Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA LICIK NYONYA FIRA
Nyonya Fira duduk di kursi paviliun-nya. Kedua matanya begitu gelisah. Ia gemetar setelah mendengar kabar terbaru kediaman pangeran Arya.
"Pangeran Arya kambuh, Tetapi putri keluarga wangsa yang terkenal bodoh itu berhasil menenangkannya."
Berita itu menyebar bagaikan angin, Seluruh kota mendengarnya. Bahkan nama gadis bodoh itu semakin membaik. Banyak yang bilang, Pernikahan tolak bala yang di lakukan oleh Aluna berhasil. Gadis itu juga membawa keberuntungan untuk pangeran Arya.
"Sial...Dia bahkan tidak di bunuh oleh pangeran Arya." Kesal nyonya Fira melempar gelas tehnya dengan geram.
"Nyonya, Tenanglah. Ini hanya kebetulan saja. Pangeran Arya sudah banyak membunuh orang, Kali ini ia hanya beruntung saja." Bibi Yun menenangkan nyonya Fira.
"Kau benar, Jika Orang gila itu kambuh lagi. Pasti gadis bodoh itu tak akan selamat." Gumam nyonya Fira menenangkan dirinya sendiri.
"Nyonya!"
Teriak seorang pelayan dengan panik.
Nyonya Fira dan bibi Yun menoleh, Dengan wajah bingung berkata. "Ada apa!" Teriaknya kesal.
"Di luar, Ada utusan pangeran Arya. Dia..." Nyonya Fira mendekat dan menatapnya tajam, Membuat pelayan itu semakin gemetar.
"Dia ingin membawa bibi Yun, Untuk melayani nona sulung di kediaman pangeran Arya."
Prang!
Bibi Yun terjatuh lemas, Tubuhnya bergetar ketakutan. Lututnya tidak kuat. Tubuhnya bergetar seperti daun terkena badai.
"Ini bukanlah undangan biasa, Ini adalah..." Suara pelayan tercekat.
"LANJUTKAN!" Bentak Nyonya Fira. Gelas teh di tangannya pecah.
"Ini adalah... perintah. Dari Yang Mulia Pangeran Arya." Bisik pelayan itu. "Kalau tidak diserahkan... beliau akan datang sendiri."
Hening 3 detik.
Lalu Nyonya Fira tertawa dengan Keras dan Gila. "HAH! MENGANCAM?! DIA BERANI MENGANCAM KELUARGA WANGSA?!"
Bibi Yun merangkak. Mencengkeram ujung rok Nyonya Fira. "Nyonya... ampuni hamba... jangan serahkan hamba..."
"DIAM!" Nyonya Fira menendang tangannya. "Gara-gara kau! Gara-gara kau gagal membunuh gadis itu!"
Bibi Yun menangis. "Aku... aku sudah berusaha..."
Sedangkan, Di depan gerbang keluarga wangsa, 2 prajurit berpakaian hitam berdiri Tegap, Wajahnya tanpa ekspresi. Di belakang mereka kereta besi dari kediaman Arya.
Juna maju. "Mana Bibi Yun?" Nyonya Fira keluar. Senyumnya terlihat dipaksa.
"Juna. Lama tidak bertemu."
"Serahkan Bibi Yun. Sesuai perintah Tuan." Kata Juna datar. Nyonya Fira melirik ke belakang, Bibi Yun diseret oleh 2 pelayan. Kakinya terlihat lemas.
"Yah... tentu. Kami keluarga yang patuh." Nyonya Fira mendorong Bibi Yun maju.
"Bibi, Layani Aluna dengan baik ya. Jangan sampai... membuat kediaman wangsa Malu."
Kata "Malu" itu ditekankan bagaikan Ancaman. Bibi Yun menatap Nyonya Fira. Matanya kosong dan Putus asa.
Dia menyerahkanku
Juna menarik Bibi Yun ke kereta. Mengikat tangannya. Sebelum tirai ditutup, Bibi Yun menoleh ke Nyonya Fira. Berbisik cuma bibir yang gerak:
"Aku akan bawa semua rahasia ikut mati." Nyonya Fira membeku. Lalu Kereta kuda berjalan dengan debu yang mengepul.
Di dalam perjalanan, Bibi Yun duduk meringkuk. Juna menatapnya. "Tuan bilang. Kau akan aman. Asal bicara jujur."
Bibi Yun tertawa getir. "Jujur? Kalau aku jujur, aku mati dan Kalau aku bohong, aku juga mati."
Juna diam. "Setidaknya... mati karena bicara benar." Bibi Yun menutup kosong, Air matanya jatuh. Setelah semua yang ia lakukan, Hanya kematian yang pasti akan ia terima.
Langit mulai redup cahayanya, Rombongan utusan kembali pulang membawa bibi Yun, Gerbang dibuka dengan perlahan. Aluna yang sedang bermain di halaman. Begitu terkejut melihat kereta kuda berhenti, dia langsung lari.
"Yang Mulia, Ada kereta!" Arya keluar dari paviliun. Kursi rodanya berhenti. Tirai dibuka. Bibi Yun diseret keluar. Begitu turun, Bibi Yun menatap Aluna dengan takut, Aluna juga terlihat terkejut.
Aluna langsung mundur selangkah. Tubuhnya gemetar. Bibi Yun, Wanita yang dulu menyiramnya dengan air dingin di musim dingin. Lalu Yang mencubitnya sampai biru, Dan mengurungnya 2 hari tanpa makan.
