NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xiaoqi Menyusup ke Lobi Perusahaan

Waktu seakan berhenti berputar di lobi yang luas dan dingin itu. Orang-orang yang berjalan terburu-buru, bunyi langkah kaki di atas lantai marmer, suara deru pintu lift yang terbuka dan tertutup — semuanya seakan memudar menjadi latar belakang yang samar. Hanya tersisa mereka berdua: Lin Yicheng berdiri tegak di depan lift, menatap anak kecil di hadapannya dengan tatapan yang tak bisa ia baca sendiri — campuran antara keterkejutan, kebingungan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang berdenyut pelan namun kuat di dadanya, seakan mengenali anak ini sebelum ia sempat berpikir. Dan Xiaoqi — berdiri beberapa langkah di depannya, jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia merasa bisa mendengar bunyinya sendiri, matanya tak berkedip menatap wajah pria yang selama ini hanya ia lihat di foto yang sudah mulai menguning itu.

Dari dekat, Ayah terlihat berbeda — lebih nyata, lebih hidup, lebih mengesankan. Matanya yang tajam kini sedikit melebar, alisnya sedikit berkerut, seakan sedang berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Ia tidak tersenyum, tapi tatapannya tidak dingin seperti yang dibayangkan Xiaoqi — hanya penuh pertanyaan, penuh keraguan, penuh kebingungan yang tulus.

Xiaoqi ingin berkata sesuatu, ingin memanggil kata yang sudah berbulan-bulan ia latih di depan cermin — "Ayah" — tapi kata itu terasa berat di lidahnya, berat karena sudah ditunggu terlalu lama, berat karena takut suaranya akan pecah sebelum selesai terucap. Ia hanya berdiri diam, kedua tangannya meremas ujung seragam sekolahnya, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, berusaha sekuat tenaga agar air mata tidak jatuh — ia tidak ingin terlihat lemah di pertemuan pertama ini. Ia ingin Ayah melihatnya sebagai anak yang berani, anak yang tidak menyerah, anak yang layak untuk dikenali.

Yicheng melangkah maju pelan, satu langkah, lalu berhenti — takut membuat anak itu takut, takut menyapanya dengan cara yang salah. Ia menatap wajah anak itu, mempelajari setiap detailnya — bentuk matanya, lengkung alisnya, garis rahangnya yang masih kekanak-kanakan tapi sudah tegas — dan semakin ia melihat, semakin ia merasa dunia di sekitarnya berputar perlahan. Anak ini… anak ini terlihat persis seperti dirinya saat seusia itu. Bahkan cara ia berdiri, cara ia menatap lurus tanpa membuang muka — semuanya seperti bayangan cermin dari dirinya sendiri, versi kecil, lima tahun yang lalu.

"Nak…" suara Yicheng terdengar lebih rendah dan lembut dari biasanya, hampir berbisik, seakan takut merusak keheningan di antara mereka. "Siapa kamu? Dan… bagaimana kamu tahu nama saya?"

Xiaoqi menelan ludah, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih liar. Ia melangkah satu langkah lagi mendekat, sampai jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah saja, lalu menatap lurus ke mata ayahnya, suaranya jernih dan tegas — persis seperti yang ia latih.

"Saya Xiaoqi," jawabnya, suaranya sedikit bergetar tapi tidak goyah. "Lin Xiaoqi. Dan saya tahu nama Ayah… karena Ibu menyimpannya di dompetnya, bersama foto Ayah. Saya melihatnya. Saya menghafalnya."

Yicheng tertegun. Xiaoqi… Lin Xiaoqi. Nama itu — nama depannya diambil dari nama panggilan kesayangan yang dulu sering ia ucapkan dengan lembut, nama keluarganya… Lin. Lin Xiaoqi. Ia memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu kencang, begitu kencang hingga ia merasa sulit bernapas. Foto di dompetnya… Su Wan menyimpan fotonya. Dan anak ini — anak ini bernama Lin Xiaoqi.

"Xiaoqi…" ulang Yicheng pelan, merasakan nama itu di lidahnya, merasakan kehangatan yang menjalar dari hati ke seluruh tubuhnya. "Kamu… kamu bilang… saya Ayahmu?"

Xiaoqi mengangguk, air mata yang ia tahan akhirnya meluncur turun membasahi pipinya, tapi ia tidak menyekanya — ia tidak peduli lagi. "Iya. Ibu bilang… Ayah pergi sebelum saya lahir. Ibu bilang Ayah tidak tahu tentang keberadaan saya. Tapi saya tahu. Saya tahu Ayah ada di sini. Saya tahu Ayah bekerja di gedung ini, di lantai paling atas. Saya melihat Ayah dari seberang jalan. Saya menghitung lantai gedung ini. Saya menghafal nama perusahaan ini. Saya mencari tahu alamatnya. Saya… saya ingin bertemu Ayah."

