NovelToon NovelToon
The Last Horizon: Zero To Heroes

The Last Horizon: Zero To Heroes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Lamunan Malam

Siapa aku, seorang pecundang?

Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.

Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.

Tingkat Saint? Hah...

Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?

Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Khawatir dan Takut itu sama

"… Bersiaplah untuk menerima kekalahanmu!"

"Oh? Kamu yakin sekali."

Dia yang bertarung, tapi kenapa aku yang malahan khawatir? Ya ampun, aku tidak sanggup melihat Sandra kalah!

Duduk di bangku penonton paling depan, aku dapat melihat Sandra dengan sangat jelas. Ia bahkan sempat menyadari keberadaanku, menghampiriku sejenak, lalu dengan gaya songongnya berjanji akan merobohkan lawannya hanya dalam satu ronde.

"... Semuanya, bersiap!"

Wasit berdiri di tengah arena, mengangkat satu tangannya, bersiap membuka ronde pertama.

Di sisi lain, aku hanya bisa berdoa dalam hati sambil kembali menganalisis siapa lawan yang dihadapinya. Patricia, seorang remaja seusianya yang berada di tingkat Rookie. Perlengkapan tempurnya tampak minimalis, jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Sandra yang sudah sering menjalani misi tingkat A. Meskipun Sandra sering mengacaukan rencana dan terlalu bergantung padaku, pengalaman bertarung tetaplah sebuah keunggulan. Berdasarkan kalkulasi kasarku, peluang Sandra untuk menang jauh lebih tinggi.

Tapi, menyelesaikannya dalam satu ronde? Aku sama sekali tidak yakin.

"Baik!" Wasit mengayunkan tangannya ke bawah dengan tegas. "Mulai!"

"Kya... Rasakan ini!"

Tepat seperti yang sudah kutebak sebelumnya, Sandra langsung melompat menerjang, melancarkan serangan kejutan sebelum lawannya sempat membaca pergerakannya.

Patricia dengan sigap menangkis tebasan Sandra yang mengarah ke pinggangnya menggunakan bilah pedang pendek miliknya. Senyuman tipis terukir di wajah Sandra saat ia tiba-tiba mengubah poros tumpuan berat badannya, melompat berputar di udara, dan melayangkan tendangan ke arah atas. Dari ujung sepatu botnya, sebuah bilah pisau tersembunyi melesat keluar, nyaris menggores dagu Patricia.

Refleks Patricia luar biasa. Ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang, membiarkan angin dari bilah sepatu Sandra menyapu ujung rambutnya, lalu segera berguling menjauh untuk menciptakan jarak. Gadis itu terengah-engah, keringat bercucuran di pelipisnya.

"Yo? Bagaimana, kamu sudah mau menyerah?" tanya Sandra meledek, melangkah santai mendekati lawannya sambil menyeret pedangnya di atas lantai arena.

"Jangan buang waktu!" teriakku dari pinggir. "Lihat waktumu sebentar lagi habis!" Tunjukku ke arah Jam magis yang melayang di atas Colosseum.

"Baiklah!" balas Sandra sambil mengacungkan jempol ke arahku tanpa mengalihkan pandangannya dari Patricia. "Akan aku akhiri ini semua!"

Ia kembali menerjang dengan kombinasi tebasan menyilang yang cepat, mendesak Patricia ke sudut pembatas arena. Patricia terpaksa menahan setiap hantaman bertubi-tubi itu. Getaran dari benturan pedang merambat hingga ke lengannya, membuat posisinya semakin terpojok.

Melihat celah sempit saat Sandra menarik napas di antara serangannya, Patricia tidak tinggal diam. Ia memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum pedang Sandra untuk menepisnya ke samping, lalu balas melancarkan tusukan telak mengarah ke bahu. Sandra yang terkejut langsung melompat mundur untuk menghindar, meski seragamnya nyaris robek.

"Sialan!" umpat Sandra.

Yang benar aja! Cewek itu berusaha mengulur waktu. Aku baru ingat satu aturan tak tertulis dalam turnamen ini: jika babak kedua berakhir imbang, pemenang akan ditentukan dari akumulasi jumlah serangan yang berhasil dilancarkan. Saat ini Sandra memang unggul dengan satu poin serangan, tapi aku tahu Patricia tidak akan membiarkannya menang begitu saja.

