Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Langit London tampak mendung, embusan angin dingin menerpa halaman luas Universitas San Verra.
Gedung-gedung batu berarsitektur Gothic berdiri megah, ditutupi sedikit lumut dan sulur tanaman merambat yang membuat semuanya tampak seperti bangunan tua bangsawan di film-film Eropa.
Mahasiswa berjalan tergesa-gesa membawa buku, beberapa meneguk kopi panas sambil menyeberang halaman.
Di tengah keramaian, Xerra berjalan santai rambut cokelat gelapnya dikuncir rendah, wajahnya tanpa ekspresi namun sorot matanya tajam mengamati sekitar. Dia mengenakan coat abu-abu panjang, rok hitam, dan boots tinggi. Simple, namun mencolok karena aura percaya dirinya.
Ben dan Gerry mengikutinya dari jauh
Mereka pura-pura membaca koran mahasiswa. Sebenarnya, mereka sudah berada di kampus sejak pagi, menunggu momen.
“Dia selalu menatap sekeliling sebelum masuk gedung, seolah terbiasa diawasi,” gumam Ben sambil menyalakan kamera di ponselnya.
“Makanya Evans tertarik,” jawab Gerry. “Xerra bukan gadis biasa.”
Xerra duduk di salah satu meja panjang, membuat sketsa gaun pesta. Tangan kirinya terangkat, memegang pensil dengan rileks. Dia berfokus penuh, tidak peduli orang lain.
Di sisi lain ruangan, Liona masuk bersama dua temannya. Seperti biasa, Liona terlihat sangat glamor lipstik merah menyala, rambut pirang terurai, tubuh dilapisi mantel branded KW.
Beberapa mahasiswa otomatis berbisik.
Mereka tahu Liona suka mencari masalah dengan Xerra.
“Lihat itu,” bisik salah satu teman Liona. “Anak yatim sok berbakat.”
Liona berjalan mendekat, lalu menyenggol meja Xerra dengan keras.
Gelaskopi di atas meja berguncang lalu tumpah sedikit ke kertas gambar Xerra.
“Oh… maaf. Tanganku terpeleset,” kata Liona sambil tersenyum sinis.
Beberapa mahasiswa menahan napas.
Xerra menatap noda kopi itu diam, tanpa ekspresi.
Lalu menatap Liona perlahan… dan tersenyum manis.
“Tidak apa. Bahkan noda kopi sekalipun lebih mudah diatasi daripada otak yang tumpul.”
Seluruh ruangan hening.
Teman Liona langsung mendesis, “Apa kau bilang?!”
Xerra berdiri, berjalan pelan mendekat, lalu menepuk pipi Liona sangat ringan seperti menggoda anak kecil.
“Aku mengerti. Pasti susah ya berada di kelas desain kalau satu-satunya hal kreatif yang kau punya hanya operasi wajah?”
GERRR
Semua tertawa pelan.
Liona memerah, langsung meraih segelas cat tinta putih lalu berniat menuangkan ke kepala Xerra.
Tapi…
XERRA MELENGKUNGKAN BADAN CEPAT
Tubuhnya miring sedikit, gerakannya seperti penari.
Tinta itu tidak kena dirinya…
Justru mengenai jaket kulit mahal milik teman Liona yang berdiri di belakang mereka.
“AARGH! WHAT THE HELL?! Ini jaket baru, Liona!!”
Wajah Liona langsung pucat.
Teman-teman sekelas mereka mulai merekam…
Dan di pojok ruangan…
Ben diam-diam sudah menyalakan kamera sejak awal
Dia merekam semuanya tanpa suara, menzoom wajah Xerra yang sama sekali tidak panik.
Xerra hanya mengangkat bahu, melewati mereka sambil berkata
“Kalau tidak bisa menyerang dengan otak, jangan pakai tangan.”
Ben dan Gerry berdiri di balik pilar marmer.
“Dia benar-benar… berbeda,” gumam Gerry takjub.
Ben membuka rekaman itu, memotong bagian paling mematikan
💥 Saat Xerra menepuk pipi Liona
💥 Saat tinta tumpah ke pria itu
💥 Saat Xerra berkata kalimat terakhirnya.
