Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Suara di seberang sana seakan hilang. Reynand terpaku di tempatnya, jantungnya berhenti berdetak sejenak sebelum kembali berpacu dua kali lebih cepat, nyaris meledak di dada.
"Rumah sakit... yang mana, Kaivan?! Katakan padaku sekarang juga!" teriaknya, suaranya pecah sepenuhnya.
Kaivan menyebutkan nama rumah sakit dan alamatnya tanpa ragu sedikit pun. "Segera ke sini, Rey. Keadaannya kritis. Jangan lama."
Panggilan terputus. Reynand mencengkeram ponselnya begitu kuat hingga persendiannya memutih. Tanpa berpikir dua kali, ia memutar setir dengan kasar, mobilnya melesat membelah kegelapan malam, seakan terbang di atas aspal. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya tanpa ia sadari.
"Tunggu Anindya... aku datang... tolong bertahan..." bisiknya berulang-ulang, napasnya tersengal di sela isak tangis yang ditelan paksa.
Sementara di ruang gawat darurat...
Dokter Rangga bergerak dengan cepat, tangannya tak henti memeriksa denyut nadi, luka-luka, dan tanda-tanda kehidupan Anindya. Wajahnya tegang, keringat mulai menetes di dahinya.
"Tekanan darah turun drastis! Luka di kepala dan luka memar di seluruh tubuh! Siapkan infus dan oksigen sekarang!" perintahnya lantang kepada para perawat. Matanya tak lepas dari wajah pucat wanita itu. "Kamu kuat, Anindya... jangan menyerah, dengar aku! Kamu harus bertahan!"
Di luar pintu, Kaivan berdiri bersandar di dinding, menyilangkan tangan di dada, keningnya berkerut cemas. Ia masih tak percaya, wanita yang ia selamatkan ternyata Anindya, wanita yang sedang digilai oleh Reynand, sahabatnya.
Belum lama berselang, sosok pria yang dikenalnya itu muncul di ujung lorong. Napasnya memburu, langkahnya goyah namun dipacu sekuat tenaga. Wajahnya basah oleh keringat bercampur air mata.
"Reynand..." gumam Kaivan pelan.
Reynand berhenti tepat di hadapan pintu ruang gawat darurat, menatap Kaivan dengan pandangan yang kosong dan penuh ketakutan.
"Benarkah itu... Anindya di dalam sana?" suaranya nyaris tak terdengar.
Kaivan mengangguk perlahan, menatapnya dengan tatapan yang penuh simpati namun tegas. "Iya. Dia ada di sana. Dokter sedang menanganinya sekarang."
Reynand meluruh, lututnya tak lagi sanggup menopang tubuhnya. Ia duduk di bangku panjang di lorong itu, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya tangisnya pecah sepenuhnya, tanpa mampu ia redam lagi.
"Maafkan aku... Anindya, maafkan aku..." isaknya pelan, berulang-ulang. "Seharusnya aku melindungimu... seharusnya aku tak membiarkanmu sendirian..."
Kaivan duduk di sampingnya, meletakkan tangan di bahu sahabatnya itu, tak berkata apa-apa. Hanya kehadirannya yang cukup untuk menguatkan sedikit beban yang memeluk hati Reynand yang hancur.
Menit demi menit berlalu terasa seperti keabadian. Hingga akhirnya pintu ruang perawatan terbuka. Dokter Rangga keluar, melepas maskernya dengan gerakan kasar, napasnya masih tersenggal. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap.
Pandangannya langsung mengunci Reynand, tajam dan penuh tuduhan. Kaivan berdiri tak jauh di sana, tenang, hanya mengamati. Dia hadir sebagai sahabat, tak bermaksud mencampuri urusan ini lebih dari sekedar membantu.
Reynand maju dengan langkah gemetar.
"Dok... bagaimana keadaannya? Dia—"
"Dia selamat," potong Rangga cepat, matanya tak lepas dari Reynand. "Tapi nyaris saja tidak. Pendarahan di kepala, memar di seluruh tubuh, tekanan darah sempat jatuh sangat rendah. Dia beruntung masih bernapas."
Reynand terhuyung mundur sedikit, dadanya sesak. "Aku... aku harus melihatnya—"
"Tunggu!" Rangga menahan lengan Reynand, suaranya meledak pelan namun pedas. "Dan kau... kaulah yang paling bertanggung jawab atas ini semua!"
Reynand terkejut. "Aku? Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tak tahu!" Rangga mendekat, menatapnya tajam. "Selama ini Anindya hidup tenang, tak pernah tersangkut masalah apa pun. Lalu sejak kapan namanya mulai terlibat dalam bahaya? Sejak dia dekat denganmu! Sejak kau masuk ke hidupnya dan mengaitkannya dengan orang-orang sekitarmu! Sadar posisimu, Bapak Reynand yang terhormat. Anda itu masih beristri, tidak seharusnya Anda melibatkan Anindya sampai sejauh ini!"
Reynand terpaku, seolah dipukul tepat di ulu hati. Kata-kata itu terasa tajam dan benar sekaligus. Ia tak sanggup membantah, hanya menunduk dalam, bahunya turun meratapi segala rasa bersalah yang kini menumpuk di dadanya.
"Aku tahu... aku tahu aku salah..." suaranya nyaris berbisik, pecah dan lemah. "Tapi aku tak pernah bermaksud menyakitinya... aku hanya ingin melindunginya..."
"Melindungi?" Rangga tertawa sinis, matanya berkilat marah. "Lihat ke mana perlindunganmu membawanya! Dia terbaring di dalam sana, nyawanya hampir melayang! Semua karena dia berdiri di samping pria yang belum bebas, yang dunianya penuh musuh dan bahaya!"
Reynand mengatupkan giginya, menelan ludah yang terasa pahit. Ia tahu Dokter Rangga tak sepenuhnya salah. Status pernikahannya yang belum berakhir, bayang-bayang keluarga Wijaya, segala masalah yang ia bawa, semuanya kini menimpa Anindya yang tak bersalah.
Di samping mereka, Kaivan hanya diam, tak ikut menyela. Ia menyaksikan sahabatnya dihujat, namun di sisi lain, ia paham kemarahan Rangga lahir dari keprihatinan yang tulus. Ia hanya meletakkan tangan di bahu Reynand untuk menguatkan.
Rangga menarik napas panjang, berusaha meredakan gejolak amarahnya, namun sorot matanya tetap tajam menatap Reynand.
"Dia sudah sadar sebentar tadi, lalu tertidur kembali. Masuklah, tapi jangan lama-lama. Dia butuh ketenangan. Dan pikirkan baik-baik... apakah kehadiranmu di sisinya benar-benar yang terbaik untuknya sekarang."
Kalimat terakhir itu menggantung di udara, berat dan menohok.
Reynand mengangguk pelan, tertunduk lesu. Langkahnya terasa sangat berat saat melangkah masuk ke ruangan itu. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Suasana hening di ruangan itu, hanya terdengar bunyi teratur alat pemantau di samping ranjang. Reynand menggenggam tangan Anindya yang terkulai lemah, mengecupnya berkali-kali dengan bibir yang basah oleh air mata.
"Maaf..." bisiknya, suaranya bergetar namun tegas. "Dokter Rangga boleh saja menyuruhku menjauh... tapi hatiku tak sanggup. Aku tahu aku membawa bahaya... tapi justru karena itulah aku tak akan pergi."
Ia menatap wajah pucat itu lekat-lekat, menanamkan setiap inci rupa Anindya ke dalam ingatannya.
"Mencintaimu bukan kesalahan yang akan kuperbaiki dengan meninggalkanmu. Aku akan memperbaikinya dengan melindungimu, dari siapa pun yang berani menyakitimu. Tak peduli seberapa gelap bahaya yang akan kita hadapi, aku akan tetap di sini. Tak akan kulepas lagi."
Reynand menarik kursi lebih dekat ke tepi ranjang, tak beranjak sedikit pun. Ia merangkul lembut tangan Anindya, menyandarkan pipinya di atas punggung tangan yang dingin itu, tak peduli berapa lama waktu berlalu.
"Aku tak akan melepaskanmu, Anindya... kau alasan ku bertahan. Aku akan tetap disini, sampai kau membuka matamu dan memintaku pergi sendiri."
Di luar pintu, Rangga masih berdiri tak jauh dari sana, sesekali melirik kaca jendela pintu. Melihat sosok Reynand yang tak bergerak, ia menghela napas panjang.
Kaivan berdiri di sampingnya, tersenyum tipis.
"Dia tak akan pergi, Dokter..." ucap Kaivan pelan. "Bukan karena tak mendengarkanmu. Tapi karena cintanya lebih kuat dari rasa takutnya."
Rangga diam saja, tak menyanggah. Ia hanya mengangguk pelan.
"Kita lihat saja nanti." ucapnya, lalu berjalan pergi.
-
-
-
Bersambung...