Pertemuan yang tak di sengaja dalam sebuah pesawat. Hingga menimbulkan ketertarikan dan akhirnya menghadirkan benih cinta di hati seorang pria tampan
Arley Mahardika Altezza pada seorang
gadis cantik Attilah Nasya Ardilla (Ana).
Sementara sang Presdir mempunyai kekasih yang telah dijodohkan dengannya karena balas budi.
Kisah cinta mereka semakin rumit setelah di ketahui ternyata mereka adalah kakak dan adik, sementara mereka telah melakukan hubungan terlarang.
Bagaimana kisah cinta Presdir tampan bersama adiknya ini selanjutnya?
Mampir dan Ikuti yaah...🙏
Dukung author...🙏
dengan memberi like, rate, hadiah, vote, komentar biar author tambah semangat untuk up terus 😊
Karya ini di terbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia. Isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
...Happy Reading....
Pagi menyapa penghuni alam semesta, termasuk penghuni meja makan keluarga Abraham. Semua tampak sudah hadir duduk mengelilingi meja makan, terkecuali Ana.
Dia baru saja turun dari kamarnya dan datang ke ruang makan dengan di tuntun seorang pelayan.
Perlahan Ana mendekati ke arah mereka.
"Selamat pagi putriku." sapa Abraham melihat dirinya. Abraham tersenyum kepadanya.
Ana kaget dengan sapaan Abraham. Dia tidak menyangka Abraham akan mengucap selamat pagi padanya.
"Selamat pagi Pa," jawabnya pelan sambil tersenyum. Semuanya menatap ke arahnya.
Tak terkecuali dengan Arley. Arley menatap dengan senyuman manis. Teringat kembali dalam benaknya kejadian indah semalam yang di lakukan Ana untuk menghentikan dirinya membuka pintu kamar.
Sedangkan Savira menatapnya dengan senyuman sinis. Abraham segera bangkit berdiri mendekat padanya. Merangkul pundaknya dan membawanya ke tempat duduk.
"Kamu duduk di sini, dekat Papa." kata Abraham mendudukkan Ana di samping kirinya. Dan samping kanannya adalah Nandita.
Nandita Menatap sinis sekilas pada Ana karena tak suka dengan keberadaannya di meja makan. Nandita tidak menyangka kalau Abraham memperlakukan Ana sebaik itu. Dirinya saja tidak mendapatkan ucapan selamat pagi dari suaminya ini.
Ana segera duduk.
Di sampingnya Armi dan di sebelah Armi adalah Dimas, setelah itu kosong, karena itu kursi Arka. Setelah kursi Arka adalah kursi Arley, lalu Savira, terakhir Nandita.
Ana menoleh pada Armi.
"Selamat pagi kak Armi, Kak Dimas." sapanya sopan.
"Selamat pagi Ana," balas Armi dan Dimas bersamaan.
Ana tak berani menatap pada Arley yang sejak tadi tak lepas memandangnya.
Abraham menatap wajah Ana.
"Putri papa sangat cantik, Wangi lagi." katanya seraya memegang dagu Ana lembut.
Ana malu malu dan canggung dengan pujian itu.
"Bagaimana tidurmu semalam? Apa nyenyak?" tanya Abraham kembali membuat Ana kikuk.
"I-iya Pa." jawab Ana.
"Papa harap kau betah di rumah ini. Buatlah dirimu senyaman mungkin di rumah ini. Bagi papa kamu sama seperti Armi. Kalian berdua adalah putriku. Lakukan apapun yang membuatmu senang di rumah ini. Mulai sekarang kamu akan tinggal disini." kata Abraham.
Ana terkejut mendengarnya.
Terlebih lagi Nandita. Dia melirik tajam pada Ana sebagai isyarat untuk menolak.
"Tapi Pa, aku punya rumah sendiri. Aku juga tinggal bersama nenek." kata Ana segera. Bukan karena ancaman tatapan mata Dita, tapi karena dia juga tidak mau tinggal di sini bersama dengan wanita rubah ini.
"Setelah Nenekmu keluar dari rumah sakit, dia akan tinggal di sini. Kalian akan tinggal di sini selamanya. Kan lebih bagus jika kalian tinggal bersama dengan mamamu. Benarkan Nandita?" kata Abraham kembali sambil menoleh pada Nandita yang terpaku dengan ucapannya.
"I iya Mas." jawab Nandita meski tak suka. Tak mungkin dia menolak perkataan Abraham. Nandita mendengus geram dalam hati."Kenapa malah jadi seperti ini? Bisa gagal rencana ku jika Ana dan Nenek tua itu tinggal di sini." batinnya tidak tenang. Satu tangannya terkepal kuat. Diam menatap tajam pada Ana.
