Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Kedua mata Brian berbinar cerah.
Apakah itu berarti Melisa sudah memberikan lampu hijau padanya untuk menerima kehadiran Anita di tengah - tengah keluarga mereka kembali?
Jika iya. Maka Brian harus bersyukur akan hal itu.
" Ma.. Terima kasih ma. Karena mama sudah mau menerima kehadiran Anita kembali di tengah keluarga kita."
Kedua mata Melisa menyipit tajam.
" Apa kau bilang tadi? Menerima wanita itu di tengah keluarga kita? "
Brian tertegun sejenak. Dan berpikir.
Apakah dia telah salah menerka ucapan dari Melisa tadi?
" Bukankah mama tadi berkata.... "
" Mama memang memberikanmu kebebasan untuk memilih, Brian. Tapi mama tidak pernah berkata akan menerima Anita di dalam keluarga kita lagi. Bagi mama menantu di rumah ini hanyalah Inara. Bukan wanita lain. Apalagi wanita di masa lalu mu itu. Seterah kau mau menikahinya atau tidak. Hidupmu ada di tanganmu sendiri, Brian. Kau sudah dewasa dan bukan anak - anak lagi yang harus mama nasehati dan arahkan seperti dulu lagi. Tapi satu hal yang harus kamu ingat... " Melisa menghentikan ucapannya sejenak dan menatap Brian dengan lekat dan sangat dalam.
" Jangan pernah mencari mama jika kau mengalami penyesalan akhirnya..."
Brian tertegun.
Dengan tubuh Melisa berbalik dan langsung berlalu pergi dari ruangan itu.
Sembari membawa sorot mata penuh luka serta kekecewaan mendalam terhadap Brian yang selama ini selalu di kaguminya.
Sampai bayangan tubuh Melisa benar - benar telah menghilang di balik pintu.
Disanalah mulut Brian terbuka dan mengeluarkan gumaman kembali.
" Aku yakinkan jika aku tidak akan pernah menyesali keputusanku ini ma.... Anita adalah tujuan hidupku sejak dulu. Dan aku yakin, jika aku akan hidup bahagia bersamanya."
Kedua tangan Brian terkepal kuat.
Keyakinan pria itu benar - benar begitu kuat. Jika ia akan menjalani hidup yang lebih bahagia bersama dengan Anita. Dibandingkan dengan ia yang hidup selama ini bersama Inara.
_____
Sementara di tempat lain.
Lebih tepatnya di dalam kamar.
Inara terlihat menangis sesegukan sendiri di sisi ranjang. Dengan lutut yang ia tekuk serta lengan yang ia jadikan tumpuan wajah yang kini sedang terlihat di banjiri oleh ribuan air mata.
" Kenapa kau setega itu Brian. Kenapa? Apa salahku padamu, sehingga kau menyakitiku hingga sedalam ini? " Inara terus saja menangis pilu.
Bahkan sarung tangan yang hendak ia berikan kepada Brian sebagai hadiah pun kini sudah terlihat basah. Karena tak sengaja Inara jadikan lap ingus dan air mata yang terus saja membasahi pipinya tanpa bisa ia kontrol lagi.
Sampai benda pipih berwarna hitam milik Inara terdengar berdering di atas meja.
Disanalah perhatian Inara jadi teralihkan.
Awalnya Inara mencoba untuk tak memperdulikan panggilan itu. Namun panggilan itu terus saja berbunyi berulang kali. Hingga mengusik Inara yang saat ini masih saja menangis sesegukan karena hatinya yang terasa patah akibat pengakuan Brian terhadap Melisa, yang ternyata selama ini telah mengkhianatinya.
Hingga tangan Inara terulur dengan tangis yang coba ia tahankan.
" Kakek.. " gumam Inara setelah membaca nama yang tertera di atas layar ponsel miliknya itu.
Satu tarikan nafas dalam kembali Inara lakukan.
Seolah sedang berusaha membuat keadaan baik - baik saja. Meskipun yang sebenarnya terjadi, keadaan yang ia hadapi saat ini sangatlah benar - benar kacau. Bahkan Inara sendiri sempat merasa bingung untuk menghadapi semuanya mulai dari mana.
Namun di sisi lain Inara berusaha kuat.
Mengingat senyuman tulus yang selalu sang kakek berikan ketika merawatnya yang sudah lama menjadi yatim piatu ini.
Sehingga membuat Inara tak mau membuat sang kakek maupun seluruh keluarga besarnya. Turut bersedih atas permasalahan rumah tangga yang saat ini ia hadapi.
Sampai Inara pun mengangkat panggilan itu. Dengan usaha berucap ceria seperti biasanya.
" Halo kakek, ada apa kau.."
" Nona Inara.. Cepat kesini nona. Kakek saat ini dalam keadaan kritis. Beliau tak sengaja jatuh di kamar mandi."
" Apa!? " tubuh Inara langsung bergetar hebat.
Baru juga Inara di kejutkan tentang Brian yang melakukan perselingkuhan di belakangnya. Kini ia malah di kejutkan lagi dengan kabar berita tak mengenakan tentang kakeknya.
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra