Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah alamat yang mengubah takdir
Hari itu Cantika berangkat bekerja seperti biasa ,hari ini dia berangkat sendiri tanpa sahabatnya Rani ,karena Rani diminta mengantarkan pesanan kealamat lain .
Cantika menarik napas panjang begitu keluar dari kantor, masih mengenakan jaket kurir warna biru cerah yang kebesaran dua ukuran karena dia pinjam dari gudang peralatan.
“Kayak pakai mantel musim dingin, bukan jaket kurir,” gerutunya sambil merapikan rambut yang mencuat ke segala arah.
“Cantika, tuh pesanan udah siap. Kamu kirim ke perumahan Grand Surya blok D-17, ya,” kata Rara, temannya sekaligus supervisor super bawel tapi paling perhatian.
“Iya, Ra. Blok D-17. Aman. Catet,” kata Cantika sambil mengangkat plastik berisi kotak cokelat premium.,barang itu sudah di persiapkan dan dipak Serapi mungkin oleh bagian pengepakan .
Rara menyipitkan mata. “O..ya ! Jangan sampai salah alamat lagi. Kemarin kamu ngirim ke rumah hantu kompleks sebelah.”
“Itu bukan salah aku! Google Maps yang ngaco,” bela Cantika cepat dengan senyum dan menunjukkan gigi kelincinya .
“Google Maps nggak bilang ‘masuk, Mbak, tapi jangan kaget kalau ada genderuwo duduk di teras’ kan?”
Cantika manyun. “Aku kira dekor Halloween, sumpah.” ucap Cantika pura pura cemberut.
Rara cuma geleng-geleng. “Pokoknya kali ini harus tepat. Orangnya katanya penting banget. Jangan sampai salah.”
"Siap bosku ! perintah dilaksanakan ." Cantika berpose seperti murid sekolah yang sedang hormat bendera di lapangan sekolah ,sementara Rara hanya tersenyum melihat kelakuan teman kerjanya itu .
Dengan penuh percaya diri,walau pengalaman menunjukkan kepercayaan dirinya sering banget mengkhianati realita,Cantika pun naik ke motor matic kesayangannya yang suaranya sudah tidak lagi ‘ngeng-ngeng’, melainkan ‘ngik-ngik’ seolah olah mesin sudah tidak mau berumur panjang .
Setelah meletakkan barang yang hendak diantar ,kemudian memelototi peta tujuan beberapa kali, Cantika meluncur menuju kompleks Grand Surya. Langit agak mendung, angin sore lumayan kencang, dan perut Cantika mulai keroncongan karena dia cuma sarapan sepotong roti yang ternyata sudah agak keras.
“Ya ampun, kalau aku kaya dikit aja, pasti sarapan aku croissant sama latte. Ini malah roti keras sama air galon kantor,” gumamnya sambil parkir di depan rumah besar bernomor D-7.
Iya. D-7.
Bukan D-17.
Tapi Cantika tidak sadar sama sekali. Yang dia lihat hanyalah tulisan “D” dan angka “7” yang jaraknya berjauhan, dan otaknya memutuskan untuk optimis: Ya udah, ini dia.
"Gila ! Ini rumah apa istana ? Sudah kayak di film Film aja ." gumamnya ,pandangannya melihat kearah depan dengan tatapan kagum dan terkesima .
Rumah didepannya sangat besar dengan Model minimalis-modern tapi tetap keliatan mahal. Cat putih, pagar hitam, halaman luas, dan ada empat mobil mewah berjejer. Cantika menghela napas.
“Hmm… keluarga berada nih,” komentarnya seperti komentator sepak bola yang sok tahu.
Begitu menekan bel, pintu pagar tidak dibuka. Yang terdengar justru…
BRAAAAK!
“Aku nggak peduli! Pokoknya pernikahan ini batal!”
Cantika hanya bisa mematung melihat dan mendengar apa yang keluar dari rumah itu .
“Kamu pikir Papa ini main-main? Kamu buat Papa jadi malu besar!!”
“Udah, udah! Papa jangan marah dulu!”
Cantika masih membeku,mematung sudah seperti patung Pancoran
“Eh… kok dramanya kayak sinetron jam tujuh malam?” bisiknya, panik.
Dia menelan ludah. “Mungkin… aku harus pergi.”
Tapi tepat ketika dia mau balik badan, pintu samping rumah terbuka keras,dan ia terkejut tiba -tiba seseorang menarik Cantika masuk seperti penculik tapi dalam versi orang kaya.
