ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 5: Pesta Topeng dan Bayangan Masa Lalu.
Pagi hari setelah demamnya turun, Sania terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik. Namun, keanehan Alaska Ravendra semalam meninggalkan bekas yang nyata. Genggaman tangan yang ia kira hanya mimpi buruk, ternyata benar-benar terjadi. Tangan Sania yang hangat berada dalam genggaman dingin suaminya.
Saat Alaska bangun dan melihat Sania sudah terjaga, pria itu langsung menarik tangannya, seolah jijik telah melakukan tindakan selembut itu.
"Sudah sembuh?" tanya Alaska datar, suaranya kembali ke nada memerintah yang biasa.
"Alhamdulillah, sudah membaik, Tuan," jawab Sania.
"Bagus. Karena mulai hari ini, kau tidak boleh jatuh sakit lagi," perintah Alaska. "Aku tidak suka ada hal yang tidak bisa kukontrol di rumah ini. Pergi ke dapur, buatkan aku kopi, dan makan yang banyak!"
Tidak ada ucapan terima kasih atas kesembuhan Sania, apalagi permintaan maaf atas paksaan yang merusak mentalnya. Namun, Sania hanya mengangguk patuh. Istidraj—nikmat yang diberikan oleh Allah padahal hamba-Nya jauh dari ketaatan—terlintas di benaknya saat melihat wajah angkuh Alaska. Ia berdoa agar Alaska segera diberi hidayah.
Tiga hari berlalu. Sania sudah kembali pada rutinitasnya, sholat, mengurus rumah yang sebenarnya sudah diurus puluhan pelayan, dan membaca Al-Quran. Alaska sendiri tampak kembali disibukkan oleh urusan Black Vipers.
Sore itu, Alaska masuk ke kamar dengan wajah serius. Ia melemparkan sebuah tas belanjaan mewah ke atas sofa.
"Malam ini ada acara penting. Pesta lelang amal Black Vipers," kata Alaska, sambil membuka cufflink di pergelangan tangannya. "Kau harus ikut."
Sania terkejut. "Aku? Tapi... Aku tidak punya pakaian yang pantas untuk pesta Anda."
"Jangan khawatir," Alaska menyeringai sinis. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Kau harus tampil sebagai Nyonya Ravendra. Mewah, tapi tertutup. Itu permintaan unikmu, dan aku akan memenuhinya."
Tak lama kemudian, seorang penata busana ternama datang. Dia terkejut melihat Sania. Menata wanita bercadar untuk acara sosialita adalah tantangan terbesar dalam kariernya.
"Bagaimana mungkin, Tuan? Aku harus menutupi keindahan ini?" bisik si penata busana histeris, menunjuk Sania yang hanya terlihat matanya.
"Kau dibayar untuk mendandani, bukan mengkritik," potong Alaska dingin. "Buat dia terlihat elegan. Aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya, tapi tidak ada satu pun jengkal kulitnya yang boleh terlihat selain dari pergelangan tangan dan matanya."
Setelah berjam-jam, Sania akhirnya siap. Ia mengenakan gaun panjang berbahan silk tebal berwarna emerald green yang didesain khusus agar jatuh longgar dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh, dilapisi khimar chiffon panjang dengan bordiran emas yang halus, dan tentu saja, cadar hitam yang tak pernah absen. Ia terlihat seperti ratu dari timur tengah, misterius, berwibawa, dan mahal.
Alaska menatap Sania di cermin. Ada pancaran kekaguman yang samar di matanya.
"Ternyata, kain penutup itu justru membuatmu terlihat lebih... eksotis," gumam Alaska.
"Kain ini hanya melindungi, Tuan. Bukan dimaksudkan untuk eksotis," Sania membalas pelan.
"Terserah." Alaska menghentikan perdebatan itu. "Satu hal yang perlu kau ingat, Jangan pernah lepaskan cadarmu di sana. Aku tidak mau ada mata-mata bisnis yang tahu seperti apa rupa istriku. Kau adalah kartu as-ku."
