Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suara gemuruh ribuan penonton terdengar memekakkan telinga di alun-alun utama kota hari itu.
Sebuah panggung raksasa berukuran setengah lapangan sepak bola telah berdiri megah dengan spanduk besar bertuliskan Festival Kuliner Bintang Samudera.
Di atas panggung tersebut, dua buah meja dapur kelas profesional berbahan baja nirkarat sudah disiapkan lengkap dengan kompor bertekanan tinggi.
Di kursi barisan paling depan, tiga orang pria paruh baya dengan pakaian necis duduk dengan wajah sombong.
Mereka adalah dewan juri sekaligus kritikus makanan nasional yang sengaja didatangkan langsung dari ibu kota oleh Pak Wijaya.
Di belakang panggung yang tertutup tirai merah, Pak Wijaya sedang tersenyum licik menyerahkan tiga buah koper kulit berukuran sedang kepada para juri tersebut.
"Ini sedikit uang saku tambahan untuk liburan bapak-bapak sekalian di kota kami," ucap Pak Wijaya dengan nada merendahkan.
"Tugas kalian sangat mudah, cukup beri nilai sempurna untuk masakan Chef Hasan dan caci maki masakan pemuda gerobakan itu sampai dia menangis."
Juri utama yang memiliki kumis tebal tertawa pelan sambil mengelus koper kulit yang berisi tumpukan uang tunai tersebut.
"Tenang saja Pak Wijaya, urusan menghancurkan mental koki jalanan adalah keahlian utama kami," jawab juri berkumis itu dengan percaya diri.
"Lidah kami ini sudah dilatih untuk menolak makanan murah yang tidak berkelas."
Pak Wijaya mengangguk puas lalu berjalan keluar menuju area VIP di sebelah panggung utama.
Teng teng teng.
Suara gong dipukul dengan keras oleh pembawa acara menandakan bahwa kompetisi duel memasak akan segera dimulai.
"Selamat siang warga kota semuanya, mari kita sambut peserta pertama kita, Koki Eksekutif dari Restoran Bintang Samudera, Chef Hasan!" teriak pembawa acara melalui mikrofon.
Chef Hasan berjalan keluar dari balik panggung mengenakan seragam koki berwarna putih bersih dan topi tinggi yang menjulang.
Sorak sorai penonton bayaran dan karyawan restoran langsung menggema memenuhi alun-alun menyambut koki sombong tersebut.
"Dan inilah penantangnya, seorang pemuda yang sedang viral dan mengguncang dunia kuliner lokal kita, pemilik Kedai Raja Kuliner, Saudara Galang!" lanjut pembawa acara dengan nada yang tak kalah heboh.
Galang berjalan menaiki tangga panggung hanya dengan mengenakan kemeja hitam polos dan celemek cokelat andalannya.
Di belakangnya, Bima ikut naik membawakan boks pendingin berisi bahan makanan dan sebuah koper hitam berukir naga emas.
Huuuuu.
Suara sorakan mengejek langsung terdengar dari kubu penonton bayaran Pak Wijaya saat melihat penampilan sederhana Galang.
Namun ejekan itu langsung tenggelam oleh teriakan dukungan yang luar biasa keras dari ratusan mahasiswa Universitas Nusantara.
"Hidup Bang Galang! Buktikan kalau makanan jalanan bisa ngalahin makanan hotel!" teriak Bima dari pinggir panggung memimpin yel-yel suporter.
Galang melambaikan tangannya dengan senyum tenang ke arah kerumunan mahasiswa yang sudah setia mendukungnya.
Ia lalu berjalan ke mejanya dan meletakkan koper hitam legendaris itu tepat di atas meja baja nirkarat.
Chef Hasan yang berdiri di meja seberang mendengus kasar melihat ketenangan lawan mudanya tersebut.
"Kau tidak akan bisa lari ke mana-mana lagi hari ini anak muda," ejek Chef Hasan dari seberang meja.
"Aku akan membuatmu sadar betapa jauhnya jarak antara makanan jalanan dengan seni kuliner tingkat tinggi."
Chef Hasan memberi isyarat pada asistennya untuk membuka kotak bahan makanan mereka.
Wusss.
Asap dingin dari es kering langsung mengepul keluar saat kotak itu dibuka memamerkan bahan-bahan super mewah.
"Lihat ini, daging sapi wagyu A5 impor asli, jamur truffle putih, dan kaviar kualitas premium," pamer Chef Hasan dengan suara lantang ke arah mikrofon.
Para penonton langsung bersorak kagum melihat bahan-bahan bernilai puluhan juta rupiah itu dipamerkan di atas meja.
Galang sama sekali tidak terpengaruh oleh pameran kemewahan tersebut dan mulai membuka boks pendingin miliknya sendiri.
Ia mengeluarkan lima ekor ayam kampung betina utuh, beberapa ikat sayuran segar, dan satu kantong tepung gandum pilihan.
Suara tawa meremehkan langsung terdengar dari arah meja juri VIP di depan panggung.
"Astaga, dia benar-benar mau melawan wagyu dan truffle menggunakan ayam kampung murahan itu?" sindir juri berkumis tebal sambil menggelengkan kepala.
"Ini benar-benar penghinaan bagi panggung kuliner megah ini."
Teng.
"Waktu memasak selama satu jam dimulai dari sekarang!" teriak pembawa acara meresmikan dimulainya pertarungan.
Cetek. Wusss.
Kedua kompor bertekanan tinggi itu menyala secara bersamaan dengan api biru yang sangat besar.
Chef Hasan mulai bergerak dengan teknik memasak klasik Prancis yang sangat elegan dan tertata rapi.
Ia memotong daging wagyu itu dengan pisau peraknya lalu menumisnya dengan mentega hingga mengeluarkan aroma harum yang luar biasa.
Sreng sreng.
Bau wangi dari lelehan mentega dan lemak daging sapi mahal itu langsung menyebar ditiup angin ke seluruh penjuru alun-alun.
Banyak penonton yang langsung menelan ludah karena tergiur oleh aroma masakan Chef Hasan yang sangat mewah tersebut.
"Wangi banget gila, pantesan harga di restorannya mahal minta ampun," bisik seorang penonton di barisan depan.
Sementara itu, di meja seberang, Galang belum menyalakan wajannya sama sekali.
Ia menatap ayam kampung utuh di depannya lalu memutar kunci koper hitam legendarisnya dengan perlahan.
Klak klak.
Koper terbuka dan Galang menarik keluar pisau serbaguna bergagang kayu hitam dengan corak naga emas di bilahnya.
Sring.
Bilah tajam itu memantulkan cahaya matahari siang dengan sangat menyilaukan hingga membuat beberapa penonton harus menyipitkan mata.
Galang mengambil napas dalam-dalam dan langsung mengaktifkan efek pasif kecepatan memotong dari pisau legendarisnya.