NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Membangun Mecha Sendiri

Peluit latihan berbunyi sebelum debu pagi sempat turun.

Lapangan utama Akademi Damokles sudah dipenuhi mecha latihan, siswa berseragam tempur, dan instruktur yang wajahnya lebih dingin daripada logam bekas semalam. Di layar besar, tulisan “Kandidat Tim Damokles” menyala dengan warna biru kusam. Bukan warna kemenangan. Lebih mirip warna besi tua yang belum menyerah.

Tri berdiri di barisan belakang.

Bukan karena rendah hati.

Karena dari belakang ia bisa melihat semua orang, menghitung cara mereka berdiri, memperkirakan siapa yang terlalu percaya diri, siapa yang belum sarapan, dan siapa yang memakai sepatu latihan mahal tapi lututnya lemah.

Mira berdiri tiga orang di depan, rambutnya diikat ketat. Bagas ada di sisi lain, badan besarnya membuat siswa di belakangnya hanya terlihat separuh. Hendra berdiri di area Komandan dengan wajah mengantuk palsu. Rakha berada di sisi Empu Mecha, membawa tablet data yang casing-nya lebih mahal daripada seluruh pakaian Tri.

Mayor Bara naik ke panggung kecil.

Suara lapangan langsung turun.

“Mulai hari ini, kalian bukan lagi siswa yang datang latihan untuk diri sendiri,” kata Bara. “Kalian kandidat Tim Akademi. Turnamen Agni bukan duel pamer. Itu perang terbatas dengan aturan, kamera, politik, dan Bestia Bintang sungguhan.”

Layar berubah.

Formasi lima orang muncul: satu Komandan, satu Empu Mecha, tiga Prajurit Mecha. Garis Daya Indra dari Komandan menyambung ke empat anggota lain. Di sudut layar, ikon petugas penyelamat berkedip.

“Setiap unit utama bergerak dalam tim lima. Komandan menjadi pusat sambungan. Empu menjaga mecha tetap hidup. Prajurit membuka jalan, bertahan, dan merebut sumber daya. Di arena, komunikasi biasa dibatasi. Kalian bergantung pada Daya Indra Komandan.”

Tri melirik Hendra.

Hendra juga meliriknya.

Keduanya sama-sama mengingat sambungan singkat di Alun Pedang Damokles, rasa kosong terlalu luas yang hampir membuat Hendra kehilangan warna wajah.

Bara melanjutkan. “Petugas penyelamat ditempatkan di arena. Mereka bukan pengasuh. Mereka masuk jika kalian benar-benar menuju kematian atau melanggar batas. Setiap penyelamatan punya konsekuensi poin dan waktu.”

Bagas mengangkat tangan. “Mayor, kalau mecha rusak tapi orang belum mati?”

“Bertahan.”

“Kalau kaki mecha putus?”

“Merangkak.”

“Kalau dua kaki?”

“Gunakan tangan.”

Beberapa siswa tertawa kering.

Bara menatap mereka. “Di arena, orang yang masih bisa bernapas dan masih bisa menyeret bendera belum kalah.”

Tri menyukai kalimat itu.

Tidak indah. Berguna.

Latihan hari itu langsung menghancurkan kesombongan banyak orang. Komandan pemula gagal menjaga sambungan lebih dari tiga menit. Prajurit yang biasanya hebat dalam duel tunggal tersandung ketika harus mengikuti perintah tanpa melihat sumbernya. Empu Mecha sibuk menambal kerusakan ringan yang sengaja dibuat instruktur.

Tri ditempatkan dalam simulasi kecil bersama Hendra, Mira, Bagas, dan seorang Empu tingkat B sebagai pengamat teknis.

Hendra membuka sambungan paling tipis.

Tri merasakan sentuhan itu seperti benang di permukaan air.

Ia menahan diri.

Jangan menarik.

Jangan membiarkan kosong itu terbuka.