Ana sendiri kembali terkejut dengan perkataan Abraham. Jika neneknya tinggal di sini, sudah pasti Nandita akan melakukan hal buruk pada neneknya.
"Papa benar Ana, karena sekarang kita adalah satu keluarga, jadi kita akan tinggal di sini bersama sama." sela Armi.
Ana hanya tersenyum sekilas karena pikirannya kacau, hatinya semakin tidak tenang memikirkan neneknya. Dia tidak perduli dengan sorotan tajam Nandita yang memintanya untuk menolak keinginan Abraham.
"Sekarang waktunya makan. Nah Ana....ini susu untuk mu, habiskan ya. Sepertinya kau kurang tidur semalam. Lihat wajahmu pucat dan bawah matamu sedikit gelap. Mungkin karena pertama kalinya kau tidur di rumah ini membuat tidurmu tak nyenyak." kata Abraham seraya meletakkan segelas susu di depan Ana.
"Ini habiskan, dan makanlah yang banyak." lanjut Abraham lagi.
"I-iya pa, terimakasih." jawab Ana kembali canggung dengan perhatian Abraham.
Savira semakin menatapnya sinis dan geram akan perlakuan Abraham kepadanya. Abraham begitu mengistimewakan Ana. Abraham bahkan tidak menyapanya sejak dia di rumah ini semalam.
Savira menuangkan segelas susu, lalu di letakkan di depan Arley.
"Sayang, ini susu untukmu. Kau juga harus makan yang banyak biar lebih semangat dan punya energi untuk bekerja." katanya manis pada Arley. Sengaja di perlihatkan pada Ana.
Arley melirik sekilas pada Ana yang tampak sibuk dengan susunya. Tak melihat pada mereka. Alrey merasa senang karena Ana tidak terpancing dengan sikap dan ucapan Savira yang sengaja ingin memanasinya.
"Terimakasih Savira. Kau minumlah, aku akan mengambil sendiri jika aku ingin m" kata Arley menolak.
"Gak apa-apa sayang. Aku senang melayanimu. Kau calon suamiku. Sudah sepantasnya aku melakukannya untukmu." kata Savira manja.
"Aku belum ingin Savira. Karena semalam aku sudah minum susu yang banyak. Aku bahkan menikmatinya dalam waktu yang lama." kata Arley sambil melirik pada Ana.
Ana bergeming mendengar ucapannya. Tapi tatapannya tetap pada gelas di tangannya, tak berani menatap Arley.
"Kau tahu Savira? Susunya benar benar sangat nikmat. Aku sangat ketagihan, bahkan kecanduan. Aku ingin terus menikmati dan menikmatinya. Untuk pertama kalinya aku merasakan susu terenak dan terlezat seperti itu." kata Arley mengingat kejadian semalam.
Semalaman menyusu pada Ana.
Mata Ana membulat sempurna mendengar ucapannya. Ana meneguk susunya untuk mengalihkan kegugupannya.
Dia mengumpat Arley dalam hati.
"Oh ya? Memang susu apa an sih?" tanya Armita dengan mata mendelik menatap Arley.
Dia penasaran susu apa yang di maksud Arley.
"Susunya benar benar sangat nikmat. Murni alami tanpa bahan pengawet. Rasanya aku ingin mencicipinya kembali." kata Arley tersenyum kembali mengingat apa yang di lakukan Ana untuk menghentikan dirinya sehingga batal membuka pintu untuk Savira semalam.
Ana tersedak mendengar ucapannya. Wajah nya memerah seketika. Dia batuk batuk kecil seraya menekan dadanya.
Abraham segera mengambil tissue untuknya.
Ana segera menerimanya.
"Terimakasih Pa," katanya seraya menyapu bibirnya. Abraham mengelus punggungnya lembut. Sedangkan Arley tersenyum geli melihatnya.
Savira menatap kepada mereka bergantian dengan curiga."Susu apa yang di maksud Arley?" batinnya merasakan keanehan.
"Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran pria ini? Kenapa dia berbicara sambil menatap pada Ana?" batinnya kembali merasakan kejanggalan. Semalam dia pergi ke kamar Ana untuk mencari Arley. Tapi Ana tidak membuka pintu untuknya. Dia curiga Arley di kamar Ana. Tapi ternyata Arley sedang keluar bersama Heru dan kembali jam tiga pagi. Lalu susu apa yang di maksud Arley? Dan kenapa dia berbicara sambil melihat pada Ana? batinnya.