“MASUK! CEPAT!” seru seorang ibu-ibu dengan dandanan rapi, tapi wajah penuh stres dan air mata.
“A—apa? Tapi saya cuma—”
“MASUK! Ini darurat!” Ibu itu menyeretnya sambil menutup pintu.
Cantika tergopoh-gopoh. Tas delivery-nya hampir copot, jaketnya melorot, dan masker yang dia pakai setengah menutupi mata.
Begitu masuk ruang tamu, dia langsung melihat adegan chaos tingkat dewa: seorang bapak-bapak tua tergeletak di sofa, memegang dada sambil sesenggukan kesakitan; seorang pemuda tampan bergumam berdiri dengan wajah frustasi; seorang tante menangis; seorang om marah-marah; dan keluarga besar lain heboh sendiri.
Kembali Cantika membeku kayak patung lilin.
“Ini… saya salah rumah kayaknya…”
gumamnya ,tapi dia hanya diam tidak berani mengeluarkan sepatah katapun
Ibu yang tadi menyeretnya mendekat ke suaminya,si bapak tua yang sesak napas itu sambil panik.
“Pak! Tenang, Pak! Jangan marah lagi! Ayo, tarik napas…”
“Bagaimana aku tidak marah! MENANTU BAYANGAN itu kabur!! Tiga jam sebelum akad!! TIGA JAM!” teriak bapak tua itu, langsung batuk-batuk.
Pemuda tampan itu mendekat dengan wajah memerah karena malu atau marah,atau kombinasi berbahaya dari keduanya,dia melirik kearah Cantika dan kembali menatap ibu itu.
“Mama… bawa perempuan ini ke sini buat apa?” tanyanya dengan nada tak percaya.
Cantika langsung mengangkat tangan seperti siswa SD yang mau izin ke toilet. “Eeh… saya cuma nganter paket. Beneran. Mau pulang juga gapapa.”
Tapi si Ibu justru memandang Cantika dari atas sampai bawah.
“Siapa namamu?”
“Cantika.”
“Ikut saya.”
“Hah?? Bu, saya harus—”
Namun ibu itu kembali menyeretnya. Cantika seperti boneka rontok yang tidak punya kekuatan menolak.
Dibawalah dia ke sofa utama, tepat di depan si bapak yang kelihatannya makin berjuang antara sadar dan pingsan.
Ibu itu berlutut di samping suaminya, memegang tangan Cantika dengan erat.
“Pak, tenang… dia sudah datang,” katanya dramatis banget.
Cantika: ???
Bapak itu membuka mata dengan susah payah. Menatap Cantika lama. Sangat lama. Sampai-sampai Cantika merasa sedang di-scan sama alat sinar X RS mewah.
“Ini… calon menantu kita, Pak…” ujar si Ibu.
“HAAH???” Cantika memekik.
Pemuda tampan itu,si Yoga Pradipta, putra tunggal keluarga itu,langsung melangkah maju.
“Mama! Nggak bisa sembarang tarik orang dari jalan buat gantiin posisi calon pengantin! Ini gila!”
“SIALAN! Aku bener-bener salah rumah,” desis Cantika ingin menangis.
Tapi si bapak tiba-tiba berkata lemah, “Nak… kamu mau… jadi pengganti, kan?”
Cantika refleks menjawab, “TIDAK.”
Namun si Ibu langsung menepuk pahanya.
“Nak, dengar dulu ceritanya.”
“Bu, saya cuma nganter paket. Serius,” ujar Cantika putus asa.
Si Ibu mulai menjelaskan cepat sambil tetap memegang tangan Cantika erat-erat seperti sedang nawarin promosi nggak boleh ditolak.
“Calon menantu kami kabur. Pernikahan tinggal beberapa jam. Semua sudah datang. Keluarga besar, tamu undangan, media, semua. Kalau pernikahan batal, suami saya bisa… ya, lihat sendiri.”
Cantika melirik si bapak yang sudah ngos-ngosan seperti habis maraton.
“Halo? Ini bukan salah saya,” ujar Cantika lirih.
Si Ibu tampak putus asa. “Nak, kami akan memberikan imbalan. Berapa pun yang kau mau. Asal kamu mau menikah dengan anak saya hari ini juga.”
“A—APA??? Bu! Saya bahkan nggak kenal anak ibu!” teriak Cantika hampir copot