Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otak M3sum Kakak Ipar
Setelah perdebatan semalam, Alex memilih tidur di sofa ditambah pintu kamar yang dikunci Essa, tentu saja Alex tidak bisa masuk. Sementara Essa, gadis itu sudah pergi entah kemana. Kamar dalam keadaan kosong, gadis itu pergi pagi-pagi sekali.
Apa setiap merajuk Essa seperti itu?
Alex, baru saja membuka mata ia terbangun dari tidurnya lalu duduk dengan posisi kaki yang diturunkan. Alex diam sejenak sambil memindai sekeliling yang tampak sunyi, lalu netranya beralih ke arah kamar yang masih tertutup rapat.
Alex, menghela pelan nafasnya lalu beranjak dari sofa yang berjalan ke arah kamar. Tiga ketukan pintu terdengar sebelum ia memanggil si penghuni kamar.
"Essa, Essa bangun!"
"Essa tolong buka pintu ... tidak dikunci?"
Alex tercengang karena pintu terbuka dengan mudah. Apakah gadis itu sudah keluar? Alex langsung membuka kamarnya lebar, ia terkejut kamarnya tampak kosong, barang-barang Essa, pun tidak ada di sana.
Kemana perginya gadis itu?
Baru saja Alex berpikir, tiba-tiba suara deringan ponselnya terdengar. Alex, berjalan keluar mencari ponselnya yang tertinggal di sofa. Alex mengambil benda pipih itu yang terus bergetar dilihatnya nama Tuan Darren membuat keningnya mengerut.
"Ada apa Tuan Darren menghubungiku sepagi ini?" pikirnya yang kini mulai gelisah. Alex, menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.
"Iya Tuan, apa ada sesuatu yang penting hingga Tuan menghubungiku pagi ini?"
"Alex, tidak perlu seformal itu bicara padaku, lagi pula kita sekarang adalah ipar."
"Ah, iya kita adalah ipar tapi kau tetap bosku Tuan."
"Ok, terserah kau saja. Aku menghubungi mu karena ada hal penting ini tentang adik iparku."
"Essa?" Alex, tercengang matanya terbelalak seketika. "Ada apa dengan Essa, bos?"
"Apa kalian bertengkar? Essa ada di rumahku sekarang, dia datang pagi tadi. Kalian baru saja dua hari menikah tapi kau ... sudah membuat istrimu pergi dari rumah."
Alex, tergagap mulutnya menganga lebar. Ia tidak pernah berpikir jika Essa akan kabur dan berlari ke rumah Darren. Gadis itu benar-benar di luar dugaannya.
"Oh Tuhan ...." Alex memijat pelipisnya.
"Kami hanya berdebat kecil semalam, nanti aku ceritakan. Aku akan segera ke sana untuk menjemputnya. Untuk sementara tolong tahan dia jangan sampai dia pergi."
Alex menutup sambungan teleponnya, pria itu mengumpat lantas berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara di tempat lain, Essa tengah menikmati sarapan paginya karena ia sangat lapar dari semalam.
Sera, melirik Darren yang berdiri di ujung tangga setelah menutup panggilannya. Sera, pun melangkah pelan ke arah suaminya dan meninggalkan Essa yang tengah bercanda dengan keponakannya Lio.
"Apa katanya, sayang? Apa mereka benar-benar bertengkar?" tanya Sera dengan cemas.
Darren, meraih pinggang istrinya lalu mengecup keningnya sebelum akhirnya menjawab. "Jangan khawatir sayang, Alex akan datang segera. Sepertinya mereka berdebat semalam hingga membuat bocah itu kabur." Darren menunjuk Essa dengan gerakkan matanya.
Sera menghela nafas, ia tahu betul sifat adiknya. "Alex, belum mengenal Essa dengan benar. Itulah yang selalu membuat ibu dan ayah naik darah, Essa masih kekanakan jika marah dia akan pergi, atau merusak barang yang ada di rumah. Aku kasihan juga sama Alex, sayang ... apa Alex sanggup menghadapinya?" tanya Sera menatap lekat suaminya.
"Kamu jangan khawatir, Alex pasti bisa meluluhkan adik kecilmu."
