Memiliki sebuah penyakit yang sangat menakutkan, bahkan tidak ada yang bisa membuat penyembuh atau obatnya sekalipun. Pengidap hanya bisa pasrah merasakan rasa sakit hingga kematian menjemput dirinya, seorang remaja bernama Ryan memiliki penyakit itu dan sekarang hidupnya tidak memiliki tujuan.
ditambah dengan keberadaan organisasi Belati Putih yang memburu orang seperti dirinya, dan lelaki ini akan menjadi kunci untuk membebaskan dunia dari serangan zombi. atau bisa sebaliknya...
catatan : cerita ini tidak nyata hanya fiksi belaka, jadi mohon pada pembaca untuk tidak terlalu serius :] makasih... serius gak nyata \°-°\
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Rani
Pasukan atau grup Fauzan menggiring mereka ke hutan sambil memperhatikan keadaan kota, mereka tahu kalau cairan itu sudah disimpan dalam kota entah dimana. Lokasinya acak, hanya saja Fauzan mengharapkan kalau nantinya pasukan musuh tahu tempat keberadaannya. Entah apa yang akan dilakukan musuh, dan siapa musuh ini.
Melihat situasinya Fauzan tahu kalau cairan itu akan dibuat jadi gas, diluapkan menjadi asap menyebarkannya ke seluruh kota. Cairan itu membuat orang hidup jadi mahkluk gila, alias mayat hidup yang sangat ditakuti. Semua orang yang tahu ini akan menjaga rahasia ini, sampai mereka tahu apa yang diinginkan penguasa negara ini.
Fauzan bicara pada Adly via Earbuds di telinganya, "Ini hanya sebuah pengalihan saja, mereka ingin agar kami mengurus musuh dengan menangkap hingga membunuh mereka."
"Tapi.. bukannya hal ini agak aneh."
"Apa yang aneh ?"
"Cairan itu hanya ditempatkan pada kota ini saja, kalau mengendalikan mereka semua pasti susah bukan ? Penguasa negara berada di luar kota saat ini, tidak mungkin bisa mengendalikan mereka dalam jarak yang sangat jauh."
"Bisa saja bawahannya atau gas itu takkan membuat seseorang jadi zombi dalam waktu dekat."
"Memang benar sih ya," jawan Adly sambil tersenyum. Dia tidak terkejut lagi dengan pemikiran Fauzan yang cepat dalam mengambil langkah, mereka rekan yang cukup ahli dalam peperangan begini. Walau Adly tahu kalau gelar mereka direndahkan bahkan tidak terlalu dipikirkan oleh banyak orang, unit pembantai hanya digunakan sebagai senjata semata.
Manusia tetap manusia, mereka tetap saja manusia yang memiliki hati. Setiap orang yang dibunuh dengan tangannya sendiri itu tidak hanya mengotori tangan saja, dari hati hingga pikiran juga ikut serta. Walau seperti itu mereka tetap bertahan, demi negara dan semua orang yang dikasihi akan tetap berdiri apapun yang terjadi.
"Tetap merasakan sakit dan bisa terus melangkah maju, itulah kita ingat itu!" Kata Fauzan memberikan motivasi pada rekannya. Semua mendengarkan apa yang dikatakan Fauzan kecuali Adly, dia sudah tahu dan bosan mendengarnya karena intinya itu saja. Tetap berjuang hingga memang.
"Kita takkan bi--"
"Intinya adalah... Buat tubuh musuh hancur berkeping-keping! 1 2 3.. bantai!"
"Oooh... Siap!!" Teriak bawahan mereka. Fauzan hanya memelas saja mendengar melakukan temannya yang tidak berubah sama sekali, dia menghembuskan napasnya sambil melihat ke langit sampai kapan hal ini akan terus berlanjut. Entah siapa yang akan mati terlebih dahulu, dia juga tidak mengetahuinya. Tapi, kalau ini berakhir dengan cepat ingin sekali berkumpul dan bersenang-senang bersama mereka bersama.
***
Sudah berapa hari setelah kejadian itu membuat Adly dan yang lainnya berlibur, mereka sedang tidur di bawah pohon. Sedangkan yang lainnya bermain bola voli di pantai, mereka terlihat senang begitu juga Alia yang sedang memancing tanpa pancingan melainkan senapan. Sarah tidak habis pikir dengan kelakukan anak itu.
Zian bersama Sarah hanya terdiam depan lautan memandangi samudra biru itu, mereka menguap merasakan kantuk. Sekitar mereka orang-orang dari Belati Putih, tanpa pikir panjang Rani langsung menyewa pantai ini untuk liburan. Banyak dari anggota lebih memilihnya sebagai atasan, karena atasan sebelumnya jarang memberikan liburan.
Anak itu menarik tali kail dan Alia berteriak, "ayahh..!!"
