Season 1
Kiara Anggun Taylor, seorang wanita cantik yang mempunyai trauma karena waktu kecil dia harus menyaksikan semua anggota keluarganya dibantai oleh sekelompok mafia kejam.
Hingga akhirnya, tidak sengaja Kiara bertemu dengan Frans Wild Blood seorang ketua Mafia paling kejam dan juga psyco yang tidak lain merupakan anak dari orang yang sudah membunuh keluarga Kiara.
Disisi lain, muncullah seorang pria tampan yang merupakan intel dari kepolisian, saat ini dia sedang mengemban tugas mengusut tragedi pembantai satu keluarga 20 tahun lalu yang ternyata adalah keluarga Kiara.
Season 2
Gerrald Alexander Crush, seorang ketua mafia paling kejam dan ditakuti diseluruh dunia merasa jatuh cinta kepada wanita cantik nan menggemaskan yang ditemuinya di pesawat yang tidak lain adalah Gladis Taylor Prayoga puteri dari Kiara dan Al.
Bisakah Gerrald mendapatkan hati Gladis?sedangkan orangtua Gladis sangat membenci segala hal yang berhubungan dengan mafia dan berusaha memberantas para mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35 Season 2
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Malam pun tiba...
"Sayang, ayo cepat kita sudah terlambat," teriak Bunda Kiara.
"Iya Bunda, tunggu sebentar."
Tidak lama kemudian, Gladis turun dengan memakai dress dan sangat cantik.
"Wow, puteri Ayah cantik sekali."
"Yah, sebenarnya kita mau ketemu sama siapa sih? kenapa Gladis harus dandan cantik segala?" tanya Gladis.
"Nanti juga kamu tahu."
Selama dalam perjalanan, tidak ada obrolan sama sekali Gladis tampak melihat ke arah luar jendela.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil Ayah Al pun memasuki parkiran restoran mewah itu. Gladis berjalan dengan menundukkan kepalanya entah kenapa Gladis merasa ada sesuatu yang akan Ayahnya rencanakan.
"Maaf Pak Jodi, kami terlambat," seru Ayah Al.
"Tidak apa-apa, mari silakan duduk."
"Gladis..."
Gladis pun mendongakkan kepalanya...
"Fikri, kok kamu ada disini?" tanya Gladis.
"Sudah, nanti saja ngobrolnya."
Gladis pun duduk dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Pak Al, apa ini puteri Pak Al yang sekolah di London itu?" tanya Bu Fatma.
"Iya Bu."
"Ya ampun, cantik sekali sangat mirip dengan Bu Kiara sama-sama cantik."
"Ah, Bu.Fatma bisa saja."
"Sudah-sudah lebih baik kita makan dulu, keburu dingin nanti ga enak," seru Pak Jodi.
Mereka semua makan dengan hening, tidak ada yang berbicara. Gladis sangat kesal dan tidak berselera makan.
Setelah selesai makan malam, suasana pun menjadi sedikit serius.
"Begini Pak Al, Bu Kiara, tujuan kami mengundang kalian makan malam bersama karena ada sesuatu yang ingin kami sampaikan," seru Pak Jodi.
"Apa itu Pak?" tanya Pak Al.
"Begini, kami ingin melamar puteri Pak Al dan Bu Kiara untuk putera kami Fikri," seru Pak Jodi.
Uhuk..uhuk..uhuk..
Gladis yang sedang minum, tiba-tiba tersedak mendengar ucapan Pak Jodi.
"Ya ampun sayang, sudah kebiasaan deh ga makan ga minum kamu itu selalu tersedak," seru Bunda Kiara dengan mengelus pundak Gladis.
"Maaf..." sahut Gladis dengan menundukkan kepalanya.
"Kalau kami sangat menerima Fikri, Pak. Kami sudah menganggap Fikri seperti anak kami sendiri lagipula Fikri anak yang baik," sahut Ayah Al.
Fikri melihat wajah Gladis sangat berbeda seperti tidak merasa senang dengan semuanya.
"Bagaimana Nak, apa kamu menerima lamaran Fikri?" tanya Ibu Fatma.
"Ah, maaf tante bisakah Gladis diberi waktu? soalnya Gladis baru saja mengenal Fikri jadi Gladis butuh waktu untuk memikirkan semuanya," sahut Gladis dengan menundukkan kepalanya.
"Tentu saja sayang, kami akan menunggu jawaban dari kamu."
"Terima kasih, Gladis permisi dulu mau ke toilet."
"Jangan lama-lama sayang."
"Iya Bunda."
Dengan cepat Gladis pun melangkahkan kakinya menuju toilet. Selama dalam perjalanan, tatapan Gladis tampak kosong dia melamun sampai-sampai dia tidak menyadari kalau di depannya ada seseorang yang sedang berjalan.
Brrruuukkkk...
Gladis hampir saja terjatuh tapi sebuah tangan menangkap pinggang Gladis sehingga Gladis tidak sampai terjatuh. Tangan Gladis reflek memegang lengan kokoh si pria.
Mata Gladis bertatapan dengan mata seorang pria yang selama ini menjadi pertanyaan untuk Gladis.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu.
"Ah..i--iya, ma---af."
Gladis membenarkan posisinya...
"Syukurlah kalau tidak apa-apa."
Pria itu membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Gladis yang saat ini masih terdiam.
"Apa kamu Gerrald?" seru Gladis yang langsung menghentikan langkah pria itu.
