Surinala Maharani atau biasa dipanggil Nala. Dia seorang gadis yatim piatu, dan hanya tinggal bersama bibinya.Kehidupannya yang berat membuat dia harus bekerja banting tulang.
Pertemuan tidak disengaja Nala dengan pria bernama Akira membuatnya harus menurut pada pria itu karena hal berharga Nala telah diambil secara tidak sengaja pula oleh Akira.
Akira berjanji akan bertanggung jawab dan menikah Nala, tapi Nala tidak tau jika semua itu adalah suatu rencana besar yang sedang Akira jalankan, dan mirisnya, dia membawa Nala dalam rencananya itu.
Nala yang mengetahui rencana Akira memilih menjauhi pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nala memilih pergi dari kehidupan Akira dan dia pergi dengan membawa buah cintanya dengan Akira yang tidak Akira ketahui.
Akankah Akira menyesal sudah membuat wanita yang mencintainya pergi? Dan bagaimana reaksinya saat tau wanita yang sudah dia nikahi itu pergi dengan membawa calon bayinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Hari ini?
Tidak lama pengantar makanan pun datang dan Nala membukakan pintunya. "Terima kasih, Ya." Nala membawa masuk dan menyiapkan piring dan alat makan lainnya dia atas meja makan, tidak lama turunlah pria yang menjadi suaminya itu.
Nala sempat tercengang dengan penampilan suaminya malam ini, dia terlihat sangat tampan menurut Nala. Kaos lengan panjang berwarna hitam dengan celana panjang bahan katun berwarna cream dan mukanya itu benar-benar sangat meneduhkan walaupun terkesan dingin.
"Sudah datang makanan pesana kita?" Dia membetulkan jam di tangannya.
"Iya, sudah datang. Ayo kita makan, aku sudah lapar," ajak Nala.
Mereka duduk di satu meja makan dan mereka makan malam bersama. Mereka berdua menikmati makan malam itu dengan hangat. Nala sesekali menyuapi Akira, dan Akira juga yang sebenarnya tidak biasa akan hal itu, dia menurut saja membuka mulutnya karena melihat wajah polos Nala.
"Malam ini menginap saja di sini."
Uhuk ... uhuk ...
Tiba-tiba Nala terbatuk, Akira mengambilkan dia minum dan memberikan pada Nala. "Hati-hati kalau minum. Kenapa kamu terkejut seperti itu? aku hanya ingin kamu menginap di sini, kamu istriku dan setidaknya kita bisa bersikap sebagai selayaknya suami istri," ucap Akira lembut.
"Tapi pernikahan kita kan diam-diam, dan bibiku tidak tau, bagaimana aku menjelaskan pada bibiku kalau aku tidak pulang, dan besok aku harus bekerja." Nala meminum air dari gelasnya lagi pelan-pelan sambil melirik Akira yang masih dengan muka santainya.
"Kamu hubungi sahabat kamu, Rara. Minta tolong sama Rara untuk menghubungi bibi kamu, dan mengatakan kamu menginap di rumahnya, dan untuk baju seragam yang nanti akan kamu buat bekerja, aku sudah menyiapkan di lemari bajuku, kamu waktu itu meninggalkan baju seragam kamu di sini."
Nala benar-benar tidak tau dia harus mencari alasan apalagi, apakah memang hari ini dia seharusnya melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Lagi."
"Tapi--."
"Hubungi Rara sekarang, Nala," ucapan Akira terdengar tegas.
Nala akhrinya mengangguk dan mengambil ponselnya, dia menghubungi sahabatnya itu. Nala menunggu panggilannya dijawab oleh Rara, dan Nala berharap tidak dijawab. Wkakakak! dasar Nala.
"Halo, ada apa?" Suara tanya Rara terdengar malas.
"Rara, kamu sudah tidur? ini jam berapa, kamu kok sudah tidur?" tanya Nala kesal, temannya ini memang selain hobi makan, dia juga hobi molor.
"Aku capek, tadi habis dari kampus, diajak anak-anak makan dan akhirnya aku ngantuk. Memangnya ada apa, Nala?"
"Ra, apa aku boleh minta bantuan kamu?" tanya Nala sambil melirik Akira yang tengah memperhatikan Nala.
"Bantuan apa? aku ngantuk, maaf tidak bisa menjemput kamu pulang kerja, kamu minta saja dijemput sama sopir pribadi suami kamu si tampan itu."
"Aku bukan minta tolong kamu jemput, aku minta tolong kamu hubungi bibi aku dan katakan kalau malam ini aku tidak pulang karena menginap di rumah kamu."
"Memangnya kamu mau menginap di sini?"
"Aku minta tolong kamu berbohong karena aku malam ini mau menginap di apartemen suami aku-- Akira," ucap Nala lirih.
"Apa?!" Mata Rara yang tadinya merem melek karena ngantuk, langsung terbuka lebar. Rara juga sampai terjingkat duduk mendengar ucapan Nala. "Kamu menginap di apartemen Akira? berdua saja, kalian bakal tidur bersama, melakukan hal itu?" cerocos Rara.
"Aku tidak tau, yang jelas Akira memintaku menginap di sini malam ini," ucapnya malu sebenarnya.
"Eh! tapi kalian tidak salah, kalian kan sudah menikah, jadi wajar lah melakukan hal itu, ya sudah aku akan bantu, aku juga berharap bisa segera punya ponakan yang lucu dari kamu," ucap Rara ngasal ini.
Nala mendelik mendengar keinginan Rara. Apa-apaan Rara ini? malah mendoakan aku punya anak sama Akira.
lanjuut
lanjuutt