Dirga Harun purnomo Adalah seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa buah perusahaan besar. Dalam hidup dia memiliki segalanya.harta melimpah, wajah yang tampan serta istri baru yang sangat cantik dan terkenal.
saat bulan madu ke Hawai pesawat pribadinya terjebak badai hingga mengalami kecelakaan.
Untung saja semuanya selamat karena pilot yang cekatan.
Sayangnya Dirga mengalami kebutaan Akibat matanya terkena serpihan kayu yang berasal dari ledakan pesawat.
Hidup dan perkawinannya hancur, karena istrinya meninggalkan dirinya yang cacat.
Mampukah Dirga bangkit dari keterpurukannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35, kisah Bening
BENING P.O.V
Setelah menyelesaikan ibadah shalat magrib seperti biasa. untuk mengusir jenuh, aku melipat semua pakaian dan menyusun kedalam koper, malam ini adalah malam terakhir masa liburanku bersama suami sekaligus majikanku.
Meski kebersamaan kami terganggu dengan hadirnya Sonya.
Tapi tak apalah kehadiran Sonya lebih baik daripada harus berduaan dengan tuan Dirga.
kuperhatikan pria itu semakin suka mengambil kesempatan untuk menyentuhku, aku takut dia tak bisa menahan diri dan membuat kami melakukan hal yang bisa disesali nanti.
Selesai berbenah perut mendadak lapar, aku kan memang belum makan malam.
Begitu sampai dihotel sore tadi,aku langsung mengurung diri dikamar. kuperiksa saku gamis yang kukenakan. Ada beberapa lembar sisa uang, pemberian tuan Dirga saat membeli suvenir, Tuan Dirga memberiku uang yang cukup banyak. Aku menghitung lalu tersenyum sendiri.
lebih dari cukup untuk membeli makan malam.
keluar dari kamar aku melirik kamar Tuan Dirga, pintunya tertutup rapat. Dia dan Sonya tidur sekamar padahal mereka belum resmi menikah, aku berpikir beginikah cara hidup tuan Dirga.
Memikirkanya saja membuatku jijik.
lebih baik aku turun saja kebawah,untuk apa mengurusi urusan mereka.
Lebih baik aku urus perutku yang lapar.
Tiba di lobby aku segera mendatangi meja receptionist bertanya pada salah satunya, dimana aku bisa membeli makanan enak, murah meriah dan mengenyangkan.
"Diujung jalan sana ada beberapa pedagang gerobak yang menjajakan beberapa jenis makanan, termasuk nasi goreng, biasanya mereka suka mangkal malam hari, jaraknya hanya seratus meter dari sini."
salah satu recetionis memberikan informasi.
" terima kasih mbak"
Aku pun melangkah keluar dari gedung itu,
" Nona bening.." seseorang memanggil, aku memutar kepala kearahnya
pak Darmo dengan tergopoh-gopoh mendatangi aku
" Ada apa pak?"
" Malam-malam begini mau kemana?" tanya pak Darmo.
"Mau kedepan pak, cari makanan" jawabku.
" Biar saya antar non, kasihan Kalau jalan kaki" tawar pak Darmo sopan
Aku tidak menolak tawaran pak Darmo,pria itu langsung menuju kemobil dan mengantarku ke depan hotel.
Ternyata kawasan itu cukup ramai dimalam hari, Mungkin karena week end. Aku jadi bersemangat, apalagi banyaknya penjual makanan berjejer diatas trotoar yang cukup lebar.
"Pak, kita mampir dulu di mini market beli cemilan, saya suka lapar jika malam hari"
" Baik Non, " jawab pak Darmo patuh.
" Bapak pulang saja,saya ingin jalan-jalan Sebentar.
" Tapi non.." pak Darmo terlihat ragu meninggalkan aku.
" Bapak sudah makan?" tanyaku karena sebenarnya aku ingin duduk sebentar didepan gerobak penjual Nasi goreng sambil menikmati malam terakhir dikota ini.
" Sudah Non.."
"ya sudah kalau begitu saya balik ke hotel dulu, cepat balik ke hotel non, berbahaya perempuan jalan sendirian"
" Baik pak terima kasih" ucapku sambil tersenyum untuk menenangkan hatinya
Selesai membeli makanan ringan dimini market.Aku memutuskan menuju pada penjual nasi goreng. untuk makan.
Disela menikamti makanan pikiranku melayang pada kejadian siang tadi
Saat suamiku membentak Sonya dengan segenap emosi.
Kenapa dia harus semarah itu hanya karena sonya memintaku untuk mengambil kaca mata.
Akibatnya, Sonya ngambek berat,.matanya yang indah tidak mau berhenti melihat ke arahku dengan sikap bermusuhan.
Sonya juga mengacuhkan Dirga Akibatnya Dirga kalang kabut sendiri.
Seperti rencana awal, Tuan Dirga mengajak kami keliling kota, berbelanja, dan pada akhirnya singgah di toko souvenir membeli beberapa oleh -oleh untuk para pelayan.