Setiap kata yang keluar dari mulut anak itu menghantam hati Yicheng semakin keras, semakin dalam, meruntuhkan tembok dingin yang ia bangun selama lima tahun ini. Anak ini — anak ini adalah anaknya. Darah darahnya. Daging dagingnya. Su Wan pergi membawa anaknya, menyembunyikannya, melindunginya — dan sekarang, anak ini berdiri di hadapannya, bukan karena diantar, bukan karena dijemput, tapi karena ia sendiri datang, karena ia sendiri mencari jalannya, karena ia tidak mau menunggu lagi.

Yicheng berlutut perlahan di hadapan Xiaoqi, menyamakan tingginya dengan anak itu, agar mereka bisa saling menatap tanpa satu di atas yang lain. Tangannya yang biasanya tegas dan kuat kini gemetar saat ia bergerak perlahan, menyentuh bahu kecil anak itu dengan lembut, seakan takut ia akan menghilang jika disentuh terlalu keras.

"Kamu… kamu benar-benar anakku?" bisiknya, matanya berkaca-kaca, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak hari Su Wan pergi. "Kamu dan Su Wan… kalian ada di kota ini sepanjang waktu?"

Xiaoqi mengangguk lagi, air matanya mengalir lebih deras, tapi ia tersenyum — senyum yang begitu tulus, begitu hangat, persis seperti senyum ibunya. "Kami baru kembali, Ayah. Kami baru pulang ke kota ini beberapa minggu yang lalu. Dan sejak hari pertama… saya selalu melihat gedung ini. Saya selalu tahu Ayah ada di sini."

Yicheng tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia merentangkan kedua tangannya, dan Xiaoqi — tanpa ragu, tanpa takut, tanpa bertanya — langsung berlari masuk ke dalam pelukan ayahnya, memeluk pinggangnya erat, menyandarkan kepalanya di dada ayahnya, mendengarkan detak jantungnya yang berpacu cepat, merasakan kehangatan tubuhnya, mencium bau yang khas — bau jas bersih, kopi, dan sesuatu yang terasa seperti rumah, seperti tempat di mana ia seharusnya berada sejak lama.

Yicheng memeluk anak itu erat, sangat erat, seakan ingin memeluk kembali lima tahun yang hilang, seakan ingin menebus semua waktu yang terpisah, seakan takut jika ia melepaskan pelukannya, anak ini akan menghilang seperti ibunya dulu. Ia mencium puncak kepala anaknya, mencium rambut hitamnya yang lembut, dan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh — bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan yang begitu besar hingga terasa menyakitkan, karena rasa syukur yang tak terlukiskan, karena akhirnya — akhirnya — ia tidak sendirian lagi.

"Maafkan Ayah… maafkan Ayah, Xiaoqi…" bisik Yicheng berulang kali, suaranya pecah di bahu anaknya. "Ayah tidak tahu. Ayah tidak tahu kamu ada di dunia ini. Maafkan Ayah karena tidak ada di sisimu selama lima tahun ini. Maafkan Ayah…"

"Tidak apa-apa, Ayah," Xiaoqi memeluk ayahnya lebih erat, tersenyum di dada ayahnya. "Yang penting sekarang kita sudah bertemu. Yang penting Ayah tahu saya ada di sini. Saya tidak menyesal datang ke sini."

Mereka berpelukan cukup lama di tengah lobi yang megah itu, tidak peduli orang-orang yang lewat, tidak peduli tatapan heran dari resepsionis dan karyawan yang melihat dari kejauhan — di momen ini, tidak ada CEO dan tidak ada anak kecil. Hanya ayah dan anak, yang akhirnya menemukan satu sama lain setelah terpisah begitu lama.

 

Beberapa menit kemudian, Yicheng mengangkat Xiaoqi ke dalam pelukannya, dan Xiaoqi melingkarkan kedua kakinya di pinggang ayahnya, kedua tangannya melingkar erat di leher ayahnya, menempelkan pipinya ke bahu ayahnya, merasa begitu aman, begitu hangat, begitu lengkap — perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan yang membuatnya ingin tidak pernah pergi dari pelukan ini.

Yicheng berjalan menuju lift pribadinya, membawa anak itu naik ke lantai empat puluh — kantornya, tempat yang biasanya hanya untuk pekerjaan, tempat yang sepi dan dingin, kini tiba-tiba terasa penuh kehidupan karena kehadiran anak kecil di pelukannya.

