Alka hanya ingin hidup sederhana, mengejar mimpi, menjaga orang-orang yang ia sayangi, dan membuktikan bahwa kerja keras bisa mengubah masa depan.
Namun tanpa ia sadari, langkahnya tak pernah benar-benar bebas. Di balik kehidupannya, ada dendam lama yang terus tumbuh, dendam dari seseorang yang seharusnya menjadi tempat pulang.
Fellisya menyimpan luka dari masa lalu. Dan tanpa disadari siapa pun, dendam yang ia pelihara perlahan merusak kehidupan orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri.
Hingga suatu hari, Lista ikut terseret dalam permainan yang tak pernah ia pahami. Persahabatan berubah menjadi luka, kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan, dan mimpi-mimpi yang dulu terasa dekat… kini hancur tanpa sisa.
Karena dendam tidak pernah berhenti pada satu orang. Ia akan terus hidup, menjadi dendam yang diwariskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05 Tanggung Jawab
Malam berlalu dalam sekejap mata. Udara pagi ini masih terasa dingin, matahari belum muncul. Aroma tanah semalam masih tercium.
Dengan perasaan yang tenang. Alka memanaskan motor Kawasaki 250SL, berwarna hitam doff itu, ia duduk teras rumah, membetulkan tali sepatu yang terlepas.
Dari arah garasi, mobil Pajero sport putih kini keluar. Melaju pelan menuju gerbang. Awalnya semua terlihat akan aman, karena jalanan halaman masih luas. Tapi gak lama...
Brukh...
Motor Alka terguling. Di dalam mobil, Fellisya hanya tersenyum sinis.
Alka langsung bangkit, melemparkan helm ke kaca belakang mobil. "STRESS!!" teriaknya, sambil membangunkan motornya. Alka tahu, Fellisya sengaja menabrak motornya.
Mobil itu berhenti, Fellisya keluar dari dalamnya. "Siapa yang stres? Manasin motor sembarangan," kata Fellisya, menatap tajam Alka.
"Nona, apa anda buta?... Jalanan ini luas, kenapa anda memilih nabrak motor, saya?" balas Alka dengan nada suara meninggi.
"Heh, jaga nada bicara kamu, ya. Kurang ajar!" Fellisya menunjuk wajah, Alka.
"Saya tidak akan seperti ini kalau anda tidak mencari gara-gara dengan, saya." Alka tak mau kalah, ia mendorong dada Fellisya dengan jari telunjuknya.
"Berani kamu dengan, saya..." satu tamparan mendarat di pipi kanan Alka.
Alka menunduk menatap tanah, rasa panas dan perih jadi satu. Napasnya memburu, rahangnya mengeras.
"Nona Fellisya yang terhormat, saya tidak takut dengan anda," kata Alka pelan tapi jelas.
Dari dalam rumah, Lista, Renata dan Varel baru saja keluar. Mereka melihat Fellisya kembali melayangkan tamparan pada, Alka.
"CUKUP, FELI!" teriak Varel, yang kini berdiri di teras.
Dengan napas memburu, Fellisya menatap mereka sekilas, lalu kembali menatap Alka. Sorot nya penuh amarah, ia langsung kembali masuk ke dalam mobil.
Renata berlari kecil ke arah, Alka. "Ka, kamu nggak apa-apa, Nak?" tangannya meraba lembut wajahnya.
"Aman, Bu. Cuma luka kecil," jawab Alka datar, ia meraih helm miliknya.
"Yaudah, kamu berangkat, sana. Hati-hati ya." Renata mengelus pelan punggungnya.
Setelah mengenakan helm, Alka naik ke atas motor. Lalu melaju pergi.
"Kamu kenapa nggak bareng Alka, Ta?" tanya Renata yang melihat Lista masih terpaku di teras.
"Nggak, Bu." jawabnya singkat. "Aku berangkat ya."
"Hati-hati, Ta." Renata sedikit berteriak, motor Lista menjauh.
Matahari bersinar. Angin berhembus lembut, mememainkan rambut Alka. Ia berdiri di depan gerbang sekolah barunya. Seragam yang ia pakai berbeda dari biasanya.
Tak lama sebuah mobil Fortuner hitam terparkir di depan gerbang sekolah. Kacanya dibuka setengah.
"Alka," panggil Edgar dari dalam mobil.
Alka langsung mendekat. "Hallo, Om, apa kabar?" tanya Alka.
"Kabar saya baik, Ka. Oh iya... hari ini, Alesha mulai masuk sekolah, kamu tolong bantu jaga dia, ya." jawab Edgar sambil tersenyum ramah.
"Aleshanya mana, Om?"
"Di kursi belakang, kamu buka aja. Bantu dia ya."
