Perjuangan seorang Nayra Kalista yang menghadapi begitu kerasnya dunia ini, dunia yang tak adil untuk dirinya hidup. Dari kecil menjadi seorang yatim-piatu, hidup di panti asuhan, rela putus sekolah demi menjadi tulang punggung bagi saudaranya di panti asuhan. Sampai akhirnya harta satu-satunya yang dijaga selama ini direnggut oleh pria asing yang Nayra sama sekali tak kenal.
Hidupnya hancur bertubi-tubi. Apakah ia bisa menjalani hidup nya kembali setelah apa yang ia alami selama ini? Apakah Nayra bisa bahagia dengan cobaan yang begitu berat ini?
yuk mampir biar tau perjalanan hidup Nayra!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cacil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29
🍁🍁🍁
Karena Nayra tak suka dengan kondisi seperti ini, Nayra pun memberanikan diri mencari topik agar di dalam mobil tak terasa begitu tegang.
"Kenapa Bapak begitu perhatian ke saya? Padahal kita hanya sebatas Bos dan asisten."
"Saya suka sama kamu."
Deg!
Seketika jantung Nayra berdetak cepat mendegar jawaban dari Andrian.
"Maksud Bapak apa ya? Tidak mungkin kan Bapak suka terhadap saya."
"Saya benar-benar menyukai hasil kinerja mu."
Seketika Nayra bernafas lega mendengar kan ucapan Andrian yang kedua kalinya, tapi ada rasa kecewa ketika tau bahwa Andrian hanya perhatian karena hasil kinerja kerjanya bagus.
"Entah kenapa sangat berat mengatakan sebenarnya kepada Nayra. Padahal ucapanku tadi bukan maksud hasil kinerja tapi karena aku memang benar-benar mencintaimu, Nayra..." batin Andrian sambil melirik sekilas Nayra yang sedang melihat ke arah luar kaca mobil.
***
Hari berganti hari, Nayra melakukan kegiatan seperti biasanya setiap hari. Begitu juga dengan Andrian yang sibuk dengan pekerjaan kantornya, apalagi untuk saat ini Andrian sedang mengurus proyek besar membuat jarak antara Nayra agak menjauh. Setelah kejadian tempo hari itu Nayra dan Andrian hanya berinteraksi ketika bekerja saja, selepas pulang kerja mereka tak pernah saling ketemu bahkan bertegur sapa saja tak pernah.
"Pak, ini sudah waktunya pulang kerja. Apakah boleh saya pulang terlebih dahulu?" tanya Nayra kepada Andrian yang masih terlihat sibuk dengan layar komputernya.
"Hm..."
Satu kata itu menandakan Nayra sudah diizinkan untuk pulang lebih dahulu.
"Kalau gitu saya permisi dulu Pak," tak lupa sebelum keluar dari ruangan Andrian, Nayra terlebih dulu menunduk hormat ke arah Andrian.
Malam hari ini Nayra berniat untuk pergi ke supermarket untuk membeli stok makanan di kulkas.
"Mama mau ke mana?" tanya Alden yang melihat mamanya berpakaian rapi serta membawa tas.
"Mama mau ke supermarket dulu, Alden mau ikut?" tawar Nayra karena tak mungkin Nayra meninggalkan anaknya sendirian di kontrakan, apalagi ini sudah malam.
"Tunggu Alden sebentar!"
"Memangnya Alden mau ngapain?"
"Alden mau ganti baju dulu."
"Alden ngapain ganti baju segala? Lagian kita pergi ke supermarket deket sini aja bukan ke Mall."
"Kirain kita mau ke Mall," terlihat Alden memanyunkan bibirnya karena mengira mereka akan pergi ke Mall.
"Memangnya siapa yang bilang kita akan ke Mall?"
"Tadi kan Mama yang bilang kita akan ke supermarket."
"Supermarket dan Mall itu berbeda Sayang, kalau supermarket hanya untuk membeli sayuran, makanan dan lain-lain."
"Jadi nggak ada tempat bermain di supermarket?"
Nayra hanya menggelengkan kepalanya menandakan bahwa tidak ada tempat bermain di supermarket. Wajah ceria Alden yang tadinya gembira menjadi lesu karena mengetahui supermarket dan Mall itu berbeda.
"Terus Alden jadi nggak ikut ke supermarket?"
"Iya Alden jadi ikut, tapi Mama harus belikan Alden es cream di sana," Nayra hanya menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan Alden barusan.
Setelah agak lama mereka berdebat tentang perbedaan supermarket dan Mall, akhirnya tak lama kemudian mereka sampai di supermarket tujuan mereka dengan jalan kaki.