Balai lelang yang diadakan di salah satu hotel bintang tujuh itu gemerlap. Musik, tawa, dan aroma parfum mahal bercampur dengan bau minuman keras. Alaska menggandeng Sania—kali ini tangannya tidak mencengkeram kasar, melainkan menggenggam erat pergelangan tangannya, seolah ia benar-benar takut Sania akan hilang di tengah keramaian.
Seketika, kehadiran Alaska dan istrinya menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju pada Sania yang berjalan anggun di samping sang mafia, seperti bulan yang diselimuti kabut di antara bintang-bintang yang telanjang.
Desas-desus pun menyebar cepat. Siapa wanita misterius itu? Alaska menikahi seorang niqabis?
Di tengah keramaian, Sania merasakan hawa dingin yang menusuk. Ia menundukkan pandangannya. Namun, tiba-tiba langkah mereka terhenti.
"Alaska! Darling!"
Seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala, berpotongan dada rendah dan perhiasan berkilauan, datang menghampiri. Dia memeluk Alaska manja, lalu menatap Sania dengan tatapan merendahkan.
"Siapa ini? Bodyguard barumu?" tanyanya sinis.
Dia adalah Luna, model sekaligus social climber yang pernah sangat dekat dengan Alaska beberapa bulan lalu.
"Dia istriku, Luna," jawab Alaska dingin, tangannya yang bebas memeluk pinggang Sania, menariknya mendekat sebagai penekanan.
Mata Luna membelalak, kemudian ia tertawa renyah.
"Oh, ini dia! Si istri yang wajahnya hanya bisa dinikmati oleh dinding kamar! Kau pasti bosan, Alaska. Menikahi wanita yang bahkan tidak bisa kau pamerkan kecantikannya di publik."
Luna melangkah mendekat ke Sania, suaranya meremehkan.
"Lihat kami, Nyonya. Aku cantik, terbuka, dan diakui. Sementara kau? Kau hanya sebuah bayangan yang disembunyikan. Kau pasti iri melihat wanita sepertiku bebas."
Sania mengangkat wajahnya. Matanya yang terlihat di balik cadar itu menatap Luna dengan sorot yang lembut, namun setajam pisau.
"Terima kasih atas pujian dan sindiran Anda, Nona Luna," kata Sania, suaranya tenang dan berwibawa. "Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.' (HR. Muslim)."
Sania melanjutkan, nadanya kini mengandung kata sindiran yang menusuk.
"Saya tidak pernah merasa iri, Nona. Sebab, pakaian yang mulia adalah pakaian takwa. Saya lebih memilih pandangan ridho dari Tuhan saya daripada decak kagum dari manusia yang sementara. Anda mungkin bebas di dunia ini, tapi saya memilih kebebasan sejati dari hisab di akhirat."
Wajah Luna memerah padam. Ia tidak menyangka wanita bercadar itu mampu membalas dengan kata-kata yang begitu menampar dan berbobot. Semua orang di sekitar mereka, termasuk beberapa rekan bisnis Alaska, terdiam, terkesan.
"Kau..." Luna kehabisan kata-kata.
Tiba-tiba, Alaska tertawa. Bukan tawa sinisnya yang biasa, melainkan tawa yang terdengar... lega. Ia meraih tangan Sania dan menggenggamnya erat.
"Dengar, Luna. Istriku tidak dijual untuk konsumsi publik. Dia barang koleksi yang sangat langka. Berbeda dengan... barang-barang yang mudah didapat di toko sebelah," kata Alaska dengan senyum dingin, menohok Luna hingga ke inti.
Alaska menarik Sania menjauh, meninggalkan Luna yang berdiri sendirian dengan wajah penuh amarah dan rasa malu.
Di sudut ruangan yang lebih tenang, Sania menoleh pada Alaska.
"Kenapa Anda berkata sekasar itu, Tuan? Bukankah dia teman Anda?"