Pria itu tampak menyunggingkan senyumannya, pria yang saat ini terlihat sangat tampan dengan jas hitam yang melekat ditubuhnya serta rambut klimis yang disisir rapi membuat kadar ketampanan si pria bertambah berkali-kali lipat.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" tanya si pria tampa membalikkan tubuhnya.
Gladis melangkahkan kakinya mendekat dan berdiri tepat di hadapan si pria.
"Apa kamu lupa kepadaku? kita pernah bertemu di pesawat dan aku sempat melukai tanganmu, dan aku juga merasa kalau kamu adalah Gerrald teman kuliahku," seru Gladis.
Lagi-lagi si pria tersenyum samar tapi kemudian si pria kembali meninggalkan Gladis yang masih terdiam. Gladis kembali membalikkan tubuhnya.
"Aku yakin kamu adalah Gerrald, jadi maukah kamu membantuku membawa aku pergi dari tempat ini?" seru Gladis kembali dengan nada suara yang sedikit keras.
Kali ini si pria berhenti dan membalikkan tubuhnya, menatap tajam wanita yang saat ini tampil sangat cantik dan anggun dengan dress yang dia pakai.
"Tolong, bawa aku pergi dari tempat ini," seru Gladis kembali.
Sesaat terjadi keheningan diantara keduanya, hingga akhirnya dengan mantap si pria mendekati Gladis.
"Apa kamu tidak takut denganku?" tanya si pria.
Gladis menggelengkan kepalanya...
"Aku yakin kamu Gerrald, dan Gerrald ga mungkin menyakiti aku," sahut Gladis mantap.
Si pria tanpa aba-aba lagi langsung menggenggam tangan Gladis dan menariknya membawa Gladis pergi dari restoran itu.
Tebakkan Gladis memang benar, pria itu adalah Gerrald dia berada di restoran itu karena baru saja bertemu dengan klientnya. Gerrald membawa Gladis masuk ke dalam mobilnya, selama dalam perjalanan Gerrald tidak melepaskan genggaman tangan Gladis.
Sementara tangan yang satunya lagi sedang sibuk mengotak-ngatik ponselnya. Gladis melihat tangannya yang sedang di genggam erat oleh Gerrald.
"Apa kamu tidak suka aku genggam?" tanya Gerrald dengan masih fokus ke ponselnya.
"Ah..ti--tidak kok," sahut Gladis gugup.
"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku Gerrald?" tanyanya.
"Tatapan kamu sangat beda, tapi kalau aku salah aku minta maaf," seru Gladis.
Gladis memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, sedangkan Gerrald tampak mengambil sesuatu dan memakainya.
"Gladis..."
Gladia menoleh dan betapa terkejutnya Gladus saat melihat penampilan pria di sampingnya itu memakai kacamata dan tompel persis seperi Gerrald.
"Kamu memang benar, aku adalah Gerrald si cupu yang selalu di anggap lemah oleh orang-orang," sahut Gerrald.
"Tapi kenapa kamu melakukan semua itu?"
"Aku tidak bisa memberitahukan alasan aku kepadamu yang jelas aku harus melakukan itu karena kalau aku tidak menyamar seperti ini, para wanita tidak akan tahan melihat ketampananku."
"Cih, percaya diri sekali kamu. Aku pikir kamu itu kaku ternyata kamu bisa bercanda juga."
Gerrald kembali melepas kacamata dan tompel yang dia pakai.
"Ngomong-ngomong kamu sedang apa di restoran itu?" tanya Gerrald.
"Aku diajak Ayah sama Bunda."
"Terus kenapa kamu memintaku membawa mu pergi?"
"Karena Ayah mau jodohkan aku dengan Fikri."
"Fikri? pria yang suka bareng sam kamu?"
"Iya."
Gerrald tampak mengepalkan tangannya mendengar wanita yang dia cintai akan dijodohkan.
"Apa kamu menerima perjodohan itu?"
"Tidak tahu, tapi yang jelas aku ga punya perasaan apa-apa sama Fikri apalagi kita baru saja kenal."
Tidak lama kemudian mobil Gerrald pun sampai di mansion mewah miliknya. Gladis baru sadar dan sikap Gerrald pun berubah dingin saat mendengar kalau Gladis akan di jodohkan.
Gerrald keluar dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam mansionnya tanpa mengajak Gladis membuat Gladis bingung harus berbuat apa.
"Silakan Nona."
Sopir Gerrald membukakan pintu mobilnya. Gladis pun dengan ragu-ragu turun dari mobil dan merasa bingung.
Gladis hanya bisa berdiri di samping mobil Gerrald dan melihat kesekeliling banyak sekali pengawal yang menjaga mansionnya itu.
"Pasti Gerrald bukan orang yang sembarangan, tapi kenapa dia menyamar seolah-olah dia orang biasa," batin Gladis.
Lima belas menit pun berlalu, Gladis sudah mulai pegal dan Gerrald dengan teganya meninggalkannya dan membiarkannya berdiam sendirian diluar.
Gladis pun mulai melangkahkan kakinya berniat akan menunggu taxi dan pulang menggunakan taxi.
Tapi baru saja beberapa langkah, tiba-tiba sebuah tangan memeluk perutnya dari belakang membuat Gladis terkejut.
"Maaf...maafkan aku karena sudah mengabaikanmu," seru Gerrald tepat di telinga Gladis.
Gladis tampak memejamkan matanya, jantungnya kembali berdetak dengan kencangnya dan lidahnya pun kelu entah apa yang harus Gladis ucapkan.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU