"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Nggak bisa, Om. Aku udah janji sama temen aku," keukeh Luna, sengaja mengesampingkan godaan di mata Marko seraya merapikan gaun backless-nya.
Marko mengepalkan tangan di tepi meja, menatap punggung mulus Luna yang terekspos. "Batalin. Malam ini kamu makan malam sama saya."
Luna berpura-pura menghela napas panjang, padahal di dalam hatinya ia sudah bersorak girang. Rencana bohongnya berhasil telak memancing pria matang ini. "Yaudah deh... kalau Om yang minta."
Setengah jam kemudian, sebuah SUV hitam berhenti di pelataran restoran fine dining bernuansa remang nan mewah di kawasan Jakarta Selatan. Marko menarikkan kursi untuk Luna, memperlakukan gadis itu bagai seorang ratu. Suasana makan malam mengalir begitu hangat, tawa tipis sesekali lolos dari bibir Marko saat mendengarkan cerita polos Luna tentang masa kecilnya. Mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih.
Namun, momen manis itu mendadak retak saat melangkah menuju area dessert.
"Wah, pantesan Marko nolak ajakan makan siang gue... ternyata lagi sibuk melayani anak ingusan."
Suara melengking Jessi memecah keheningan. Wanita itu berdiri bersama dua temannya, menatap Luna dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Pakai baju terbuka begini... kamu mau makan malam apa mau jual diri, Aluna?"
Rahang Marko seketika mengeras keras. Binar matanya mendadak berapi-api. Baru saja Marko hendak berdiri dan membentak, jemari lembut Luna menyentuh punggung tangannya di bawah meja—sebuah isyarat agar pria itu tetap diam.
Luna berdiri anggun, menyunggingkan senyum paling manis namun teramat sinis.
"Mbak Jessi..." panggil Luna tenang, menatap mata Jessi tanpa rasa gentar sedikit pun. "Ternyata kualitas brand ambassador Janitra Group cuma segini ya? Berisik, kurang bahan, dan hobinya mengurusi baju orang lain di tempat umum."
Beberapa pengunjung restoran mulai menoleh. Wajah Jessi seketika memerah padam. "Kamu—!"
"Lagipula," potong Luna maju satu langkah, menyilangkan tangan di dada. "Mbak Jessi gak usah iri kalau Om Marko lebih suka nemenin aku ketimbang Mbak. Soalnya, gaun mahal pun gak bakal bisa nutupin rasa haus perhatian yang Mbak pamerkan malam ini. Kasihan teman-teman Mbak... pasti malu ya punya teman gak ada etika?"
Gumam keheranan terdengar dari meja sebelah. Teman-teman Jessi menunduk malu, sementara Jessi berdiri mematung dengan bibir gemetaran menahan malu luar biasa sebelum akhirnya berbalik lari meninggalkan restoran.
Marko yang menyaksikan adegan itu dari kursinya menyunggingkan senyum tipis yang teramat bangga. Gadis kecil sahabatnya ini benar-benar tangguh dan tak mudah ditindas.
***
Keesokan harinya di kantor, misi Luna berlanjut ke tahap berikutnya. Di kantin, Luna sengaja duduk berdekatan dan mengobrol akrab dengan Aris—senior tampan berkarisma dari divisi analisis.
Sore harinya saat jam pulang, Luna bahkan sengaja mengirim pesan singkat ke ponsel Marko:
Om Marko, aku pulang diantar Mas Aris ya. Gak usah tungguin.
Di ruang kerjanya, Marko meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa tidak suka mendadak membakar dadanya hingga ke ubun-ubun.
Pukul delapan malam, Marko sudah berdiri gelisah di ruang tamu rumahnya. Pria matang itu tak berhenti melangkah bolak-balik, matanya terus melirik jam dinding dengan raut wajah keruh nan cemburu.
Sorot lampu mobil menyapu kaca depan.
Marko melangkah cepat menuju jendela. Di luar gerbang, sebuah mobil sedan perak berhenti. Luna turun dari pintu penumpang dengan senyum merekah, melambaikan tangan manis ke arah Aris sebelum mobil itu melaju pergi.
Brak!
Pintu depan dibuka kasar oleh Marko begitu Luna melangkah masuk.
"Siapa laki-laki itu, Aluna?!" gertak Marko dengan suara berat yang teramat dingin dan pekat oleh kecemburuan.
Luna bukannya takut, malah menyunggingkan senyum puas di dalam hati. Misi jalannya berhasil total!
"Mas Aris, Om. Senior di divisi analisis," jawab Luna santai, melepas sepatu ketsnya. "Dia baik banget, tadi sempet ngajak makan es krim dulu di jalan."
"Saya kan sudah bilang, kamu gak boleh sembarangan pulang sama cowok lain!" tegas Marko memotong jarak, mengunci Luna di dekat rak sepatu.
Luna mendongak, menatap mata Marko yang membara. Gadis itu memberanikan diri maju satu langkah, mengikis sisa jarak di antara dada mereka.
"Kenapa gak boleh, Om?" goda Luna pelan, menyentuh kerah kemeja Marko dengan jemarinya. "Om kan cuma sahabat Papa. Om gak berhak melarang aku dekat sama cowok mana pun... kecuali kalau Om memang punya perasaan khusus sama aku."
Napas Marko tertahan. Wajahnya membeku.
"Aku capek main tebak-tebakan, Om Marko," bisik Luna dengan tatapan menuntut yang teramat tajam. "Aku minta Om jujur sekarang. Ngaku kalau Om punya rasa sama aku. Kalau sampai hitungan ketiga Om masih bungkam... besok aku bakal resmi terima Mas Aris jadi pacar aku."
"Aluna, jangan main-main—"
"Satu..." potong Luna dingin.
"Aluna—"
"Dua..."
"Saya sayang sama kamu, Aluna!" potong Marko setengah berteriak, suaranya parau dan sarat akan frustrasi yang teramat dalam.
Langkah waktu seolah terhenti. Marko memejamkan mata rapat-rapar, menghembuskan napas beratnya. "Saya cemburu setengah mati setiap ada cowok lain yang mendekati kamu. Saya gila memikirkan kamu tiap detik. Saya cinta sama kamu, Aluna..."
Luna tersenyum penuh kemenangan. Tanpa memberi jeda sedikit pun, gadis itu menjinjitkan kakinya dan mendaratkan ciuman manis tepat di atas bibir Marko.
Marko tersentak kaget, matanya membelalak. Namun, kehangatan bibir Luna dan aroma manis yang membakar akal sehatnya membuat pertahanan diri duda belasan tahun itu runtuh total. Marko melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Luna, menarik tubuh gadis itu rapat-rapat dan membalas ciuman itu dengan lumatan mesra yang teramat dalam dan penuh gairah yang terendam lama.
Ciuman panas itu berlangsung beberapa saat di remangnya ruang tamu, sampai akhirnya Marko keburu sadar.
Dengan napas terengah-engah dan jantung berdegup liar, Marko mendadak menghentikan ciuman itu, menarik kepalanya mundur seraya menatap Luna dengan raut cemas dan bersalah yang mendalam.
Luna menatap mata Marko yang memburu, menyunggingkan senyum manisnya yang teramat polos.
"Jadi... mulai hari ini kita resmi pacaran, kan, Om?" tanya Luna penuh harap.
Marko membeku, lidahnya mendadak kelu saat menyadari batasan etika dan statusnya sebagai sahabat ayah gadis itu