Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
"Lho, Gabriel, kan?" sapa seorang wanita bermakeup tebal yang tiba-tiba melangkah mengadang jalan mereka di koridor rumah sakit, membuat Gabriel dan Amara mendadak menghentikan langkah.
Amara yang kaget spontan mengeratkan genggamannya di kemeja Gabriel, lalu refleks bersembunyi di balik tubuh tinggi dan tegap suaminya.
"Benar-benar Gabriel, kan?" tanya wanita itu lagi saat Gabriel hanya diam menatapnya dengan raut dingin tanpa ekspresi. Wanita bersetelan gaun mewah itu memiringkan kepalanya, lalu melirik curiga ke arah sosok Amara yang tersembunyi. "Ini... siapa dia? Apa dia pembantumu?"
Gabriel menyipitkan matanya, tatapannya seketika berubah setajam sembilu. "Jaga bicaramu, Vella," desis Gabriel dengan suara bariton yang berat dan menusuk.
Vella—wanita yang dulu gila-gilaan mengejar perhatian Gabriel namun selalu ditolak mentah-mentah—justru melipat kedua tangannya di dada sambil menyunggingkan senyum remeh.
"Lho, aku kan cuma bertanya, Gabriel," ujar Vella dengan nada manja yang dibuat-buat. "Lagipula lihat pakaiannya... sangat lusuh dan kekanak-kanakan. Penampilannya sama sekali tidak cocok berjalan di samping pria terhormat sepertimu. Mau ditaruh di mana mukamu kalau membawa perempuan udik begini ke tempat umum?"
Mendengar hinaan tajam itu, tubuh Amara bergetar hebat di balik punggung Gabriel. Jarinya mencengkeram kain kemeja suaminya semakin kuat, meremasnya dalam ketakutan yang membuncah.
‘A-aku... aku memang tidak pantas...’ bisik suara kecemasan di dalam pikiran Amara yang mulai kambuh.
Namun, sebelum rasa panik itu menguasai Amara sepenuhnya, Gabriel berbalik sedikit, menyusupkan jemari kokohnya ke sela-sela jemari Amara dan menggenggamnya dengan sangat erat, menyalurkan perlindungan mutlak.
Gabriel kembali menatap Vella dengan sorot mata membunuh yang sanggup membuat siapa saja bergidik ngeri.
"Perhatikan kata-katamu sebelum aku membuat keluargamu hancur dalam hitungan jam, Vella," ancam Gabriel penuh penekanan dingin, tak ada sedikit pun keraguan di suaranya.
Vella mendadak bungkam, wajah berbedak tebal itu seketika pucat pasi melihat amarah pekat di mata Gabriel.
"Kenalkan, dia Amara," lanjut Gabriel dengan nada penuh kebanggaan dan penegasan. "Dia adalah istri sahku. Nyonya rumah dari seluruh hidup dan hartaku. Jadi, daripada mengurusi istriku, lebih baik kau cermin diri seberapa murahannya dirimu yang masih berani menyapaku."
"Istrimu? Jangan bercanda Gabriel, mana mungkin seleramu seperti ini," ucap Vella dengan nada meremehkan, lalu pandangannya mengarah pada alat bantu dengar Amara. "Dan lagi, apa dia cacat?"
Rahang Gabriel mengeras seketika. Sorot matanya memancar petir murka yang membuat udara di koridor rumah sakit itu mendadak terasa mencekam.
"Tutup mulut busukmu itu, Vella!" gertak Gabriel dengan suara rendah yang menggelegar, sanggup membungkam seisi koridor.
Amara gemetar semakin hebat. Air matanya menetes, kata 'cacat' yang terlontar dari bibir Vella menghantam ulu hatinya begitu dalam. Gadis itu menunduk pasrah, mencoba menarik genggaman tangannya dari Gabriel karena merasa malu.
Namun Gabriel justru mempererat genggamannya, tak membiarkan Amara lepas sedikit pun. Ia menarik Amara perlahan ke sampingnya, lalu merangkul bahu sang istri dengan begitu posesif dan protektif.
"Su-sudah... Gabriel, k-kita pulang saja..." bisik Amara terbata-bata di tengah isaknya, menarik-narik lengan kemeja Gabriel dengan mata berkaca-kaca.
Vella menyunggingkan senyum ejekan saat mendengar suara serak dan terbata milik Amara. "Bicara saja tidak lancar! Gabriel, kamu pasti sudah gila memilih perempuan seperti ini ketimbang aku!"
