Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05 Calon Suami
Suasana restoran itu sudah tidak terlalu ramai. Musik tetap mengalun lembut, di tengah riuh obrolan dari pengunjung yang mulai berkurang.
Tamara masih duduk di tempatnya, sesekali curi-curi pandang ke arah Arvin dari seberang meja.
Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan tepian meja, irama yang mengiringi perputaran pikirannya.
Duh Tamara, kendalikan diri kamu... Kamu ini CEO yang tadi siang marahin semua manajer di ruang rapat, masa menghadapi profesor yang satu ini jadi grogi sih? gerutunya dalam hati.
Ada jeda hening sebentar, sebelum akhirnya Arvin memulai pembicaraan.
"Kamu baik-baik aja?" suaranya rendah, lembut.
Alis Tamara terangkat. "Aku? Baik. Kenapa memangnya?"
Sudut bibir Arvin terangkat tipis. "Kamu kelihatan gelisah tiap tiga detik."
Tamara terdiam sesaat, matanya sedikit membulat, sementara gerakan jari-jarinya langsung berhenti.
Lalu buru-buru mengelak, "Ah enggak kok, santai aja."
Telunjuknya merapikan ujung rambut di sisi wajah, gerakan yang biasa ia andalkan ketika menolak mati gaya di depan lawan bicara.
Tangannya lantas meraih gelas, meneguk minumannya yang tadi dipesankan ulang oleh Arvin. Satu tegukan yang cukup, untuk membuatnya sedikit lebih rileks.
Tamara menegakkan punggung, tatapannya berubah defensif. "Jangan melihatku seolah aku ini objek penelitian," katanya.
Arvin menatapnya, tenang. "Iya, maaf. Aku hanya memastikan kamu merasa nyaman."
Tamara mengangguk. Lalu menarik napas singkat, sekadar meyakinkan diri dalam hati, Oke Tamara. Stay cool.
Tapi pandangannya tertarik lagi ke arah laki-laki itu. Arvin mengambil gelas, meneguk minumannya tanpa tergesa.
Hanya gerakan sederhana—tidak mencari perhatian, tapi cukup membuat Tamara menatap lebih lama dari yang seharusnya.
Arvin meletakkan kembali gelas di atas meja. "Kita hanya akan mengobrol biasa. Jadi buat diri kamu senyaman mungkin," katanya, suaranya tetap tenang dan stabil.
Tamara mengangguk lagi, tanpa sadar menurut. "Oke, Profesor... Begitu kah aku harus memanggil kamu?"
"Itu hanya gelar jabatan akademik, kamu bisa panggil nama saja," ujar Arvin.
Tamara menyandarkan punggung, napasnya terdengar lebih rileks. Senyumnya tipis—senyum yang biasanya muncul ketika rasa percaya dirinya mulai bangkit.
"Aku lebih senang memanggil sesukaku," suaranya kini lebih santai.
Arvin tersenyum kecil. "Itu lebih baik."
Pembawaannya yang tenang, tanpa sadar membuat Tamara mulai merasa nyaman. Mereka mulai mengobrol ringan, membahas hal-hal sederhana—pekerjaan, rutinitas, hingga kebiasaan ringan.
Tamara berbicara secukupnya, ia bahkan lebih banyak mendengar daripada bicara. Padahal biasanya, ia yang selalu lebih menguasai arah pembicaraan.
Ia terbiasa dominan, tapi di depan Arvin, ia seolah tidak memiliki tuas untuk memengaruhi.
Arvin tidak mencoba untuk membuatnya terkesan, tapi tidak juga membuatnya jenuh.... dan itu cukup bahaya untuk pertahanannya.
Hingga Tamara kembali menegakkan bahu, tapi matanya penuh siasat. Mungkin aku harus sedikit mengujinya.
"Jujur ya, aku agak kaget sebenarnya dengan rencana perjodohan ini. Aku nggak tahu kenapa papaku kesannya terburu-buru," ujarnya santai, seolah lupa sempat grogi maksimal.
