NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Ciuman Sebelum Tugas

"Besok subuh."

Ujung tirai terlepas dari tangan Laras.

Bu Ratna menangkap kain itu sebelum jatuh. "Berapa hari?"

"Perkiraan empat sampai enam hari," jawab Bram. "Bisa berubah sesuai kebutuhan."

"Saya akan lihat Laras selama kamu pergi."

"Saya bisa menjaga diri," kata Laras.

"Tentu," sahut Bu Ratna. "Tapi menjaga diri tidak berarti harus makan sendirian setiap hari."

Laras tidak dapat menolak alasan itu.

Setelah Bu Ratna pulang, rumah terasa lebih sunyi. Kardus masih menumpuk, hanya satu tirai yang terpasang, dan seprai belum direntangkan.

Bram membuka map tugas di meja makan. "Saya tidak boleh menjelaskan lokasi rinci sebelum tiba. Sinyal mungkin terbatas."

"Saya paham."

"Kalau ada apa-apa, hubungi Bu Ratna, pos jaga, lalu polisi sesuai jenis masalah. Jangan keluar sendirian malam hari."

"Mas Bram."

"Hm?"

"Saya istrimu, bukan lembar prosedur."

Bram menutup map. "Maaf."

"Kamu boleh khawatir. Tapi bicara juga sebagai suami."

Ia diam beberapa detik. "Saya tidak suka meninggalkanmu di rumah yang bahkan belum selesai kita tata."

"Nah, itu lebih manusiawi."

"Saya juga takut Pak Rusdi datang ketika saya tidak ada."

Laras mendekat. "Kalau dia datang, saya tidak membuka gerbang. Saya merekam, memanggil penjaga, dan melapor. Kamu sudah membantu menyiapkan semuanya."

"Saya tahu kamu mampu. Rasa takut tidak selalu mendengarkan fakta."

"Kalau begitu, fakta saya ulangi setiap kali kamu takut."

Bram menariknya ke dalam pelukan. Di tengah kardus dan bau debu, Laras menyandarkan kepala ke dadanya.

Ponsel Bram berbunyi. Pak Hardjono menelepon setelah mendengar jadwal tugas berubah.

"Pastikan surat dan perlengkapannya lengkap," kata ayahnya. "Jangan membuat istrimu mendapat kabar dari orang lain kalau jadwal bergeser."

"Siap, Pak."

Bu Rahayu mengambil alih telepon. "Laras, kalau sepi, pulang saja ke sini. Bram tidak boleh melarang."

"Saya akan tinggal di rumah dinas dulu, Bu. Saya ingin belajar lingkungan."

"Baik. Ibu kirim makanan besok. Jangan hanya makan mi."

Bram menatap istrinya. "Kenapa semua orang menganggap saya membuatmu makan mi?"

"Karena wajahmu seperti orang yang tidak tahu letak kunyit."

Pak Hardjono tertawa dari kejauhan. Panggilan keluarga itu tidak menghapus berat perpisahan, tetapi membuat rumah baru mereka terasa terhubung pada rumah lama.

"Sekarang kita pasang seprai," katanya. "Kalau kamu harus berangkat, setidaknya malam pertama di rumah ini tidak dihabiskan tidur di lantai."

***

Mereka menata rumah sampai malam.

Bram memasang rak dapur. Laras menyusun pakaian, dokumen, dan alat gambar. Mereka bertengkar kecil soal posisi gelas, lalu menyadari tak satu pun benar-benar peduli selama gelas dapat ditemukan.

"Ruang kecil ini untuk kerja," kata Bram.

"Kita mungkin butuh untuk tamu."

"Tamu bisa tidur di ruang depan. Mimpimu tidak perlu dilipat setiap kali ada orang datang."

Laras berhenti di ambang ruang. Sebuah meja lipat sudah berdiri dekat jendela. Di atasnya, Bram meletakkan kotak sketsa yang tadi ia biarkan Laras bawa sendiri.

Di bawah meja ada stopkontak tambahan dan lampu kerja.

"Kamu memasang ini juga?"

"Cahayanya kurang kalau kamu menggambar malam. Kabel mesin jangan bertumpuk dengan setrika."

"Kamu memikirkan banyak hal."

"Saya tidak bisa menggambar pakaian, jadi saya memastikan orang yang bisa menggambar tidak tersandung kabel."

