NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Pesan Sang Adik

Mobil hitam milik Rezvan akhirnya berhenti mulus di halaman sebuah rumah beraksen hangat yang amat dikenal Zahira. Begitu melangkah masuk, aroma harum masakan rumah langsung menyambut indra penciuman.

"Zahira!" seru Gisel antusias, berlari kecil menyambut sahabatnya dengan pelukan hangat.

Zahira tersenyum lebar, lalu dengan santun mencium tangan Bunda Heni dan Pak Lazuardi yang sudah menunggu di ruang tengah.

"Aduh, calon kakak ipar aku akhirnya datang juga!" goda Gisel dengan nada melengking penuh kehebohan.

Wajah Zahira seketika memerah, rasa malu menyergapnya hingga ia menunduk. Rezvan yang berjalan di belakang Zahira langsung berdehem pelan, menepuk bahu adiknya.

"Gisel, jangan bikin Zahira canggung dan malu. Kasihan dia," tegur Rezvan dengan nada dingin yang dibuat-buat, meski sudut bibirnya terangkat tipis.

Sebelum makan malam dimulai, Gisel tanpa aba-aba menarik tangan Zahira menuju kamarnya di lantai atas. Setelah pintu terkunci rapat, Gisel langsung memasang wajah bak detektif yang siap menginterogasi.

"Jujur sama aku, Ra! Mas Rezvan udah mengutarakan perasaannya belum ke kamu?" tanya Gisel menatap tajam dengan mata berbinar.

Zahira duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya pelan. "Belum, Sel... Mas Rezvan nggak ada ngomong apa-apa soal perasaan."

"Masa sih? Beneran belum?" cecar Gisel tak percaya.

"Beneran. Tapi..." Zahira menghentikan ucapannya, pipinya kembali hangat. "Dari perhatian dan perlakuannya ke aku selama ini, aku bisa ngerasain kok apa yang dia rasakan."

Gisel tertawa gemas lalu merangkul sahabatnya. "Asal kamu tahu ya, Ra, Papi sama Bunda itu dukung banget hubungan kalian! Pas tahu Mas Rezvan naksir kamu, Bunda sama Papi tuh bahagianya bukan main."

Selepas salat Isya berjamaah, mereka semua berkumpul di meja makan. Suasana begitu hangat. Bunda Heni dengan penuh kasih sayang menyodorkan mangkuk berisi opor ayam kuning tepat di hadapan Zahira.

"Nih, kesukaan Zahira dari dulu. Harus dihabiskan ya, Sayang," ujar Bunda Heni lembut.

Zahira tersenyum canggung. "Makasih banyak ya, Bunda... Zahira jadi malu repotin Bunda."

"Aduh, Ra! Nggak usah sok malu-malu gitu deh," celoteh Gisel memotong. "Keluarga kita kan udah akrab banget sama kamu dari jaman SMP sampai sekarang kita mau genap 23 tahun. Udah kayak rumah sendiri kali!"

Candaan Gisel disambut tawa kecil dari Bunda Heni dan Pak Lazuardi. Denting sendok dan perbincangan hangat menyelimuti makan malam itu. Hingga akhirnya, Pak Lazuardi berdehem pelan, memecah keceriaan dengan topik yang tak terduga.

"Jadi, Zahira... kapan mau diresmikan hubungan kamu sama Rezvan? Papi lihat Rezvan ini udah makin serius sama kamu."

Uhuk!

Zahira yang baru saja hendak meminum air putih langsung tersedak. Wajahnya memerah padat, buru-buru menyapu bibirnya dengan tisu. Rezvan yang berada di sampingnya tertegun, wajahnya yang biasa tenang mendadak salah tingkah dan bersemu merah.

"Papi!" protes Rezvan panik. "Kenapa Papi yang ngomong duluan sih?"

Gisel yang berada di seberang meja langsung menepuk jidatnya dan menunjuk sang Papi. "Tuh kan! Papi sih sok ikut campur urusan anak remaja! Papi tahu nggak, Mas Rezvan tuh belum berani nembak Zahira tahu!"

Pak Lazuardi membelalakkan mata, lalu meledakkan tawa renyahnya bersama Bunda Heni. "Loh! Papi kira kamu udah mengutarakan perasaan kamu dari kemarin-kemarin, Rezvan! Alah, anak muda jaman sekarang lambat banget!"

Ruang makan itu seketika riuh dengan tawa godaan untuk Rezvan. Di tengah kehebohan keluarga yang saling melempar candaan atas kepolosan Pak Lazuardi, diam-diam Zahira dan Rezvan saling mencuri pandang.

Saat mata mereka bertemu, sebuah senyuman tipis dan bermakna terpancar di antara keduanya—sebuah isyarat bahwa tanpa kata-kata pun, hati mereka sudah saling memahami.

.

.

.