Arvin fokus ke arahnya, mendengarkan dengan baik.
Tamara menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, pandangannya sedikit tertunduk, dengan alisnya mengerut penuh maksud.
"Aku bahkan baru aja putus. Semalam," ungkapnya. "Dia selingkuh, tapi dia bilang itu salahku."
Suaranya sengaja dibuat agak dramatis, sengaja memancing reaksi.
Ia berhenti sejenak. Menunggu reaksi, tapi tidak ada. Arvin tetap mendengarkan, tanpa memotong.
"Aku orang yang sulit, keras kepala, cenderung egois... dan mungkin nggak cukup baik sebagai pasangan hidup." Tamara melanjutkan.
Hening beberapa detik. Arvin tidak langsung menanggapi. Tatapannya tidak menilai, seolah tidak terganggu dengan kalimat itu.
"Kedengerannya kamu memandang diri kamu dengan keras." Arvin akhirnya menanggapi.
Sudut bibirnya melengkung tipis. "Tapi aku bicara dengan kamu disini, bukan karena kamu sempurna. Aku datang memang untuk mengenal kamu."
Tamara terdiam, bibirnya mendadak terasa kaku untuk sekadar memberi respon. Tapi Arvin menatapnya lebih lama, sorot matanya tetap sopan, sampai Tamara salah tingkah.
Ia lantas buru-buru menoleh ke samping, gerakan matanya mencari-cari arah.
Hingga pandanganya tanpa sengaja, tertuju ke salah satu sudut area restoran. Matanya membulat saat bertemu pandang dengan Andra.
Oh shit! Kenapa duniaku begitu sempit, keluhnya dalam hati.
Keberadaan laki-laki itu memang agak jauh, tapi Tamara terlalu malas untuk melihatnya lagi. Apalagi sorot mata Andra langsung berubah dramatis, saat bersitatap dengannya.
Tamara mengalihkan pandangan ke Arvin. "Kamu nganter aku pulang, kan?" tanyanya.
Arvin mengiyakan. Tamara sedikit mencondongkan tubuh ke depan, nyaris menyentuh meja.
"Kita pulang sekarang ya," ajaknya, tergesa.
Arvin setuju, keduanya segera meninggalkan meja. Ia membiarkan Tamara berjalan satu langkah di depan, sementara ia mengiringi, tetap menjaganya dari belakang.
Hingga langkah mereka tiba di area parkir, yang tampak sepi. Namun, sebelum menuju mobil Arvin, suara Andra terdengar dari arah belakang.
"Tamara... " panggilnya, sambil mempercepat langkah menyusul.
Keduanya kompak menoleh dan berbalik. Reaksi Arvin tetap stabil, meski sorot matanya menyimpan tanya.
Sosok di depan mereka saat ini—laki-laki muda tampan, modis, dan... menyebut nama Tamara dengan akrab.
Sedangkan Tamara melotot kaget, karena Andra nekat menemuinya lagi. Tapi sebelum bereaksi lebih lanjut, Andra terburu mendekat, langsung meraih tangannya.
Tatapannya dramatis. "Tamara, Sayang... Kamu baru aja mutusin aku kemarin loh. Kemarin," ujarnya menekankan.
Nada suaranya terdengar seperti orang yang paling menyedihkan di dunia.
Ia menoleh sekilas ke arah Arvin. "Sekarang malah udah jalan sama cowok lain?"
Sorot matanya menilai sosok Arvin. "Ganteng sih... tapi sejak kapan selera kamu jadi kayak bapak-bapak karyawan teladan begini?" katanya, setengah meremehkan.
Tamara terperangah, lalu buru-buru melepaskan tangannya. "Jaga bicara kamu!" tegurnya.
Ia melirik sekilas Arvin yang tidak bereaksi berlebihan, tangan terlipat santai di dada, sama sekali tidak terpancing.
Sampai suara Andra kembali mendominasi. "Terserah lah. Aku mau bahas soal kita. Kamu jangan gini dong, Tamara. Kalau kamu masih marah, seenggaknya kamu angkat telponku, atau balas pesanku," suara Andra melembut.
Gaya bicaranya, nyaris seperti pemeran utama pria yang tersakiti.
Tamara menarik napas, mencoba menahan diri agar tidak langsung meledak. "Aku lupa," ujarnya malas.
Andra mengernyit. "Lupa?" ulangnya.
Tatapan Tamara seketika berubah, tajam. "Ya, lupa blokir nomor kamu!" Suara bernada emosi itu menyentak Andra.
Sementara Arvin tetap berdiri di dekat Tamara, tidak ikut campur. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya jelas siaga.
Andra menatap Tamara tak percaya. "Sayang, kita bisa bicarain ini baik-baik... Aku masih cinta banget sama kamu," suaranya melemah.
Tamara memutar bola mata. "Andra, kamu nggak ngerti dari kata 'putus' ya?"
Ia menggerakkan tangan di depan leher, seolah memotong udara.
"Pu—tus!" tegasnya, penuh penekanan.
"Aku nggak mau!" tolak Andra, suaranya setengah berteriak, membuat Tamara mengerjap.
"Itu kan hanya keputusan sepihak—"
Kalimatnya langsung terhenti, saat Arvin bergerak maju. Tubuhnya sedikit menutupi Tamara, seperti benteng tangguh yang melindunginya.
Andra mendongak sambil menelan ludah, nyalinya mendadak terjun bebas. Kakinya refleks melangkah mundur, melihat tatapan Arvin yang berubah dingin dan protektif.
"Tamara harus pulang sekarang," kata Arvin, suaranya tenang dan terkontrol.
Andra mencoba tetap berdiri dengan nyali yang tersisa. "Anda siapa? Saya masih mau ngomong sama pacar—"
"Dia calon suamiku," potong Tamara cepat. Tangannya menggandeng lengan Arvin, sengaja memanas-manasi.
Andra terperangah, otaknya mencerna kalimat itu beberapa detik. "Apa? Calon suami?" tanyanya, dengan suara meninggi.
Tamara mengangguk santai.
Andra menggeleng tak percaya. "Kamu serius? Tega banget sih, kamu. Secepat itu ninggalin aku? Kamu kan tahu, aku cinta banget sama kamu! Aku yang paling mengerti maunya kamu!"
Suaranya melemah. "Kesalahanku cuma khilaf, Tamara."
Tapi Tamara justru terpancing, lantas melepas lengan Arvin. Ia maju satu langkah mendekati Andra.
"Khilaf, kamu bilang?" Tatapannya menajam, dengan aura kontrol mutlak.
"Dua bulan kamu sama Kiara di belakangku, menikmati fasilitas dariku, bahkan meniduri selingkuhan kamu itu di apartemenku!" suaranya meninggi dan tajam.
Rahangnya mengeras. "Apa yang kulihat kemarin, mungkin hanya satu dari sekian banyaknya kebohongan kamu, Andra!"
Andra meraih tangannya sekali lagi. "Tamara, Sayang... Aku minta maaf. Aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku juga udah putus sama Kiara."
Tamara ingin sekali berteriak di telinganya. Bodoh! Kamu putus karena aku yang nyuruh Kiara!
Ia mencoba melepaskan tangannya, tapi cengkeraman Andra menguat sampai Tamara meringis. "Kamu balik sama aku ya? Aku janji akan turutin semua—"
"Lepaskan," suara Arvin memotong. Ia tidak berteriak, tapi cukup membuat Andra langsung terdiam.
Langkahnya sudah maju, berdiri di samping Tamara. "Saya tidak ingin ikut campur urusan masa lalu kalian.... " kata Arvin, datar.
Tatapannya berpindah ke tangan Andra yang masih belum melepaskan Tamara. " ...tapi saya peduli pada batasan ini," lanjutnya.
Tanpa aba-aba, ia melepaskan pegangan tangan Andra dari Tamara. Gerakannya tenang, terukur, tanpa emosi berlebih.
Andra hanya membisu. Arvin tidak terlihat menantangnya, tapi hanya melihat cara laki-laki itu berdiri dan berbicara, nyalinya kembali menciut. Entah bagaimana cengkeramannya melonggar begitu saja, tanpa perlawanan.
Ia ingin sekali melawan atau sekadar mengumpat, tapi anehnya, tubuhnya tidak menurut. Yang ada, jantungnya terasa diremas kuat, melihat kebersamaan Tamara dengan laki-laki itu tepat di depan matanya.
Arvin menyentuh pergelangan tangan Tamara dengan lembut, sekadar memastikannya baik-baik saja.
"Kita pulang sekarang?" tanyanya.
Tamara memberi satu anggukan. Keduanya segera berjalan menuju mobil, meninggalkan Andra yang terpaku dengan rasa cemburunya.
"Tamara... " suaranya lirih memanggil nama itu.
...
Jalanan kota malam itu tampak lebih lengang. Arvin membawa laju mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah arus lalu lintas yang mulai sepi.
Tamara duduk di kursi penumpang. Pipinya masih panas karena sisa amarah, tapi napasnya perlahan mulai stabil.
Tatapannya mengarah ke Arvin. "Anggap aja tadi kamu hanya menonton pertunjukan drama emosional."
Arvin menoleh sekilas. "Nggak masalah," katanya.
Lalu melanjutkan, "Aku memang terbiasa mengamati dan memahami beragam emosi orang-orang." Nada bicaranya lembut, tanpa menghakimi.
"...dan kamu akan melihat badai, saat melihatku marah," ujar Tamara, menyambung perkataan Arvin.
Laki-laki itu tersenyum tipis, mencoba memahami. "Kamu hanya ekspresif, Tamara."
Tamara menyandarkan kepala di jok, pandangannya lurus. "Lebih tepatnya mudah emosi... apalagi, ketemu mantan yang bikin kesel kayak tadi." Ia menggerutu, masih dengan sisa rasa kesal karena Andra.
Arvin menolehnya lagi, sebentar. "Wajar kok kamu merasa emosi dalam situasi seperti tadi. Kamu juga berhak marah."
Tamara hanya terdiam, mencoba meredam sisa amarah.
Tak berselang lama...
Mobil Arvin melambat, saat memasuki halaman rumah besar berarsitektur klasik kontemporer.
Arvin turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Tamara.
"Nah, sudah selesai kencannya?"
Suara Rudi terdengar dari arah teras, mengalihkan perhatian keduanya.
Pria itu berjalan ke arah mereka, senyum tulus terukir di wajahnya melihat kebersamaan itu.
Tamara sedikit menunduk layaknya anak penurut. Wajah tegasnya langsung melembut, saat melihat Rudi menepuk pundak Arvin.
Kedua pria itu mengobrol singkat, tampak akrab. Tapi di tengah itu, justru ada sesuatu yang tiba-tiba membuat dada Tamara terasa hangat. Seakan ia sudah melupakan sisa emosi yang tadi sempat meledak karena bertemu Andra.
Ia menatap dalam diam. Senyum papanya malam ini, senyum kebahagiaan yang bahkan jarang ia lihat—begitu tulus dan tidak dibuat-buat.
Arvin menghampirinya. "Terima kasih waktunya malam ini. Aku pamit dulu," ucapnya.
Tamara mengangguk, mengiyakan.
"Sampai ketemu... lagi," kata Arvin, senyumnya tipis, lalu kembali menuju mobilnya.
Tamara memperhatikan punggung tegap laki-laki itu. Sampai ketemu... lagi? Kalimat itu berputar ulang di kepalanya.
Tamara menggigit jari. Aku malah berharap nggak ketemu lagi, batinnya.
BERSAMBUNG...
Wah kenapa sih Neng berharap nggak ketemu lagi? Padahal tadi jelas terpesona 😄