Supermarket yang mereka tujuin sekarang tak terlalu jauh dari kontraknya mungkin hanya berjarak 100 M dari kontraknya.
Ketika memilih-milih belanjaan di sana Nayra tak sengaja menabrak seorang ibu-ibu yang ada di belakangnya hingga belanjaan ibu itu berserakan ke lantai.
"Astaga! Maaf Buk, saya tak melihat ibu tadi ada di sini," Nayra membantu merapikan kembali belanjaan ibu tadi ke dalam keranjang belanjaan.
Ketika memberikan barang yang tadi jatuh itu, Nayra terkejut melihat siapa yang ia tabrak barusan.
"Tante..." seru Nayra terlihat terkejut.
"Bukannya kamu Nayra pacar Andrian bukan?" tanya nyonya Kumala yang masih mengingat wajah Nayra.
"Eh... Itu... sebenarnya..." Nayra tak tau harus melakukan apa saat ini. Ia tak enak bila akan berbohong kepada orang tua.
"Kebetulan sekali kita ketemu di sini."
"I-iya Tante, kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini."
"Kenapa kamu tak pernah datang ke rumah? Apakah Andrian tak pernah mengajakmu ke rumah?"
"B-bukan gitu Tante, tapi Tante tau sendiri Pak Andrian eh maksudnya Andrian sedang sibuknya bekerja, jadi saya tak enak menganggunya untuk saat ini."
"Iya juga, Tante sampai pusing melihat Andrian sibuk sekali bekerja bahkan sampai ia sering lupa untuk makan dan tidurnya juga sekarang sedikit jadi Tante takut kalau Andrian nanti jatuh sakit."
"Astaga! Sebegitu sibukkan Pak Andrian sampai lupa makan? Pantes saja akhir-akhir ini Pak Andrian terlihat kurusan," batin Nayra.
"Kalau gitu Tante minta tolong ke kamu untuk membujuk Andrian agar kembali teratur makan serta tidurnya cukup."
"Tapi Tan..."
"Kamu kan kekasihnya jadi Andrian tak akan menolak permintaan mu."
"Tapi..."
"Tante mohon!" nyonya Kumala memegang kedua tangan Nayra sambil memohon terhadap Nayra.
Nayra tak enak bila menolak permintaan tante Kumala, tapi mana mungkin Andrian mau mendengarkannya. Sedangkan mereka saja hanya pacaran bohongan.
"Mama... Mah..." suara anak kecil menghampiri Nayra membuat Nayra serta nyonya Kumala menghadap sumber suara itu.
"Siapa anak itu yang memanggil mu Mama?" tanya nyonya Kumala yang memang belum tau bahwa Nayra sudah mempunyai anak.
"Mati aku! Bagaimana sekarang ini aku menghindari kebohongan Pak Andrian selama ini? Mana mungkin aku tak mengakuinya anak ku," batin Nayra yang begitu cemas.
"I-itu..." belum saja Nayra menjelaskan kepada nyonya Kumala terlebih dulu Alden anaknya memeluknya dari belakang.
"Mah, Alden mau es cream!" ujar Alden sambil menunjuk ke arah tempat es cream.
"Ini anakmu Nay?" tanya lagi nyonya Kumala yang belum percaya.
"I-itu sebenarnya... S-saya sudah mempunyai anak Tante," ujar Nayra dengan nada gugup.
"Jadi kamu sudah mempunyai anak? Dan anak ini dari siapa?"
"Maafkan s-saya Tante, saya tidak bermaksud untuk membohongi Tante, tapi..."
"Apakah anak ini anaknya Andrian juga?" tanya lagi nyonya Kumala sambil menunjuk Alden yang bersembunyi di belakang Nayra.
"Aduh... Bagaimana caranya aku menjelaskannya? Sedangkan yang diomongin Tante Kumala memang benar bahwa Alden itu anaknya Pak Andrian," batin Nayra.
Sekarang ini Nayra merasa bimbang untuk memberitahu nyonya Kumala siapa sebenarnya bapak dari anaknya, ia tak mungkin memberi tahu kebenarannya kepada nyonya Kumala yang jelas-jelas mamanya Andrian.
"Ayok jawab!"
"B-bukan Tante!"
"Lalu siapa Ayah dari anakmu ini?"
"Dia sudah meninggalkan kami berdua sebelum anak saya berada di bumi ini."
"Apakah Andrian tau tentang semua ini?"
"Maksud Tante apa?" Nayra bingung maksud perkataan nyonya Kumala.
"Tentang kamu sudah mempunyai anak."
"S-sudah Tante..."
"Apa? Jadi selama ini Andrian tau tentang status kamu?"
"Memangnya kenapa dengan status saya?"
Bersambung.....
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^
typoo yaaaa