Jangan membuat Hendra melihat terlalu jauh.

“Tri, kiri tiga langkah, tahan.”

Perintah Hendra masuk lewat suara dan rasa arah. Tri bergerak. Mecha latihan menahan tombak karet dari lawan. Mira masuk dari sisi kanan, cepat dan tajam. Bagas menabrak depan seperti pintu gudang roboh.

Tim mereka menang.

Tidak cantik.

Tetapi menang.

Setelah simulasi, Mira melepas helm dan menatap Tri. “Gerakanmu masih seperti orang yang terbiasa bertarung tanpa Komandan.”

Tri mengangkat bahu. “Kebiasaan buruk.”

“Ubah.”

“Saya sedang mencoba.”

Bagas datang sambil mengusap bahu. “Kau mencoba? Tadi kau hampir membuat sambungan Hendra terpental.”

Hendra tersenyum tipis. “Itu karena dia keras kepala.”

Tri memandangnya. “Lo yakin mau menulis laporan begitu?”

“Tidak. Kalau gue tulis, Bara akan menyuruh kita latihan tambahan.”

“Maka diam adalah strategi.”

Latihan berlangsung sampai sore. Ketika siswa lain berjalan ke kantin dengan langkah seperti baut longgar, Tri pergi ke arah gerbang samping.

Bara menangkapnya sebelum ia mencapai belokan.

“Ke mana?”

Tri berhenti. “Makan.”

“Kantin di sana.”

“Saya mencari makanan yang lebih murah.”

“Di luar kampus?”

“Mayor melarang?”

Bara menatapnya lama. “Jangan memanjat tembok.”

“Saya lewat gerbang.”

“Jangan membuat masalah.”

“Saya hanya makan.”

“Kalimat itu dari mulutmu terdengar seperti awal laporan disiplin.”

Tri tersenyum sopan, lalu benar-benar lewat gerbang.

Tentu saja ia tidak mencari makan.

Ia menuju Bengkel Hitam.

Lantai bawah tanah pertama lebih ramai dari biasanya. Setelah Hari Pembantaian, banyak petarung mengganti mecha, banyak penonton mencari jagoan baru, dan banyak pemilik bengkel menjual janji kosong dengan harga penuh. Tri melewati mereka tanpa berhenti.

Bang Salim menunggu di depan ruang kerja kecil.

“Kau akhirnya datang,” katanya. “Kupikir setelah menang besar, kau akan beli ruang mewah.”

“Ruang mewah membuat orang menaikkan harga material.”

Bang Salim mendengus. “Masih pelit.”

“Konsisten.”

Di dalam ruang kerja, kerangka mecha baru menunggu dalam posisi setengah jongkok. Tidak ada cat. Tidak ada hiasan. Tidak ada garis estetika yang biasa disukai petarung muda. Permukaannya abu-abu kusam, campuran pelat bekas yang sudah dipilih ulang, sambungan baru, dan rangka ringan hasil pesanan terpisah.

Mecha itu terlihat seperti batu besar yang belajar berjalan.

Tri menatapnya dengan puas.

“Jelek,” kata Bang Salim.

“Murah.”

“Penonton suka warna.”

“Penonton tidak membayar biaya cat saya.”

Rakha, yang diam-diam sudah menunggu di sudut ruang melalui jalur resmi sebagai “konsultan material”, menghela napas panjang. “Cat bisa menjadi pelapis perlindungan.”

“Pelapis perlindungan tipis yang harganya cukup untuk makan tiga bulan.”

“Kalau mecha rusak karena korosi?”

“Pasira kering.”

“Kalau arena lembap?”

“Nanti dipikirkan saat masuk arena lembap.”

Rakha memijat pelipis. “Aku mulai paham kenapa Hendra kadang ingin mengguncang bahumu.”