"Dia lagi ngapain ?" Tanya Fauzan pada Sarah. Dia menghembuskan napasnya, kemudian muncul ayahnya datang dari langit menghempaskan dirinya ke dalam air. Cipratan air tercipta begitu besar, Alia kaget dengan kemunculan ayahnya. Hanya saja saat itu juga Adly sangat kaget dengan apa yang didapatkan anaknya, memancing ikan dengan nama ikan skorpion.
Ikan skorpion memiliki panjang 12cm, dengan warna belang-belang coklat tua dan coklat muda bersirip lebar, sirip dada berkembang seperti kipas hias, sirip punggung berubah bentuk jadi serangkaian duri yang panjang dan tegak.
Adly menyeretnya ke pantai, semua orang sadar dan mendatanginya melihat kalau harusnya takkan bisa dipancing. Adly bertanya pada anaknya, ".. kamu pakai apa buat nangkap ini ?"
"Aku pakai platinum crown ayah sama grappling hook ayah.."
"... Rusak dong,.. hahh tidak apa lah."
"Hei Adly, apa yang harus kita apakan dengan ikan ini ? Mau dijual apa boleh ?"
"Ini ikan yang dilindungi atau tidak sih ?" Tanya Zaky sambil memperhatikan ikan ini. Alia hendak mengambil dengan tangannya tapi, Widya menghentikannya karena ada duri pada tubuhnya. Karena itu tidak penting lelaki itu ingin mengembalikannya ke laut, tapi Alia menolak memintanya untuk dipelihara.
Sebagai ayah dia tidak ingin anaknya merawat hal berbahaya, terlebih lagi Alia sering meniru kelakuannya. Saat menoleh pada Widya, dia mengangguk mengiyakan permintaan Alia membuatnya senang.
Widya menghampiri Rani menepuk pundaknya, "apa kami boleh membawanya pulang ?"
"Boleh, aku akan meminta izin dulu pada seseorang."
"Izin ?"
"Pemilik pantai ini, katanya seluruh ikan dan hewan yang berada di wilayah ini miliknya."
"Aku gak paham," jawab Widya sambil tersenyum masam. Anak itu tersenyum sambil melihat ikan itu, ayahnya hanya terdiam menatap beberapa ikan yang sedang meronta-ronta tidak lama dia sadar.
Adly menaikan alisnya, "ikan hidup di air kan ?"
"..."
"Ayah! Bawa apa gitu buat mereka!"
"Widya.. plastik.."
"Ada duri."
"Kotak bekal kita."
"Bekalnya belum dimakan."
"Topi milikku."
"Kau gila ? Itu kain bukan untuk air."
"Daun saja."
"Duri..."
"Repot amat sih!" Ujar Adly sambil terlihat jengkel. Dia mengeluarkan kubus berbentuk seperti rubik, kemudian rubik itu berputar mengubah dirinya menjadi sebuah mangkuk dan membesar. Alia mengambil mangkuk itu dan meletakan 5 ikan itu, dia terlihat senang saat menatapnya.
Widya memperhatikan bajunya Adly yang sudah basah kuyup tapi Sarah menarik tangan kakaknya, dia terlihat lemah lesu. Seketika Fauzan datang dengan cepat, butiran pasir terbang karena lelaki itu.
Sarah menunjuk Fauzan sambil terlihat lesu, "dia selingkuh lagi...!"
"Ini masalah kalian kenapa kamu bicara pada kakak, dan ya apa itu benar ?"
"Tidak! Dia salah paham, itu hanya mantan pacarku!"
"Tuh kan!"
"Kalian urus masalah kalian sendiri," jawab Widya sambil menarik tangan Fauzan dan memberikan tangannya Sarah. Gadis itu cemberut sambil menatap lelakinya, Fauzan hanya tidak bisa mengatakan apapun selain meminta maaf pada pacarnya ini sekarang.
Setelahnya Rani menghela napas kalau kejadian hari ini ada-ada saja, tapi cukup bagus juga karena kemarin hari Adly dan Fauzan memberikan berita yang cukup menegangkan. Sekarang bisa membuat mereka semua melupakannya ingin sejenak, karena sudah cukup untuk melihat ikannya Rani membubarkan kerumunan orang ini.
Semua orang bubar dari tempat mereka, hanya saja saat melihat Adly yang menatap ikan yang sedang berputar itu bersama anaknya. Widya teringat saat kejadian mereka bermain game bersama, dia harap takkan mereka menusuknya dengan garpu atau apapun.
Besoknya... Karena kesal Adly membakar salah satu ikan itu, Alia mengamuk karena ayahnya. Kini karena kesal dan marah Alia tidak memperbolehkan ayahnya untuk tidur di dalam, begitu juga Widya karena lelaki itu menyimpannya di meja makan. Untungnya dia tahu kalau itu ikan yang tidak layak dikonsumsi, walau hanya perkiraannya saja. Namun, bukannya apapun Adly malah senang karena tidak selamat dengan gadis itu.
ya author punya pemberitahuan.
saya punya karya berjudul "Pelahap Tangisan" yang ditulis dengan kemampuan maksimal. namun, saya membutuhkan kritik dan saran. bisakah kalian membaca novel itu? saya mohon.. :')