Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
BAB 11
NASI YANG MENDINGIN
Uap terakhir menghilang dari nasi sebelum Dimas pulang.
Wulan duduk di depan meja makan dengan kepala bersandar pada telapak tangan. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh. Dika sudah tidur sejak dua jam lalu. Bu Suminah dan Pak Warto menutup pintu kamar setelah sinetron mereka selesai.
Hanya lampu dapur yang masih menyala.
Pintu depan terbuka. Dimas masuk sambil mengetik pesan di ponsel.
"Mas, aku panaskan makanannya."
"Nggak usah. Lapar banget."
Ia duduk dan membuka tudung saji. Wulan mengambilkan nasi yang sudah mengeras di pinggir, sayur lodeh, serta tempe goreng.
Dimas menyuap sekali, lalu mengernyit. "Kok dingin?"
"Aku sudah panaskan dua kali. Kamu bilang pulang jam sembilan."
"Kalau tahu dingin, ya panaskan lagi."
Wulan membawa piring ke dapur. Microwave tua mereka membutuhkan tiga kali percobaan sebelum menyala. Dari ruang makan terdengar Dimas menonton video dengan volume tinggi.
"Hari ini bagaimana?" tanya Wulan ketika meletakkan piring kembali.
"Kacau. Timku kena revisi semua."
"Aku juga tadi dipanggil Ibu karena belum menyetrika baju pengajian. Dika ada tugas membuat rumah adat, terus gas habis waktu aku masak."
Dimas mengangguk tanpa mengalihkan mata dari layar.
"Mas dengar?"
"Dengar."
"Aku capek."
"Kita semua capek, Wulan. Jangan mulai malam-malam."
Nasi hangat di depannya mengepulkan uap baru. Dimas mulai makan. Wulan kembali duduk di seberang, tetapi percakapan mereka sudah berakhir.
***
Pagi berikutnya, keluarga adik Pak Warto datang tanpa pemberitahuan.
Bu Suminah menyuruh Wulan membuat teh, menggoreng pisang, membersihkan kamar mandi tamu, lalu mengambil dua kursi dari rumah tetangga. Saat semua berkumpul, ia kembali membicarakan anak kedua.
"Saya sudah bilang, perempuan kalau di rumah harus pintar mengatur tenaga," katanya kepada para ipar. "Wulan cepat sekali capek. Baru satu anak saja kewalahan."
Wulan meletakkan nampan. "Aku tadi malam menunggu Mas Dimas pulang sampai hampir jam dua belas, Bu."
"Suami pulang kerja memang ditunggu. Itu bukan prestasi."
Tawa kecil terdengar dari ujung ruangan.
Dimas sedang memasang sepatu di dekat pintu. Wulan berharap setidaknya ia akan mengatakan istrinya memang kelelahan.
"Sudah, Bu. Nanti kami bicarakan soal anak," katanya.
Bukan membela. Hanya menghentikan pembicaraan agar dirinya tidak terlambat kerja.
Setelah ia pergi, Wulan membuka grup WhatsApp tiga sahabat.
`Hari ini prestasiku turun. Menunggu suami sampai tengah malam ternyata nggak dapat sertifikat.`
Wiwid mengirim stiker orang membalik meja. Lani bertanya apakah Wulan ingin menginap. Wulan membalas dengan emoji tertawa.
Ia tidak mengatakan bahwa keinginan untuk pergi satu malam saja terasa seperti kemewahan yang tak mampu dibayar.
***
Menjelang siang, Dimas menelepon dengan suara terburu-buru.
"Kartu akses dan map merahku ketinggalan di meja. Tolong antar sekarang. Pak Bram panggil semua lead untuk evaluasi."
"Tamu masih ada."
"Minta Ibu pegang sebentar. Ini penting."
Bu Suminah mengeluh ketika Wulan meminta izin, tetapi akhirnya membiarkannya pergi setelah Wulan berjanji pulang sebelum Dika selesai sekolah.
Satu jam kemudian, Wulan memasuki gedung Nusantara Interactive di SCBD. Sandalnya masih menyimpan debu dari jalan perumahan. Di sekelilingnya, layar digital memamerkan karakter gim dalam resolusi tinggi. Seorang resepsionis mengarahkannya ke lantai rapat.
Pintu lift terbuka tepat ketika suara laki-laki terdengar dari ruang kaca.
"Bug pembayaran ini sudah muncul di laporan dua minggu lalu. Kenapa build masih dikirim ke pengujian?"