Darren tersenyum, lalu mengeratkan pelukannya, mencium kembali kening istrinya. Sungguh pemandangan pagi yang membuat hati Essa panas, gadis itu menatap nyalang dengan bibir cemberut ketika melihat keromantisan kakak dan kakak iparnya.
"Ck, mereka bermesraan tidak tahu tempat saja," rutuknya dalam hati. Lalu mengambil sepotong daging ayam yang langsung Essa lahap semua. Lio yang melihat itu hanya bengong, dia rasa Tante kecilnya sedang marah.
"Ati Ecca, itu tulang ayam Ati. Cekelas apapun Ati ngunyah tidak akan ancur."
"Aish ... pantas saja keras," umpat Essa kesal yang memuntahkan tulang ayamnya. "Lio kenapa tidak memberitahu Ati Ecca."
Lio yang mendapat pertanyaan itu hanya tertawa, baginya tantenya itu sangat lucu. Dia cemburu kepada mama papanya padahal dia sendiri bisa melakukannya dengan Om Alex.
Alex, sudah datang mobilnya sudah memasuki pekarangan mansion Lucian. Dari dalam Darren dan Sera bisa mendengar suara mobilnya. Alex, bukan orang asing lagi yang bebas masuk tanpa dicegat para penjaga.
Setelah turun dari mobilnya Alex berlari masuk ke dalam, hingga langkahnya berhenti ketika netranya bertemu pandang dengan Essa. Essa, hanya menatapnya sebentar sebelum akhirnya memalingkan wajahnya dari Alex.
Alex membuang nafas berat lantas berjalan ke arah Essa.
"Apa kau tidak bisa meminta izin sebelum pergi?" Alex bertanya dengan nada tinggi. Membuat bocah kecil dua tahun yang duduk bersama Essa menoleh.
"Om Alex," ucapnya. Alex tersenyum dan menyapanya sebentar.
"Pagi Lio, kamu sedang sarapan?"
"Sudah selesai," jawab Lio.
"Little boy, bisa tinggalkan Om dan Ati Ecca sebentar? Kami harus bicara," ujar Alex yang menaikkan kedua alisnya. Lio yang mengerti akan isyarat itu langsung mengangguk lalu turun dari kursinya dibantu seorang wanita yang dipercaya sebagai pengasuhnya.
"Om jangan buat Ati Eccaku malah ya, nanti Ati Ecca makan tulang lagi."
"Tulang?" Alex, mengerutkan keningnya Lio hanya mengangguk dengan senyuman.
"Cemoga cukces Om." Bocah dua tahun itu seolah mengerti apa yang terjadi pada dua orang dewasa itu, sehingga ia menyemangatinya.
Selepas kepergian Lio, Alex mendekati Essa, yang duduk di hadapannya. Alex terus menatap wajah kusut istri kecilnya itu.
"Kenapa kau pergi dari rumah hah! Kau membuatku malu saja."
"Kenapa? Bukankah kau tidak menginginkanku lebih baik kita akhiri saja sekarang sebelum terlambat. Mumpung kakakku ada di sini juga. Dengan begitu tidak ada yang dirugikan dalam hal ini."
"Essa ...." Alex, diam sejenak. Sepertinya Essa tidak bisa diajak berdebat, berbicara dengannya harus ekstra lembut jika dikasari maka ia akan melawan seperti saat ini.
Alex, harus mengerti bahwa Essa masih remaja, usianya baru 18 tahun dan pikirannya sangat labil emosinya rentan naik. Alex, sebagai orang dewasa harus mengalah dan menenangkannya. Anggap saja Essa adalah api dan Alex adalah air yang harus bisa memadamkan api dalam gejolak hatinya.
Alex, menghela nafas panjang lalu bicara.
"Aku minta maaf, aku minta maaf tentang semalam. Tapi tolong jangan lakukan itu lagi Essa, aku sedang bekerja kamu jangan ganggu aku jika pun ada yang ingin dikatakan bisakah kamu menunggunya setelah aku selesai." Tatapan Alex sedikit tajam.
"Tapi kamu membohongiku juga, aku tidak suka."
"Essa, aku pikir kita harus menyelesaikannya di rumah, jangan di sini. Menikah itu berbeda dengan kehidupanmu yang sebelumnya, jika setiap ada masalah seperti ini kamu selalu pergi bagaimana bisa menyelesaikannya Essa."