Gabriel menatap Vella seolah wanita di hadapannya itu tak lebih dari seonggok sampah.
"Bagi saya, suara istri saya seribu kali lebih berharga daripada suara cemprengmu yang tidak bermutu itu," desis Gabriel dingin penuh hinaan. "Dan satu hal lagi... menyentuh atau menghina Amara sama saja dengan memancing kehancuran bisnismu. Kita lihat sampai kapan keluargamu bisa bertahan setelah hari ini."
Wajah Vella seketika pucat pasi. "G-Gabriel... kamu bercanda, kan? Hanya demi perempuan ini kamu mau merusak kerja sama keluarga kita?"
"Dia bukan 'perempuan ini', dia Nyonya Gabriel!" tegas Gabriel tajam. "Reno!" panggil Gabriel setengah berteriak.
Reno yang sejak tadi menunggu agak jauh langsung bergegas mendekat dengan sigap. "Ya, Tuan Gabriel?"
"Cabut semua investasi kita di perusahaan keluarga Vella detik ini juga. Dan pastikan dia diseret keluar dari area rumah sakit ini," perintah Gabriel dingin tanpa penyesalan sedikit pun.
"Baik, Tuan," jawab Reno tegas, lalu langsung berbalik menatap Vella dengan raut wajah formal. "Nona Vella, silakan ikut saya keluar sebelum petugas keamanan bertindak kasar."
Vella melotot tak percaya, tubuhnya membeku diliputi penyesalan dan ketakutan yang teramat sangat saat menyadari Gabriel sama sekali tidak main-main.
Tanpa membuang waktu lagi, Gabriel membalikkan tubuhnya menghadap Amara. Kemarahannya yang meluap-luap seketika menguap, berganti menjadi kelembutan tak bertepi saat menatap manik mata istrinya yang basah oleh air mata.
"Ayo pulang, Sayang. Jangan dengarkan wanita gila itu," bisik Gabriel lembut, menyapu air mata di pipi Amara dengan jemarinya sebelum menuntunnya melangkah pergi.
"M-m-ma-af..." bisik Amara terbata-bata dengan napas memburu saat mereka sudah berada di dalam mobil mewah Gabriel yang tenang dan ber-AC sejuk. Air matanya kembali meluncur deras membasahi pipi.
Gabriel yang baru saja hendak memasang sabuk pengaman seketika menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh cepat, menatap istrinya dengan raut wajah kaget sekaligus prihatin.
"Maaf? Kenapa kamu harus minta maaf, Sayang?" tanya Gabriel lembut, langsung meraih kedua tangan Amara yang masih gemetar hebat di atas pangkuan.
Amara menunduk dalam-dalam, menggeleng pelan dengan tangis yang semakin pecah. Ia meraih buku catatannya dengan jemari bergetar, lalu menulis dengan goresan pensil yang agak berantakan.
‘Gara-gara aku... bisnis keluargamu jadi terganggu. Aku cuma bikin malu kamu di depan wanita tadi...’
Membaca tulisan itu, dada Gabriel terasa sesak. Pria itu melepaskan buku catatan Amara, lalu menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua tangan kokohnya, memaksa Amara mendongak menatap matanya.
"Dengar aku baik-baik, Amara," ucap Gabriel dengan nada bariton yang tegas namun memancarkan kehangatan luar biasa. "Kamu tidak pernah membuatku malu. Sedikit pun tidak."
Amara mengerjap pelan di balik bayangan air matanya, menatap manik mata suaminya yang sarat akan kesungguhan.
"Perempuan itu yang tidak tahu tata krama," lanjut Gabriel, jemarinya mengusap lembut jejak air mata di pipi Amara. "Soal bisnis... uang dan investasi itu tidak ada artinya dibanding kehormatan istriku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghinamu, termasuk dia."
"T-tapi... a-aku..." Amara mencoba bersuara, tenggorokannya masih terasa menyempit karena rasa bersalah.
"Ssst... tidak ada 'tapi', Sayang," potong Gabriel lembut, lalu mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan hangat di kening Amara cukup lama. "Kamu adalah hal terbaik yang pernah hadir di hidupku. Paham?"
Amara memejamkan mata, meresapi kehangatan yang mengalir dari sentuhan suaminya. Rasa cemas dan bersalah yang tadinya menjerat perlahan melarut, digantikan rasa aman yang tak tergantikan.
"P-paham..." cicit Amara pelan, suaranya serak namun terdengar sangat tulus saat ia menganggukkan kepalanya kecil.