Ben mengirim video itu ke satu orang.
📩 EVANS
*****
Langit London mulai gelap ketika Xerra tiba di halaman rumah.
Angin membawa aroma hujan, dan dedaunan kering berguguran menyapu jalan berbatu menuju rumah mewah ,itu satu-satunya peninggalan orangtuanya.
Saat pintu utama terbuka, Xerra berhenti mendadak.
Di ruang tamu, kardus besar, koper, dan barang-barang pribadi berserakan.
Maxim dan Melanie terlihat sibuk, wajah mereka tegang, seperti sedang tergesa-gesa melarikan diri.
Xerra menatap punggung paman dan bibinya yang sibuk mengangkut koper, matanya sempat menangkap bagaimana Melanie tergesa memasukkan amplop coklat besar ke dalam tas tangan gerakan yang seolah disembunyikan namun justru semakin mencurigakan.
“Mulai hari ini kami pindah dari sini,” ucap Melanie cepat, suaranya terdengar sedikit gemetar walau wajahnya berusaha tampak datar.
Xerra mengangkat alis. “Pindah? Tiba-tiba sekali?”
Maxim tidak menatap Xerra, hanya berkata ketus, “Urus saja hidupmu sendiri, Xerra.”
Jawaban itu aneh. Selama ini, mereka selalu tidak mau pergi meski Xerra terang-terangan ingin mereka keluar. Justru dulu, ketika Xerra mengusir, Melanie akan menjawab pedas: “Rumah ini milik keluarga, kamu hanya anak ingusan yang numpang nama.”
Tapi hari ini mereka pergi… tanpa drama. Tanpa berusaha bertahan.
Ada yang tidak beres.
Namun Xerra tidak bertanya lebih jauh. Baginya, kepergian mereka adalah berkah. Tidak ada lagi suara sumbang dari bibinya setiap pagi, tidak ada lagi sepupunya yang suka bolak balik masuk kamar dan menghilangkan barang-barang kecilnya.
Yang tidak Xerra tahu adalah.....
Rumah itu sudah digadaikan.
Dua minggu lalu, Maxim panik karena seorang rentenir menagih hutang investasi bodongnya. Ia dan Melanie mendatangi sebuah kantor pembiayaan gelap dan menjaminkan salinan surat rumah yang didapatkan dari notaris siang tadi sebagai jaminan. Mereka tidak yakin bisa mencicil,karena bunga yang dikenakan terlalu tinggi.
Kemarin malam, petugas debt collector itu kembali kali ini membawa ancaman.
“Jika kalian tidak bisa membayar akhir bulan ini, kami tarik rumah itu sekaligus semua isinya. Atau… kami cari siapa pun yang tinggal di sana dan memaksa mereka membayar.”
Itulah alasan sebenarnya Maxim dan Melanie pergi.
Mereka tidak pindah. Mereka melarikan diri.
Mereka tahu, saat debt collector datang dan mengetuk pintu, yang akan membukakan rumah adalah Xerra.
Xerra sama sekali tidak mencurigai hal itu. Ia hanya berpikir paman dan bibinya akhirnya menyerah dan memilih mencari rumah sewa murah.
Bahkan ketika Melanie sempat meliriknya dengan senyum miring senyum penuh kemenangan kecil Xerra tak mengerti maknanya.
Sebelum pergi, Maxim sempat berbisik sinis pada Melanie
“Biarkan anak itu menanggung semuanya. Biar dia tahu rasanya jatuh sampai ke dasar.”
Mobil tua berwarna hijau kusam itu perlahan keluar dari gerbang besi rumah megah peninggalan orang tua Xerra.
Rumah bergaya victoria itu berdiri megah, seakan mengawasi mereka pergi,pilar putih, jendela tinggi, dan halaman luas yang dulu sering mereka tinggali dengan penuh keserakahan.
Mesin mobil bergetar kasar, mengeluarkan suara ngorok seperti sesak napas.
Di dalamnya, Melanie menatap kaca spion dengan wajah masam.
