? Apakah Sudah ada janji dengan pak Dhika?" Ucapnya membalas pertanyaanku dengan sangat formal.
"Saya Adit kak, anak pak Dhika. Belum ada janji." Ucapku lagi dengan singkat.
"Oh! Maaf mas. Silahkan. Mas bisa pake lift dengan lampu biru disana. Itu lift khusus pak Dhika. Ruangan beliau Ada di lantai 10, hanya ada dua pintu disana. Nanti mas masuk yang sebelah kanan." Ucapnya sedikit gugup memberikan penjelasan padaku. Ternyata ruangan nya masih sama.
"Baik kak, terimakasih."
Aku melangkah pelan menuju lift yang dimaksud. Degup jantungku terasa semakin cepat. Aku benar-benar gugup.
Saat pintu lift terbuka, kulihat pria menginjak usia empat puluh-an yang masih terlihat muda dengan setelan jas formalnya berdiri tegak di dalam lift.
"Adit?!"
"Pap...papa?!"
semangatt juga kak 💪