"Dia hanya sampah dari masa lalu yang mencoba menyentuh barang milikku," jawab Alaska, tidak menatap Sania. "Kau melakukannya dengan baik. Tapi lain kali, gunakan kata-kata yang lebih tajam. Jangan gunakan Hadits. Mereka tidak mengerti Hadits."
"Justru itu, Tuan. Aku ingin mereka tahu, bahkan di tengah pesta penuh kemaksiatan ini, ada hadits yang menusuk dalam hati yang bisa menyadarkan mereka," balas Sania. "Aku tidak takut pada mereka. Aku hanya takut pada Allah."
Alaska menatap Sania lekat-lekat. Ia melihat nyala api di mata istrinya. Nyala api yang tidak bisa ia padamkan dengan uang atau kekuasaan.
"Kau berbeda, Humairah," bisik Alaska, suaranya lebih lembut dari yang ia sadari. "Sangat berbeda."
Alaska menyadari, Sania bukan hanya sekadar perhiasan atau kartu as. Dia adalah cermin. Cermin yang memantulkan semua kebusukan dan kehampaan hidup Alaska. Dan parahnya, Alaska mulai menyukai apa yang ia lihat dalam pantulan cermin itu, potensi kebaikan yang sudah lama mati dalam dirinya.
Malam itu, Sania memenangkan pertempuran pertama di arena sosialita. Bukan dengan daya tarik fisik, melainkan dengan ketegasan dan cahaya iman.
__Kekuatan sejati bukanlah diukur dari seberapa keras kau memukul lawan, tapi seberapa teguh kau berdiri di atas prinsipmu saat dunia mencoba merobohkanmu__
__Jangan tertipu oleh kemewahan dunia, karena apa yang tampak seperti emas bisa jadi hanyalah debu yang berkilauan yang akan hilang saat kau menyentuhnya__
Bersambung ....
𝚖𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚋𝚞𝚊𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚋𝚒𝚊𝚜𝚊, 𝚝𝚙 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚔𝚒𝚗 𝚋𝚊𝚗𝚢𝚊𝚔 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚢𝚐 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚔𝚎𝚍𝚊𝚛 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚝𝚙 𝚓𝚊𝚕𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚔𝚠𝚊𝚑...
𝚝𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚜𝚎𝚌𝚊𝚛𝚊 𝚝𝚒𝚍𝚔 𝚕𝚊𝚗𝚐𝚜𝚞𝚗𝚐 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚊𝚍𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚔𝚎𝚖𝚋𝚊𝚕𝚒 𝚖𝚎𝚖𝚙𝚎𝚕𝚊𝚓𝚊𝚛𝚒 𝚜𝚎𝚜𝚞𝚊𝚝𝚞 𝚑𝚊𝚕 𝚋𝚎𝚜𝚊𝚛 𝚢𝚐 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚋𝚎𝚛𝚊𝚙𝚊 𝚝𝚊𝚑𝚞𝚗 𝚒𝚗𝚒 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚝𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚔𝚎𝚜𝚊𝚋𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚘𝚕𝚎𝚑 𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚜𝚊𝚔𝚒𝚝 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚐 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚢𝚐 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚙𝚎𝚛𝚕𝚊𝚑𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊𝚗 𝚢𝚐 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚙𝚎𝚕𝚊𝚓𝚊𝚛𝚒, 𝚊𝚍𝚊 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕 𝚑𝚊𝚍𝚒𝚜𝚝 𝚍𝚛 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚢𝚐 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚜𝚊𝚍𝚊𝚛 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚗𝚞𝚑𝚗𝚢𝚊,
𝚝𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚜𝚎𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚕𝚊𝚐𝚒 , 𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛 𝚝𝚎𝚝𝚊𝚙 𝚖𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚝𝚊𝚑𝚊𝚗𝚔𝚊𝚗 𝚌𝚊𝚛𝚊 𝚞𝚗𝚒𝚔 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚢𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚎𝚕𝚒𝚙𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚍𝚊𝚔𝚠𝚊𝚑,