Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Nama yang Tidak Ada di Kartu Keluarga
Tiga hari setelah operasi, Keira sudah bisa duduk tanpa pusing hebat.
Kevin datang membawa sup, vitamin yang telah disetujui Ryan, dan satu kotak sarang burung yang sempat diperebutkannya dengan Edmond.
"Tante Mira bilang kamu belum banyak makan," katanya.
Keira tidak menyentuh kotak itu. "Taruh di meja."
Kevin meletakkan semuanya dalam jangkauan tangan kanan. Ia tidak membuka wadah, tidak menyuapi, dan tidak meminta ucapan terima kasih.
"Dokter bilang kamu bisa keluar dua hari lagi."
"Aku tahu."
"Aku sudah meminta perawat di rumah."
"Batalkan."
"Kei..."
"Aku tidak mau orang pilihan keluarga Pratama berada di dekat obatku."
Kevin terdiam. Setelah ginjal yang dicuri dan jus yang diberi obat, kecurigaan itu tidak berlebihan.
Sebelum pulang, seorang perawat menyerahkan map medis tertutup langsung kepada Keira. Kevin mengulurkan tangan untuk membawanya, tetapi Keira memasukkan map itu ke tas sendiri.
"Dokumen ini milikku."
"Aku cuma mau membantu."
"Kalau begitu bantu dengan tidak membacanya tanpa izin."
Perawat memberikan formulir daftar kontak. Keira menulis nama Tante Mira dan Amanda sebagai orang yang boleh menerima informasi. Pada kolom keluarga Pratama, ia memberi tanda silang.
Kevin melihatnya. "Namaku juga tidak boleh?"
"Tidak sampai aku memutuskan sebaliknya."
Ia berharap Kevin membantah atau memakai hubungan darah seperti Edmond. Namun Kevin hanya meminta perawat menjelaskan jadwal kontrol langsung kepada Keira, lalu mundur.
"Baik," katanya. "Aku akan menunggu di luar kalau kamu membutuhkan kendaraan."
Keira tidak berterima kasih. Namun untuk pertama kalinya, Kevin menerima batas tanpa mengubahnya menjadi ancaman.
Dua hari kemudian, Keira kembali ke Pondok Indah untuk menyelesaikan urusan perjodohan dan mengambil semua dokumen. Amanda ingin menemani, tetapi Keira meminta dia menunggu panggilan. Kali ini ia ingin seluruh keluarga mendengar langsung.
Yolanda sudah menyiapkan rapat di ruang keluarga.
"Pihak Hartono menyetujui pertemuan awal," katanya. "Kalau kamu mengikuti semua jadwal, dua miliar itu akan diberikan penuh. Tante Mira aman. Amanda juga tidak akan diganggu."
Keira membuka tas kain dan mencari kartu hitam.
Tidak ada.
Ia memandang Yolanda. "Kartunya diambil."
"Hanya disimpan sementara," jawab Yolanda cepat. "Jumlah sebesar itu perlu pengawasan sampai kesepakatan resmi."
"Jadi kalian berbohong lagi."
"Jangan bicara kasar kepada ibumu," kata Edmond.
Keira duduk perlahan. Bekas operasi di kepala masih berdenyut kalau ia bergerak terlalu cepat.
"Coba cek Kartu Keluarga kalian," katanya. "Nama `Keira Pratama` tidak pernah ada di sana."
Yolanda mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Kalian tidak pernah mendaftarkanku setelah membawaku pulang dari panti asuhan."
Kevin menatap ayahnya. "Itu tidak mungkin."
Edmond berdiri dan menuju lemari dokumen. Ia mengambil map plastik berisi KK keluarga Pratama, lalu membukanya di atas meja.
Nama Edmond Pratama tercantum sebagai kepala keluarga. Yolanda. Kevin. Vanessa.
Tidak ada Keira.
Di sudut bawah tercatat dua pembaruan. Nama Vanessa diperbarui setelah pergantian alamat keluarga. Status Kevin diperbarui ketika ia memiliki identitas dewasa. Pada kedua kesempatan itu, kolom jumlah anggota keluarga tetap empat.
Keira bukan terlupakan sekali. Ia dilewati berulang kali.
Kevin membaca ulang dari atas sampai bawah. "Kenapa namanya tidak ada?"
"Pasti ada kesalahan administrasi," kata Yolanda.
"Kesalahan selama delapan tahun?" Keira bertanya. "Vanessa tercatat sebagai anak. Aku bahkan tidak tercatat sebagai penghuni rumah."
