Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 - Pria Sejati
...ARGO ROMANOV...
Begitu tiba di pesta pertunangan, Ricardo dan beberapa orang lain langsung menjejaliku dengan masalah. Ini harus diselesaikan, itu harus ditandatangani, dan seolah belum cukup, aku benci pesta. Aku masuk ke ruangan pertama yang kutemukan, mematikan lampu, dan mulai memikirkan cara menyelesaikan masalah yang mereka tanam di kepalaku. Saat hendak menyalakan cerutu untuk bersantai, kudengar pintu terbuka lalu tertutup.
Lalu terdengar suara manis dan lembut si Barbie itu, mengeluh sendirian.
"Bagus, aku sembunyi dari semua orang, di sini nggak akan ada yang menemukanku. Pesta membosankan, orang-orang membosankan, isinya cuma orang-orang dengan ego segede gaban."
Seharusnya aku kesal pada bocah ini. Dia menyebut kami membosankan dan egonya selangit. Aku ingin melihatnya ketakutan dan menyesali kata-katanya, jadi kunyalakan cerutu.
"Siapa kamu?" Dia menyalakan lampu, dan aku bisa melihat wajahnya yang ketakutan.
Adalberto Ferraz membesarkan putri yang luar biasa. Gaun itu menonjolkan lekuk-lekuk terindah di tubuhnya. Aku tak bisa menahan diri. Aku bangkit dan berjalan pelan menuju tubuh mungil itu, dan dia mundur dengan ketakutan. Itu membuatku gila. Aku suka melihatnya takut padaku.
Aku mendekat sedikit lagi, dan saat itu aku bisa melihat wajah cantiknya. Mata hijau, kulit cerah, beberapa bintik di pipi. Bibir merah muda seperti porselen. Kulit itu pasti halus sialan. Bibir itu sudah pernah dicium? Aku tak berhenti memikirkannya.
Calon menantu kecilku terus tergagap setiap kali aku bertanya. Aku terlalu gegabah, dan tersenyum ketika dia bilang dia perempuan dewasa. Lebih gegabah lagi waktu kubilang dia baru jadi perempuan dewasa kalau sudah ditiduri pria sejati. Apa yang ada di kepalaku? Dia terkejut, dan giliran aku yang mundur. Tapi aku tidak pernah salah menilai orang, dan aku tahu dia kurang ajar. Hal itu cuma menguatkan keyakinanku.
"Siapa pria sejati itu? Putramu?"
"Jared tidak akan pernah jadi pria." Aku duduk dan dia mendekat.
Aku memutuskan bersikap netral padanya. Gadis malang itu sudah terlalu ketakutan. Dia sendiri melihat aku lengah, lalu mengusulkan agar aku membatalkan pernikahan ini. Terlalu banyak bisnis dan uang yang terlibat. Membatalkan tidak semudah itu, kesepakatan semacam ini justru yang paling menguntungkan. Ayahnya ingin menikahkan putrinya dengan bos mafia negara lain, supaya terjalin aliansi baru dan bertambah sekutu.
Aku menganggap bocah itu lancang. Dia menatapku dan memohon agar aku membatalkan kesepakatan. Aku ingin melihatnya menderita sedikit lagi, jadi kuterima usulan konyol itu. Fiorella tersenyum bahagia, senyum yang manis. Aku goyah dan menikmati senyum itu terlalu lama. Aku bangkit dan langsung menuju panggung, dan kurasakan dia berlari mengikutiku dengan semangat.
Di depan semua orang, kubilang aku akan mempercepat pernikahan, dua bulan lebih awal dari yang disepakati. Aku memandang si mungil itu di tengah banyak orang "membosankan", seperti katanya sendiri. Si pirang itu lari sambil menangis dan hilang dari pandanganku.
"Argo, gadis itu terharu mendengar pernikahannya dimajukan." Seorang kawan sekutu naik ke panggung dan bercanda. Dia tahu gadis itu tidak mau menikah. Itu hal biasa di keluarga-keluarga kami, pernikahan yang diatur tak pernah disambut baik oleh calon mempelainya.
"Sebenarnya, Kawan, dia minta aku membatalkan kesepakatan."
Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kasihan sekali, Argo, kamu bikin gadis itu menangis." Dia tertawa. Kukira membuatnya menderita akan membuatku puas. "Kamu kasihan padanya?"
"Kasihan apanya. Aku mempercepat pernikahan karena sadar gadis itu bakal merepotkan."
"Dia harus belajar hormat, Argo. Kalau dia kehilangan rasa hormat padamu, semuanya bisa lepas kendali." Kusimpan informasi itu di kepala dan aku turun dari panggung.
"Pa, apa-apaan ini? Kita nikah sebulan lagi, Papa gila ya?" Jared memegang lengan kemejaku dan memprotes.
"Sayang, kamu yakin dia memang minta dipercepat? Dia kelihatan hancur."
"Dia akan terbiasa dengan ide ini, Loretha." Aku hendak pergi menyusulnya, tapi berhenti ketika melihat Adalberto melambai dan berjalan ke arahku.
"Bicaralah dengan ayahnya dan jelaskan kenapa kamu memajukan pernikahan, Argo. Aku yang menyusul Fiorella." Istriku menciumku lalu pergi.
...FIORELLA FERRAZ...
Aku salah. Sempat kukira pria itu akan mundur dan membatalkan kesepakatan dengan Papa. Baru beberapa jam aku di sini dan dia sudah membuat hidupku neraka. Pertama dia mengusulkan aku tinggal sendirian di negara ini tanpa Papa dan kakakku sampai hari pernikahan, dan sekarang ini! Aku akan menikah sebulan lagi?
Aku benci Argo sepenuh hati. Dia iblis berwujud manusia, brengsek sejati. Aku tidak tahu kenapa tubuhku bereaksi padanya. Argo Romanov hanya memikirkan dirinya sendiri, dan persetan dengan perasaan orang lain. Aku benci diriku sendiri karena sempat tertarik padanya. Ini tidak akan kubiarkan begitu saja. Aku akan membuat hidupnya neraka, belum tahu bagaimana caranya, tapi dia akan membayar.
"Fiorella." Aku mengangkat kepala dan melihat istri si bajingan itu mendekat. "Nak, kamu baik-baik saja?"
"Tidak, Tante Loretha." Dia duduk di sampingku dan memelukku.
"Tadi itu bohong, kamu nggak minta pernikahannya dimajukan, kan?" Aku diam. "Kamu bilang nggak mau menikah, masa sekarang mau mempercepatnya?"
"Dia bohong." Aku mengatakannya meski takut pada reaksi Loretha.
"Aku tahu itu bohong, aku kenal suamiku."
Aku mengangkat kepala dan menatapnya.
"Aku benci suami Tante, Loretha. Maaf aku bilang begini, tapi aku nggak suka Argo." Aku mulai menangis.
Dia memelukku dalam diam beberapa saat dan mengusap punggungku.
"Argo lagi sangat kesal karena beberapa masalah. Maafkan suamiku."
Loretha sangat tunduk pada suaminya. Aku mulai bisa menangkap watak masing-masing orang di keluarga ini. Putranya, Jared, kelihatannya tidak terlalu peduli pada bisnis keluarga. Aku juga bisa merasakan Argo kecewa pada anaknya. Istrinya, Loretha, tipe perempuan yang melakukan segalanya demi mereka berdua. Aku ingin mengamati setiap detail. Aku tidak mau jadi bidak catur yang digerakkan ke arah mana pun sesuka dia.
Sambil memikirkan itu, kuhapus air mataku. Aku tidak boleh terus menangis. Argo pasti sedang menertawakanku sekarang. Aku sudah berusaha supaya mereka membatalkan pernikahan ini, dan tak ada yang berhasil. Aku sempat berpikir bikin keributan di pesta ini, tapi itu cuma memperburuk keadaan. Bisa-bisa kami malah dinikahkan besok juga. Aku harus melakukan semuanya dengan hati-hati. Aku punya waktu satu bulan.
"Sudah lebih baik?" tanya Loretha ketika melihat air mataku mengering.
"Sudah, terima kasih, Loretha. Kita ke pesta lagi?" Aku berdiri.
"Tentu."
Begitu kembali ke pesta, kakakku memelukku dari belakang dan menjitak kepalaku.
"Hei, Dik. Kamu ngapain? Bikin Tuan Argo kesal?"
"Rambutku, bodoh!" protesku. "Jangan sebut nama itu."
"Kenapa?"
"Karena dia brengsek. Dia mau bikin hidupku neraka."
"Santai, Dik. Kamu baru sampai hari ini, beberapa hari lagi pasti berubah."
"Atau malah makin buruk." Kulihat Jared sedang mengobrol dengan beberapa orang.
"Jonah, aku mau bicara dengan calon suamiku. Sana, ganggu para bandit itu."
Jonah meringis dan menghilang. Aku mendekati Jared. Karena tidak ada jalan keluar, aku harus menghadapi kenyataan.
"Jared?" Dia menoleh.
"Hai, cantik." Aku benci cara bicaranya, seakan aku sepotong daging dan dia harimau gila yang ingin melahapku.
Kukira bicara dengannya akan mudah, tapi aku tidak terbiasa sedekat ini dengan laki-laki selain Jonah dan Adalberto. Dia menyadari kecanggunganku dan mendekat.
"Aku nggak gigit, cantik. Kamu kelihatan pemalu."
"Sedikit. Maaf soal caraku pergi tadi."
"Kupikir kamu bakal suka waktu kupanggil... kata itu. Biasanya cewek-cewek suka."
"Aku cuma belum terbiasa." Dia mengambil minuman dari pelayan yang lewat dan menyodorkannya padaku. "Aku juga belum biasa minum."
"Kamu sudah 18 tahun, kan?" Aku mengangguk. "Sudah saatnya mencoba hal-hal baru." Jared memegang tanganku dan menarikku ke sebuah meja. Dia mengambil kursi dan duduk berhadapan denganku. "Kamu pasti benci ayahku, kan?"
"Mau aku jawab jujur?"
"Nggak usah, kalau jadi kamu, aku juga benci." Dia tersenyum, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. Senyum Jared bagus. Dia mencondongkan badan, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tak tahu harus bagaimana, kuhabiskan seluruh sampanye dalam sekali teguk. "Tenang dulu! Kamu bisa pusing begitu. Minuman ini diminum pelan-pelan, buat dinikmati." Dia mengambil gelas kosongku dan menaruhnya di meja. "Kamu cewek tercantik yang pernah kulihat, Fiorella."
Aku tersanjung, jantungku agak berdebar, mungkin karena malu. Tapi tubuhku tidak bereaksi seperti waktu di ruangan bersama Argo. Tidak ada kupu-kupu di perut, tidak ada api di antara kedua kakiku. Aku sedih karenanya. Kalau saja aku bisa merasakan pada Jared apa yang kurasakan pada ayahnya. Semuanya akan mudah kalau aku jatuh cinta pada tunanganku.
Aku menoleh ke samping, dan mataku bertemu mata cokelat Argo. Dadaku tersentak, perasaan yang aneh. Dia sedang minum bersama tiga pria lain sambil memandangi kami berdua. Seperti biasa, dia marah, rahangnya mengeras dan ada kerutan di antara alisnya. Dia kembali jadi pitbull galak itu. Tanganku mulai gemetar di bawah tatapannya pada kami. Aku ingin tahu apa yang terlintas di kepala bodoh Tuan Argo itu.