"Yang... Yang Mulia..." Suara Aluna kecil. Arya menariknya dan Melindungi di belakangnya.
"Tidak apa-apa. Dia tidak akan menyentuhmu lagi." Juna mendorong Bibi Yun , Wanita itu bersujud dengan tubuh bergetar.
"Bicara." perintah Juna. Bibi Yun mengangkat kepala. Wajahnya tua 10 tahun dalam semalam.
"Nona Aluna..." Suaranya serak. "Aku... aku minta maaf."
Aluna tidak jawab, Ia Hanya bersembunyi di balik punggung Arya. Arya menatap Bibi Yun. "Siapa yang menyuruhmu menyiksa dia?"
Bibi Yun menatap lantai cukup Lama. Lalu... "Nyonya Fira. Ibu kandung Nona Zephira."
Zephira.
Nama itu jatuh seperti petir.
Arya mengepalkan tangan di sandaran kursi roda. "Lanjutkan."
"Nyonya bilang... Nona Aluna terlalu bodoh. Memalukan keluarga. Harus 'diajari'." Bibi Yun terisak. "Aku yang lakukan. Aku yang pukul. Aku yang..."
"SUDAH." Potong Arya.
Ia menoleh ke Aluna. "Kau dengar?"
Aluna mengangguk pelan lalu Air matanya jatuh. "Dengar."
"Kau mau aku apakan dia?" Tanya Arya pelan.
Aluna menggigit bibir, Ia Ingat semua sakitnya dan Ingat malam-malam dirinya kedinginan di gudang. Lalu ia maju selangkah. Berdiri di depan Bibi Yun.
"Bibi."
Bibi Yun menunduk. "Ya Nona."
"Mulai hari ini. Bibi kerja di kandang ayam. Jaga mereka, Kasih makan mereka dan Bersihkan kotorannya."
Bibi Yun terkejut. "Cuma... itu?"
"Iya." Aluna menarik napas. "Aku tidak mau Bibi mati. Tapi aku juga tidak mau Bibi bebas." Itu hukuman paling kejam untuk Bibi Yun.
Setiap hari lihat ayam. Hewan yang dulu dia pakai buat mukul Aluna.
Bibi Yun langsung bersujud. "Terima kasih Nona! Terima kasih!" Kedua mata bibi Yun memerah, Setelah selama ini ia melakukan dosa pada gadis itu, Hukuman yang ia terima sungguh terlalu ringan.
Arya menatap Aluna lama. Lalu mengusap kepalanya. "Kau terlalu baik."
Aluna menggeleng. "Engga. Aku cuma... tidak mau jadi seperti mereka." Ucapan polos itu, Membuat Arya tersenyum bangga.
***
Nyonya Fira melempar semua barang. Mata-matanya mengatakan, Bahwa bibi Yun tidak di bunuh, Dia justru di pekerjakan.
"DIA HIDUP!! BIBI YUN HIDUP!!" Marahnya, Para pelayan yang melihat itu langsung ketakutan.
"Nyonya, Putri mahkota datang!" Teriak penjaga, Nyonya Fira yang sedang kesal itu langsung menoleh.
Tak lama, Zephira datang dengan wajah serius. Zephira masuk, Wajahnya pucat. "Ibu. Ada surat dari istana."
"APA LAGI?!"
"Ibu Suri... mengundang Aluna. 3 hari lagi. Untuk 'jamuan teh'."
Nyonya Fira membeku.
Jamuan teh Ibu Suri \= ajang menguji. Kalau gagal \= mati.
Nyonya Fira tersenyum seperti orang Gila.
"Bagus. Kalau Pangeran Arya tidak membunuhnya... biar Ibu Suri yang melakukannya." Ucap nyonya Fira, Zephira terlihat ragu.
"Bagaimana jika pangeran Arya melindunginya ibu?" Nyonya Fira menoleh, Kedua matanya memerah. Senyumnya semakin lebar.
"Melindungi?" Nyonya Fira mendekati zephira. Mencubit dagunya. "Anak bodoh, itu ibu suri."
Ia melempar surat undangan itu ke meja. Terlihat Kertas emas dan Segel naga.
"Yang berani melawan Ibu Suri di depan umum... hanya ada 2 akibat, Mati Atau dibuang ke biara." Zephira menggigit bibir. "Tapi Paman... dia gila. Dia bisa—"
"BISA APA?!" Bentak Nyonya Fira.
"Membunuh Ibu Suri di istana?! Dia mau sekalian memberontak?!"
Zephira terdiam.
Nyonya Fira menepuk pipi Zephira dengan Pelan tetapi sakit.
"Dengar, 3 hari ini. Kau latihan dan Latih Aluna jadi bodoh. Buat dia salah duduk, salah bicara, salah pegang cangkir. Di depan Ibu Suri... satu kesalahan kecil sama dengan aib keluarga kerajaan."
Zephira langsung paham dan Matanya berbinar. "Ibu jenius."
"Dan satu lagi." Nyonya Fira berbisik. "Kita sebar gosip dan Bilang Aluna itu... anak haram. Bukan darah Wangsa."
Zephira terkejut. "Ibu!"
"Supaya kalau dia mati, tidak ada yang menangis dan menyangkut pautkan dirinya dengan kediaman wangsa." Nyonya Fira tertawa. "Mengerti?"
Zephira mengangguk. "Mengerti."
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