NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: RUANG KERJA TERKUNCI

Siang itu, kediaman mewah di perbukitan terasa sangat sepi dan lengang.

Suara bisikan angin yang menerpa pepohonan pinus di luar kedengarannya begitu samar dari dalam koridor utama yang berlapis karpet tebal.

Alden telah meninggalkan rumah sejak pagi hari untuk menghadiri rapat direksi darurat di pusat kota—sebuah kesempatan langka yang sangat jarang terjadi, mengingat pria itu biasanya selalu berada di sekitar Sesil untuk memantau setiap pergerakannya.

Sementara itu, Ibu Marta sibuk di dapur area belakang menyiapkan bahan masakan untuk makan malam.

Sesil berdiri di tengah ruang tengah lantai satu, memegang secangkir teh herbal yang sudah mendingin. Efek obat penenang yang ditelan semalam biasanya membuat kepalanya terasa seberat batu hingga sore hari. Namun hari ini, entah karena dosis obat yang disiapkannya sedikit berbeda atau tubuhnya mulai membentuk toleransi alami, kabut tebal yang biasanya mengurung otaknya terasa sedikit menipis.

Ada celah kesadaran yang mendadak terbuka—sebuah celah kecil yang mengalirkan kembali arus logika dan rasa ingin tahu yang selama ini diredam secara paksa.

Ia melangkah pelan menuju tangga utama, menaiki anak tangga satu demi satu tanpa menimbulkan suara.

Lantai dua kediaman ini terdiri dari beberapa ruangan: kamar tidur utama yang luas, perpustakaan pribadi, dan ruang pakaian. Namun, jauh di ujung koridor utara lantai dua, melintasi belokan sempit yang jarang tersentuh cahaya matahari, terdapat satu pintu berbahan kayu mahoni gelap yang berdiri terasing dari ruangan lainnya.

Pintu itu selalu terkunci rapat.

Selama berminggu-minggu Sesil tinggal di rumah ini, ia tidak pernah sekalipun melihat pintu itu terbuka.

Alden selalu melewati koridor utara tanpa pernah membahas ruangan tersebut. Bahkan ketika Sesil sempat bertanya secara kasual pada minggu pertamanya di rumah ini, Alden hanya tersenyum tipis dan menjawab singkat bahwa ruangan itu hanyalah 'ruang penyimpanan arsip bisnis lama yang membosankan dan berdebu'.

Namun, saat Sesil berdiri tepat di depan pintu mahoni gelap itu hari ini, instingnya—sisa-sisa naluri jurnalis investigasi yang terkubur jauh di bawah tumpukan amnesia buatan—mulai berdenyut kencang.

Sesil mengulurkan tangannya yang gemetar.

Jemarinya menyentuh gagang pintu logam berwarna kuningan yang dingin. Ia menekan gagang pintu itu ke bawah.

Klik.

Pintu itu, seperti yang sudah diperkirakannya, terkunci erat.

Sesil mendesah pelan, hendak berbalik dan menyusuri koridor kembali ke kamarnya sebelum kecurigaannya memicu masalah. Namun, matanya tak sengaja tertuju pada bagian atas bingkai pintu kayu tersebut.

Di sana, tertutup oleh sedikit debu halus, terdapat sebuah tonjolan selasar kayu dekoratif.

Didorong oleh ketegangan yang mendadak memacu adrenalinnya, Sesil berjinjit dan meraba bagian atas selasar kayu tersebut dengan ujung jemarinya. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan berdingin besi.

Sebuah kunci kuningan berukir kuno.

Jantung Sesil berdesir hebat. Alden pasti meletakkan kunci cadangan itu di sana untuk situasi darurat dan menganggap tidak akan ada orang yang cukup jangkung atau cukup berniat untuk mencarinya di atas bingkai pintu.

Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Sesil mengambil kunci tersebut. Ia memasukkan anak kunci ke dalam lubang di bawah gagang pintu.

Klek.

Mekanisme kunci besi di dalam pintu berputar dengan mulus. Sesil memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan.

Pintu mahoni gelap itu terbuka tanpa suara, mengungkapkan sebuah ruangan besar yang terselimuti kegelapan temaram.

Aroma ruangan itu sangat berbeda dengan bagian rumah lainnya. Tidak ada wangi sandalwood atau aroma teko teh hangat; yang ada hanyalah aroma kertas tua, ozon dari peralatan elektronik yang menyala, dan bau bahan kimia antiseptik yang samar namun tajam.

Sesil melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya hingga tersisa sedikit celah untuk cahaya koridor. Ia mencari sakelar lampu di dinding dan menekannya.

Cahaya lampu neon putih yang dingin menyala seketika, menerangi seluruh sudut ruangan.

Sesil menahan napasnya. Ruangan ini sama sekali bukan 'ruang penyimpanan arsip bisnis lama yang berdebu'.

Ruangan ini adalah sebuah pusat kendali dan pemantauan yang sangat canggih. Di sepanjang dinding sebelah kiri, berjejer belasan layar monitor pengawas (CCTV) yang menampilkan sudut-sudut kediaman secara real-time—mulai dari gerbang depan, lorong kamar, taman dalam, hingga bagian dalam kamar tidur Sesil sendiri.

Sesil merinding hebat saat menyadari bahwa selama ini setiap gerak-geriknya, bahkan saat ia sedang tidur atau berganti pakaian di kamarnya, terus diawasi melalui kamera-kamera tersembunyi.

Namun, apa yang ada di tengah ruangan dan dinding sebelah kanan jauh lebih mengerikan dari sekadar sistem CCTV.

