NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Sisi Lain Sang CEO

Denting suara lift berbunyi pelan saat pintunya terbuka di lantai paling atas. Arka melangkah keluar, menyusuri koridor sunyi menuju unit apartemennya. Setiap kali mendekati pintu berpaso smart lock, dadanya selalu berdesir pelan. Tempat yang dulunya hanyalah ruang dingin penampung lelah kini menyimpan dinamika baru yang membingungkan.

Begitu pintu terbuka, aroma samar teh melati dan wangi lembut menyambutnya.

Hening.

Arka melepas sepatunya, menggantinya dengan sandal rumah, lalu melangkah ke area tengah. Ia mendapati Naya sedang berdiri di dapur bersih, membelakanginya.

Naya sudah berganti pakaian, menggunakan kaos longgar lengan panjang dan celana kain semata kaki. Jas milik Arka yang tadi dibawanya sudah tergantung rapi di hanger dekat area rias luar.

“Naya,” panggil Arka pelan, suaranya kembali datar dan terkontrol.

Naya terlonjak kaget. Ia dengan cepat memutar badan, memegang dadanya yang berdebar.

“E-eh, Pak Arka... Sudah naik? Mau dibuatkan minum? Saya tadi cuma menyeduh teh,” ujar Naya agak gugup, pandangannya masih agak enggan beradu langsung dengan mata Arka. Kalimat terakhir Arka di kantor tadi sore masih terngiang jelas di kepalanya, membakar pipinya tiap kali teringat.

Arka melangkah mendekat, melonggarkan ikatan dasinya sepenuhnya dan meletakkannya di atas meja bar.

“Air putih dingin saja.”

“Baik, Pak.” Naya cekatan mengambil gelas, mengisinya dari dispenser, lalu menyodorkannya pada Arka.

Saat Arka menerima gelas itu, ujung jari mereka tak sengaja bersentuhan. Gerakan kecil itu membuat Naya reflek menarik tangannya sedikit terlalu cepat, sementara Arka meneguk airnya hingga tinggal separuh tanpa memutus kontak mata.

“Soal yang di kantor tadi...” Arka membuka suara, memecahkan kecanggungan yang menggantung berat di antara mereka.

Naya menunduk dalam, jari-jarinya bertautan. “Saya minta maaf lagi, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja ketiduran dan... posisinya tidak sopan. Terima kasih sudah menutupinya pakai jas.”

Arka menghela napas pelan, meletakkan gelasnya ke meja bar. “Saya tidak berniat memarahi kamu, Naya. Saya cuma mengingatkan. Kamu sekarang tinggal di lingkungan baru, berhadapan dengan orang-orang di lingkaran bisnis saya. Kamu harus lebih berhati-hati.”

Dan terutama, berhati-hati di dekat saya, tambah Arka dalam hati, kalimat yang tentu saja ditahannya erat-erat.

“Saya mengerti, Pak,” bisik Naya lembut. Rasa malu yang tadi mendominasi perlahan terikat oleh rasa hormat pada sosok di depannya. Meskipun sikap Arka dingin dan kaku, pria itu selalu memperlakukannya dengan batas tegas yang menjaga kehormatannya.

Arka memperhatikan helaian rambut Naya yang sedikit berantakan di belakang. Tanpa sadar, ingatan jari-jarinya yang menyapu helai rambut Naya di sofa kantor tadi kembali membakar sarafnya. Arka berdehem keras untuk menepis bayangan itu.

“Kamu sudah makan malam?” tanya Arka, mengalihkan topik secara mendadak.

“Belum, Pak. Saya tunggu Pak Arka naik dulu, barangkali Pak Arka mau pesan makanan dari luar.”

“Tidak perlu pesan,” potong Arka. Ia melepas kancing teratas kemejanya dan menggulung lengan kemeja hingga ke siku, memperlihatkan garis lengan bawahnya yang kokoh.

“Dapur masih punya bahan makanan kan?”

Naya mengerjap bingung. “Ada... Bahan makanan beberapa hari lalu yang dibelikan Pak Doni masih lengkap di kulkas. Tapi... Pak Arka mau masak?”

