Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.35 Kilas balik detik-detik penyekapan Luna dan Emily
Alur mundur menelusuri kejadian di dalam gudang sebelum kedatangan Leon. Luna dan Emily disekap dalam ruangan terkunci dengan penjagaan ketat. Di tengah situasi krisis tersebut, Luna sepenuhnya mengesampingkan rasa takutnya sendiri demi menjaga mental dan keselamatan Emily.
Luna terus mendekap Emily dan tidak sedetik pun melepaskan gadis kecil yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri itu. Emily terus menenggelamkan kepalanya di dada Luna karena ketakutan melihat tampang seram para algojo yang bertugas menjaga mereka berdua, Dengan lembut dan tenang Luna mengusap rambut Emily meski dia sendiri juga ketakutan menghadapi situasi yang sangat mencekam ini apalagi moncong senapan para algojo itu terus terarah pada dirinya dan Emily " Tenang sayang, kamu aman bersama mami Luna di sini, jangan menangis lagi karena papa akan segera datang menyelamatkan kita berdua," ucap Luna berbisik pada Emily kecil yang terisak dalam pelukannya itu.
Pimpinan musuh yang frustrasi karena kepungan pasukan Leon mulai kehilangan kendali emosi. Ia berniat melampiaskan kemarahannya dengan menyakiti Emily untuk memancing reaksi dan meruntuhkan mentalitas Leon yang sedang menerobos masuk.
"Cepat! lukai tikus kecil itu! Aku ingin lihat seberapa besar nyali Leon melihat putri kecilnya kita gores sedikit saja, hahahahaha," pimpinan musuh itu terbahak membayangkan reaksi Leon nanti saat melihat Emily terluka oleh algojo musuh yang sudah siap di hadapannya itu.
Saat salah satu algojo musuh mengarahkan pukulan dan senjata ke arah Emily yang ketakutan, Luna tanpa ragu melempar tubuhnya untuk pasang badan. Ia menjadikan punggung dan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup demi melindungi putri kecilnya dari serangan fisik dan bahaya serpihan ledakan.
"Jangan...!! Hentikan...!!" teriak Luna sambil menutupi Emily dengan tubuhnya sendiri dan alhasil pukulan algojo itupun menghantam punggung Luna membuat Luna merasakan sakit luar biasa di punggungnya, Luna sempat meringis kesakitan menahan pukulan algojo itu tapi demi Emily dia harus kuat dan tegar, Emily menjerit histeris saat melihat Luna terhuyung menabrak Emily "Mami Luna....!!" teriak Emily sambil menangis memegangi tubuh Luna "Tidak apa-apa sayang, mami Luna tidak apa-apa," ucap Luna meringis menahan sakit di punggungnya itu.
"Sok mau jadi pahlawan kamu, bagus, sangat bagus," ucap pimpinan musuh itu tersenyum sinis mendekati Luna. "Kalau begitu bantai saja keduanya biar Leon tidak bisa menembus pertahanan kita lagi, cepat....!!" perintah pimpinan musuh itu pada algojonya.
Algojo berbadan kekar itu mengangkat tongkat besinya tinggi-tinggi, siap menghantamkan senjata itu tepat ke arah kepala Luna dan Emily. Namun, tepat sebelum besi itu terayun, suara ledakan dahsyat memporak-porandakan dinding bagian belakang gudang!
BOOOMM!
Debu batubara, serpihan semen, dan asap tebal membubung tinggi, menghentak gelombang udara yang merobohkan barikade musuh. Algojo yang berdiri di depan Luna terlempar beberapa meter akibat daya ledak. Di tengah kepulan asap yang pekat, bayangan jangkung melangkah masuk dengan ketenangan yang mematikan. Dua pistol berperedam suara di kedua tangannya memuntahkan timah panas tanpa henti.
DAP! DAP! DAP!
Tiga anak buah musuh di barisan depan roboh seketika dengan lubang peluru tepat di antara kedua mata mereka. Pimpinan musuh terbelalak panik, melangkah mundur berantakan sembari berteriak histeris.
Pimpinan musuh yang panik segera mengeluarkan perintah pada pasukannya "Tembak! Tembak iblis itu! Jangan biarkan dia mendekat!"
Bukannya surut, Leon menerobos hujan peluru dengan gerakan taktis yang begitu presisi. Setiap langkahnya diiringi jeritan musuh yang tumbang satu per satu. Aura pembunuh yang memancar dari tubuhnya begitu pekat hingga mampu membuat ruangan itu terasa sedingin es.
