Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Notifikasi di Atas Kasur
Suasana di dalam kamar lantai dua villa kayu terasa begitu tenang. Suara hujan di luar yang tadinya mengamuk hebat kini perlahan meluruh menjadi gerimis yang konstan, membawa aroma tanah basah dan hawa dingin yang kian menusuk.
Sebuah pemanas ruangan elektrik kecil bertengger di sudut kamar, memancarkan pendar cahaya oranye yang menghangatkan ruangan.
Nadhira mendorong pintu kamar pelan, melangkah masuk seraya merapatkan jaket fleece tebal milik Reyhan yang masih membungkus tubuh mungilnya.
Di atas salah satu ranjang yang ada di kamar itu, Kania sedang berbaring terlentang sambil mengusap layar ponselnya.
Begitu mendengar suara pintu terbuka, Kania langsung mendudukkan diri dan menatap Nadhira dengan mata membelalak.
"Anjir lo maling jaket siapa? Kebesaran gitu di lo," cecar Kania.
"Maling? enak aja, ini gue dipinjemin sama Pak Reyhan ya, bukan maling," sanggah Nadhira.
"Oalah..." timpal Kania.
"Gila ya, Nad! Lu benar-benar tenggelam di dalam jaket itu!" seru Kania spontan, tawanya pecah melihat penampilan Nadhira.
"Ini mah bukan oversize lagi, tapi lu kayak dimakan sama jaketnya Pak Reyhan!"
Nadhira meringis canggung, membetulkan lipatan lengan jaket yang sempat melorot. Ia berjalan menuju tepi ranjangnya lalu mendudukkan diri.
"Namanya juga dipinjemin, Kan. Daripada gue mati kedinginan," sahut Nadhira beralasan, berusaha menutupi rona merah yang mendadak ingin muncul kembali di pipinya tiap kali mengingat wangi khas Reyhan yang menguar dari jaket ini.
"Tapi jujur ya, Pak Reyhan itu ajaib banget," ujar Kania seraya merapatkan selimut ke dadanya, membuka obrolan sebelum tidur mereka.
"Maksud gue, dari awal berangkat sampai kejadian longsor tadi, dia kaku banget kayak kanebo kering. Ngomong aja pakai bahasa formal mulu. Tapi ajaibnya... dia kok bisa se-sigap dan se-perhatian itu ya sama keselamatan kita? Apalagi pas evakuasi tadi, heboh banget dia memastikan gak ada satu pun yang ketinggalan."
Nadhira menunduk, mengelus bahan kain fleece di pangkuannya. Senyum tipis yang amat lembut terulas di bibirnya tanpa disadari Kania.
"Iya dong Kan, dia emang bakal selalu jadi orang pertama yang pasang badan buat gue," batin Nadhira hangat.
"Ya... namanya juga dosen pendamping, Kania. Tanggung jawab dia kan besar banget kalau sampai kita kenapa-kenapa," jawab Nadhira pelan, merangkai alibi aman seperti biasa.
"Iya sih, tapi tetep aja gila. Pas dia nahan badan lu di tangga bus tadi pas lu mau kepeleset... wah, refleksnya kayak superhero komik!" Kania terkekeh.
"Gue yang liat dari bawah aja sampai tahan napas. Untung Pak Reyhan sigap, kalau nggak lu udah nyungsep ke lumpur merah tuh."
Nadhira tertawa kecil, menyembunyikan wajahnya di balik kerah tinggi jaket Reyhan. "Udah ah, malah ngebahas itu. Yuk, kita beresin tas kecil sama barang-barang kita sekarang. Katanya besok pagi-pagi banget kita udah mau berangkat."
"Wah, bener tuh! Gue gak mau kelabakan besok pagi," sahut Kania.
Gadis itu langsung beranjak dari ranjangnya dan mulai memunguti botol perawatan kulit serta pengisi daya ponselnya yang berserakan di atas meja rias.
Nadhira ikut berdiri. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas kasur dalam posisi layar menghadap ke atas. Dengan sigap, Nadhira merapikan kaus kotornya yang sempat basah, memasukkannya ke dalam kantong plastik pakaian kotor, lalu menatanya di dalam tas punggung di sudut ruangan.
Kania yang selesai membereskan meja rias melangkah mendekati ranjang untuk mengambil handuk lipatnya yang tertinggal di sana.
Tepat saat Kania membungkuk di tepi kasur, layar ponsel Nadhira yang tergeletak di atas seprei putih mendadak menyala terang.
Tring...
Getaran halus menggoncang ponsel tersebut, menyalakan pendar cahaya dari notifikasi aplikasi pesan singkat yang baru saja masuk.
Kania yang berada paling dekat secara tidak sengaja mengarahkan pandangannya ke layar ponsel Nadhira.
Kerutan bingung seketika tercipta di dahi Kania saat membaca nama kontak pengirim dan baris awal pesan yang terpampang jelas di layar terkunci tanpa sensor tersebut.
Pesan itu berasal dari kontak bernama Pak Reyhan.
Isi pesannya terbaca sangat jelas.
Pak Reyhan: Nadhira, pastikan semua barang kamu sudah dikemas malam ini. Jangan ada yang tertinggal di villa. Dan jaket saya... tidak perlu dikembalikan sekarang, pakai saja sampai besok tiba di rumah kita.
Kania membeku di tempat.
Matanya membelalak lebar, mengulang bacaan pada baris kata terakhir yang terpatri di layar, "...sampai besok tiba di rumah kita."
Kata 'rumah kita' menghantam kesadaran Kania bagai petir di tengah malam yang dingin.
"K-Kania? Lu kenapa bengong?" tanya Nadhira polos, membalikkan tubuhnya dari sudut meja seraya membawa kantong pakaian.
Nadhira mendapati Kania berdiri mematung di tepi ranjangnya dengan wajah syok luar biasa. Pandangan mata Kania terikat kaku pada layar ponsel Nadhira yang masih menyala terang.
Nadhira mengedarkan pandangannya ke arah tempat Kania melihat. Seketika itu pula, seluruh darah di tubuh Nadhira rasanya mendadak berhenti mengalir.
Jantung Nadhira seperti mencelos jatuh hingga ke dasar perut. Ia melihat ponselnya yang berada tepat di bawah tatapan Kania, menampilkan pesan rahasia dari suaminya yang lupa ia atur mode privasinya.
Nadhira menyambar ponselnya dengan gerakan panik yang amat cepat, mematikan layarnya seketika. Namun, semuanya sudah terlambat.
Suasana di dalam kamar kayu itu seketika menjadi hening mencekam. Hanya suara angin gerimis di luar yang terdengar.
Kania perlahan mendongak, menatap Nadhira dengan mata yang nyaris melompat keluar dari kelopak matanya dan bibir yang ternganga tak percaya.
"Nad..." suara Kania bergetar hebat, menunjuk ponsel di tangan Nadhira dengan jari yang gemetaran. "I-itu tadi... maksudnya 'rumah kita' dari Pak Reyhan... apa, Nad?!"
...Bersambung... ...