Untuk menepati janji pada Kevin, aku memilih tiga buah kaos celupan dengan warna berbeda untuk kuberikan padanya sebagai oleh-oleh, semoga dia menyukainya. Dokter tampan yang baik hati pria yang sudah beberapa Minggu ini menjadi sahabat ku
Saat begini aku bisa melupakan sakit didalam hati.
bertapa malang nasibku terjebak dalam ikatan pernikahan yang aneh.
Aku duduk sendirian disini,.sementara suamiku mungkin sedang bermesraan dengan wanita lain. Rasanya aku ingin tertawa, bertapa konyolnya aku.S
Istri yang menjadi bayangan pelakor.
Aku janji saat nyonya Paramitha kembali ke tanah air aku akan meminta cerai dan pergi secepatnya dari hidup Dirga. Saat ini Mama Mitha dan papa harun ada di Jerman bersama Dennis.
sebelum semuanya kian rumit dan menjadi sesuatu yang menyakitkan untukku
Selesai makan dan berjalan- jalan sebentar, Aku memutuskan kembali ke hotel karena sudah jam 10:30
astaga! ternyata cukup lama juga aku berjalan-jalan, sampai tak sadar waktu sudah larut.
Tiba didepan hotel
aku melihat seorang gadis bergaun biru laut berjalan seorang diri menuju arah hotel.
Dia cantik, putih, tinggi, .memakai high heels, meski kelihatan pucat tapi cantik sekali.
Santai sekali dia berjalan tanpa merasa dingin sedikit pun
wanita itu tersenyum padaku. wajahnya terlihat misterius.
dan menghampiriku.
" Aku sedang bosan" katanya. suara lembut dan pelan.
Aku merasakan hembusan dingin ditengkuk ada apa ini aku merinding.
" Kau sendirian?"
dia bertanya padaku, entah kenapa lidahku jadi kelu sulit berkata-kata
aku hanya mengangguk
" Ayo ikut aku..kita jalan-jalan disekitar pantai sambil mengobrol
Aku patuh saja seperti kerbau yang dicucuk hidung..
padahal sebuah alarm memberi peringatan padaku.
kami berjalan bersama menyusuri jalanan beraspal
beberapa orang berpas- pasan dengan kami
Tiba di pantai kulihat masih ada pengunjung atau wisatawan lain.
yang jalan atau sekedar mengobrol Disana dengan pasangan mereka
Aku sedikit lega
Tapi siapa gadis bergaun biru ini, mengapa aku bagai dihipnotis olehnya
" Namaku Nina.." kata dia saat kami duduk disebuah bangku kayu panjang dibawah tenda yang ada ditepian pantai
" Aku bening.."
" Kamu sedang dikhianati?
tebaknya
aku terkejut menoleh padanya bagaimana ia bisa tahu.
namun aku enggan menjawab
" Aku juga, pacarku berselingkuh dengan sahabatku..." kata Nina dengan wajah kuyu dan mata kosong melihat ke arah lautan lepas.
" Rasanya aku ingin mati saja..."
aku menoleh padanya kaget
" Istigfar mbak, tak baik berpikiran yang tidak-tidak masih banyak lelaki baik di dunia ini"
" Kau benar Bening, masih banyak lelaki baik di dunia ini, aku saja yang bodoh, menyesal juga tak ada gunanya."
Nina pun bercerita banyak
padaku mengenai kekasihnya, keluarganya serta sahabat yang melukainya
Ternyata dia putri seorang pengusaha namun hidup kesepian karena kesibukan kedua orang tuanya.
yang hanya memikirkan pekerjaan
kekasihnya sudah merenggut kesucian dan Nina sempat hamil namun menggugurkan kandungannya, terakhir dia dikhianati dengan perselingkuhan sahabat karib dan pacarnya yang sudah dipacarinya selama 4tahun.
Bahkan rencananya mereka akan menikah dalam waktu dekat.
tragis memang.
Nina membaringkan tubuhnya diatas bangku panjang
Entah kenapa aku tergoda mengikutinya.
kami saling memejamkan mata.
Angin malam berhembus kencang, dingin menusuk kulit, aku merapatkan jaket yang kupakai sebuah hadiah dari suamiku Dirga. siang tadi ia membelikan menepati janjinya padaku
pria itu memang penuh perhatian
tapi tetap saja aku harus menjaga batasan. Dirga memang pria yang baik dan sopan.
tubuhku mulai gemetar, gigiku gemeletuk, namun mataku seperti enggan terbuka.
" Kenapa dingin sekali?" pikirku
Lampu-lampu menyorot padaku, suara berisik makin lama makin mendekat
perlahan aku membuka mata
dan aku kaget setengah mati aku tertidur dipinggir pantai diatas kursi panjang yang kududuki bersama Nina tadi
Nina, yah Nina mana?
Aku panik menoleh sana sini mencari sosok gadis misterius itu namun nihil dia sudah pergi, lantas kenapa gadis itu tidak membangunkan aku?
aku melihat ke arah pinggiran pantai sudah sepi. tak ada lagi orang berkumpul Disana.