Wulan mengenali kemeja putih dan jam gelap sebelum melihat wajahnya.
Laki-laki yang pernah satu lift dengannya berdiri di ujung meja. Usianya tampak belum tiga puluh. Rambutnya rapi, jasnya diletakkan di sandaran kursi, dan suaranya tetap rendah meski enam orang di depannya tidak berani bergerak.
"Saya tidak meminta tim bekerja sampai sakit," lanjutnya. "Saya meminta masalah dilaporkan sebelum menjadi krisis. Kalau timeline tidak masuk akal, katakan. Jangan menyembunyikan keterlambatan."
Mbak Sekar berdiri dekat pintu dengan tablet. Ia melihat Wulan. "Ibu mencari siapa?"
"Pak Dimas. Saya bawa barang yang tertinggal."
Dimas menoleh dari dalam ruang rapat. Wajahnya langsung tegang.
"Taruh di luar saja," katanya cepat.
Semua orang ikut melihat. Termasuk Bram.
Tatapannya hanya singgah sebentar pada map di tangan Wulan dan ujung kerudungnya yang basah oleh keringat. Tidak menghina, tidak pula tertarik. Ia sekadar mengangguk sopan.
"Terima kasih sudah mengantarkan, Bu. Sekar, tolong bantu."
"Baik, Pak Bram."
Jadi, inilah Hasker. Pendiri perusahaan yang terus disebut Dimas dengan campuran takut dan kagum.
Wulan menyerahkan map kepada Sekar dan berjalan kembali ke lift.
Dimas mengejarnya sebelum pintu menutup.
"Kenapa naik ke sini? Aku bilang kasih resepsionis."
"Resepsionis yang menyuruhku."
"Semua orang jadi lihat aku ketinggalan kartu dan berkas. Malu-maluin."
Wulan memandangnya. "Aku datang karena kamu minta."
"Ya, tapi pakai pikiran. Pak Bram lagi marah, kamu malah muncul bawa map kayak mengantar bekal."
"Aku pakai ojek satu jam supaya mapmu sampai."
"Aku nggak minta dihitung jasanya. Sudah, pulang."
Pintu ruang rapat terbuka lagi.
Bram berdiri di sana. Dimas langsung menegakkan bahu.
"Pak Bram."
"Rapat belum selesai, Dimas."
"Baik, Pak."
Dimas kembali tanpa menoleh kepada Wulan.
Bram menahan pintu lift untuknya. "Hati-hati di jalan, Bu. Hujan mulai turun."
"Terima kasih, Pak."
Pintu menutup di antara mereka.
***
Malamnya, Wulan berdiri di depan cermin dapur.
Nasi yang disiapkannya kembali dingin. Dimas mengirim pesan bahwa ia makan bersama tim dan pulang larut. Bu Suminah sudah mengunci kamar. Dika tertidur dengan tugas rumah adat setengah selesai di sampingnya.
Sebelum tidur, Dika sempat membawa rumah kardus itu ke meja makan. Atapnya miring dan lem mengering di jari-jari kecilnya.
"Ayah pulang kapan? Aku mau tunjukkan ini."
"Ayah masih kerja. Besok pagi saja."
"Besok Ayah berangkat sebelum aku bangun."
Wulan membantu menempelkan satu tiang yang lepas. "Kalau begitu, Ibu foto dan kirim ke Ayah."
Dika memandang hasilnya, lalu tersenyum. "Ibu sudah lihat, kan?"
"Sudah. Bagus sekali."
"Berarti nggak apa-apa kalau Ayah belum lihat."
Kalimat anak kecil itu membuat dada Wulan sesak. Ia memeluk Dika, mengantarnya ke kamar, lalu menyelesaikan bagian atap tanpa mengubah bentuk buatan anaknya.
Untuk Dika, dilihat satu orang saja ternyata sudah cukup membuat hasil kerjanya berarti.
Bagi Wulan, kesadaran sederhana itu terasa seperti luka baru.
Di cermin, wajah Wulan tampak pucat dan lebih tua daripada usianya.
Ia memikirkan Bram yang sempat melihat map, keringat, dan pakaiannya yang sederhana, tetapi tetap mengucapkan terima kasih. Hanya dua kata biasa. Suaminya sendiri bahkan tidak melakukannya.
Wulan mematikan lampu meja makan.
Untuk pertama kalinya, ia mengakui sesuatu yang selama ini terlalu menyakitkan untuk disebut.
Di rumah ini, tidak ada yang benar-benar melihatnya.