Laras menyentuh permukaan meja. Ia pernah bekerja di sudut kamar sewa, menggunakan lantai sebagai meja potong dan menahan kain dengan buku. Ruang kecil ini belum memiliki mesin yang memadai, tetapi untuk pertama kalinya seseorang memperlakukan pekerjaannya sebagai sesuatu yang pantas mendapat tempat.

"Kapan kamu memasangnya?"

"Saat kamu dan Bu Ratna berdebat tentang tinggi tirai."

"Kami tidak berdebat. Kami berdiskusi."

"Suaranya terdengar sampai asrama."

Laras memukul lengannya dengan sarung bantal.

Setelah mandi, mereka berbaring di kamar yang masih terasa asing. Lampu jalan menyusup melalui tirai baru.

Bram memeluk Laras dari belakang. "Pintu sudah dikunci?"

"Sudah."

"Jendela dapur?"

"Sudah."

"Ponsel diisi?"

Laras berbalik dan menutup mulutnya dengan ciuman.

"Itu cara yang tidak sesuai prosedur," gumam Bram ketika bibir mereka berpisah.

"Tapi efektif."

Ia mencium Laras lagi, kali ini lebih lama. Tidak terburu-buru, tidak menuntut apa pun. Tangan Bram mengusap punggungnya melalui kain tidur, seolah sedang menghafal bahwa perempuan itu benar-benar ada di rumah mereka.

"Pulang dengan selamat," bisik Laras.

"Saya akan berusaha."

"Jangan menjawab seperti itu."

"Saya tidak mau memberi janji palsu. Tapi saya akan mengikuti prosedur, menjaga anggota, dan tidak bertindak bodoh."

"Itu cukup."

Laras menempelkan wajah ke lehernya. "Saya akan menunggu, tetapi tetap menjalani hidup."

"Itu yang saya mau."

Malam pertama di rumah dinas tidak berisi perayaan besar. Hanya dua orang yang berpelukan di antara barang pindahan, saling memberi ruang bagi takut tanpa membiarkannya menguasai.

***

Alarm berbunyi pukul empat.

Laras bangun lebih dulu dan memanaskan nasi. Ia membuat telur, tumis sederhana, serta membungkus bekal yang bisa dimakan di perjalanan.

Bram keluar dengan seragam lapangan. Rambutnya masih basah.

"Kamu tidak perlu bangun."

"Kalau tidak bangun, siapa yang memastikan kamu membawa kaus kaki cadangan?"

"Negara menyediakan kaus kaki."

"Negara tidak memasukkannya ke tasmu."

Bram membuka tas dan menemukan dua pasang sudah terselip. "Saya menikahi bagian logistik."

"Dan kamu terlambat menyadarinya."

Mereka makan dalam cahaya dapur yang redup. Di luar, suara kendaraan dinas mulai terdengar.

Sebelum membawa piring ke bak cuci, Bram menyelipkan selembar kertas di bawah tempat gula.

"Apa ini?"

"Nomor pos jaga, Bu Ratna, kompi, bengkel, dan penjual gas."

"Nomor polisi sudah ada di ponsel."

"Kertas tidak kehabisan baterai."

Laras membaca baris terakhir: `Kalau rindu, kirim pesan. Akan dibalas saat aman.`

"Yang ini nomor siapa?"

"Tidak tertulis karena kamu sudah hafal."

Laras melipat kertas dan memasukkannya ke saku baju tidur. "Saya akan mengirim terlalu banyak."

"Silakan. Saya baca semuanya saat bisa."

Pukul lima kurang, Bram berdiri di ambang pintu dengan ransel di bahu. Ia memeriksa rumah sekali lagi, lalu memandang Laras.

"Kunci pagar setelah saya keluar."

"Hubungi Bu Ratna, pos jaga, polisi. Jangan buka untuk orang asing. Jangan keluar malam. Saya hafal."

"Ada satu lagi."

"Apa?"

Bram menarik pinggangnya dan mencium Laras. Ciuman itu lebih berat daripada semalam, berisi keengganan yang tidak sempat dikatakan. Laras mencengkeram bagian depan seragamnya dan membalas sampai radio dari kendaraan di jalan memanggil.

"Kapten, siap berangkat."

Bram menyentuhkan dahi ke dahinya. "Saya pulang."

"Saya tunggu."

Ia keluar, lalu menunggu sampai Laras mengunci pagar dari dalam. Setelah itu baru ia naik ke kendaraan.

Laras berdiri dengan tangan di besi pagar. Mobil bergerak perlahan menuju tikungan.

Belum juga kendaraan Bram hilang dari pandangan, seseorang mengetuk pagar di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!