Sequel SALAH NIKAH
Rico menikahi Layyana karena sebuah dendam.
Demi menuntaskan dendam yang sudah lama dia pendam, Riko rela menghabiskan sisa umurnya bersama wanita yang dia benci. Tujuannya satu, membalaskan dendam.
Layyana yang notabene adalah wanita kaya raya dan berpendidikan tinggi, selalu berpenampilan sederhana demi mencari cinta sejati yang mendekatinya bukan karena materi, melainkan karena cinta yang tulus. Sayangnya pria yang mengucap ijab qobul di sisinya pada hari pernikahan bukanlah Rendi, tapi sosok pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Sahabat
Usai mandi, Rico membuka pintu kamar tepat saat aku memasang pakaian. Pria itu terdiam setelah menutup pintu, mengawasiku.
Aku menoleh ke arahnya sambil melempar senyum. “Kebetulan kamu masuk. Bisa bantuin nggak?”
Rico mengangkat alis saja.
“Ini loh, sulit sekali!” Aku mengarahkan telunjuk ke punggung, menunjukkan resleting yang baru separuh kunaikkan.
Rico melangkah mendekatiku. Lalu memegang resleting dan mulai menaikkan. Kulit tangan pria itu sempat bersentuhan dengan kulit punggungku, membuatku meremang. Bukan karena ingin sesuatu yang lebih, tapi lebih kepada rasa cemas.
Aku balik badan lalu menatap wajah pria itu dengan seulas senyum. Kukalungkan lenganku ke leher Rico.
Pria itu menatap wajahku yang terlihat segar setelah mandi. Dia mendekatkan tubuhnya kepadaku. Meletakkan kedua telapak tangannya ke meja belakangku. Kami bertatapan sangat dekat sekali.
“Kau wangi sekali,” ucap Rico sambil mencium singkat kepalaku yang tanpa hijab.
Aku hanya tersenyum simpul.
“Rico!”
“Hm.” Rico menatapku lekat sambil mendaratkan kecupan singkat ke pipiku.
“Kecelakaan tadi mengerikan sekali.”
“O ya? Aku tidak lihat dari dekat.”
“Sepertinya kecelakaan itu proses yang disengaja.”
Rico memberi jarak pandang. Dahinya mengernyit. “Ngarang! Tahu dari mana?”
“Kelihatannya pelakunya ingin menabrak pejalan kaki itu dengan sengaja, sampai akhirnya malah terjadi tabrakan beruntun,” jawabku antusias.
“Itu urusan mereka.”
“Tapi entahlah. Peristiwa itu sedang diusut polisi. Aku sedikit trauma dengan hal-hal begini. Sebab orang terdekatku pernah mengalami hal serupa. Inilah yang pernah terjadi pada sahabatku. Sahabatku yang cantik itu pernah naik mobil bersama pacarnya. Tiba-tiba pacarnya itu dengan sengaja menabrakkan mobil ke pejalan kaki. Akibat hantaman keras antara mobil dan korban, serta gerakan mobil yang mengerem mendadak, membuat sahabatku yang duduk di sisi kemudi pun terluka dan pingsan. Tahukah kamu apa yang terjadi setelah itu?” Aku mengelus caruk leher Rico.
Rico menaikkan alis.
“Sahabatku ini saat tersadar sudah duduk di bagian kemudi. Ada orang menggedor-gedor kaca mobilnya. Sementara pacarnya sudah pergi entah kemana. Semenjak itu, dia dituduh sebagai pelaku penabrakan itu,” lanjutku. “Menurutmu apa yang telah terjadi dengan sahabatku itu?”
“Dia difitnah.”
“Yaps, aku setuju. Tapi siapa yang akan percaya kepadanya sedangkan semua bukti mengarah kepadanya. Dan jelas-jelas mobil yang digunakan juga mobil miliknya, dia juga duduk di bagian kemudi. Semua orang melihatnya sendiri di mobil itu. bahkan anak kecil pun akan menuduh dialah pelakunya. Semua mata yang memandang tentu menganggapnya adalah pembunuh. Tidak ada satu pun bukti yang menerangkan kalau dia tidak bersalah. Ini benar-benar mengerikan. Dia di dalam tahanan sekarang. Dia mengalami trauma psiskis. Kasihan sekali.”
Rico terdiam.
“Aku turut merasakan apa yang sahabatku rasakan. Lalu, apakah kau akan percaya kepadanya jika dia mengatakan kejadian yangs esungguhnya? Memang, dia hanya berbekal lidah untuk mengatakan kejadian yang sebenarnya. Dia tidak memiliki bukti apa pun,” lanjutku.
“Sulit. Tapi bisa jadi aku juga akan mempercayainya.”
“Aku berada di posisi sahabatku sekarang. Aku sama sekali tidak percaya dengan semua bukti yang ada. Sebab aku sangat mengenal sahabatku, dia wanita salihah yang aku percaya mulai dari lidah, mulut, mata bahkan aliran darahnya tidak sedikit pun mengalir sesuatu yang haram. Dia menjaga dirinya dari kenistaan dan selalu menjadikan dirinya taat pada agamanya. Dia ingin menjadi bidadari surga. Ah, entahlah. Aku terlalu larut setiap kali mengisahkan kehidupannya yang runyam. Mungkin, hanya keajaiban Allah-lah yang akan bisa membukakan mata hati manusia bahwa dia tidak bersalah. Aku percaya kekuatan Allah.”
TBC
selamat berkarya semoga sukses mencerdaskan anak2 bangsa melalui tulisan
bahaya niih