Senyum di bibir Rezvan belum juga pudar sejak ia melangkah masuk ke dalam kamar. Kehangatan yang menyusup di dadanya terasa begitu nyata, menyapu bersih sisa-sisa trauma empat tahun lalu akibat dikhianati wanita yang sempat menemaninya selama dua tahun.

Zahira gadis berdarah Aceh Cina dengan kesederhanaan yang memikat itu kini resmi menjadi pemilik hatinya.

Telepon genggam di genggamannya berdenting pelan. Jemari Rezvan menari di atas layar, mengetikkan baris pesan dengan tatapan berbinar.

“Makasih ya untuk hari ini. Makasih udah mau terima aku. Aku janji nggak akan pernah bikin kamu kecewa, Ra. Nanti kita bicara sama papi dan mami kamu ya... kakak nggak mau nunggu terlalu lama lagi.”

Ia menghela napas lega lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Usianya yang akan menginjak 27 tahun rasanya sudah sangat mantap untuk melangkah ke pelaminan bersama gadis yang dulu sempat tinggal di paviliun rumahnya itu.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu memecah lamunannya. Pintu terbuka sedikit, memunculkan wajah Gisel. Rezvan memutar bola matanya malas, bersiap melayangkan sindiran seperti biasa.

"Mau apa lagi sih, Sel? Udah malam, sana balik ke kamar!" dengkus Rezvan.

Namun, alih-alih membalas dengan candaan jahil, Gisel melangkah masuk dengan raut wajah yang amat kontras dari biasanya.

Tatapannya dingin, bibirnya terkatup rapat, dan matanya menatap Rezvan lurus tanpa jeda. Ia menarik paksa lengan kakaknya untuk duduk di tepi ranjang.

"Kapan lagi kakak mau dengerin Gisel ngomong serius kalau bukan sekarang?" alur suara Gisel terdengar berat.

Rezvan menaikkan sebelah alisnya, heran melihat perubahan drastis sang adik yang mendadak bak atasan hendak memberi instruksi tegas.

"Kak Rezvan..." suara Gisel memelan, ada getaran halus di sana. "Gisel titip Zahira ya."

Rezvan mengerutkan kening. "Maksud kamu?"

"Tolong... jangan pernah nyakitin dia. Jangan pernah bikin dia kecewa sedikit pun," ucap Gisel, matanya mulai berkaca-kaca.

"Kakak cuma tahu Zahira dari luarnya aja. kakak nggak pernah tahu gimana Lika liku pahit yang Zahira ngadapin hidupnya selama ini. Dia kelihatan tegar di depan orang-orang, tapi Gisel tahu... di dalam sini, dia rapuh banget, kak."

Gisel menunjuk dadanya sendiri, lalu setetes air mata meluncur mulus membasahi pipinya.

"Zahira itu belum pernah pacaran sama sekali. kakak pria pertama yang berhasil buka hati dia. Kalau sampai kakak maenin perasaan dia atau bikin dia nangis... itu artinya kak Rezvan juga nyakitin Gisel. Gisel nggak akan pernah maafin Kakak."

Melihat adiknya menangis sesenggukan demi sang sahabat, sudut hati Rezvan tersentuh hebat.

Ia tidak menyangka ikatan emosional antara adiknya dan Zahira sedalam ini. Dengan lembut, Rezvan menarik tubuh Gisel ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk pelan punggung adiknya.

"Hei, dengerin kakak," bisik Rezvan tulus, menatap mata adiknya saat melepaskan pelukan. "Kakak janji sama kamu, Sel. Kakak bakal jaga Zahira. Kakak bakal bikin dia jadi wanita paling bahagia di dunia ini. Kamu bisa pegang kata-kata kakak mu yang tampan ini."

Gisel mengusap air matanya kasar, menatap sorot mata kakaknya yang penuh kesungguhan. Ada lega yang amat sangat menyusup di dadanya.

Tanpa mereka sadari, pintu kamar yang sedikit terbuka menampilkan sosok Bunda Heni yang berdiri di celah luar.

Senyum tipis mengembang di wajah beliau. Sungguh pemandangan langka melihat kedua buah hatinya yang biasanya saling usil kini begitu padu dan saling menyayangi demi satu nama: Zahira.

Bunda Heni lalu mengetuk pintu dengan sengaja seraya melangkah masuk. "Ekhem! Ada sesi curhat apa nih malam-malam?"

Seketika, Rezvan dan Gisel langsung kembali ke mode 'setelan pabrik'. Keduanya bergerak menjauh dengan canggung, membuang muka gengsi.

"Eh, Bunda... Nggak ada apa-apa kok! Gisel... Gisel cuma mau ngambil koin yang jatuh tadi di bawah kasur kak Rezvan! Dah Bunda, Gisel mau tidur!" seru Gisel panik sambil ngacir keluar kamar dengan alasan asal-asalan.