Saat pintu lift terbuka, Zhang Li berdiri di luar, berniat melaporkan sesuatu, tapi ia terhenti di tempatnya, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya — Tuan Lin, pria yang selalu dingin dan serius, pria yang tidak pernah terlihat lemah, sedang memeluk seorang anak kecil di pelukannya, dengan ekspresi wajah yang lembut, penuh kelembutan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Tuan Lin… ini…" Zhang Li bingung, tidak tahu harus berkata apa.

Yicheng tidak meletakkan Xiaoqi, ia hanya menatap sekretarisnya dengan senyum tipis namun penuh kebahagiaan — senyum yang sungguh-sungguh, bukan senyum sopan untuk bisnis. "Zhang Li, ini Xiaoqi. Anakku."

Zhang Li terkejut, mulutnya sedikit terbuka, tapi ia segera tersenyum tulus — senyum bahagia untuk atasannya yang selama ini ia tahu kesepian. "Anak Anda? Tuan Lin… selamat, Tuan. Dia… dia sangat mirip dengan Anda."

"Ya, dia mirip sekali dengan Ayahnya," Yicheng tersenyum, mencium puncak kepala Xiaoqi, lalu berjalan masuk ke kantornya, membawa anak itu masuk ke ruangan yang biasanya sunyi itu. "Batalkan semua jadwal saya hari ini. Saya tidak akan ke mana-mana. Dan tolong siapkan makan siang — banyak, makanan yang anak-anak suka. Bawa ke sini, terima kasih."

"Baik, Tuan Lin. Segera," jawab Zhang Li dengan semangat, lalu berjalan pergi dengan langkah ringan, seakan beban berat di pundak atasannya kini sedikit terangkat.

 

Di dalam kantor yang luas itu, Xiaoqi duduk di atas meja kerja ayahnya, menggantungkan kakinya yang kecil, menatap sekeliling dengan mata berbinar — rak buku penuh buku tebal, jendela kaca raksasa yang menampilkan seluruh kota di bawah sana, kursi besar yang bisa berputar, bola dunia di sudut ruangan. Semuanya terasa begitu hebat, begitu megah — tapi yang paling hebat bukan gedungnya, bukan meja kerjanya, bukan pemandangannya — tapi pria yang berdiri di depannya, ayahnya, yang menatapnya dengan mata penuh kasih sayang yang tak pernah ia bayangkan akan diterimanya.

"Jadi… Ayah bekerja di sini setiap hari?" tanya Xiaoqi, menyentuh permukaan meja kayu mahoni yang halus dan mengkilap.

"Ya, setiap hari," jawab Yicheng, duduk di kursinya, menarik kursi tambahan di samping meja agar bisa duduk dekat dengan anaknya, tidak di seberang meja seperti biasanya. "Tapi mulai hari ini, Ayah akan pulang lebih awal. Ayah akan meluangkan waktu untukmu. Ayah berjanji."

Xiaoqi tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia. "Benarkah? Ayah tidak akan terlalu sibuk lagi?"

"Ya. Tidak seberat dulu. Karena sekarang Ayah punya alasan untuk pulang tepat waktu," Yicheng mengusap rambut hitam anaknya dengan lembut, tangannya masih tidak berhenti menyentuhnya, seakan ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi, bahwa anak ini benar-benar ada di hadapannya, nyata, hidup, miliknya. "Xiaoqi… Ayah ingin bertanya sesuatu. Mengapa Ibu tidak memberi tahu Ayah tentangmu? Mengapa dia pergi tanpa memberi tahu Ayah bahwa dia sedang mengandungmu?"

Senyum Xiaoqi sedikit memudar. Ia menunduk, memainkan ujung kemejanya. "Ibu bilang… dulu keluarga Ayah tidak menyukainya. Ibu bilang Ayah punya banyak tanggung jawab, dan dia tidak ingin menjadi beban bagi Ayah. Jadi dia pergi, agar Ayah bisa hidup tenang, tanpa terganggu olehnya dan oleh saya. Tapi Ibu selalu bilang… Ayah bukan orang jahat. Ayah orang baik. Ayah hanya terlalu sibuk."

Kata-kata itu — "tidak ingin menjadi beban" — menembus hati Yicheng lebih tajam daripada pisau. Jadi itulah alasannya. Su Wan pergi bukan karena tidak mencintainya, bukan karena bosan — tapi karena melindunginya, melindungi dirinya, melindungi anak yang sedang tumbuh di dalam kandungannya. Ia pergi karena ia pikir itu cara terbaik untuk menjaga mereka semua — dan Yicheng, yang terlalu sibuk, terlalu buta, terlalu terjebak dalam aturan dan tekanan, tidak pernah menyadari itu. Ia menyalahkannya selama lima tahun, membenci ketidakhadirannya, meratapi kepergiannya — padahal ia pergi karena mencintainya, karena ingin melindunginya.