Arka tidak menjawab. Ia malah melangkah melewatinya, membuka pintu kulkas berukuran ganda, dan menyapu pandangannya ke dalam.

“Duduk saja di sana,” perintah Arka tanpa menoleh, menunjuk ke arah kursi bar.

“Saya yang masak malam ini.”

Naya membatu di tempatnya. Seorang CEO berdarah dingin yang ditakuti di papan atas dunia bisnis, kini sedang memilah-milah sayuran dan daging sapi di dalam kulkas untuk memasak makan malam?

“Tapi Pak, biar saya saja—”

“Naya,” Arka menoleh, menatapnya lurus dengan alis terangkat sebelah. “Ini perintah. Duduk.”

Naya akhirnya menurut tanpa protes lagi. Ia menarik salah satu kursi bar dan duduk canggung di sana, memperhatikan gerak-gerik Arka.

Di luar dugaan Naya, Arka tampak sangat cekatan. Pria itu mengiris daging dengan tingkat keakuratan tinggi, merajang bawang, dan menyiapkan bumbu tumisan dengan gerakan cepat namun tenang. Tidak ada keraguan dalam setiap potongannya. Ada aura dominan yang berbeda dari Arka saat ia berada di depan kompor, bukan sosok bos yang dingin, melainkan pria dewasa yang serba bisa.

“Pak Arka pinter masak?” tanyakan Naya polos, tak tahan untuk tidak bersuara.

“Waktu kuliah di luar negeri, saya harus mengurus diri sendiri. Doni cuma tahu cara memesan makanan cepat saji, jadi mau tidak mau saya yang harus belajar,” jawab Arka datar sambil menumis bumbu. Aroma harum gurih mendadak memenuhi ruangan.

Naya tersenyum tipis mendengarnya. “Pak Doni sepertinya sudah kenal Pak Arka lama sekali, ya?”

“Terlalu lama,” sahut Arka cepat. “Sampai dia merasa punya hak untuk mencampuri urusan pribadi saya dan membual yang tidak-tidak.”

Naya tertegun sejenak, mengingat gurauan Doni tadi sore di mobil. “Pak Doni cuma bercanda, Pak. Dia kelihatan sangat peduli sama Pak Arka.”

Arka mematikan kompor, memindahkan tumisan daging sapi lada hitam yang masih berasap ke atas piring saji, lalu membalikkan badan menghadap Naya. Pandangannya mengunci mata jernih perempuan itu.

“Dia bukan peduli, dia cuma usil,” gumam Arka pelan. Ia menyodorkan piring itu ke depan Naya, lengkap dengan mangkuk nasi hangat yang sudah ia siapkan.

“Makanlah.”

Naya menatap piring di hadapannya, lalu menatap Arka yang kini ikut mengambil mangkuk nasinya sendiri dan duduk di kursi bar tepat di sampingnya.

“Terima kasih, Pak Arka...” ujar Naya tulus.

Ia mengambil sendok, menyuap sedikit tumisan itu ke dalam mulutnya. Matanya seketika membulat. Rasa gurih, manis, dan pedas lada hitam menyatu sempurna, dagingnya pun terasa sangat empuk.

“Enak sekali, Pak!” seru Naya reflek, matanya berbinar jujur. Senyum lebar terukir alami di wajah manisnya.

Arka yang tadinya hendak menyuap nasi, terhenti sejenak. Ia menatap senyuman Naya yang lepas tanpa beban.

Ia sempat terpesona. Senyuman itu seolah menyapu dinginnya ruang apartemen dalam sekejap. Garis wajah Naya yang biasanya dipenuhi rasa sungkan kini tampak berbinar terang, memancarkan kehangatan alami yang tanpa sadar mengetuk pertahanannya.

Namun, hanya dalam hitungan detik, Arka buru-buru memalingkan pandangan. Ia berdehem pelan, mengalihkan perhatiannya pada mangkuk nasi di hadapannya sembari memaksakan diri kembali ke realita.

“Ingat, Arka. Jangan ngaco,” tegurnya pada diri sendiri secara tegas.