Tangan Alka membuka pintu mobil, pelan. Saat pintu terbuka, Alesha duduk tenang disana. Ia tak menoleh sedikitpun.
"Hai, saya, Alka. Mulai hari ini, saya yang akan bantu kamu." kata Alka, suaranya gemetar halus.
"Hmm," jawab Alesha.
Alka hanya tersenyum getir, ia tahu. Alesha masih belum menerima kondisinya. "Alesha, saya izin nyentuh kamu ya."
Alesha mengangguk ragu, ingin menolak. Tapi ini permohonan dari Edgar untuk membiarkan Alka membantunya.
Alka mengambil kursi roda, perlahan ia mengangkat Alesha dari kursi mobil, mendekapnya hati-hati.
"Gimana, bisa Ka?" tanya Edgar yang duduk di kursi depan. Ia sengaja tak membantu, karena agar Alka terbiasa dengan itu.
"Aman Om," jawab Alka, ia mengacungkan jari jempolnya, sambil ngos-ngosan.
"Saya titip ya, Ka. Kalau gitu, saya pergi dulu."
Alka mengangguk sambil tersenyum. Mobil kembali melaju di jalanan pagi yang cukup ramai.
Angin pagi kembali berhembus, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Membuat rambut Alesha menutupi wajahnya.
Detak jantung Alka berdegup cepat, rasa sesak menyergap dadanya.
"Alesha, kalau lo perlu bantuan. Jangan sungkan buat minta tolong sama gue ya," kata Alka pelan.
"Hmm," jawab Alesha, suaranya nyaris tak terdengar.
Begitu tiba di koridor sekolah. Lista berlari kecil menghampiri Alka dan Alesha.
"Hai, gimana kondisi, lo? Masih ada yang sakit?" tanya Lista, ia berlutut dihadapan Alesha.
"Yaa gini, Ta. Sakitnya udah mendingan, tapi... efeknya yang belum membaik," jawab Alesa dengan nada pasrah.
Lista tersenyum lembut, lalu menepuk pelan lengannya. "Lo pasti sembuh, Aesh. Gue yakin... lo pasti bisa cepet jalan lagi."
Lista kembali berdiri. "Awas, Ka. Biar gue aja yang dorong."
"Enak aja, ini udah tugas gue," Alka menolak, ia kembali mendorong kursi roda pelan.
"Lo nggak tahu kelasnya, Alkaezar," teriak Lista, ia menepis tangan Alka.
"Yang dorong gue, lo yang ngarahin jalan," Alka mengeratkan pegangannya.
"Gue aja, Alka. Aesh nggak kenal sama, lo." Lista kembali menahan Alka.
Perdebatan kecil mereka mengundang tatapan dari beberapa murid yang lewat. Terdengar bisikan kecil oleh Alka.
"Kallista versi cowok."
"Mereka kembar atau adek, kakak?"
Alka hanya menatap mereka, lalu tersenyum menyapanya.
"Awas, Ta. Gue mau jalan ini," Alka menepis tangan Lista.
"Lo yang awas, Alka."
"Biar gue aja yang dorong, Alesha," suara seseorang kini menghentikan perdebatan kecil mereka.
"Siapa lagi, lo. Mau ikutan juga rebutin yang dorong," kata Alka, nadanya kesal.
"Gue, Jehan. Pacarnya, Alesha," balas Jehan pelan.
Alka mengangguk beberapakali. "Lo nggak pantas ada dibelakangnya, pasangan harus disampingnya." kini Alka mendorong kursi roda itu dengan sedikit lebih cepat.
"Alka, mending cowok gue aja yang dorong," kata Alesha akhirnya.
"Nggak! lo harus sama gue, karena gue harus bertanggung jawab." Alka kembali mendorong kursi roda itu dengan pelan, mengabaikan panggilan dari Lista dan Jehan.
Bagi Alka, tanggung jawab tetap harus dijalani. Tapi hatinya tak pernah benar-benar tahu. Apakah dirinya memang bersalah, atau hanya sedang menanggung dosa orang lain.
Sekolah baru, wajah baru, dan rasa bersalah yang masih menempel di dadanya. Bukan lagi sambutan Cakra atau sindiran Athar. Yang ada hanya rasa asing.
Tapi ya sudah, pikirnya. Mungkin ini jalan yang harus ia tempuh, meski kebenaran belum tentu berpihak padanya.
"Inget, Athar sama Cakra," gumamnya pelan. Tapi Lista mendengarnya.
Lista berdecak, lalu terkekeh pelan. "Lebay banget, lo. Nanti sore juga ketemu lagi."
Lista berjalan mendahului, lalu berbelok masuk ke dalam kelas.
masih ada varel yang akan di incar.
kalau gue jadi lista, bakal lompat ke luar mobil dan biarkan Felissya mati di dalamnya