"Ayah menyesal, Xiaoqi…" bisik Yicheng, suaranya penuh penyesalan yang mendalam. "Ayah menyesal tidak lebih berjuang untuk Ibu. Ayah menyesal tidak menemukannya lebih cepat. Ayah menyesal membiarkan kalian berdua menghadapi semuanya sendirian selama lima tahun ini. Ayah seharusnya ada di sana. Ayah seharusnya melindungi kalian berdua."

Xiaoqi mengangkat wajah, melihat air mata di mata ayahnya, lalu meraih tangan besar ayahnya dengan kedua tangannya yang kecil, memegangnya erat. "Tidak apa-apa, Ayah. Sekarang kita sudah bertemu. Itu yang penting. Dan sekarang… Ayah bisa bertemu Ibu juga. Ibu pasti akan senang melihat Ayah. Dia selalu menyimpan foto Ayah di dompetnya, setiap hari."

Yicheng menatap tangan kecil anaknya yang memegang tangannya, merasakan kehangatan itu, merasakan harapan yang begitu murni dari anak yang baru pertama kali ia temui namun sudah begitu mencintainya. Ia harus bertemu Su Wan. Ia harus meminta maaf. Ia harus memberitahunya bahwa ia tahu — bahwa ia mengerti — bahwa ia tidak akan membiarkan mereka pergi lagi, tidak peduli apa kata ayahnya, tidak peduli apa aturan keluarga, tidak peduli apa pun yang orang lain katakan. Su Wan dan Xiaoqi adalah keluarganya. Dan ia akan melindungi mereka, apa pun risikonya.

"Xiaoqi," ucap Yicheng lembut, menatap anaknya dengan tekad yang kuat. "Ayah akan bertemu Ibu. Ayah akan meminta maaf padanya. Ayah akan menjelaskan semuanya. Dan Ayah tidak akan membiarkan kalian berdua pergi lagi. Kita akan menjadi keluarga yang utuh. Ayah berjanji."

Xiaoqi tersenyum bahagia, melompat turun dari meja, lalu memeluk ayahnya lagi, memeluknya erat. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih. Saya tahu Ayah pasti mau menerima kami. Saya tahu Ayah tidak akan menolak kami."

Yicheng memeluk anak itu kembali, memejamkan matanya, merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan — kebahagiaan memiliki anak, kebahagiaan menemukan kembali alasan untuk hidup, kebahagiaan mengetahui bahwa ia tidak sendirian.

Tapi tiba-tiba Xiaoqi melepaskan pelukannya, menatap jam di pergelangan tangannya — jam weker kecil yang selalu ia bawa. Matanya sedikit melebar.

"Ayah! Sudah jam satu lewat sepuluh! Saya harus pulang! Ibu akan khawatir kalau saya tidak pulang sekolah!"

Yicheng terkejut, melirik jam di dinding — benar, waktu berjalan begitu cepat saat ia bahagia, ia hampir lupa bahwa anak ini seharusnya sudah pulang ke rumah dan ibunya pasti sedang menunggu, mungkin sudah cemas.

"Benar, Xiaoqi. Ayah harus mengantarmu pulang," Yicheng segera berdiri, mengambil jasnya, lalu memegang tangan anaknya. "Ayah akan mengantarmu. Dan Ayah akan bertemu Ibu. Hari ini. Sekarang."

Xiaoqi tersenyum, mengangguk semangat. "Iya, Ayah! Ayo kita pergi!"

Mereka berjalan keluar dari kantor itu — Yicheng memegang tangan kecil anaknya erat, tidak ingin melepaskannya lagi, berjalan menuju lift, menuruni lantai, melewati lobi yang kini terasa tidak lagi sepi dan dingin — karena di sampingnya ada Xiaoqi, sinar matahari kecil yang menerangi hidupnya yang selama ini kelabu.

Di lobi, resepsionis yang tadi berbicara dengan Xiaoqi melihat mereka berjalan berdampingan — Tuan Lin, pria yang selalu dingin, kini tersenyum lebar, memegang tangan anak kecil yang mirip sekali dengannya, dan anak itu tersenyum bahagia, menatap ayahnya dengan kekaguman yang tak terhingga. Mereka berjalan keluar dari gedung, menuju mobil yang menunggu di depan pintu utama — dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lin Yicheng tidak berjalan sendirian. Ia berjalan bersama anaknya. Dan ia tahu — hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!