Gadis di sampingnya ini hanyalah perempuan polos yang terseret masuk ke dalam kerumitan hidupnya. Pernikahan mereka tak lebih dari kesepakatan di atas kertas, sebuah sandiwara rapi untuk meredam rumor miring yang belakangan ini mengintai namanya, sekaligus mengamankan posisinya sebagai satu-satunya pewaris sah yang tak tergoyahkan di perusahaan.

Naya masih terlalu polos untuk memahami betapa kejamnya dunia bisnis dan perebutan kekuasaan yang sedang ia jalani, dan Arka tidak boleh membiarkan batas profesional di antara mereka mengabur begitu saja.

“Biasa saja,” sahut Arka datar, mencoba menutupi desiran aneh yang baru saja merambat di dadanya. “Kalau terlalu asin, bilang.”

Naya mengunyah pelan, lalu menggeleng cepat dengan antusias. “Sama sekali tidak, Pak! Ini beneran enak sekali. Lebih enak dari masakan resto yang waktu itu dibelikan Pak Doni.”

Arka menyendok nasinya tanpa menoleh. “Jangan biasakan memuji. Nanti kamu yang saya suruh masak terus setiap hari.”

Kalimat itu sejatinya dimaksudkan Arka untuk menghentikan percakapan, tetapi Naya justru terkekeh pelan. “Lho, bukannya memang tugas saya yang masak, Pak? Kan saya juga tinggal di sini.”

Arka menghentikan gerakan sendoknya sejenak. “Tugas kamu di sini cuma fokus sama urusan kamu sendiri dan tidak membuat masalah. Masalah dapur, itu urusan belakangan. Kita bagi tugas sesuai kebutuhan saja.”

Naya menatap Arka dari samping. Meskipun kalimat pria itu selalu terdengar kaku dan penuh instruksi, ia bisa merasakan kepedulian terselubung di balik sikap tegas sang CEO.

Malam itu, di balik meja bar yang serba modern dan dingin, makan malam berlangsung dalam keheningan yang tak lagi canggung. Arka tetap menyantap makanannya dengan tenang dan anggun, sementara Naya menikmati setiap suapan dengan senyum kecil yang terlukis samar di bibirnya.

Bagi Arka, dinding benteng yang ia bangun dengan rapat mungkin masih berdiri kokoh malam ini. Namun, ia tidak menyadari bahwa keberadaan Naya secara perlahan telah menumbuhkan retakan-retakan kecil yang tak lagi bisa ia abaikan.

–tbc–

1
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Kecewa Arka tahu ada guling mati di ranjangnya 🤣🤣
sunaryati jarum
Semoga acara yang kau tangani sukses,Naya.
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): amiiiiin......
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
paha oh paha 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): terbayang-bayang paha mulus ya😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Makin lemes Arka ,emak suka
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 tidak bisa tidur,balas saja Naya seolah guling juga,impas
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 😂😂😂😂😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Yakin benengmu tetep kokoh Nak Arka.
sunaryati jarum
Bener tuh kata Doni
sunaryati jarum
Mengapa gengsi Arka,emak sumpahin kau memanggilku perjanjian dan bucin pada istri kontrakmu 😂😂😂
sunaryati jarum
Benar dugaan emak ,kamu itu sarjana yang hanya kurang beruntung.Kamu beruntung punya sahabat yang tepat buat melaksanakan tantangan Oma Soraya.Semogs berhasil Dera,dan melebihi ekspektasi mereka yang meremehkan kamu
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 bagaimana cara membuktikan Arka, jika burungmu bisa terbang?
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ya dikeluarin dari sangkarnya atuh kak🤭🤭🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Pilihan mendadak pada Naya ternyata tepat ,dia cerdas mungkin sarjana juga,cuma nasib yang kurang beruntung
Maseni Maseni
saatnya menunggu arka tersiksa dengan perasaannya sendiri.... sementara naya B aja dan enjoy dgn kerjaanya yg baru

buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): oke😉👌🏻
total 1 replies
Rian Moontero
mampir ah😄👍
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): thank you🙏
total 1 replies
Tiara Bella
kasian sekali km Naya.....Arka jangan galak² Napa km....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!