Essa masih diam dan cemberut. Cukup sulit bicara dengan gadis remaja yang sama sekali belum mengerti kehidupan dewasa.
"Ok, jika kamu tidak ingin bicara dan tetap ingin pergi aku akan menghubungi ibumu. Aku yang membawamu ketika di rumahnya dan sekarang aku juga akan memulangkanmu padanya."
"Jangan!" Tahan Essa ketika Alex akan menghubungi Ane. Nyali Essa jadi menciut ketika disebut nama ibunya.
Jika ibu tahu aku yang akan dimarahi, amarah ibu bagaikan bom atom yang bisa meledak kapan saja. Walaupun Om yang salah tetap aku yang akan kena marah. Jika aku dipulangkan bisa-bisa ibu tidak memberiku makan selama seminggu.
Essa bisa bayangkan seberapa mengerikannya Ane. Ia hanya bisa pasrah, Essa menatap Alex dengan bibir cemberut.
"Jangan hubungi ibu, aku akan pulang denganmu. Tapi dengan satu syarat aku ingin kita pisah kamar, kau tidak boleh menyentuhku."
"Akan aku pikirkan itu," ucap Alex dengan nada kesal. "Sekarang ambillah barangmu dan kita akan pulang."
"Hmm, kamu tunggu di sini aku akan mengambilnya dulu." Essa bangkit dari kursi meninggalkan meja makan yang berjalan ke arah kamar Lio, karena ia memutuskan untuk tinggal dan menginap dengan keponakannya.
Darren dan Sera yang sedari tadi hanya melihat mereka dari atas kini menghampiri Alex yang terduduk di ruang makan.
"Kau sudah menyelesaikannya Alex?" pertanyaan itu membuat Alex menoleh, lantas berdiri ketika melihat Darren. Sera, sudah duduk di kursi yang kosong sambil mengelus perut buncitnya ia menatap kedua pria di depannya silih berganti.
"Ini hanya masalah kecil," balas Alex yang tidak ingin membuat cemas kakak iparnya.
"Baguslah jika kamu sudah membujuknya, memangnya perdebatan apa yang kalian ributkan sampai adik iparku kabur dari rumahmu."
"Hmmm .... hanya masalah kecil. Dia mengeluh soal lemari pakaian aku akan membelikannya hari ini."
Sera terbelalak, ia tidak menyangka adiknya itu bikin malu hanya perkara lemari pakaian
"Dan semalam kami berdebat kecil, saat Essa mengganggu meetingku dengan klien Tuan."
"Tuan lagi, panggil aku kakak ipar sekarang kecuali saat di kantor," tukas Darren mengingatkan kembali.
"Baik Kakak ipar," tegas Alex membuat Darren menepuk pundaknya.
"Bagaimana malam pertamamu adik ipar?" bisik Darren membuat Alex nyengir kuda. "Sudah ku duga, kamu belum melakukannya, apa karena itu juga pertengkaran kalian?"
"Tidak, bukan karena itu." Wajah Alex merah padam. Darren terus menggodanya. "Apa kau butuh tips dariku?"
"Aku tidak akan menyentuhnya jika dia tidak mau. Lagi pula kita tidak saling mencintai."
"Oh, begitu. Aku tidak yakin jika kamu bisa tahan Alex, ya, walau aku lihat dadanya masih datar," bisik Darren ke telinga Alex, membuat mata Alex membola.
"Jangan menghina istriku Tuan."
Darren terkekeh, "Ya, aku percaya padamu. Kamu bisa memperbesar dadanya dan membuatnya candu."
"Tuan ....." Wajah Alex semakin merah, Darren hanya tergelak membuat kepala Alex berdenyut karena ucapannya.
"Sayang, kamu jangan menggodanya begitu," hardik Sera pada suaminya. "Alex, kamu harus sabar ya, menghadapi Essa dia masih kekanakan aku percaya kamu bisa membuatnya dewasa."
"Caranya dengan memperbesar dadanya," ejek Darren lagi membuat Alex geram.
Alex, memilih pergi dan menunggu Essa di depan daripada terus berada di samping bosnya yang terus mengocok otaknya dengan pikiran mesum.
...----------------...
Beri tanggapannya dong, apa kalian suka dengan ceritanya?
Like Komen di bawah, ya.
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.