"Rasakan ini!" seru Patricia dengan napas memburu.

Ia mengubah strategi. Saat Sandra kembali mendekat untuk melancarkan tebasan penutup, Patricia justru sengaja membiarkan pedangnya terlepas dari genggaman seolah kewalahan, lalu merogoh kantong kecil di pinggangnya dan melemparkan segenggam bubuk hitam pekat tepat ke arah wajah Sandra.

"Oy, Wasit! Itu—"

"Tidak ada protes! Apa yang dilakukan peserta itu adalah bagian dari strategi!" Potong seorang panitia dari belakangku dengan tegas, memperingatkanku untuk tidak ikut campur.

Meski mereka tidak memahami cara kerja mantra, sekalipun menggunakan Silent Casting. Tapi cincin pendeteksi yang mereka kenakan bisa mendeteksi aliran 'Mana'.

"Gawat kalau seperti ini..."

Aku tidak bisa membantu Sandra. Pria berjas hitam di sebelahku terus mengawasi gerak-gerikku tanpa berkedip. Godot sebelumnya mendata siapa saja di antara kami seorang Wizard dan Mage, menepatkan para bawahannya.

Kepulan asap hitam kini menutupi separuh arena, membuat penglihatanku benar-benar buta. Suasana di tribun penonton mendadak hening, meredam segala kebisingan. Dan perlahan, saat angin mulai menyapu dan asap itu menipis...

"Maafkan ak..."

Patricia terkulai lemas di atas tanah. Di hadapannya, Sandra berdiri terengah-engah dengan pelipis yang mengeluarkan darah. Tim medis langsung berhamburan masuk ke lapangan untuk memberikan pertolongan darurat. Aku sendiri masih terpaku, tidak sepenuhnya paham apa yang baru saja terjadi, tapi kenyataan tetaplah kenyataan—Sandra menang.

"Tuan?" Aku langsung menarik ujung lengan baju panitia yang mengawasiku. "Apakah aku sekarang sudah boleh menggunakan mantra?"

"Silakan, pertandingan resmi telah berakhir," jawab si panitia sambil mengangguk. Ia lantas menonaktifkan cincin pendeteksi.

"Baiklah."

Mengangguk cepat, aku memejamkan sebelah mata lalu merapal mantera. "Dewa... Tunjukkan kebenaran yang tersembunyi di balik tabir waktu—Open Truth."

Mengulangi kilas balik terakhir di dalam kepulan asap, penglihatanku menembus kabut hitam itu. Aku melihat Sandra yang sempat kehilangan penglihatan akibat bubuk hitam, sementara Patricia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menusuknya dari belakang.

“Aku sudah mempersiapkan semua! Matilah kamu!” teriak Patricia nekat, menghunus belati tajam dari balik pinggangnya.

Namun, di luar dugaan, tepat sepersekian detik sebelum belati itu merobek dadanya, Sandra menebak arah angin dan menepis bilah dingin itu menggunakan telapak tangannya sendiri tanpa ragu.

“Tidak mungkin!” Patricia terperanjat mundur, terduduk di tanah dalam kepanikan. “Bagaimana bisa kamu—”

“Ini semua demi Lyan!” teriak Sandra balik membalas. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menempatkan ujung pedangnya tepat di depan dada Patricia, menghentikannya sebelum gadis itu sempat berbuat lebih jauh. Panik Patricia mematung hingga asap yang ia ciptakan sendiri mulai memudar.

"Maksudnya... demi aku?" gumamku dalam hati.

Aku pura-pura enggak dengar aja. Kuharap apa yang diteriakkan Sandra di tengah arena tadi cuma bentuk kepedulian seorang teman kepada rekannya, bukan perasaan lain yang lebih intim. Lupakan soal itu, ada hal yang jauh lebih penting sekarang: di mana Duke Welding?

Aku menoleh ke arah balkon. Yang ada di sana hanyalah Count Maxus, bahkan ia nampak tertidur pulas selama pertandingan berlangsung.