Maxim menggenggam setir sambil mendesah panjang.
Liona duduk di kursi belakang dengan wajah penuh rasa tidak terima, sementara Calvin terlihat kesal karena harus berdesakan dengan koper.
Rumah kembali hening saat mereka meninggalkan kan nya.
Tidak ada lagi suara langkah kaki Melanie yang selalu berisik dengan heels nya.
Tidak ada lagi suara bentakan Maxim atau tawa mengejek Liona dan Calvin.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Rumah itu hanya milik Xerra.
Tapi dia tidak merayakannya.
Belum.
Xerra berdiri di tengah kamarnya, lalu berjalan menuju sudut ruangan tempat sebuah lemari kayu tua berdiri sejak ia kecil.
Lemari itu berbahan jati asli, ukirannya indah, dan warnanya mulai pudar karena usia.
Itulah barang paling berharga peninggalan ibunya.
Dan hanya Xerra yang tahu rahasianya.
Dia berlutut pelan, meraba bagian bawah lemari.
Di balik ukiran bunga lily, tersembunyi sebuah lubang kecil.
Xerra menekan titik tertentu
klik
Pintu kecil di bagian dalam otomatis terbuka.
Ada gembok kuno berwarna tembaga.
Dari balik kalung yang ia kenakan setiap hari, Xerra mengeluarkan kunci kecil berbentuk hati.
Hanya satu-satunya.
Kunci warisan dari ibunya.
Dia memasukkannya ke lubang gembok
KLIK.....
Lemari terbuka.
Ruangan kecil di dalam lemari tampak rapi.
Ada sebuah kotak kayu kecil, beberapa perhiasan lama, beberapa surat keluarga, dan…
…buku harian ibunya.
Xerra langsung memeriksa satu per satu, wajahnya serius.
“Kalung berlian masih ada…”
“Gelang platina juga…”
Dia membuka kotak lain.
Sebungkus kain beludru hitam.
Di dalamnya
Sebuah cincin emas dengan batu sapphire biru tua.
Xerra tersenyum lega.
“Masih utuh.”
Kalung, gelang, cincin semua peninggalan ibunya.
Semua hal yang paman Maxim tahu pasti akan di jual tanpa rasa bersalah jika dia menemukannya.
Xerra menggigit bibir.
“Aku yakin mereka sempat mencoba…”
Lalu ia melihat ke sisi lemari.
Ada bekas goresan kecil seperti seseorang sempat mencoba membongkar paksa.
“Heh. Mereka benar-benar mencobanya.”
Dia menutup kembali kotak perhiasan, lalu mengambil buku harian ibunya.
Sampulnya lembut, berwarna cokelat tua, sedikit memudar.
Xerra menyentuhnya dengan hati-hati.
“Aku akan baca kau nanti… Mama.”
Sebelum menutup lemari, ia mengambil satu benda terakhir
Amplop cokelat tua… dengan cap lilin merah.
Tidak ada nama.
Hanya tulisan tangan halus
❝Untuk Xerra, bila kau sudah cukup dewasa.❞
Xerra terdiam.
Hati kecilnya bergetar.
Ia memegang amplop itu erat, tetapi belum membukanya.
“Belum saatnya.”
Ia menyimpan amplop itu di balik bantalnya tempat paling aman sejauh ini.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja…
Xerra menutup lemari itu kembali, mengunci rapat.
Dia berdiri.
Menatap lemari itu lama-lama.
Lalu berkata pelan seolah berbicara pada ibunya yang sudah tiada
“Tenang, Ma. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil satu sen pun dari apa yang kau tinggalkan untukku.”
Dan di luar sana
Mobil hijau tua keluarga Maxim terus melaju menjauh…
Tanpa mengetahui
Mereka gagal mencuri satu-satunya harta paling berharga bukan perhiasan, bukan uang melainkan kecerdikan seorang gadis bernama Xerra Collins.
*****
Setelah melakukan perjalanan hampir dua jam
Mobil tua berwarna hijau kusam itu berhenti di depan sebuah bangunan sempit bercat abu-abu pucat. Catnya mengelupas, jendela kayunya tampak miring, dan genteng di bagian belakang bahkan terlihat retak.