Mata Savira tanpa sengaja tertuju pada jemari Ana. Tepatnya pada jari manis kiri Ana. Dimana melingkar sebuah benda mungil dan indah. Sebuah cincin emas berlian indah.
Savira menatapnya dengan teliti. Cincin itu sama dengan punya Arley, hanya ukurannya saja yang beda.
Savira memegang tangan kiri Arley. Dia tidak melihat cincin pertunangan mereka di jari Arley.
"Sayang, mana cincin pertunangan kita? kenapa kamu gak pakai?" tanyanya.
Alrey gugup dengan pertanyaannya.
"Aku melepasnya saat mandi dan lupa memakainya." jawabnya segera.
"Tapi aku lihat kau tidak lagi memakainya pertunangan kita dulu. Kau hanya sekali itu memakainya."
"Aku tidak memakainya karena kebesaran di jariku.Terlalu longgar. Aku khawatir jatuh melorot tanpa sepengetahuanku." kata Arley kembali berbohong.
"Terus ini cincin apa?" kata Savira menatap lekat cincin di jari manis Arley. Lalu dia melihat cincin di jari Ana."Cincin ini bentuknya sama dengan punya Ana. Cincinya bagus dan mewah sama seperti punya Ana. Benar benar sama. Mungkin hanya ukuran yang beda. Aku gak nyangka kalian punya cincin yang sama." kata Savira penasaran dan terbesit rasa curiga.
Ana kembali tidak tenang. Dia melirik sekilas pada Arley yang sedang melihat kepadanya.
"Oh benarkah? Cincin ku sama dengan milik Ana?" kata Arley tiba tiba. Pura pura tidak tahu."Ternyata selera kita sama ya An?" katanya kembali sambil tersenyum lebar.
Ana menanggapi dengan anggukan dan senyuman sekilas. Karena saat ini dia gelisah. Khawatir Savira akan bertanya lebih dalam lagi tentang kesamaan cincin mereka.
Nandita ikut melihat cincin di jari Ana. Dia curiga dari mana Ana mendapatkan cincin mewah itu."Dalam penglihatan mama, cincin yang kau pakai itu adalah cincin mewah berkelas. Hanya dari kalangan kelas atas saja yang mampu memilikinya. Kau tahu Ana? Harganya hingga miliaran. Dan untuk satu pasang cincin pertunangan dan juga pernikahan harganya mencapai puluhan miliar." kata Nandita buka suara yang sejak tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka.
Ana melongo mendengar ucapan mamanya tentang harga dari cincin ini. Puluhan milyar untuk harga satu pasang cincin pernikahan? batinnya. Alrey memberikan padanya sebagai cincin ikatan untuk pernikahan mereka. Ana benar tak menyangka kalau harga cincin pernikahan mereka semahal itu?
"Katakan Ana, siapa yang memberinya kepadamu? Apa kau sudah punya seseorang yang spesial di hatimu yang memberi benda mewah itu?" tanya Nandita kembali sambil tersenyum palsu untuk mencari tahu siapa yang memberinya cincin semahal itu padanya. Apakah Ana punya kekasih tajir melintir? Atau kah itu dari Arley? Mengingat cincin mereka sama, begitu juga mereknya. batin Nandita.
"Tante Dita benar. Apakah kekasihmu yang memberikan? kenalin dong sama kami?" tukas Savira ikut pura pura tersenyum, memancing Ana untuk memberi tahu siapa yang telah memberikan cincin itu. Dia juga curiga jangan jangan cincin itu pemberian Arley.
Ana semakin tidak tenang, tidak tahu harus menjawab apa."I_itu...."
"Siapapun yang telah memberikan kepadamu, papa doakan dia pria yang baik dan bertanggung jawab." sela Abraham memangkas ucapan Ana."Lanjutkan makanan kalian, setelah itu kita akan ke kantor. Jangan bicara lagi." kata Abraham kembali.
Semuanya tidak bertanya lagi. Kembali fokus pada makannya.
Ana menarik nafas lega. Dia menoleh pada Abraham. Pria ini telah menyelamatkan dia dan Arley.
"Makanlah...." kata Abraham.
Ana mengangguk."Iya pa__!" Dia melirik sekilas pada Arley yang tersenyum melihatnya. Ana buru buru menundukkan matanya menatap pada gelas.
Bersambung.
Tinggalkan jejak ya bagi yang suka 💗
Besok udah Senin, tinggalkan vote nya juga boleh 😁😊
plisss buat season 2 nya