"Kita bisa mendaftarkanmu minggu ini," kata Edmond. "Masalahnya selesai."
"Tidak. Mendaftarkanku sekarang hanya karena Hartono membutuhkan nama putri Pratama bukan perbaikan. Itu pemalsuan niat dengan stempel baru."
Kevin membuka halaman riwayat dan melihat tanda tangan Edmond pada setiap pembaruan. Tidak ada petugas administrasi yang bekerja sendiri. Kepala keluarga selalu menyetujui data akhir.
"Papa tahu," katanya pelan. "Setiap kali KK ini diperbarui, Papa tahu Kei tidak ada."
Edmond merebut map dari tangannya. "Jangan mengubah kelalaian administratif menjadi drama."
"Delapan tahun bukan kelalaian," jawab Kevin.
Edmond menutup map. "Kertas ini tidak mengubah darahmu. Kamu tetap anak kami."
"Ketika aku butuh sekolah, kamar, kunjungan, atau perlindungan, kalian memakai kertas itu untuk bilang aku bukan keluarga. Sekarang kalian ingin memakai darah untuk mengatur pernikahanku."
Vanessa yang duduk di dekat Yolanda memeluk lengannya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia melihat namanya di KK bukan hanya sebagai hak, tetapi bukti bahwa Keira sengaja dihapus.
"Secara hukum, aku bukan anggota keluarga Pratama," lanjut Keira. "Kalian tidak berhak mengatur hidupku."
Kevin menekan telapak ke meja. "Kei benar. Pertemuan ini harus dibatalkan sampai identitasnya diperbaiki dan dia punya penasihat hukum sendiri."
"Tidak perlu," kata Keira.
Semua orang menoleh.
"Aku tetap setuju pada perjodohan ini. Bukan untuk kalian, untuk diriku sendiri."
Edmond menyipitkan mata. "Apa yang kamu rencanakan?"
"Sesuatu yang bukan urusan kalian."
Hartono Group memiliki kekuatan untuk membuat Pratama Group berhenti menyentuh hidupnya. Jika rumor Amanda benar dan Rayhan berbeda dari cerita Edmond, pertemuan itu mungkin menjadi pintu yang selama ini tidak pernah dimiliki Keira.
Kalaupun Rayhan seburuk rumor, Keira akan menolak setelah melihat sendiri. Persetujuan untuk bertemu bukan persetujuan untuk menikah.
"Aku datang ke pertemuan," katanya. "Tapi semua keputusan setelah itu milikku. Tante Mira dan Amanda tetap tidak boleh disentuh."
Yolanda cepat mengangguk. Edmond tidak punya pilihan selain menerima di depan Kevin.
Rapat selesai.
Malamnya, Kevin tidak bisa tidur. Empat nama di KK terus bergerak di kepalanya. Ia turun ke lorong belakang dan membuka pintu gudang.
Ruangan itu sudah hampir kosong. Keira membawa pakaian dan obat, tetapi meja tua masih menyimpan kotak logam yang dulu terkunci. Tutupnya kini terbuka karena gembok rusak ketika kotak itu terjatuh pada malam Keira kehilangan kelingking.
Kevin berjongkok dan mengangkat setumpuk buku dari dalam. Di bawahnya ada amplop cokelat yang diikat tali, terlalu tebal untuk satu atau dua lembar.
Ia membuka simpulnya.
Piagam pertama berasal dari sekolah dasar di Bogor. Peringkat satu.
Piagam berikutnya dari sekolah menengah. Matematika. Sains. Debat. Nama Keira Pratama tercetak berulang-ulang sampai dua belas tahun pendidikan tersusun di lantai gudang.
Sebagian piagam masih berada dalam map plastik murah. Pada kolom tanda tangan wali, ada yang kosong. Ada pula yang ditandatangani pengurus panti asuhan, bahkan setelah Keira tinggal di Pondok Indah. Tidak satu pun memuat nama Edmond, Yolanda, atau Kevin sebagai orang yang hadir.
Tanggal-tanggal itu membuktikan pencapaian tersebut tidak pernah berhenti, hanya tidak pernah dilihat keluarga Pratama.
Di bagian paling bawah ada amplop berlogo Universitas Indonesia.
Kevin menarik surat di dalamnya. `Selamat. Anda diterima...`
Tangannya mulai gemetar.
Sebuah buku harian tipis jatuh dari antara piagam dan terbuka pada halaman pertama.
Tulisan tangan Keira memenuhi baris paling atas.
`Hari ini Ko Kevin bilang aku tidak boleh mengganggu Van.`