Di dinding sebelah kanan, terpasang sebuah papan gabus besar yang ditutupi oleh puluhan foto, potongan surat kabar, dan dokumen yang dihubungkan oleh benang-benang merah yang rumit.

Sesil melangkah mendekati papan gabus tersebut dengan kaki yang terasa lemas bagaikan jeli.

Foto-foto yang tertempel di sana bukanlah foto kenangan romantis atau dokumen pertunangan mereka. Semua foto di papan itu adalah foto-foto dirinya—diambil dari jarak jauh tanpa sepengetahuannya menggunakan lensa telephoto.

Ada foto Sesil sedang keluar dari kantor majalah, foto Sesil sedang berbicara dengan Rian di sebuah kedai kopi, foto Sesil sedang berjalan di trotoar hujan, hingga foto-foto tempat tinggal lamanya.

Di atas foto-foto tersebut, terdapat potongan koran dengan judul berukuran besar:

"JURNALIS INVESTIGASI SESIL WIJAYA HILANG KANPANTARAN SETELAH MENGUNGKAP SKANDAL FARMASI KELUARGA ALDEN"

Kepala Sesil mendadak dihantam oleh gelombang rasa sakit berdenyut yang luar biasa dahsyat. Dinding-dinding benteng amnesianya mulai retak hebat, memuntahkan kilas balik yang tidak lagi terputus-putus, melainkan mengalir bagaikan air bah yang menghancurkan segalanya.

Ia melihat dirinya sendiri duduk di depan komputer di sebuah ruang redaksi yang bising.

Nama di kartu identitasnya: Sesil Wijaya – Jurnalis Senior.

Ia melihat dirinya menyusup ke dalam laboratorium rahasia perusahaan farmasi milik keluarga Alden.

Ia melihat buku catatan hitam bersampul kulit—buku berisi formula racun saraf dan rekam medis eksperimen terlarang yang dilakukan perusahaan Alden pada manusia.

Ia mengingat malam hujan deras itu. Ia tidak sedang berlari menghindari Rian yang obsesif. Ia sedang berlari menyelamatkan nyawanya membawa buku catatan hitam itu dari kejaran anak buah Alden! Mobil hitam yang menabraknya... mobil itu dikemudikan oleh instruksi Alden sendiri!

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Sesil dengan suara tercekat, air mata ketakutan dan pencerahan menyembur keluar dari matanya.

Sesil beralih ke meja kerja di tengah ruangan. Di atas meja metalik itu, tertata beberapa botol kaca tanpa label—botol yang sama persis dengan yang diminumnya setiap malam—beserta berkas laporan medis berstempel "Rahasia Farmakologi".

Sesil membuka berkas tersebut dengan tangan yang berguncang hebat. Di halaman depan dokumen itu, tercetak nama zat kimia yang dimasukkan ke dalam tubuhnya setiap hari:

Mandaroba Compound-9: Inhibitior Memori & Agen Penunduk Kepatuhan Psikologis.

Di bawah nama zat tersebut, terdapat catatan tangan dengan tinta hitam yang sangat dikenalinya—tulisan tangan Alden:

‘Subjek (Sesil) menunjukkan kepatuhan total setelah pemberian dosis harian. Memori masa lalu mengenai skandal perusahaan telah terkikis 90%. Narasi identitas palsu sebagai "tunangan" berhasil ditanamkan sepenuhnya. Efek samping: kecemasan saat terpicu stimulus hujan/kilat. Pertahankan

dosis hingga rekondisi permanen tercapai.’

Realitas yang brutal dan mengerikan menghantam jiwa Sesil tanpa ampun.

Semua romansa indah, perhatian lembut, bunga mawar putih setiap pagi, rumah kaca yang megah, dan ciuman hangat Alden... semuanya adalah kebohongan yang dirancang secara sistematis.

Alden bukanlah pahlawan yang menyelamatkannya dari kecelakaan; Alden adalah monster yang memburunya, menabraknya, menculik tubuhnya dari rumah sakit, merekayasa ingatannya dengan racun kimia, dan mengurungnya di dalam penjara emas ini agar skandal kejahatannya tidak pernah terbongkar ke publik.

Rian bukanlah mantan kekasih gila yang obsesif. Rian adalah sahabat dan rekannya yang mencoba menyelamatkannya!

KLEK.

Suara derit pintu mahoni di belakangnya yang terdorong terbuka memecah keheningan ruangan.

Sesil membeku secara instan. Seluruh darah di dalam tubuhnya mendadak berdesir dingin bagaikan es.

Ia memutar tubuhnya perlahan. Di ambang pintu ruangan, berdiri Alden. Pria itu masih mengenakan setelan jas mewahnya, memegang kunci mobil di tangannya. Rapat direksinya rupanya selesai lebih cepat dari perkiraan.

Alden menatap Sesil yang berdiri di samping papan gabus dan meja laboratoriumnya. Binar kehangatan, kelembutan, dan afeksi buatan yang biasanya menghiasi sepasang mata gelap pria itu kini telah sirna sepenuhnya.

Yang tersisa hanyalah tatapan dingin, hampa, dan sangat mematikan—tatapan seorang pemangsa yang menyadari mangsanya telah menemukan jalan keluar dari perangkap.

"Aku selalu memberitahumu, Sesil..." ujar Alden dengan nada suara yang sangat tenang, namun menggema mengintimidasi di dalam ruangan kedap suara itu. "...ada pintu-pintu yang diciptakan untuk tetap terkunci demi kebaikanmu sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!