Bunda Heni menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putri bungsunya, lalu mengalihkan pandangan pada Rezvan yang pura-pura sibuk merapikan selimut.

"Rezvan," panggil Bunda lembut.

"Iya, Buns?"

Bunda Heni mengelus bahu putra sulungnya itu dengan penuh kasih.

"Bunda tahu apa yang barusan kalian omongin. Jaga baik-baik apa yang udah kamu perjuangkan ya, Nak. Zahira anak yang baik. Jangan sia-siakan dia."

"Iya, Bunda. Rezvan janji," jawab Rezvan mantap.

Setelah Bunda Heni keluar dan menutup pintu rapat, suasana kamar kembali hening. Rezvan mengambil ponselnya, membuka galeri, lalu menatap sebuah foto yang baru saja ia simpan dan crop dari unggahan cerita adiknya.

Di layar telepon genggamnya, tampak foto Zahira seorang diri dalam balutan kebaya burgundy anggun saat acara wisudanya beberapa bulan lalu.

Rezvan tersenyum manis, memandangi wajah cantik itu sebelum menempelkan ponselnya di dada, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan hati yang dipenuhi rasa syukur.

1
falea sezi
🤣🤣 nunggu elu nangis darah rezvan makan itu jalang Bianca lu g cocok dpet cwek baik
falea sezi
cpet putusin cowok kayak rezvan😒laki sampah
falea sezi
🤣🤣 cwek oon pantes di goblokin putusin sibagsat pasti kegoda dia ma jalang bapak lu aja kegoda ama jalang kan🤣
falea sezi
heleh ujungnya rezvan tergoda pergi jauh aja deh laki oon😒 bapaknya oon
sunaryati jarum
, Jika ujungnya Rezvan menikahi Biawak emak berhenti mengikuti kisah ini
sunaryati jarum
Semoga hanya kebahagiaan yang kamu terima ke depannya Zahira.Awas Thoor jangan sampai Biawak mengacaukan rencana Rezwan
sunaryati jarum
Semoga bundanya Rezvan tidak sakit parah.Untuk rencana Nak Rezvan melamar Zahira dimudahkan dan lancar.
sunaryati jarum
Mimpilah dapat menggoda dan memiliki Rezvan, Biawak.Memangnya Rezvan tidak tahu kehidupan bebasmu dan menjalin dengan berbagai pria
sunaryati jarum
Aduh Thoor bikin emak ikut nangis dengan pesan Gisel ke Kak Rezvan, beneran ya Thoor, jangan sampai Rezvan nyakitin apalagi menduakan.Setalah Zahira dilamar resmi emak langsung kasih 5 🌟 nanti.
sunaryati jarum
Tuh ayahmu juga sudah memberi lampu hijau , Zahira.Jika Rezvan jodohmu emak ikut senang
sunaryati jarum
Bianka terlalu dimanjakan dan menuruni sifat ibunya yang sombong dan hidup glamor apalagi model.Untung Widi sifatnya mengikuti ayahnya.Sayang ayahnya kalah sama istri keduanya setelah ibu Zahira tidak ada.
sunaryati jarum
Semoga omongan Gizel terwujud Zahira jodoh kakaknya
sunaryati jarum
Bahagia selalu bersama sahabat - sahabat setiamu Zahira.Di rumah Widi seorang yang menyayangi kamu,mau belajar di Cina, semoga kamu bisa melindungi diri dan hatimu dari Bianca dan ibunya.
sunaryati jarum
Tuh Kak Rezvan, sudah dapat restu 100 persen tinggal berjuang meraih hatinya
sunaryati jarum
Zahira semoga Rezvan jodohmu.Jadilah wanita tangguh,kuat dan berprestasi tinggi dalam pekerjaan .Lawan dengan halusa Bianca dan ibu tirimu,itu rumah ayahmu mereka hanya hanya menumpang,rumah itu hak kamu.
sunaryati jarum
Bianca makin iri jika Zahira yang disukai Rizwan
sunaryati jarum
Niat hati ingin menjatuhkan staf baru,eeh malah kebongkar kejahatannya.Imelda kamu sekarang tidak bebas lagi melakukan kecurangan, untuk memperkaya diri
sunaryati jarum
Jangan suka membanding-bandingkan anak, semua sudah punya porsi masing-masing .Untuk Karlina tadi baru melambungkan Bianka,pak Damian Zahira sebagai contoh menapak karir dari bawah.Sekali lagi kurang benar walau contoh jika sebagai perbandingan .Bianka yang merasa paling unggul dan benar pasti marah.Untuk Zahira sudah terbiasa dihina sebagai cambuk pembuktian kualitas diri.
sunaryati jarum
Borokmu ketahuan staf baru yang ingin kau jadikan tumbal ,Imelda
sunaryati jarum
Mantaaap , emak dukung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!