Maxim turun dari mobil sambil mengelap keringatnya dengan koran bekas.
“Akhirnya sampai juga…” gumamnya penuh kelelahan.
Melanie membuka pintu dengan suara berdecit yang menyakitkan telinga. Begitu masuk, aroma lembab langsung menyerbu hidungnya.
“Ya Tuhan… Bau apa ini?” keluh Melanie sambil menutup hidung.
Liona turun dari mobil dengan kacamata hitam besar dan gaun bermerek palsu. Dia memandang bangunan itu layaknya sebuah kandang ayam.
“Mamaaa ini bukan rumah! Ini penjara!” jeritnya.
Calvin menyusul di belakang sambil menyeret koper besar.
“Astaga… Kenapa lantainya lengket?!”
Maxim menenangkan mereka, meski wajahnya sendiri sudah putus asa.
“Sudahlah! Kita cuma akan tinggal di sini sementara, sampai keadaan membaik.”
Melanie mendengus,
“Keadaan membaik? Maxim… rumah yang kau gadaikan itu satu-satunya properti kita! Sekarang kita tinggal di sarang tikus seperti ini! Bagaimana bisa membaik?!”
Maxim menjawab dengan suara pasrah,
“Aku juga tidak mau! Tapi kalau kita masih tinggal di rumah tua itu, debt collector sudah pasti datang! Kau mau dikejar-kejar preman setiap hari, hah?!”
Liona meraih gagang pintu kamar sambil teriak
“Aku mau kamar paling besar!”
Calvin langsung menepisnya.
“YA TIDAK ADA KAMAR BESAR DI SINI!!!”
Begitu pintu kamar dibuka, mereka terpaku.
Kamarnya hanya muat satu kasur single, lemari kecil, dan jendela dengan pemandangan… tembok semen berlumut.
Bahkan terdengar suara tik tik tik dari atas.
“Mama…” suara Liona gemetar, “Kayaknya ada sesuatu bergerak di plafon.”
Melanie melihat ke atas
Seekor cicak jatuh tepat di tas Liona.
“AAAAAAAAA!!!”
Calvin panik
“Aku nggak mau tinggal di rumah hewan reptil!!!”
Melanie memukul dinding kesal.
“SEMUA INI SALAHMU, MAXIM!”
Maxim membalas
“Kau pikir aku senang?! Aku harus menjual mobil, menjual jam tangan, menjual segala hal! Aku bahkan sempat mau menjual kau tapi tidak ada yang mau beli!”
“Maksudmu APA?!” Melanie meledak.
Di tengah kericuhan itu, Liona membanting koper sambil menangis
“Kenapa bukan XERRA yang tinggal di rumah seperti ini?! Kenapa kita harus menderita?! Seharusnya dia yang hidup miskin!”
Calvin menambahkan penuh iri
“Dia pasti sekarang duduk manis di sofa empuk, minum susu mahal, pakai AC!”
Maxim menyandarkan punggung ke dinding lembab dan berkata lirih
“Tenang saja… kalau dia tahu rumah itu sudah digadaikan, dia juga akan menderita.”
Melanie menyeringai kecil.
“Oh ya… dia pasti baru sadar ketika debt collector menyita rumah. Bayangkan wajahnya saat tahu kebebasan itu cuma sementara.”
Liona tiba-tiba tersenyum bengis.
“Hahaha… Bagus. Biar dia juga merasakan hidup sengsara seperti ini.”
Calvin menimpali
“Aku ingin melihat wajahnya panik. Ah… itu pasti pemandangan terbaik.”
Yang Mereka tidak tahu…
Xerra sedang duduk santai di balkon rumah meminum susu dingin dengan roti, sambil menatap langit malam.
Tak ada yang ia tahu soal gadai rumah…
Belum ada tanda-tanda debt collector datang…
Dan Evans
Dia baru saja menonton rekaman Xerra membalas ulah Liona di kampus.
Senyuman tipis terbentuk di wajah dinginnya.
“Sepertinya… hidup gadis itu mulai menarik.”