Jadi aku tidur disini sendirian.
kulihat 4 buah sepeda motor berhenti tepat di hadapanku sepertinya pengendaranya menyadari kehadiranku Disana.
8 orang pemuda berandalan turun dari motor mereka mendekati aku.
Aku takut sekali...
" Ada gadis cantik bro..."
kata mereka seraya tertawa senang
Tubuhku gemetar.
aku harus bagaimana?
" Jangan ganggu aku!"
aku berdiri waspada
Mereka semakin keras tertawa.
" Tidak sayang kami tidak ingin mengganggu, hanya ingin menemanimu.." Salah satu pemuda merayuku, membuat kupingku merah dan perutku bergejolak, mual.
Seperti semut yang mendapatkan gula mereka mengerubuti aku dari segala sisi, mengurung aku didalamnya.
Mereka sengaja tidak mematikan lampu pada salah satu kendaraan bermotor milik mereka
jadi aku bisa dengan jelas melihat kedelapan pemuda itu, bisa dipastikan semua seumuran denganku
salah satu pemuda yang paling agresif dan galak mendekat dia meraih pinggangku dari arah belakang, Aku meronta meronta, mulai menangis, dan mengiba agar mereka mau melepaskan aku.
Perbuatan yang sia-sia
" Le-lepaskan aku kumohon.."
Dia tersenyum
" kau cantik sekali, mana mungkin aku bisa melepaskanmu..
berusaha memegang dan mengelus pipiku
Aku menutupi wajah. dia hendak menciumku dengan brutal.
dan aku membalas dengan mengigit bibirnya sekeras mungkin hingga dia menjerit
plak!
plak!
plak!
Bertubi-tubi tamparan mendarat di pipi.
Mataku berkunang-kunang, dan pipiku perih, kurasakan aliran darah segar
keluar dari bibirku.
pemuda lain yang tadinya hanya menonton kini mulai tertarik. mendekati aku dengan wajah mesum.
Mereka berusaha melepas penutup bagian kepala dan beberapa menarik bajuku
Meski pun kalah tenaga aku terus berjuang mempertahankan diri.
Tak akan kubiarkan mereka mengambil hal yang paling berharga yang kumiliki saat ini
Aku menangis, lututku lemas dan gemetar tenagaku terkuras habis membuat nafasku tak beraturan dengan jantung berdebar tak berirama
aku benar-benar merasa takut.
bila apa yang kupikirkan menjadi kenyataan
Bila berandalan ini berhasil menodai aku.
" Bro jangan lu apa-apa in tuh cewek, kasihan dia , kelihatanya perempuan baik-baik berjilbab pula nanti kualat loh!" temannya yang lain mengingatkan.
" Diam Luh! banyak bacot.
" Bro, dia benar,kita ini bukan pemerkosa, udah ambil duitnya saja terus kita bisa cepat-cepat pergi tinggalkan dia?"
Aku melihat dua pria lainya, mereka memang tak tertarik menyentuhku karena fokusnya hanya pada kantong baju dan kantong rokku, dan mereka menemukan beberapa Lembar sisa uang ku malam ini.
Sayup-sayup kami mendengar suara suara memangil dari kejauhan.
" Bro, matiin lampu motor Luh? kayaknya dan yang datang.." pria yang memelukku memberi perintah
Suara itu makin lama makin mendekat.
harapan mulai muncul dibenakku.
"Ya Allah, semoga aku selamat."
Benar saja aku mendengar suara-suara memanggil namaku berulang kali
Apakah Tuan Dirga dan Darmo mencari aku?
Aku terus saja berdoa.
Lampu telah padam
keadaan menjadi sedikit gelap namun aku masih bisa melihat sekitar karena langit cukup cerah.
air laut membentang dengan buihnya yang putih bagaikan salju
sebuah benda dingin dan runcing menempel di leherku.
aku tersentak
" Sssst..diam, atau pisau ini akan menembus lehermu."
Pria itu memegang pinggangku dan berusaha membawa ku menjauhi bibir pantai
"Bro lepasin cewek itu, kita harus kabur."
"Nggak gue harus bawa cewek ini bareng gue,"
" Luh udah gila apa, jangan cari masalah deh!
." Gue suka nih cewek"
" udah lepasin dia" mereka mulai berdebat
pisau itu tak juga berpindah dari leherku.
aku merasa sedikit perih di bagian leher, kurasa pisau itu sudah menggores kulit.
Dua pasang lampu menyorot pada kami, sinarnya terang menderang hingga mataku menjadi silau
Din!
Din!
Din!
suara klakson mobil berbunyi, para pemuda itu menjadi panik mereka langsung naik ke atas kendaraan bermotor milik mereka dan tancap gas, pemuda yang menodongkan senjata padaku berlari menjauh bersama beberapa temannya yang tertinggal.
" Nona bening..!!"
aku mendengar suara yang kukenal memanggil namaku.
suara pak Darmo
Aku sangat lega meski tubuhku rasanya sudah tak bertulang dan kakiku goyah tanpa sadar aku terduduk lemas diatas pasir.
Bening P O V End.