Suara Leon terdengar berat, menggelegar menembus deru asap "Siapa pun... yang menyentuh wanitaku..."
Leon melompat cepat, mencengkeram leher algojo yang tadi memukul Luna, lalu mematahkan tulang leher pria itu dengan sekali hentakan kasar tanpa menghentikan langkahnya.
"...akan aku kirim langsung ke neraka!" ucap Leon dengan mata merah menyala penuh amarah.
Dengan sisa tiga peluru di senjatanya, Leon melumpuhkan pengawal terakhir, meninggalkan pimpinan musuh yang kini tersudut gemetar di dekat Luna dan Emily.
Luna yang melihat dengan mata kepala sendiri pertempuran berdarah itu seketika menjadi lemas dan gemetar dia tidak pernah membayangkan akan melihat mayat-mayat berjatuhan di depan matanya, Luna yang sedari tadi memeluk Emily dan menutup kuping Emily agar tidak mendengar suara mesiu yang saling menghujam itu akhirnya bisa sedikit lega karena Leon benar-benar datang untuk menyelamatkan dirinya dan Emily. Luna menatap sang mafia dengan tatapan penuh haru dan bangga.
Leon yang masih berdiri tegak dengan kedua tangan yang masih memegang pistol dan bajunya yang penuh bersimbah darah itu menatap ke sekeliling ruangan dengan penuh selidik memastikan kalau pasukan musuh sudah tidak ada yang tersisa lagi di ruangan tempat penyekapan Luna dan Emily.
Sementara itu pimpinan musuh yang terduduk lemas dan gemetar melihat ke arah Leon dia merengek meminta untuk tidak di habisi seperti yang lainnya. "L_Leon ampuni aku, tolong ampuni aku, aku akan tebus semua kesalahanku aku akan lakukan apapun yang kamu mau asalkan kamu ampuni aku," ucap pimpinan musuh itu yang tiba-tiba saja jadi lemah dan tidak segarang tadi sewaktu dia memerintahkan algojo untuk membantai Luna dan Emily. Leon tersenyum di satu sudut bibirnya menatap sinis ke arah pimpinan musuh itu "Ampun?" ucap Leon tersenyum mencibir pada pimpinan musuh itu. Leon mengangkat pistolnya dan mengarahkan pada kepala pimpinan musuh itu " Tadi sudah aku katakan siapapun yang berani menyentuh wanita dan anakku akan aku kirim ke neraka," suara Leon terdengar rendah tapi cukup mencekam.
T-tidak, Leon! Tolong! Aku punya uang, aku punya wilayah—ambil semuanya! Jangan bunuh aku!" ratap pimpinan musuh itu dengan napas memburu, merangkak mundur hingga punggungnya membentur tumpukan kayu yang lapuk. Air mata ketakutan mengalir di wajahnya yang pucat pasi, benar-benar kehilangan martabatnya sebagai pimpinan sindikat.
Leon tidak bergeming sedikit pun. Matanya sedingin es, menatap pria di hadapannya tak ubahnya seperti menatap seekor serangga yang siap diinjak.
"Uangmu tidak ada harganya. Dan wilayahmu? Tanpa kamu minta pun, besok pagi semuanya sudah menjadi milikku," sahut Leon dengan nada datar tanpa emosi.
"Leon, ampu—"
DORRR!
Satu tembakan membungkam jeritan itu untuk selamanya. Pimpinan musuh ambruk kaku ke semen dingin dengan lubang peluru tepat di tengah dahinya. Keheningan langsung menyelimuti gudang tua yang kini berantakan tersebut.
Leon menurunkan senjatanya, lalu meniup tipis asap tipis yang keluar dari ujung laras pistolnya sebelum menyimpannya kembali ke dalam sarung pistol di pinggangnya. Pria itu memutar tubuhnya tanpa memandang lagi mayat di belakangnya.
"Marco," panggil Leon dingin pada kepala pengawalnya yang baru saja merangsek masuk bersama sisa pasukan.
"Siap, Tuan," sahut Marco menunduk hormat.
"Ratakan tempat ini dengan tanah. Pastikan tidak ada satu pun jejak dari kelompok mereka yang tersisa di kota ini," perintah Leon lugas. Ia kemudian mempercepat langkahnya menyusul tim medis yang sedang melarikan Luna dan Emily menuju helikopter, siap memastikan wanita yang telah mempertaruhkan nyawa demi anaknya itu mendapatkan pertolongan terbaik.