Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guling pembatas
Setelah selesai makan, Selina mengambil piringnya dan hendak berdiri.
Tiba-tiba Adipati mengulurkan tangannya.
“Mas bantuin. Kamu bilas, mas yang nyabunin.”
Nada suaranya datar tapi jelas.
Selina menahan senyum kecil.
“Ternyata dia suami yang nggak patriarki…,” batinnya.
Mereka berdiri berdampingan di depan wastafel.
Suara gesekan piring dan air mengalir membuat suasana jadi anehnya hangat.
“Kamu taruh sini, Sel,” ucap Adipati sambil menumpuk piring di sisinya.
“Pelan-pelan, nanti pecah.”
“Iya, mas.”
Setelah selesai, Adipati mengeringkan tangannya.
Selina kembali duduk di meja makan sambil mengeluarkan HP.
Adipati berjalan menuju ruangan kerja.
Sebelum menutup pintu, ia berkata singkat:
“Password Wi-Fi-nya tanggal lahir kamu.”
“Hah? Kok…”
Pintu sudah tertutup.
Dingin. Misterius seperti biasa.
Selina menyalakan Wi-Fi.
Benar—langsung tersambung. Banyak sekali notifikasi masuk.
Chat pertama muncul:
Evan: “Baru gue putusin, lo udah dapet pengganti? Cepet amat.”
Selina mendengus.
“Lah, siapa yang mutusin siapa?” gumamnya kesal.
Ia membuka Instagram.
Kaget. Kakaknya men-tag namanya di video akad tadi.
Komentar netizen mulai bermunculan:
“Hanya karena uang 5 miliar Selina tinggalin Evan.”
“Pacaran dua tahun, eh ujungnya matre.”
“Pasti udah selingkuh dari dulu.”
“Kurang apa Evan? Udah nemenin dari nol.”
“Silfi lebih cocok sama Evan. Cewek baik-baik.”
Selina mencelos.
Wajahnya memanas menahan emosi.
“Apaan sih kalian…” gumamnya sambil mengepal tangan.
“Yang selingkuh itu Evan, bukan gue!”
Ia mengetik dengan kesal:
Selina: “Aku dan Mas Adipati dijodohkan. Aku nggak selingkuh. Tolong berhenti menyebar berita bohong.”
Ia menekan send dengan keras seolah tombol itu salah satu dari orang-orang yang menyakitinya.
Selina memandang pintu ruangan tempat Adipati menghilang.
“Kenapa hidup aku jadi gini dalam satu hari,” batinnya.
Pintu ruangan kerja terbuka.
Adipati keluar sambil mengerutkan dahi melihat wajah Selina yang memerah karena emosi.
“Kamu kenapa marah-marah sendiri, Sel?” tanya Adipati, suaranya tenang tapi tajam mengamati.
Selina mengangkat ponselnya dengan kesal.
“Ini… video pernikahan kita di-upload sama Mas Arya. Komentarnya jahat-jahat semua. Aku dihujat seakan-akan aku ninggalin Evan demi uang.”
Adipati menatapnya beberapa detik.
Wajahnya tampak mengeras.
“Kamu nyesel?” suaranya rendah.
“Nyesel nikah sama aku? Pengangguran, bikin kamu malu di depan orang-orang?”
“Mas, enggak!” Selina langsung menepis.
“Aku ngomong begitu bukan karena nyesel. Yang mereka bilang itu nggak bener semua.”
Adipati mendekat selangkah.
Lalu selangkah lagi.
Selina mundur otomatis sampai punggungnya menyentuh dinding.
Jarak mereka hanya beberapa jengkal.
Mata Adipati menatapnya lama, seolah membaca tiap detik kebohongan di dunia.
Lalu ia berkata pelan:
“Ayo tidur. Sudah malam.”
Ia mundur sedikit, memberi ruang, lalu menatap ke arah kamar.
“Kamu tidur di ranjang. Aku di sofa.”
Selina menggeleng cepat.
“Aku aja yang di sofa, mas. Ini rumah kamu.”
Adipati menatapnya, kali ini dengan ekspresi yang lebih lembut.
“Sel… mas ini laki-laki. Mas tahu batas.”
“Kalau kamu belum siap buat… kewajiban sebagai istri, mas nggak akan maksa.”
Selina menelan ludah.
Hatinya berdebar.
“Kita seranjang aja kalau kamu mau.”
Adipati melanjutkan,
“Tapi di tengah kita taruh guling besar. Mas nggak akan sentuh kamu.”
Selina mengangguk pelan, pipinya memanas.
“I-iya, mas.”
“Ayo ke kamar.”
Suara Adipati menuruni tangga emosinya—lebih kalem, lebih hangat.
Mereka masuk kamar.
Selina naik ke ranjang perlahan, jantungnya seperti mau lompat.
“Aku belum pernah tidur sama pria manapun…” batinnya panik.
Adipati membuka lemari, mengambil baju tidur, lalu berkata:
“Mas mandi dulu.”
Selina hanya mengangguk sambil pura-pura merapikan selimut.
Adipati masuk kamar mandi.
Tak lama kemudian ia keluar dengan rambut yang masih basah, wangi sabun menguar.
Ia berjalan mendekati ranjang, lalu menarik selimut hingga menutupi Selina dengan lembut.
“Tidur yang nyenyak.”
Hanya itu.
Tanpa sentuhan lain.
Setelah itu ia mengambil bantal dan keluar kamar.
Pintu menutup pelan.
Selina membuka mata, terkejut.
“Dia… kemana? Kenapa nggak tidur di sini?”
Nada suaranya lirih, lebih bingung daripada lega.
Ia duduk, memeluk guling.
“Dia gak mau seranjang dengan ku? perasaan aku gak bau badan? apa dia gak. suka perempuan?”
Hatinya tidak tenang.