Tri membuka panel dada mecha. Di dalamnya, rangka daya sudah terpasang. Bukan tingkat S. Ia belum cukup bodoh untuk memasukkan bahan S dan mengumumkan dirinya ke seluruh bawah tanah. Tetapi susunan jalurnya memakai prinsip yang ia pelajari dari model S: distribusi beban pendek, reaksi balik rendah, dan sambungan sendi yang bisa menerima gaya mendadak tanpa patah cepat.

Mecha ini tidak akan terlihat seperti monster.

Ia akan terlihat miskin.

Itu bagian terbaiknya.

Tri mulai bekerja.

Tangannya bergerak cepat. Baut dikencangkan, serat pengarah dipasang, jalur pendingin disetel ulang. Rakha awalnya hanya mengawasi. Lima belas menit kemudian ia ikut menyodorkan alat. Tiga puluh menit kemudian ia diam-diam membuka tablet dan mencatat struktur sendi. Empat puluh menit kemudian ia lupa mengeluh soal cat.

Bang Salim duduk di pintu, melihat dua Empu muda itu seperti melihat dua orang gila membangun bom dari sendok bekas.

“Ini untuk laga hitam?” tanya Bang Salim.

“Untuk riset.”

“Riset yang memukul orang?”

“Kadang teori butuh respons fisik.”

Rakha berkata tanpa mengangkat kepala, “Tri, jalur daya kiri terlalu pendek. Kalau menerima tendangan tipe Malaikat Maut, beban balik bisa naik.”

“Sengaja.” Tri mengetuk pelat pinggang. “Beban itu dialihkan ke rangka bawah. Kalau lawan menendang tinggi, mecha turun setengah inci, lalu sendi lutut mengunci balik.”

Rakha menatap struktur itu.

Matanya berubah.

“Kau membuat perangkap gaya di dalam postur?”

“Lebih murah daripada menambah pelat tebal.”

Bang Salim berbisik, “Aku tidak paham, tapi kedengarannya jahat.”

“Bagus,” kata Tri. “Berarti benar.”

Malam turun di atas Pasira. Di bawah tanah, lampu bengkel berkedip. Bau oli, debu logam, dan kopi murah bercampur. Tri tidak merasa lelah. Saat membangun mecha, dunia menjadi masuk akal. Setiap masalah punya baut. Setiap risiko punya jalur. Setiap bagian mahal punya pengganti lebih licik kalau otak cukup keras kepala.

Ketika panel terakhir ditutup, mecha abu-abu itu berdiri.

Tidak gagah.

Tidak indah.

Tetapi stabil.

Tri menyalakan sistem gerak. Mecha mengangkat kaki, menurunkannya, lalu memutar bahu. Suaranya rendah, padat, tanpa getaran liar.

Rakha berdiri di sampingnya, diam lebih lama dari biasa.

“Namanya?” tanya Rakha.

Tri berpikir.

“Belum perlu nama.”

Bang Salim tersedak. “Mecha harus punya nama.”

“Nama menaikkan ekspektasi.”

“Kau ini tidak punya jiwa seni.”

“Saya punya tagihan.”

Kom Tri berbunyi.

Pesan masuk dari TepiBaratKarang.

Gaya kalimatnya malas seperti biasa.

Besok L3 buka tim. Kau, aku, satu lagi. Mau?

Tri memandang pesan itu.

Di sisi lain ruang, mecha abu-abu tanpa cat berdiri dalam cahaya lampu bengkel, seperti bayangan batu yang menunggu dilempar ke kaca.

Hendra pernah berkata Turnamen Agni akan membuat Federasi mengingat Damokles.

Tri menyentuh pelat dingin mecha barunya dan menyeringai.

Sebelum Federasi mengingat, Bengkel Hitam boleh belajar dulu.

“Catnya tetap tidak usah,” katanya.

Rakha menoleh tajam. “Kita belum selesai membahas itu.”

Tri mengangkat Kom, membaca lagi undangan Sena yang masih berkedip.

“Uang cat yang hemat,” katanya, “cukup buat gue makan tiga bulan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!