"Tuan?" panggilku.

"Apa lagi!"

Kesal, pria panitia itu membentakku. Ia yang tadinya sudah berniat meninggalkanku sendirian terpaksa harus berbalik badan demi meladeni pertanyaanku.

"Di mana Duke Welding?" tanyaku sambil menunjuk ke arah balkon kosong.

"Mana mungkin Duke sudi menonton pertandingan para rookie," jawabnya ketus. "Kecuali kalau itu adalah pertarungan para penyihir tingkat amateur atau di atasnya."

Alasan yang cukup masuk akal. Siapa pun memang bisa mendaftar di kelas rookie tanpa harus memiliki latar belakang khusus. Namun, untuk menjadi seorang wizard, mage, atau priest—meskipun baru berada di tingkatan terbawah (Amateur)—seseorang wajib melalui pelatihan ketat, tes pengelolaan mana, dan tentu saja terdaftar secara resmi sebagai anggota guild. Faktanya, bekerja di wilayah kekaisaran memang mewajibkan kepemilikan kartu keanggotaan guild untuk semua kelas tanpa terkecuali.

Lalu, bagaimana dengan sistem tingkatan untuk kelas-kelas selain sihir? Apakah aturannya sama? Yang kutahu sejauh ini, batas tertinggi adalah tingkat Conquest, sedangkan yang terendah adalah rookie.

Dan sekarang, paling penting menunggu pertandingan Steven. Pertandingan tidak diundi secara acak; para peserta hanya akan disandingkan dengan lawan yang berasal dari kelas dan tingkatan yang setara. Hal ini dilakukan untuk menghindari ketimpangan kekuatan yang terlalu jauh di atas arena.

Sambil menunggu, pertandingan tingkat Knight dari kelas Fighter dimulai terlebih dahulu. Begitu bel berbunyi, Duke Welding kembali menampakkan diri di balkon kehormatan. Count Maxus yang tadinya tertidur sontak terbangun, berusaha memasang wajah antusias meski matanya masih menyipit malas.

Aku tidak tahu persis di mana posisi tingkat Knight ini berada, tapi dari auranya, tingkatan ini setara dengan Profesional/king.

Perbedaannya sangat kontras jika dibandingkan dengan kelas rookie sebelumnya. Di sini, aku bisa merasakan pusaran mana yang berbenturan di antara kedua petarung. Mereka tidak lagi sekadar mengandalkan otot, melainkan memadukan kekuatan fisik dengan sihir dalam skala yang hampir menyamai kemampuanku.

Lalu, apa bedanya kelas fisik seperti Fighter dengan kelas penyihir?

Kuncinya ada pada cara mereka menggunakan mana. Seorang Fighter mengalirkan mana ke dalam jalur darah untuk mendongkrak kekuatan fisik, daya tahan, serta kelenturan tubuh mereka ke tingkat maksimal. Bedanya, mereka tidak memiliki kemampuan untuk memanipulasi elemen alam seperti air, api, atau tanah. Batas maksimal kekuatan mereka murni untuk memperkuat diri sendiri dari dalam.

Bum!

Benturan tinju berlapis mana menciptakan gelombang angin di tengah arena, membuatku harus menyipitkan mata untuk melihat jelas gerakan mereka.

"... Dasar tua bangka tidak berguna! Bagaimana bisa kamu berharap menang, ha?!"

Akhirnya, seorang peserta keluar sebagai pemenang. Posturnya tinggi berotot dengan raut wajah yang angkuh. Ia mengakhiri pertandingan dengan cara yang keji—menginjak dada lawannya yang sudah paruh baya, lalu mencaci dan meludahi wajah pria tua itu tanpa rasa iba.

Aku muak melihatnya. Terlebih lagi, aku sempat mendengar gumaman pilu pria malang itu sebelum ditandu oleh tim medis; ia nekat bertarung demi biaya pengobatan cucunya. Namun, di hadapan tribun penonton, pemandangan itu justru disambut sorak-sorai meriah, disaksikan langsung oleh Duke dan Count yang bertepuk tangan.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ka mau masuk grup aku gak tempat berbagi cerita . dan saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!